
Arga tengah sibuk mengirimi banyak pesan cinta pada Syahdu. Sudah seminggu ia tak menatap wajah istrinya secara langsung. Tidak pula tidur memeluk kecintaan yang selalu membuatnya rindu pulang ke rumah. Hanya satu hari lagi, dia akan bertemu sang istri walau dia sudah tak sabar sebab waktu terasa begitu lambat berjalan.
Lelaki itu mengesap rokoknya. Jarinya menggantung di lengan sofa, dengan sebelah tangan lain yang menggenggam ponsel, menunggu istrinya membalas pesannya. Lama sekali, Arga tak sabar menanti balasan sang istri.
"Woi, Ga." Ibra masuk membawa beberapa lembar kertas. Dia duduk di hadapan lelaki itu.
"Satu malam lagi. Ini daftar lagu yang lo harus nyanyiin. Request dari fans lo." Ibra meletakkan kertas itu diatas meja. Arga melirik judul-judul lagu yang tertera disana.
"Nggak berenti juga? Bukannya dilarang bini lo?"
Arga menatap rokoknya. Iya. Dia dilarang dan ingin berhenti. Tapi berat.
"Syahdu kan, lagi hamil." Sambung Ibra lagi.
"Gue kan nggak ngerokok di rumah. Gue cukup tersiksa sebenarnya karena ga bisa ngerokok bebas sejak ada Syahdu. Gue sulit banget berenti. Sekali sehari aja dah mau mati gue nahannya." Jelas Arga.
"Trus mau sampe kapan lo kaya gini?"
"Ngga tau. Pelan-pelan, lah. Gue juga pengen banget bisa berenti."
Ibra hanya menggelengkan kepalanya. Memang dulunya Arga bisa menghabiskan satu slop rokok dalam sehari. Bisa berkurang seperti sekarang memang butuh effort yang besar.
"Ya udah lo keluar gih. Fans lo udah pada nunggu diluar."
Arga memadamkan rokoknya diatas asbak lalu keluar untuk menyapa penggemar.
Malam itu, Arga kembali naik keatas panggung terakhirnya karena besok ia akan pulang. Malam itu pula menjadi malam yang meriah untuk kota terakhir.
Di sudut lain, Ibra sibuk membalas pesan Syahdu. Tentu sejak Arga tahu bahwa Syahdu sering bertanya, Arga semakin sering mengecek ponsel Ibra untuk membaca laporan apa saja yang diberikan Ibra untuk istrinya. Dan sekarang, gambar Arga terlihat lebih baik dari biasanya karena Ibra akan memberitahu dulu pada Arga sebelum mengambil gambar. Kecuali malam ini...
Beberapa pesan Syahdu membuat Ibra terkekeh. Wanita itu menanyakan kenapa Arga gemar sekali bernyanyi hanya memakai kaos dalam. Apa ada niat tersembunyi? Spontan saja Ibra membalasnya dengan sedikit memanasi Syahdu supaya Arga dimarahi.
Sebab pada siapa lagi Arga bisa menurut kalau bukan Syahdu, istrinya sendiri?
__ADS_1
Beberapa jam setelahnya, Syahdu menelepon. Dia ingin bicara pada Arga tetapi ponsel lelaki itu tidak aktif.
'Ibra, aku ganggu?' Tanya Syahdu. Malam itu dia bervideo call dengan manager suaminya.
"Enggak. Lu mau ngomong sama laki lu kan?"
'Iya. Apa udah tidur, ya?'
"Belum kayanya. Bentar gue ke kamarnya." Ibra berjalan menuju kamar Arga.
'Kalo dia tidur ngga usah dibangunin ya, Ib.' Ucap Syahdu dari seberang, memperhatikan jalan Ibra di lorong menuju kamar Arga melalui kamera belakang.
Ibra membuka pintu dan mendapati Arga tengah merokok sembari memeluk gitar. Mengetahui itu, Ibra buru-buru memutar ponselnya.
'Ib, itu tadi Arga lagi ngapain?'
Mendegar suara yang ia kenali, Arga membulatkan mata pada Ibra, menanyakan apa benar itu istrinya?
Ibra mengangguk pada Arga. "Ee.. lagi duduk aja sih, dia."
