
Arga duduk di tepi kolam ikan rumah Margareth. Dia lagi-lagi memikirkan Syahdu, juga apa yang dialami perempuan itu sepanjang hari.
Hari ini, beragam perasaan sudah Arga rasakan dan yang paling dominan adalah kesedihan juga penyesalan. Ingatan Arga kini mengarah pada Syahdu yang hampir saja mengakhiri hidupnya.
Arga jelas merasa bersalah. Benar-benar mengutuk dirinya ketika memanfaatkan nasib Syahdu yang berada di tepi jurang karena neneknya yang sakit.
Sekarang, satu-satunya keluarga yang tersisa bagi hidup Syahdu meninggal dunia dan gadis itu tidak punya gairah hidup, ditambah lagi hilangnya kehormatan yang ia junjung tinggi. Syahdu merasa tak punya tempat di dunia ini, apalagi jika suatu hari Wicak meninggalkannya.
"Aku akan menjagamu.." ucap Arga saat membayangkan jika suatu hari lelaki itu benar-benar akan meninggalkan Syahdu. Dia akan pasang badan dan melindungi gadis itu dengan segenap jiwanya.
Tapi lagi-lagi Arga menghela napas saat mengingat bagaimana lelaki itu mencintai Syahdu, seolah tak memberi ruang siapapun untuk mengisi kekosongan di hati gadis itu.
Arga sangat ingin bertemu Syahdu tapi tidak tahu gadis itu ada dimana. Ponselnya juga tidak aktif. Tapi, gadis itu pasti sedang bersama kekasihnya, kan?
"Mikirin Syahdu, ya."
Arga tersentak saat mendapati Margareth sudah duduk di ayunan kursi belakangnya.
"Oma. Engga, kok." Arga memiringkan tubuh supaya bisa melihat Margareth.
"Yah.. jatuh cinta itu memang buat pusing. Apalagi yang dicintai sudah punya kekasih. Mana kekasihnya juga sayang banget sama dia."
"Oma bicara apa, sih."
"Jangan kamu pikir oma gak tau."
Arga tersenyum kecil, mengingat Margareth juga pasti sudah menyelidiki Syahdu.
"Jadi, kamu udah mau nerima pertunangan itu, kan?" Tanya Margareth.
"Untuk sekarang, biarin aja dulu sampe Arga nemu jalan."
"Jalan apa? Kamu mau batalin pertunangan gitu aja? Sutomo sama Alex udah tanda tangani kontrak kerja sama. Kalo kamu batalin, yang rugi bukan cuma Alex. Nama baik oma juga akan rusak."
Arga tahu kini dirinya terjepit dan seperti tak punya jalan untuk meraih keinginannya.
"Coba aja sebelum ini kamu cari pasangan untuk diseriusin. Oma pasti bantu kamu lepas dari ambisi Alex. Tapi kamu aja ga mau nikah, malah buat oma pusing. Jadi oma pikir, jalan Alex itu udah bener."
"Masa oma gitu, sih. Padahal kalo mau cicit, Arga juga bisa kasih tanpa harus menikah."
TAK! Satu pukulan berhasil melayang di kepala Arga. Dia meringis memegangi kepalanya.
"Enak bener kalau ngomong. Kamu pikir perempuan itu mesin pembuat bayi, tanpa menikah dan tanggung jawab, trus kamu bisa punya anak, gitu?!"
Arga diam karena tahu salah. Lagi pula jika Maragareth setuju, dia juga tidak akan mau punya anak.
__ADS_1
"Trus sekarang Syahdu ada dimana? Kalau dia bingung, kamu ajak aja tinggal disini. Bilang sama dia, oma yang akan bantu kuliahkan sampai keluar negeri. Sayang kan, toh dia anak pintar."
"Serius, oma?" Tanya Arga kegirangan.
"Iya. Sana bilang ke dia. Tapi ingat..." Telunjuk margareth mengacung. "Kamu ga boleh punya hubungan sama dia."
Arga langsung diam. Raut wajahnya pun berubah datar.
"Oma cuma bisa bantu pendidikannya karena oma tau dia anak baik-baik. Tapi oma kurang setuju kalau Syahdu pacaran sama kamu."
Arga tak membantah. Dia tahu Maragareth keberatan karena latar belakang gadis itu. Apalagi di keluarganya, status sosial sangat berharga.
"Arga, suatu hari kamu akan mengerti kalau sudah menjadi orang tua, bahwa kita pasti menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Oma harap kamu mengerti ya, sayang."
Margareth beranjak, meninggalkan Arga dengan pikiran yang masih menjurus pada Syahdu dengan hati yang berteriak tidak setuju dengan apa yang diucapkan Margareth barusan padanya.
