SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Syahdu Pingsan


__ADS_3

Syahdu dan Wicak berjalan sambil bergenggaman tangan di lorong rumah sakit. Hal itu lantaran Wicak tak juga melepaskan genggamannya sekaligus Syahdu ingin mempertegas hubungan dengan kekasihnya pada orang-orang di rumah sakit.


"Syahdu, kamu belum makan, lho. Aku beliin ke kafetaria, ya?"


"Aku ngga selera, kak."


"Tapi kamu lesu begitu. Kamu masuk dulu ke kamar nenek, tunggu sebentar aku beli makanan dulu." Wicak melangkah, namun tangannya ditahan Syahdu.


"Kak, ngga apapa. Dari tadi kakak nawari makan terus aku membayangkan makanan aja mual."


"Jadi, kamu pengennya apa, hm?" Wicak mengelus lembut pipi Syahdu. Wajah gadis itu sudah terlihat pucat sejak tadi.


Syahdu meraih tangan Wicak, mengajaknya berjalan lagi.


"Kak, makasi udah bantu aku soal uang kontrakan itu. Lain kali, untuk soal yang menyangkut keuangan, biar aku sendiri yang nyelesain." Ucap Syahdu dengan suara yang mulai serak.


"Kamu fokus aja sama kuliah dan juga nenek. Aku nanti bantuin urusan yang lain."


"Tapi.."


"Sayang." Wicak menghentikan langkahnya. "Aku ini siapamu? Aku juga mau kamu bergantung ke aku. Aku pengen membantu meringankan beban kamu. Cuma itu."


Syahdu menggenggam tangan Wicak. Lagi dan lagi, dia merasa sangat beruntung.


"Kakak itu.. dari dulu udah bantu aku sama nenek banyakkk banget. Justru, aku mau kakak ga ikutan lagi ngerasa terbebani sama musibah aku."


"Hei, hei. Ngga pernah aku ngerasi dibebani sama kamu. Sama sekali nggak. Justru aku ngga bisa diam-diam aja saat tau kamu punya masalah."


"Makasih ya, kak. Aku beruntung karena kakak sayang sama aku."


"Nggak cuma sayang, Syahdu. Aku sangat-sangat mencintaimu. Tekankan itu."


Syahdu sampai meneteskan air mata, lalu dia tertawa untuk mengalihkan kesedihannya. "Love you too, kak." Lirihnya sambil menghapus air mata. Selalu saja, setiap Wicak mengutarakan perasannya, hati Syahdu seperti teriris-iris.


Wicak menariknya dalam pelukan, mengusap lembut rambut Syahdu dan membiarkan gadis itu sampai tangisannya reda.


"Pacarku cengeng. Ngga pernah berubah dan aku suka itu. Awww.."


Syahdu mencubit kecil pinggang Wicak, sampai membuat lelaki itu menggeliat geli.


Mereka sampai di depan ruangan nenek. Saat Syahdu ingin membuka pintu, tiba-tiba saja kepalanya pusing dan pandangan terasa berputar. Tapi dia menepis dan langsung membuka pintu.


"Syahdu, udah pulang?" Nenek tengah disuapi makan oleh suster. Dia terlihat senang melihat Syahdu dan juga Wicak.


"Nek, gimana, udah lumayan?" Tanya Wicak, dia menutup pintu lalu menyentuh kedua bahu Syahdu di depannya karena perempuan itu hanya berdiri diam disana.


"Semakin membaik."


"Syukurlah." Wicak beralih ke gadis di depannya. "Syahdu, ada ap-"


Tubuh Syahdu ambruk, untung Wicak dengan cepat menangkapnya yang spontan membuat kepanikan suster dan nenek disana.


"Syahduuu, kenapa? Ya Tuhan.." teriak nenek panik.


"Nek, jangan panik, ya." Suster Dewi mencoba menenangkan Suri.


"Syahdu kenapa, Wicak?" Seru Suriani lagi. Dia menangis di brankarnya.

__ADS_1


Wicak membopong tubuh Syahdu ke tempat tidur. Dia mengelus lembut dahi gadis itu.


"Sus, tolong panggilkan dokter."


Suster Dewi menangguk lalu memencet tombol darurat, memanggil dokter jaga disana.


"Syahdu, bangun sayang." Wicak sebenarnya panik. Tapi dia mencoba tenang. Apalagi nenek sudah menangis melihati Syahdu yang pingsan di depan matanya.


Tak berselang lama, dokter masuk ke ruangan itu.


"Dok, tolong. Dia pingsan."


Wicak memberi ruang untuk dokter yang datang. Setelah memeriksa kondisi Syahdu, dokter meminta suster untuk memasangkannya alat infus.


"Kenapa cucu saya, dok?" Tanya Suriani dengan cemas.


"Ibu, tenang, ya. Syahdu kecapekan. Dia kekurangan cairan, jadi kita bantu pakai alat infus, ya." Dokter mencoba menenangkan nenek karena tahu kondisi wanita itu juga sedang tidak baik.


Suster datang dan memasangkan infus ke tangan Syahdu. Wicak sebenarnya merasa jantungnya tidak aman dan lututnya pula terasa lemas. Apalagi kalau sampai Syahdu kenapa-napa, rasanya dia takkan memaafkan dirinya sendiri.


"Saya permisi dulu."