Arga langsung membuang rokoknya dan berusaha duduk tenang. Tak lupa tatapan tajam ia arahkan pada Ibra yang sudah salah tingkah karena kekeliruannya tak mengetuk pintu, membuat Syahdu nampaknya sudah terlanjur melihat apa yang Arga lakukan tadi.
Arga perlahan membalikkan kamera ponsel Ibra menjadi kamera depan.
"Sa-sayang. Belum tidur?"
Dari seberang, Syahdu hanya diam saja. Dia tak mau bicara sebelum Arga berkata jujur, karena ia sudah melihatnya secara langsung walau beberapa detik.
"Udah makan, sayang? Makan apa tadi?" Tanya Arga berbasa-basi, tetapi Syahdu masih diam menatapnya.
"Be-besok aku balik. Tunggu aku, ya. Besok kita-"
'Ngga usah pulang!'
Duaarrr! Seketika tubuh Arga seperti kesambar petir. Syahdu marah dan itu terlihat sangat jelas.
__ADS_1
"Syahdu, jangan gitu, sayang. Aku.." Arga tak bisa mengelak. Ia pun menghela napas walau dalam hatinya mengutuk Ibra.
"Maaf.." ucapnya tertunduk.
'Jadi selama ini diluar kamu ngerokok dan bohong ke aku.'
"Syahdu.."
'Aku ga pernah bohong sama kamu. Aku nurut banget kamu ga izinin aku kuliah, ga ngebolehin aku kesana kemari kalo ga sama kamu. Tapi kamu kok kaya gitu ke aku. Kamu gak bener-bener sayang sama aku, Ga. Padahal aku udah mau buat hamil dan ngelahirin anak kamu, demi kamu.'
"Syahdu.. please dengerin aku. Sayang, aku minta maaf. Aku memang belum bisa lepas sepenuhnya dari rokok. Tapi aku beneran lagi berusaha. Aku salah, aku salah."
'Udahlah. Udah malem. Aku mau tidur. Ngantuk.'
"Syahdu.."
Syahdu memutuskan sambungan video call. Membuat Arga menggenggam kuat ponsel di tangannya. Sial sekali, Syahdu sampai melihatnya merokok padahal dia sudah dengan kuat menyembunyikannya.
Arga bangkit dan meraih tasnya. Ia menyusuni barang. Tidak bisa ditunda, malam ini juga dia harus bergerak pulang. Melihat kekecewaan di wajah Syahdu membuatnya tak bisa tenang. Mana mungkin dia bertahan diluar saat istrinya marah seperti tadi. Syahdu tengah hamil, dia tak mau membuat perempuan itu bersedih dan bersiko pada kehamilannya.
Dengan terpaksa Ibra menuruti Arga. Apalagi dia menyadati keteledorannya. Malam itu juga mereka bergerak pulang.
Setelah dua jam berlalu, Arga sampai di rumah. Ia tak langsung menurunkan barang. Lelaki itu menuju kamar karena ingin menemui istrinya.
Tapi lampu kamar sudah redup dan istrinya terlelap. Arga berjongkok di sisi tempat tidur, menatapi wajah yang sudah lama sekali tak ia lihat langsung.
Sebelum naik ke tempat tidur, Arga membersihkan diri dahulu agar ia bersih saat memeluk ibu hamil itu.
~
Pagi harinya, Syahdu terbangun saat merasa ada lengan yang melingkar di pinggangnya. Tentu ia kaget dan langsung menoleh. Ternyata Arga terlelap dibelakangnya. Arga? Kapan dia sampai? Bukannya Ibra bilang mereka akan pulang besok sore?
"Morning.." Sapa Arga dengan suara beratnya. Matanya separuh terbuka dan bibirnya menyunggingkan senyum termanis.
Syahdu mengerutkan dahi. Senyum itu keluar dengan harapan Syahdu akan melupakan kejadian tadi malam, kan? Jelas, tapi sayang Syahdu tak terpikat sama sekali.
__ADS_1
Syahdu melepaskan pelukan Arga dan beranjak. Dia mengikat rambut dan berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang.." Arga tersentak saat pintu kamar mandi ditutup sedemikian keras. Syahdu masih marah padanya.