...🍁...
Syahdu duduk di bawah tempat tidur. Dia bersandar di kaki ranjang, menghadap jendela kaca yang tertutup rapat karena hujan.
Syahdu memeluk lutut menatapi air yang menempel dan mengalir di kaca jendela. Begitu juga air matanya ikut membasahi pipi.
Rasa sepi bernaung di hatinya. Selama ini, jika ia pergi kemana pun, pikirannya akan tenang saat masih ada Suriani di dekatnya. Tapi sekarang, dia seperti tidak punya tempat untuk kembali. Syahdu benar-benar belum siap kehilangan wanita tua itu.
Wicak datang dan duduk disebelahnya. Lelaki itu langsung menggenggam tangan Syahdu.
Syahdu menggeleng lemah. Dia tidak berselera dan tidak pula merasa lapar.
"Syahdu, nanti kamu sakit." Ucap Wicak dengan lembut.
Syahdu menatap lelaki disebelahnya. Tiba-tiba saja rasa penyesalan timbul. Dia merasa selama ini perjuangannya untuk Suriani sia-sia. Dia sudah merelakan kehormatan demi keberlangsungan hidup bersama neneknya. Akan berusaha ikhlas jika suatu hari Wicak meninggalkannya asal Suriani masih ada didekatnya. Tapi sekarang justru Suriani yang meninggalkannya.
"Syahdu, jangan merasa sendiri. Aku udah janji, ga akan ninggalin kamu apapun alasannya. Nenek pernah bilang, kalau aku harus terus menjagamu. Dia minta aku berjanji selalu ada disisimu dan aku ingin menepati itu dengan lebih jelas lagi." Wicak menyentuh pipi Syahdu, lalu tersenyum. "Menikah denganku, ya."
Syahdu tertegun menatap kedalam mata yang memancarkan kehangatan dan cinta untuknya. Wicak, dia melamar Syahdu.
"Aku memang belum kerja tetap. Tapi beberapa hari lagi aku akan selesai kuliah dan akan cari kerja. Kita.. nikah sederhana aja, ga apapa, kan?"
Syahdu hanya menatapnya dengan rasa penyesalan dalam dirinya.
"Aku ada tabungan tapi menurutku lebih baik kita pakai buat usaha rumahan aja, gimana?"
'Mau. Aku mau sekali.' Ucapnya dalam hati namun mulutnya terkunci, malah air mata yang tumpah.
"Aku.. sebenarnya ingin melamarmu saat wisuda ku tapi, setelah kupikir-pikir sekarang kamu ga ada temannya kalau di rumah. Makanya, setelah aku berpikir panjang, kurasa nikah itu jalan yang terbaik buat aku dan kamu. Aku juga nikahin kamu supaya-"
__ADS_1
Syahdu memeluknya dengan sangat erat. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan Wicak. Syahdu tiba-tiba saja ingin mempertahankan Wicak, satu-satunya tempat yang ia miliki. Ya, Syahdu akan jujur pada Wicak dan setelah itu, dia akan mengajak Wicak pindah dari kota ini, meninggalkan Arga dan kontrak sialan itu.
~
Syahdu duduk di meja makan. Dia memperhatikan Wicak yang membuka bungkusan makanan untuk sarapannya. Lelaki itu juga membuatkan Syahdu teh, dan meletakkan beberapa kue diatas meja.
"Syahdu." Kini Wicak berlutut dibawahnya. "Aku minta maaf, karena ga bisa nemenin kamu hari ini. Aku kerja, sayang. Sesuai sama keinginan kamu yang mau pergi dari kota ini, jadi beberapa hari kedepan, aku akan kerja dari pagi sampai malam, ngumpulin uang buat kita. Kamu ga apa-apa, kan?" Tanya Wicak sembari mengenggam kedua tangan Syahdu.
Gadis itu menggelengkan kepala dengan senyum kecil. "Ga apa-apa. Kakak kerja aja kaya biasa."
Tangan Wicak mengulur menyentuh pipi Syahdu. Gadis itu memang sudah tidak lagi menangis, namun matanya membengkak, juga suaranya serak dan kecil.
"Hari ini aku pulang jam 11 malam. Kalau ada apa-apa kamu kabarin aku, ya." Wicak berdiri kemudian memakai jeketnya. Dia mengecup puncak kepala Syahdu.
"Kak.."
"Iya?"
Wicak kembali berjongkok dihadapan Syahdu, mendongak menatap mata sendu gadis itu.
"Aku sebenarnya.." Syahdu menggigit bibirnya. Tiba-tiba saja dia tak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa, sayang?"
Syahdu memilin jari. