
Ponsel Arga berdering kuat mengisi seluruh ruang. Sudah tiga kali ponselnya berdering, tapi tak ada tanda-tanda Arga menjawabnya. Sampai keempat kalinya, dering ponselnya mampu membuatnya terbangun.
Dengan malas Arga meraba sekitar, mencari dimana ponselnya berada. Setelah meraihnya, tanpa melihat siapa penelepon Arga langsung mengangkatnya.
"Hm?" Dia menjawabnya tanpa membuka mata.
'Where are you, honey?'
"Home." Jawabnya dengan suara serak.
'I and Soraya will come to your home. Can you please send me your address?'
Arga langsung terduduk. Matanya spontan terbuka mendengar bahwa sang mami ternyata akan menuju ke apartmennya.
"Mi, udah di Indonesia?"
'Yes, honey. Ini mami lagi sama Soraya di kafe, mau ke rumah kamu.'
"No, no. I will come to you. Mami tunggu aja."
Arga menutup ponselnya. Padahal dia masih mengantuk dan baru tidur 4 jam. Tapi dari pada ibunya yang datang ke apartemennya, lebih baik dia yang datang kesana.
Sebelum turun dari tempat tidur, Arga ingin menanyakan keadaan nenek Syahdu. Tapi, baru membuka ponsel, dia sudah disuguhkan dengan postingan Syahdu tentang Wicak. Tapi yang menjadi fokus Arga adalah kata-kata pada foto itu.
Disana jelas tertulis, bahwa gadis itu tidak begitu khawatir jika suatu hari dia kehilangan lelaki itu. Dia hanya merasa beruntung sebab telah menemukan cinta sejatinya.
Cinta sejati, Syahdu mengatakan bahwa Wicak adalah cinta sejatinya. Apakah itu pertanda bahwa ia tidak menerima cinta lain selain Wicak? Lalu, jika ia kehilangan Wicak, apakah dia akan bertahan dalam kesendirian?
Arga melempar ponselnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk segera menemui sang mami.
~
Arga masuk ke dalam kafe tempat dimana ibunya berada. Kehadirannya langsung disambut gembira oleh Soraya. Gadis itu berdiri saking senangnya melihat Arga.
"Arga, akhirnya kamu datang juga." Soraya menghambur ke pelukan Arga. Lelaki itu pula membiarkannya saja karena Julia ada disana.
"Mami, kenapa ga bilang kalau mau datang?" Arga memeluk dan mencium pipi Julia.
__ADS_1
"Mami ga pernah bilang kalau mau datang, kan. You know that." Julia menyesap segelas teh hangat di atas meja.
"Oh, ya, Arga, papah aku mau ketemu sama kamu. Gimana, kamu bisa luangin waktu kamu, nggak?" Tanya Soraya dengan semangat. Sesekali dia melirik Julia, meminta bantuan perempuan itu karena ia tahu, Arga sulit menolak permintaan mamanya.
Melihat putranya tak menjawab, Julia ikut bicara. "Pergilah, honey. They have something to say."
"Mau bicarain apa emang?" Tanya Arga langsung. Dia punya perasaan tak enak soal pertemuan itu. Apalagi Soraya terus-terusan membahas soal pertunangan, membuatnya kesal saja.
"Papah cuma mau kenal lebih dekat dengan kamu, kok. Apalagi kamu dan papa itu kerjanya satu bidang, pasti bisa saling sharing, kan?" Penjelasan Soraya tak membuat Arga mengangguk. Dia malah mengabaikan ucapan Soraya.
"Mami udah ketemu Oma?" Tanya Arga, dan Soraya menghela napas. Lagi-lagi ia diabaikan Arga.
"Sudah, dong. She's the first place to go. Oma juga bilang, katanya kamu bawa perempuan ke rumah. Who is she? Mama pikir itu Soraya but Oma said no."
Soraya terperangah. Arga bawa perempuan? Siapa?
"She's my classmate. Kebetulan lagi ada kerjaan bareng jadi, yaah, begitulah." Jawab Arga sekenanya. Malas mengenalkan Syahdu apalagi ada Soraya.
"Apa dia yang kamu bawa waktu reuni Smp?" Soraya tiba-tiba ingat saat seorang perempuan bernyanyi diatas panggung dan Arga menarik tangannya. Pasti dia juga orang yang dicari Arga saat di toilet waktu itu.
"You brought a girl? Wow.." Mata Julia melebar. Dia tak pernah mendengar putranya bersama perempuan sebelumnya. Selama ini dia mendengar keluhan Soraya bahwa Arga tidak pernah menggandengnya saat acara besar padahal lelaki itu selalu datang sendirian.
"I told you, Mi. dia cuma teman sekelas. Kita ngga ada hubungan apa-apa." Jawab Arga sembari mengangkat bahu. "Berapa lama mami di Indonesia?" Dia mengalihkan pembicaraan karena benar-benar tak mau mereka mengenal Syahdu.
"The same girl ternyata. Pertama dibawa saat reuni, dan kedua, dibawa ke rumah oma. Very lucky girl. Can i meet her?"
Lagi-lagi Soraya berdecak kecil. Padahal jelas-jelas mereka akan membahas soal pertunangan dirinya dan Arga. Kenapa malah membahas perempuan lain??
"No. She's always busy." Jawab Arga bohong. Sudah ia tanya hal lain supaya topik beralih, tapi Julia malah terus membahas Syahdu.
"Ehemm. Sorry, Tan. Kita masih bisa bahas yang tadi, ngga?" Soraya mulai risih. Dia ingin membalikkan topik awal.
"Oh, ya. Of course. Gimana, Sayang. Kamu bisa ketemu papa Soraya, kan?"
"I' don't know."
"Ayolah, Ga. Papah ingin ketemu kamu. Siapa tahu bisa kerjasama, kan? Katanya papa kamu juga dia akan pulang dan membahas kerjaan dengan papa aku." Bujuk Soraya. Besar harapannya agar Arga mau bertemu papanya.
__ADS_1
Arga menarik napas dalam-dalam. Dia tahu bujukan Soraya takkan berhenti sampai ia setuju. Apalagi kalau sampai papanya ikut datang, maka itu hal yang paling malas ia lakukan. Berkumpul bersama bapak-bapak membahas soal proyek ini dan itu.
"Ya udah. Ntar gue atur jadwal."
"Yeeee.." Soraya bertepuk tangan. "Thanks ya, Ga. Ntar aku bilang ke papah." Jawabnya dengan girang. Dia melirik Julia yang ikut tersenyum.
~
Arga mengantar Julia pulang. Soraya sudah pulang bersama supirnya. Dan kini, tinggal ia dan Julia berada di dalam mobil menuju rumah sang Oma.
"Kamu masih menyanyi, honey?" Tanya Julia.
"Hm.." jawabnya dengan malas. Tangan Arga berada di stir mobil, matanya fokus ke jalan. Pembahasan ini sering terjadi dengan ujung yang tak mengenakkan.
"Oma tahu?"
Arga mengangguk. Omanya itu tidak pernah ikut campur soal kehidupannya asal Arga mengikuti hal penting dari sang Oma. Itu sebabnya Arga lebih memilih tinggal di Indonesia daripada bersama orang tuanya.
"But your dad doesn't know this, does he?"
Arga diam. Membahas sang ayah membuatnya selalu naik pitam.
"Sampai kapan kamu mau begini, hm? Kalau papa tau kamu masih perform sana-sini, dia pasti akan marah besar."
"I don't care, mom. Kalau bisa, mami halangin supaya dia nggak nginjak Indonesia lagi."
"Alexander, he's your daddy." Julia mengingatkan. Tapi Arga tak peduli.
"Honey, mama sama sekali ngga ngelarang kamu. It's your hobby. Kamu bisa main musik kapan saja, but.. your daddy is right, musik ngga buat masa depan kamu bagus, sayang. Papa cuma mau kamu fokus supaya bisa ngembangin usaha bareng papa." Ucap Julia dengan lembut. Walau kalimat itu bukan sekali duakali ia ucapkan, namun Arga terus saja diam jika sudah membahas masalah ini.
"Aku ngga butuh harta papa."
Julia menghela napas. Sejak usia Arga belasan tahun, lelaki itu sudah bisa memberontak. Terlebih saat gitar kesayangan Arga dibakar oleh ayahnya, lelaki itu tak pernah lagi mau mendengarkan ocehan sang ayah. Bahkan ia selalu pergi jika ayahnya ada disatu ruang dengannya.
"All we have is just for you. Kekayaan Oma, Papa, semua jatuhnya ke tangan kamu, sayang. Kalau kamu ngga belajar, gimana kamu bisa-"
"Mi, please. Can we stop talking about this? Selalu saja, mami bicarain ini setiap kita ketemu. Apa mami sekarang udah dipengaruhi papa?"
__ADS_1
Julia tidak lagi menjawab. Dia menatap anak semata wayangnya. Julia sangat tahu Arga akan menjadi korban keegoisan dirinya dan suaminya. Padahal ia sadar, selama ini Arga tidak pernah banyak permintaan. Arga juga anak yang cerdas. Terbukti saat Oma menyuruhnya menyelesaikan pekerjaan yang diberikan, Arga selalu mampu menyelesaikannya. Dia yakin Arga bisa menjadi penerus, hanya saja anak itu keras kepala dan susah sekali diatur. Arga hanya akan melakukan apa yang sesuai kehendak hatinya. Tentu hal itu yang sering menjadi pertikaian antara anak dan Ayah selama di rumah mereka diluar negeri.