
Arga baru saja masuk ke apartemen membawa sebuah paperbag di tangannya. Wajahnya berseri, padahal dia baru saja fitting baju untuk pertunangannya yang hanya tinggal 3 hari lagi.
"Syahdu."
"Iya."
Suara gadis itu terdengar dari dapur, membuat Arga mengencangkan suara.
"Kesini sebentar."
Arga meletakkan barang bawaannya diatas meja. Lalu dia menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Lelah, padahal hanya berganti beberapa baju sampai menemukan yang pas di mata sang mami yang sudah memaksanya terus menerus, sampai Arga setuju dengan Syarat pergi tanpa Soraya.
Syahdu datang masih dengan apron di bajunya. Dia tengah memasak tadi.
"Nih, dari mami." Arga menunjuk satu paperbag.
"Apa itu?"
"Buka aja."
Syahdu membuka paperbag besar berisikan sebah kotak. Ia membukanya perlahan dan matanya membulat.
"Dress?" Syahdu memperhatikan detail dress hitam yang tampak sangat menawan.
"Pake buat acara 3 hari lagi."
"I-ini.. Buat aku??"
"Iyalah. Masa gue yang pake."
"Bukannya ini terlalu Wah, ya. Bisa-bisa aku yang disangka tunanganmu." Katanya tanpa beralih pandang dari gaun indah itu. Terus terang, Syahdu sangat menyukai baju itu.
Arga melipat bibir, ingin tersenyum mendengar ucapan Syahdu. Dia yang jadi calon tunangannya? Tentu hal itu sangat diinginkan oleh Arga.
"Mami yang pilih." Jawabnya bohong. Saat sesi fitting baju tadi, Julia mengusulkan untuk membelikan juga untuk Syahdu sebuah dress. Dengan antusias Arga memilih dress itu untuk Syahdu, dengan ukuran yang sangat ia hapal. Membuat Julia merasa heran, mengapa anak semata wayangnya itu sangat tahu ukuran Syahdu.
Pada awalnya, Julia sempat memprotes dress pilihan Arga. Karena itu terlalu berlebihan untuk seorang tamu. Dress itu bahkan dinilai lebih pantas untuk Soraya yang memakainya. Tetapi Arga bersikeras membelikan dress itu untuk Syahdu yang akan dipakai di malam pertunangannya nanti.
"Gue laper. Lo masak apa?" Arga beranjak menuju dapur, membuat Syahdu melipat lagi baju yang tadinya ingin ia coba.
Arga menarik kursi lalu duduk. "Ambilin gue, dong." Pintanya pada Syahdu.
Syahdu menghela napas, tetapi tetap mengambilkan nasi untuk Arga.
__ADS_1
"Kamu tuh, udah mau tunangan tapi masih kaya gini ke aku." Ocehnya sembari meletakkan ayam goreng dan tumis kangkung diatas piring.
Arga tak menghiraukan ucapan Syahdu. Dia mulai menyantap masakan yang baru saja dimasak gadis kesukaannya.
"Kurang garem, nih." Komentarnya pada masakan Syahdu tanpa diminta. Tetapi, dia terus menyuapkan nasi ke mulut seperti orang yang tidak makan berhari-hari.
"Makanya masak sendiri!" Ketus Syahdu karena sedang tak ingin dikomentari. Gadis itu membuka apron dan duduk untuk memulai makan malamnya.
"Gue mau renang. Lo ikut, ya."
"Malam-malam gini?" Tanya Syahdu heran.
"Iyalah."
"Masuk angin ntar."
"Makanya gue bawa lo. Biar ngga masuk angin sendirian."
Syahdu tak menjawab lagi. Dia tengah sibuk menilai masakannya yang ternyata memang terasa kurang garam.
~
Syahdu duduk berselonjor sambil membaca majalah. Sedangkan Arga tengah berenang dengan santai. Di ruang yang sangat lebar itu, tidak ada seorang pun kecuali dirinya dan Syahdu.
"No." Jawabnya santai tanpa menoleh.
"Tadi katanya jago renang. Mana buktinya? Bo'ong lu, ya."
Syahdu tak perduli. Dia memang sedang tidak ingin melakukan apapun selain duduk tenang dan bersantai.
Beberapa menit kemudian, suara Arga berteriak minta tolong menggema di ruang itu.
"Syahdu! Tolong." Arga tiba-tiba melambaikan tangan di tengah kolam. Dia seperti orang yang hampir tenggelam.
"Ck. Udah deh, Ga. Nggak lucu tau!" Syahdu sudah bisa menebak, Arga pasti tangah mengerjainya.
"Syahdu. Hmpp."
Syahdu menutup majalanya sambil menghela napas. Kenapa Arga terlalu berusaha menarik perhatiannya?
"Syahdu. Hmpp kaki.. kram!"
"Hah?" Syahdu mencoba mencerna ucapan Arga. Kram? Maksudnya kakinya kram??
__ADS_1
Menyadari itu, membuat Syahdu langsung berdiri. Dia melihat Arga dengan tangan yang perlahan tenggelam kedalam kolam.
Arga.. apakah dia serius? Dia tidak bercanda, kan?
Lama Syahdu mematung sampai ia melihat sendiri, Arga sudah tidak ada dipermukaan.
Dengan segera Syahdu melompat dan menceburkan diri. Ia menyelam kearah Arga yang sudah pingsan di kedalaman 3 meter. Syahdu membawa lelaki itu ke keatas, mengangkatnya sampai ke tepi kolam.
Syahdu naik, dengan napas tersengal, dia mencoba membangunkan Arga yang pingsan.
"Gaa!" Syahdu mengguncang tubuh Arga, lelaki itu tidak juga bangun.
Jantung Syahdu berdetak kencang. Tiba-tiba dia merasa takut kalau Arga mati, sama seperti Wicak dan Suriani.
"Arga! Bangun." Syahdu berusaha memompa dada Arga dengan kedua tangannya. Air mata mulai jatuh saat dia merasakan detak jantung Arga yang melemah. Dia menyesal, kenapa ia terlambat menolong Arga? Kalau sampai terjadi sesuatu pada Arga, dialah yang patut untuk disalahkan.
"Arga please, bangun!"
Syahdu menutup hidung Arga, lalu melakukan napas buatan melalui bibir lelaki itu. Sekali lagi, dia membangunkan Arga, mengguncang tubuhnya tetapi tidak juga bangun.
"Gaa, please bangun. Jangan mati. Jangan tinggalin aku." Syahdu menangis sesegukan sambil terus memompa dada Arga.
"Bangun, Ga. Jangan mati." Syahdu tak punya tenaga lagi untuk memompa Arga. Dia ingin mencari pertolongan. Syahdu berdiri, tetapi tangannya ditahan hingga membuatnya terduduk kembali.
"Syahdu." Arga langsung duduk. Sebenarnya dia hanya bercanda, tetapi respon Syahdu diluar dugaan. Dia tidak menyangka kalau Syahdu sampai menangis seperti itu.
Syahdu pula menghempaskan tangan Arga dengan kesal saat menyadari lelaki itu ternyata hanya pura-pura.
"Nggak lucu!" Jerit Syahdu pada Arga. Dia menghapus air matanya dan langsung pergi.
"Syahdu, tunggu. Maaf, aku cuma bercanda." Arga merasa bersalah. Dia langsung menahan tangan Syahdu hingga membuat gadis itu berhenti melangkah.
"Nggak lucu bercandanya!" Pekiknya dengan kesal. Air mata masih jatuh di pipinya. Bagaimananpun Syahdu teringat dengan Suriani dan Wicak yang meninggal dunia. Terlebih Wicak yang mati karena dirinya. Tentu kejadian Arga tadi membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
"Syahdu, sorry. Gue nggak bermaksud buat lo kaya gini." Arga menarik Syahdu dalam pelukannya, namun gadis itu menolak.
"Lepas!" Berontak Syahdu.
"Gue mau minta maaf, gue nggak ada maksud buat lo kaya gini. Sumpah. Maaf.." Arga menahan tubuh Syahdu yang ingin lepas dari dekapannya. Namun tenaganya sudah habis terkuras hingga akhirnya ia mengalah dan menangis dipelukan lelaki itu.
Arga, dengan rasa bersalahnya terus mencium puncak kepala Syahdu. Dia menyesal telah melakukan perbuatan tadi. Ternyata Syahdu mengalami trauma kehilangan orang yang ada di dekatnya.
Arga pula tahu, dia bahkan sangat mengerti kalau sebenarnya Syahdu tidak ingin ditinggal olehnya. Gadis itu memiliki Luka batin yang belum terobati. Itulah yang menjadi pemicu pada Arga, bahwa ia ingin Syahdu terus didekatnya supaya ia bisa menyembuhkan gadis itu dengan menunjukkan rasa cintanya pada Syahdu secara nyata.
__ADS_1
TBC