SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Kata Pengantar Skripsi Wicak


__ADS_3

Syahdu berdiri di depan gerbang kos-kosan Wicak. Dia belum pernah ke tempat itu sebelumnya, hanya saja Wicak pernah memberitahukan alamatnya.


Syahdu ingin masuk, tapi dia bingung bagaimana caranya. Apalagi itu kos-kosan pria, pasti canggung jika perempuan masuk ke dalamnya. Sejak tadi pula Syahdu menghubungi Wicak, tapi tidak ada respon sama sekali.


Tak lama, seorang laki-laki keluar dari pintu utama menuju gerbang, bersama seorang perempuan yang memakai masker putih.


Syahdu tertegun. Bukannya itu kos-kosan pria? Jelas, tulisannya juga besar diatas gerbang. Tapi, kenapa ada perempuan juga? Apa mereka suami istri?


"Mbak, cari siapa?" Tanya lelaki itu pada Syahdu yang dilihatnya berdiam diri di depan gerbang.


"Anu, mas. Eee..." Syahdu tampak berpikir sejenak. "Bisa panggilin yang namanya Wicak, ngga? Tapi, saya ngga tau nomor kamarnya."


"Caaak. Wicaaak." Teriak lelaki itu dari luar. "Ada cewek cantik nih, nyariin elo."


Syahdu celinguk menatap pintu utama yang terbuka. Lorongnya cukup lebar dengan beberapa motor terparkir di masing-masing deretan pintu berwarna coklat.


"Belum bangun kali, mbak. Masuk aja. Kamarnya nomor 7."


"Masuk? Memangnya ga apapa, mas?" Tanya Syahdu bingung, walau dia melihat perempuan tadi keluar bersamaan dengan lelaki itu.


"Nggak apapa. Masuk aja, mbak." Kata lelaki itu, kemudian keluar dari gerbang bersama perempuan tadi dengan sepeda motornya.


Syahdu agak ragu. Apalagi itu kos-kosan pria. Apa yang orang pikirkan nanti jika dia masuk ke dalam kamar Wicak?


Satu lagi perempuan keluar dari salah satu deretan pintu bersama seorang laki-laki.


Syahdu melirik jam di tangannya. Ini pukul setengah delapan dan sudah dua perempuan keluar dari kamar-kamar itu. Apa artinya mereka menginap? Kalau melihat perempuan itu menunduk saat lewat, artinya mereka bukan suami istri, batin Syahdu.


Dia pun memberanikan diri melangkah masuk. Syahdu menatapi nomor-nomor diatas pintu, sampai ia melihat nomor 7 yang berarti, itulah kamar Wicak.


Saat tangan Syahdu naik ingin mengetuk, dia dikagetkan seseorang yang keluar dari sebelah kamar Wicak.


"Eh, mau cari siapa?" Tanyanya sambil menengok kearah pintu yang akan Syahdu ketuk.


"Ooh, Mbak pacarnya Wicak, ya? Eeee... Siapa ya, namanya. Syahdu, bukan?"


Syahdu mengangguk dan tersenyum kecil pada lelaki itu.


"Wahaha. Bener, rupanya. Cakep, ya, mbaknya. Pantes Wicak ga pernah mau ditawarin cewek. Rupanya mbak Syahdu cakep. Hehee."


Syahdu masih tersenyum kecil saja pada lelaki ramah itu.


"Kenalin, mbak. Saya Khairul."


Syahdu menyambut tangan Khairul walau dia sebenarnya enggan berkenalan. Apalagi tadi malam, laki-laki yang hendak melakukan kejahatan padanya juga teman Wicak.


"Panggil aja mbak, dia di dalam kok. Nggak kemana-mana, anaknya baek, ga pernah bawak cewek lain. Yakin, deh." Ungkapnya mulai mengelap motor yang terparkir di depan pintunya.


"Caaak. Cewek lo datang niihh.." Teriaknya kemudian.