"Terima kasih, dok." Ucap Wicak lalu ia duduk disebelah Syahdu, melepaskan sepatu gadis itu.


"Nenek juga istirahat, ya." Suster Dewi membantu menurunkan sandaran brankar, supaya Suriani bisa tidur dengan baik.


"Tapi Syahdu ngga apapa kan, sus." Tanyanya lagi meyakinkan.


"Ga apa-apa, nek. Nanti juga mbak Syahdu sadar, atau besok nenek udah bisa liat mbak Syahdu segar lagi." Sahut suster Dewi, sembari membereskan sisa makanan Suriani.


"Nenek tidur, ya." Ucap suster Dewi, lalu keluar membawa nampan makanan.


"Iya?"


"Ee.. suster yang jaga Nenek?"


"Iya, mas."


Wicak melirik jam di tangannya. "Gini sus, sekitar satu jam setengah lagi, saya harus kerja. Nanti bisa sekalian titip Syahdu?"


"Bisa, mas. Saya ngecek nenek setiap satu jam sekali. Nanti saya sekalian liat mbak Syahdu."


"Ah, terima kasih, sus."


"Sama-sama, mas. Mari.." suster Dewi melangkah pergi, sementara Wicak kembali masuk dan mendapati nenek mulai terlelap karena pengaruh obat.


Wicak duduk di tepi tempat tidur. Dia menggenggam tangan Syahdu. Rasanya menyesal ia tidak memaksa perempuan itu untuk makan sampai akhirnya Syahdu pingsan.


Dia pula ingin sekali berada disamping Syahdu. Tapi baru kemarin ia izin kerja untuk menemani nenek yang operasi. Jadi, tidak mungkin ia diizinkan lagi meninggalkan pekerjaannya.


"Selama sama kamu, baru kali ini kamu sampe pingsan begini." Wicak mengenggam erat tangan Syahdu, mengelus dengan ibu jarinya.


"Berat, ya?" Ucapnya lagi dengan lirih. Rasanya menyesal, tidak bisa membantu banyak.


Wicak terus disamping Syahdu sampai waktu pun menunjukkan dimana ia harus berangkat bekerja.


"Kak.."

__ADS_1


Baru Wicak ingin menyandang tas, dia langsung duduk lagi saat Syahdu ternyata sudah bangun.


"Sayang.." buru-buru dia meraih tangan gadis itu.


"Aku kenapa.."


"Pingsan. Kamu kekurangan cairan dan ngga makan seharian. Ditambah muntah lagi. Perut kamu kosong, ngga ada isinya. Apa yang mau dicerna? Kamu juga pasti banyak pikiran, makanya jadi gini." Wicak malah mengomel, membuat Syahdu tersenyum samar.


"Maaf.."


Mendengar ucapan maaf gadis itu membuat Wicak berhenti mengomel.


"Kamu mau makan?"


Syahdu menggeleng.


"Ya udah, kamu tidur lagi, ya. Istirahat. Aku ngga bisa nemenin karena harus kerja sampe jam 2, nanti aku kesini lagi setelah pulang kerja."


"Ngga usah, kak.." tolak Syahdu. Dia tahu Wicak pasti capek karena kerja shift malam. "Kakak pulang dan istirahat, ya. Besok baru boleh kesini lagi." Ucap gadis itu.


"Aku ngga mau abis aku sakit, malah kakak yang sakit." Sambungnya.


Wicak hanya diam menggenggami tangan Syahdu. Tangan perempuan kuat yang sekarang bebannya semakin berat dan sialnya, dia tidak bisa menyelesaikan beban Syahdu.


"Kalau ada apa-apa, hubungi suster Dewi, ya. Atau kalau ada yang kamu butuhkan, telepon aku." Wicak mendekatkan ponsel Syahdu ke sisinya.


"Iya. Makasi udah jaga aku, kak."


"Pasti aku jaga kamu, sayang. Besok, kamu harus udah sehat. Ya?"


Syahdu mengangguk-angguk, lalu menyentuh pipi Wicak. "Love you so much.."


"Love you too, cinta." Jawabnya dengan mencium lama tangan Syahdu.


"Aku pergi dulu, ya?"


"Hati-hati, kak."


"Iya." Wicak mengecup tangan gadis itu lagi dan juga keningnya. Kemudian Wicak menyandang tasnya.


"Ingat, kalau ada apa-apa, kabarin aku." Katanya sebelum menutup pintu, dan hanya dibalas anggukan beserta senyuman oleh Syahdu.


~


Rasanya sudah beberapa jam Syahdu tertidur. Tapi tiba-tiba ia terbangun saat merasa tangannya digenggam seseorang.


Syahdu berusaha membuka matanya yang sangat berat. Bayangan Arga ada disana.


Lelaki itu menjalin tangan Syahdu diantara kedua tangannya. Lalu menyentuhkan ke keningnya. Dia menunduk dan seperti mengatakan sesuatu, tapi Syahdu tak bisa mendengarnya dengan jelas.


"Syahdu."


"Hm.."


Syahdu ingin berkata tapi matanya terasa berat.


Dia bisa mendengar suara Arga, tapi tidak tahu apa yang ia katakan. Sampai Arga mengelus kepalanya dengan lembut dan Syahdupun kembali tertidur.

__ADS_1


TBC


__ADS_2