SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Beban Terberat Syahdu


__ADS_3

"Bukan. Itu karena Oma dan tante Julia yang sangat cantik." Ucap Syahdu yang merasa Shania ditipu kakaknya.


"Hah. Kakak kenal juga sama Mami?"


Syahdu mengangguk-angguk. "Kenal, dong."


"Bicaranya di dalam aja. Kita masuk dulu, yuk." Ajak Margareth.


Gadis itu mengangguk, lalu mengambil alih peran suster untuk mendorong kursi roda Margareth menuju ke dalam rumah yang tak banyak berubah.


Gadis itu terus mendorong kursi roda menuju ruang tengah. Sementara Arga mengikuti Shania yang merengek meminta kakaknya untuk membelikannya crayon baru. Mau tak mau, Arga menurutinya.


"Syahdu.."


Margareth menggenggam tangan gadis yang kini duduk di hadapannya.


"Iya, Oma. Oma apa kabar?" Tanya gadis itu sembari ikut menggenggam tangan Margareth yang semakin keriput. 7 tahun lamanya tidak bertemu. Margareth masih terlihat segar dan cantik dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.


"Oma baik. Harus terus baik supaya Shania dan Arga punya tempat untuk pulang." Jawabnya dengan senyum kecilnya.


"Kamu tahu, kan, kalau Arga dan Ayahnya sekarang sudah seperti putus hubungan. Alex udah ngga peduli dengan apapun yang terjadi pada Arga sejak anak itu memutuskan pertunangan dengan Soraya."


Iya. Syahdu ingin tahu soal itu. Kenapa tiba-tiba pertunangan mereka dibatalkan?


"Oma ngga tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Arga juga ngga bisa dihubungi beberapa hari setelah kamu pergi. Kayanya dia sangat stres karena kamu hilang tanpa pamit."


Lagi, Syahdu tertunduk. Ternyata Arga membatalkan pertunangan itu karena dirinya? Tak perlu lagi ragu. Syahdu sekarang sangat bisa melihat sebesar apa perasaan Arga padanya. Tapi bukan senang, Syahdu justru merasa berat. Setiap kali perasaannya berdesir untuk Arga, dia selalu saja teringat pada Wicak dan betapa jahatnya ia pada lelaki yang sangat mencintainya itu.


"Syahdu.. Arga mengorbankan masa depannya demi mencarimu. Semua yang dia lakukan saat ini adalah kamu. Dan Oma udah dengar kalau dia akan berhenti dari dunia entertainment karena kamu kembali. Makasih ya, nak. Makasih banyak udah mau kembali demi Arga."


Syahdu tak berani menatap Margareth disaat dia sendiri masih berada diambang kebingungan. Entah kenapa justru rasa bersalah begitu besar terasa untuk Wicak. Kenapa dia merasa sangat jahat jika menerima Arga? Waktu itu Wicak datang dan menghajar Arga, demi mengatakan bahwa ia mau menerima Syahdu kembali. Dalam lelapnya pun Wicak tak ingin Syahdu meninggalkannya. Tapi.. Rasa pengkhianatan, hubungan antara dirinya dan Arga yang dibenci Wicak itu justru berkembang dan terpelihara sampai sekarang. Menghilang dan tak membuka hati selama 7 tahun nyatanya tak membuat Syahdu lebih baik. Lalu, apa yang harus dilakukannya sekarang?


...~...


Syahdu berdiri di balkon apartemen Arga. Pukul 3 pagi, dan udara sangat dingin melekat di kulitnya.


Arga, lelaki itu masih terlelap dalam. Hanya Syahdu yang terjaga. Ia terbangun karena lagi-lagi memimpikan Wicak dan perasaan tak enak itu kembali hadir. Bebannya semakin terasa berat saat mengingat permintaan Margareth padanya dan saat ini dia yakin tak ada seorang pun yang bisa mengerti apa yang ia rasakan.

__ADS_1


Syahdu, sepanjang hidupnya terus merasa bersalah pada Wicak. Dia lari karena tak ingin bahagia di kota ini. Dia ingin berada di desa yang Wicak sarankan sebagai tanda bahwa ia menghormati pilihan Wicak walau lelaki itu telah tiada.


Syahdu menghirup udara malam. Ia memejamkan mata, mengingat lagi tujuan awalnya untuk kembali, adalah meluruskan apa yang harusnya ia utarakan supaya Arga berhenti mengharapkannya kembali dalam hidupnya. Itu. Tapi kenapa sekarang berbeda? Dirinya malah membuka lebar pintu hati dan menuruti semua perkataan Arga.


Syahdu membuka genggaman tangannya. Cahaya lampu balkon membuat kilau mata cincin menyala. Selama 7 tahun dia menyimpan cincin pemberian Arga dan kali ini ia membawanya untuk mengembalikannya pada lelaki itu. Syahdu menghela napas panjang. Nampaknya dia harus mempercepat kepulangannya.


Besok, dia akan kembali dan menjelaskan semuanya pada Arga. Nani juga sudah menjadi hal yang lebih penting sekarang. Syahdu sudah tak punya orang tua, dan Nani adalah wanita yang mau menerimanya tanpa syarat. Syahdu pernah berjanji dalam hatinya untuk mengabdikan diri pada Nani jika wanita itu sudah tak mampu merawat dirinya sendiri.


"Kamu disini.. aku cari kemana-mana.." Suara Arga terdengar berat di telinga Syahdu. Tangan lelaki itu memeluk pinggangnya, membuat Syahdu memejamkan mata. Hangat, dia menyukainya.


"Kenapa disini? Dingin.." Ucap Arga lagi. Ingin Syahdu membalas pelukannya, namun gadis itu memilih membalikkan tubuhnya. Dia menatap lekat-lekat mata sayu yang masih terlihat mengantuk. Dia ingin bicara serius.


"Ga.."


"Iya?" Arga mengelus lembut pipi Syahdu. Dia tahu, ada sesuatu yang ingin gadis itu bicarakan padanya.


"Kamu.. ngga nanya kenapa aku tiba-tiba datang?"


Arga tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepala. "Aku bisa rasain gimana perasaan kamu ke aku. Itu aja udah cukup." Jawabnya dengan nada yang sangat lembut, membuat Syahdu membuang wajahnya. Kenapa Arga sangat mudah membaca pikiran dan hatinya, bahkan sejak dulu.


Arga diam menatapnya. Lelaki itu mulai merasa ada yang tak beres dengan arah pembicaraan kali ini.


"Aku datang, bukan untuk kembali lagi sama kamu. Tapi.." Syahdu meraih tangan Arga, lalu meletakkan cincin diatasnya.


"Aku.. pengen kamu terbebas dari belenggu yang mengikatmu karena perasaan yang nggak mungkin." Kata Syahdu mencoba tegar tanpa menjatuhkan air matanya.


Alis Arga menyatu. "Nggak mungkin? nggak mungkin apanya? Kamu kenapa?"


"Aku nggak bisa sama kamu, Arga. Setiap kali kita sama-sama, ingatanku selalu mengarah ke Wicak. Aku selalu ingat dia dan rasa bersalahku muncul. Aku ngga bisa.."


"Syahdu.." Arga kembali menangkup wajah Syahdu dengan kedua tangannya. Tatapan memohonnya terlihat lagi. Kali ini, dia tak ingin kehilangan Syahdu.


"Tolong jangan gini. Kita bicarain baik-baik, ya. Kita masuk dulu.." Arga menarik tangan Syahdu untuk masuk, tetapi Syahdu menahannya.


"Besok aku balik, Ga."


Arga bergeming. Syahdu ingin pergi lagi dan itu membuatnya seperti tak bisa bernapas. Padahal baru saja dia merasa bahagia.

