
Syahdu melambaikan tangan kepada teman-temannya yang beranjak pulang karena hari mulai gelap. Mereka sudah menghabiskan tiga jam di dalam untuk bersenang-senang. Senyuman lebar pun masih tergambar di wajah Syahdu, rasa bahagia menyelimuti perasaannya.
Arga berdiri dibelakang gadis itu. Dia merasa ikut senang karena berhasil membuat Syahdu melupakan sejenak kesedihannya.
"Mau langsung pulang?" Tanya Arga. Syahdu menoleh ke belakang. Kini tinggal mereka berdua yang ada di tempat parkir gedung karoke itu.
"Aku... mau bilang makasih."
Arga menaikkan alisnya, menunggu lanjutan kalimat Syahdu.
"Makasih, udah repot-repot buat acara ini."
Arga mengangguk-angguk saja. Dia melangkah ke arah mobilnya. "Nggak ikut?" Tanya Arga saat melihat Syahdu hanya diam saja di tempatnya.
"Aku mau ke rumah sakit dulu."
"Gue anter. Ayo." Arga membuka pintu mobil, tetapi Syahdu masih diam di tempatnya.
"Aku sendiri aja. Aku bisa naik angkutan umum."
Arga mendesah pelan. Dia menatap Syahdu cukup lama, mencari alasan supaya gadis itu mau diantar olehnya. "Ngga bagus malem-malem naik angkot. Diculik ntar lo. Buru, naik." Ucap Arga kemudian menutup pintu mobil.
Syahdu pun menurut. Dia masuk ke dalam mobil Arga yang membawanya sampai ke rumah sakit.
Syahdu turun. Dia mengira Arga langsung pergi karena hanya mengantarnya saja. Tanpa ia sadari lelaki itu mengekor dibelakangnya.
Para perawat dan beberapa dokter yang ia lewati terlihat menunduk dan memberi senyuman, membuat Syahdu keheranan, kenapa orang-orang di rumah sakit ramah padanya padahal biasanya tidak begitu.
"Syahdu."
Nenek Syahdu keluar dari ruangannya dengan senyum sumringah.
"Ya ampun, jauh-jauh datang kesini." Ucap nenek, membuat Syahdu mengertukan dahi.
"Nek, ada ap-"
Syahdu berhenti bicara saat neneknya malah melewatinya. Tentu membuat Syahdu bingung, sedetik kemudian matanya membulat.
"Arga!"
"Apa kabar? Baik-baik aja, kan? Duh, nenek jadi merasa direpotkan."
Arga tersenyum lebar. "Nggak apapa kok, nek. Ini sekalian antar Syahdu." Ucapnya sembari melirik ke arah Syahdu. Gadis itu masih menganga di tempatnya.
"Ayo, masuk-masuk." Nenek menggandeng tangan Arga masuk ke dalam ruangannya, bahkan tak menghiraukan cucunya sendiri.
Syahdu mencolek bahu Arga dari belakang, membuat lelaki itu menoleh.
__ADS_1
"Ngapain ikut aku, hah?" Bisik Syahdu pada Arga.
Lelaki itu tak menjawab. Dia mengikuti arahan nenek Syahdu yang memintanya duduk.
"Gimana kabarnya, sehat?" Tanya sang nenek. Sementara Syahdu duduk disebelah Arga.
"Sehat, nek. Nenek gimana?"
"Sehat. Semakin sehat. Kayaknya udah bisa pulang minggu depan."
Nenek pun bercerita panjang lebar dengan Arga. Syahdu pula tak lepas pandang dari laki-laki itu. Kenapa Arga bisa tersenyum lebar dan sesekali terdengar tawa renyahnya. Aneh, itu yang dipandang oleh Syahdu. Padahal dia tidak melihat Arga seperti itu. Arga kan, wajahnya selalu jutek.
"Apa Syahdu pulang aja, ya? Kayaknya ngga dipeduliin." Celetuk Syahdu tiba-tiba dan langsung menyadarkan sang nenek.
"Astaga, cucuku. Padahal dia ulang tahun. Sini, duduk sini." Nenek menepuk tempat tidurnya, supaya Syahdu duduk disana.
"Selamat ulang tahun. Terima kasih, udah kerja keras demi nenek." Ucap nenek sembari memeluk Syahdu.
"Kerja keras apanya." Protes gadis itu.
"Maafkan nenek, ya, Syahdu. Seharusnya kamu belajar saja tanpa perlu memikirkan apa-apa."
"Aah, nenek. Aku ngga kenapa-napa, kook."
"Permisi, paket." Di depan pintu, sekitar lima orang kurir membawa sesuatu di tangan mereka.