__ADS_1


Namun tak ada suara. Nampaknya kak Wicak benar-benar masih tidur. Syahdu jadi sungkan untuk masuk, takut mengganggu.


"Wicaaaakkk." Teriaknya lagi, saat melihat Syahdu hanya diam di depan pintu.


"Berisik amat lo, Semprul!" Teriak seorang dari kamar yang ada dibelakang Syahdu. Merasa terganggu dengan teriakan lelaki itu. Namun Khairul tampak tak peduli.


"Hah, maklum mbak, isinya laki-laki semua. Pada banyak yang belom bangun." Ucapnya lagi pada Syahdu yang sebenarnya juga tidak peduli.


"Cak, bangun, woi." Teriaknya lagi.


"Gue ga masuk, Rul. Titip absen, ya." Sahut Wicak dari dalam dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Kenape lu? Cewek lu nih, di depan."


"Kak, ini aku." Sahut Syahdu juga, supaya Wicak mau membukakan pintu.


Hening, tak ada suara sampai semenit kemudian, pintu terbuka dengan Wicak yang memakai kaos putih dan celana panjang.


"Syahdu.."


Syahdu langsung menangkap wajah pucat Wicak dalam matanya. Lelaki bertubuh tinggi itu lebih lesu dari biasanya. Untungnya, luka disudut bibirnya sudah mulai membaik. Walau begitu, Syahdu tetap khawatir, segera ia mendaratkan tangannya di kening Wicak dan memang, suhu tubuh lelaki itu panas tinggi.


"Kakak udah berobat?"


"Belum."


"Lah, lu sakit, Cak?" Tanya lelaki itu lagi, sesekali ia melirik motor yang ia lap dengan kain basah. "Tadi malam masi baek-baek aja, lu. Bo'ong lu, ya, biar cewek lu nyamperin kesini? Hahaha."


"Wahaha. Lagak lu sakit." Tawa lelaki itu masih terdengar dari dalam kamar Wicak.


Syahdu mematung. Matanya menyelusuri kamar yang lebarnya sekitar 4x4 meter. Temboknya berwarna putih dan kamar mandi juga ada di dalam.


Seperti orangnya yang selalu rapi dan bersih, seperti itu juga kondisi kamar Wicak saat ini. Kasur lelaki itu langsung dialasi karpet yang ukurannya sama dengan single bed itu di sudut ruang. Disebelahnya ada meja kecil setara dengan pendeknya kasur Wicak. Diatasnya ada laptop yang masih menyala dan lembaran kertas yang sedikit berantakan disekitarnya.


"Kok diam disitu? Sini." Wicak menepuk sisi kasurnya. Sementara dia sudah duduk diatas kasur dan bersandar di tembok.


"Kecil, ya, kamarnya." Sambung Wicak lagi.


Syahdu melangkah mendekat. Dia duduk dimana Wicak memintanya.


"Aku beliin kakak sarapan. Kakak makan dulu, ya. Abis itu, kita ke dokter." Syahdu mengeluarkan sebungkus makanan dari dalam tasnya, lalu menggeser laptop dan membuka nasi uduk yang masih hangat diatas meja.


"Ngga perlu ke dokter, nanti juga sembuh sendiri. Kamu udah sarapan?" Tanya Wicak balik.


Syahdu menggeleng pelan. Dia juga belum sempat makan karena terlalu khawatir.


"Kalau gitu, kita makan bareng." Ucap lelaki itu kemudian mengambil sendok plastik yang didapat dari nasi uduk itu.


"Aaaa.." Wicak malah menyuapi Syahdu, padahal Syahdu membelikan makanan itu untuknya.

__ADS_1


"Aku beliin ini buat kakak. Yang sakit kan, kakak."


"Iya. Sekarang, Aaa.." Lagi, Wicak menyuruh Syahdu untuk membuka mulut. Mau tak mau Syahdu pun membuka mulut, mengunyah nasi uduk dengan lambat.


"Kakak juga makan." Syahdu merebut sendok plastik itu, lalu menyuapkannya ke arah Wicak.


Baru tiga kunyahan, Wicak meminta berhenti. Mual, katanya.


Syahdu hanya mengalah, dari pada Wicak muntah, dia tak memaksa lelaki itu untuk terus makan.


Setelah itu, Syahdu meminta Wicak untuk tidur lagi. Sementara dia tetap berada disisi Wicak, duduk dengan sebelah tangan yang digenggam Wicak.


Perlahan Wicak mulai memejamkan mata saat Syahdu mengelus lembut kepalanya.


"Cepat sembuh." Bisik Syahdu.


Wicak membuka matanya, dia menatap wajah Syahdu yang sudah bergenang.


"Aku cuma kecapekan. Nanti siang juga baikan." Ucap lelaki itu.


"Iya. Harus sembuh. Aku ngga bisa liat kakak kayak gini."


Wicak tersenyum, lalu mengecup lama tangan Syahdu yang ia genggam dengan erat.


"Love you so much." Ucap Wicak dengan suara berbisik.


"I love you more than anything." Balas Syahdu dan langsung senyum Wicak mengembang.


Wicak memiringkan tubuhnya menghadap Syahdu, dengan terus memeluk lengan gadis itu. "kamu disini aja, kan?"


Syahdu mengecup kening Wicak, lalu mengelus lagi rambutnya. "Enggak. Bentar lagi aku masuk. Sore aku balik kesini bawa obat masuk angin buat kakak. Kalau ada yang mau dibeli, bilang aku."


Wicak mengangguk, lalu dia memejamkan mata sampai Syahdu merasa Wicak benar-benar sudah tertidur.


Namun saat Syahdu ingin menarik tangannya, Wicak tergerak hingga membuat Syahdu harus diam beberapa saat.


Yah, dia tidak bisa langsung pergi. Syahdu mulai memperhatikan dengan detail kamar Wicak. Diatasnya ada jeket berwarna abu dan hitam, jeket yang dulu Wicak beli saat jalan-jalan bersama Syahdu. Jeket itu sudah 5 tahun umurnya dan masih terlihat sangat bagus.


Lalu, mata Syahdu tertuju pada lembaran kertas yang ada diatas meja didekatnya. Disana, Syahdu bisa melihat bahwa itu adalah lembaran skripsi Wicak.


Syahdu mengambil satu dengan tangan kirinya. Dia mendapatkan lembaran bagian kata pengantar. Disana Wicak mengucapkan banyak terima kasih untuk jajaran dosen yang banyak membantunya.


Syahdu meraih lembaran lain, masih satu isi kata pengantar, dimana namanya ada disana. Dicetak tebal di nomor delapan, bahkan diduluankan oleh Wicak sementara orang tuanya berada di nomor 9.


Kekasih hati, Syahdu Larasati, menjadi satu-satunya semangatku untuk menuntaskan skripsi ini. Dukungan berupa senyuman hangat yang menawan hati, membangkitkan semangat dikala diri hampir menyerah. Terima kasihku untuknya karena sudah memilih untuk terus berada disampingku. Suatu nikmat yang harus selalu aku syukuri telah mengenal dan bisa merasakan kasih sayangnya. Jika seandainya aku bisa memutar balikkan waktu, aku ingin menemukannya lebih awal dan mencintainya lebih lama. Aku mencintainya tanpa sadar bagaimana, kenapa, atau sejak kapan itu bisa terjadi.


Syahdu tertegun, sampai tanpa sadar air matanya menetes diatas kertas itu. Wicak menulis itu dengan sangat jelas. Sejelas bagaimana ia menggambarkan perasaannya, sejelas bagaimana Syahdu bisa merasakannya.


Namun itu semua, entah kenapa membuat Syahdu lagi-lagi bersedih, saat ia menyadari suatu hari, ia akan membuat hati lelaki itu terluka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2