__ADS_1


"Aku datang cuma mau bilang kalau aku ngga bisa jalani semua sama kamu. Kamu harus move dan kembali kayak dulu, kayak apa yang kamu tulis di kontrak!"


Arga masih diam. Otaknya seketika berhenti berpikir. Yang dia lihat saat ini hanyalah wajah sendu Syahdu yang kemudian mengalirkan air mata. Syahdu tidak serius dengan ucapannya, dia tahu itu.


"Syahdu. Udahlah. Mari lupakan masa lalu. Kamu ngga perlu ngerasa bersalah. Wicak juga udah ngga ada. Memangnya kamu ngga mau bahagia?"


"Selama ini aku bahagia, Ga."


"Kamu ngga bisa bahagia kalau masih liat kebelakang. Aku malah liat kamu bahagia disini, Syahdu." Arga menatap matanya lekat-lekat.


"Sorot mata kamu ngga bisa bohong. Pertama kita ketemu, aku bisa liat kamu senang. Ya, kan?"


Syahdu menurunkan tangan Arga dari wajahnya. "Setiap hari aku merasa bersalah, Ga. Aku ngga tau kenapa bisa kaya gini. Aku ga tau. Tapi aku ngga bisa.. setiap kita sama-sama aku teringat Wicak. Aku udah jahat, ngekhianatin dia."


"Wicak itu masa lalu syahdu. Yang penting adalah sekarang!" Tegas Arga menyadarkan Syahdu.


Syahdu ingin bicara namun lidahnya terasa kelu. Ya, dia tau itu masa lalu tapi sialnya masa lalu itu masih melekat erat dalam hidupnya. Dia tau, mungkin ini kutukan karena dia sudah mengkhianati cinta tulus Wicak padanya. Atau mungkin ini permintaan Wicak pada Tuhan supaya hatinya tetap pada Wicak bahkan sampai lelaki itu mati sekalipun.


Seperti apa yang Wicak pernah bilang, kalau seandainya Syahdu yang meninggal duluan, dia takkan menikah dengan siapapun karena hatinya seolah ikut terkubur bersama Syahdu.


Dan sekarang, perasaan bersalah pada Wicak lebih menguasainya. Ini gila memang, karena Syahdu sendiri sudah lama menyerah dengan hidupnya. Dia akan menuruti apapun yang membuatnya tak lagi teringat masa lalu yang menyakitkan itu. Jika bersama Arga juga membuatnya masih menderita, dia takkan mau menjalaninya.


"Syahdu, jangan pergi.." Suara Arga mulai mengiba. Dia memohon pada Syahdu supaya tak lagi meninggalkannya.


"Kenapa kamu korbankan dirimu, Syahdu. Aku yakin, disana Wicak juga ngga akan suka liat kamu kaya gini."


Wicak, kenapa nama itu keluar dari mulut Arga disaat sekarang.


Syahdu terisak. Ingin rasanya dia mati saja karena lelah dengan rasa bersalah dan perasaan lain yang muncul dan tak mau menghilang.


"Kamu ngga akan ngerti, Ga. Kamu ga akan paham apa yang aku rasain selama ini."


Arga meraih tangan Syahdu, "Cuma satu yang harus kamu jelasin, Syahdu. Satu yang perlu kamu perjelas. Tentang perasaan kamu ke aku."


"Apa untungnya? Hah? Aku udah mau gila karena ini semua. Sama kamu juga aku belum tentu bahagia, kan? Sekarang aja aku teringat Wicak. Aku ngga bisa. Aku ngga bisa, Ga!" Tegas Syahdu pada Arga yang terdiam.


"Udahlah, Ga. Kita memang ngga bisa sama-sama, karena sejak awal hubungan kita memang udah salah. Aku sekarang lagi nerima Karmaku. Jadi setelah ini, berhentilah menyebutku dalam semua lagu-lagumu." Ucap Syahdu, melangkah masuk meninggalkan Arga yang masih terdiam disana.

__ADS_1


__ADS_2