Setelah semua selesai dan para kurir pulang, Arga membuka satu-satu pesanan yang sempat ia pesan di dalam mobil tadi.
"Ini kuenya. Nggak lengkap kalau ulang tahun ngga pake kue." Ucap Arga. Dia mengeluarkan bolu yang tinggi dan besar. Indah sekali.
Lagi, Arga membuka kotak yang langsung terbuka menerbangkan balon helium yang cantik. Juga beberapa makanan yang sengaja Arga berikan untuknya.
"Wah.. indahnya.." nenek bertepuk tangan. Dia gembira dengan apa yang Arga lakukan untuk cucunya. "Syahdu, ayo cepat tiup lilin."
"Oh. Sebentar-sebentar."
Nenek keluar, dia memanggil beberapa orang perawat dan menyuruh mereka ke dalam ruang.
"Ulang tahun siapa, nek?" Tanya salah seorang perawat.
"Syahdu, cucuku." Kata nenek dengan bahagianya.
Mereka bertepuk tangan menyanyikan lagu ulang tahun. Tentu itu membuat Syahdu sangat terharu. Apalagi melihat nenek semakin sehat, dia yang paling bersemangat bertepuk tangan sambil mengelus rambut Syahdu.
Tentu hal itu membuat Syahdu sedih. Dia memeluk nenek yang belum selesai bernyanyi. Tapi Syahdu menangis dipelukan sang nenek.
Belakangan, Syahdu terus mengutuk dirinya karena merasa bersalah dengan keputusannya. Tapi melihat nenek senang dan tertawa seperti sekarang, membuatnya lagi-lagi merasa memang perlu mengorbankan dirinya demi kebahagiaan nenek.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Syahdu. Semoga panjang umur, cepat menikah dan semakin bahagia."
Syahdu mengangguk-angguk. Dalam hatinya, hal yang paling membuatnya bahagia adalah kesembuhan nenek.
"Selamat ya, mbak Syahdu."
"Selamat ulang tahun, mbak Syahdu."
Para perawat pun turut memberi ucapan dan mendoakan yang terbaik untuk Syahdu.
Setelah selesai, para perawat itu keluar dengan senang karena membawa makanan di tangan mereka.
"Arga.. terima kasih banyak.." ucap Nenek.
Arga hanya melempar senyum. Tak ada kata yang keluar, hanya wajah ramah Arga terus terlihat di ruangan nenek. Pantas saja nenek bilang Arga itu ramah dan selalu tersenyum. Ternyata benar. Entah apa yang merasukinya di rumah sakit ini, sampai sikapnya pun ikut berubah. Sungguh membuat Syahdu merinding.
Setelah selesai, Syahdu dan Arga pun pamit pulang. Mereka berjalan perlahan di koridor rumah sakit.
"Ga. Makasih banyak, ya."
"Hm."
"Sebenarnya ngga perlu sampe kek gitu, kok. Ketemu nenek sehat dan senang gitu aja aku udah seneng."
"Ngga papa. Lagian gue juga cuma mau nyenengin nenek lo doang. Biar makin semangat."
"Tetap aja, kan. Aku perlu berterima kasih. Apalagi nenek nampak bahagia banget tadi." Jawab Syahdu.
"Lo bahagia, nggak?"
"Hah?"
Arga berhenti, menatap Syahdu yang kini berhadapan dengannya.
"Gue tanya. Lo bahagia, nggak?"
Syahdu melempar pandangan ke tempat lain. Dia senang, tapi memang dalam hatinya belum tenang. Apa artinya dia belum bahagia?
"Kesenangan nenek nomor satu buatku. Asal nenek seneng, udah pasti aku seneng." Jawabnya kemudian.
"Nggak gitu juga. Buat apa lo berusaha bahagiain nenek kalo lo sendiri belum bahagia. Lama-lama juga ketauan boongnya."
Syahdu menyugar rambutnya yang jatuh di atas dahi. "Konsep bahagia kita itu beda. Dan kamu ngga akan ngerti walau udah aku jelasin." Ucapnya kemudian pergi begitu saja.
Arga ingin sekali Syahdu jujur padanya. Ingin mendengar curahan hati gadis itu supaya dia bisa membantu. Tapi, jika seandainya Syahdu mengatakan kalau kontrak itu yang membuatnya tak bahagia, maka Arga tidak akan diam saja. Dia akan merubah pemikiran Syahdu, sebelum kalimat itu keluar dari mulut Syahdu. Karena kini, Arga-lah yang bergantung pada kehadiran Syahdu di apartemennya. Tentu, apapun cara akan dia usahakan supaya gadis itu tetap berada disampingnya.
__ADS_1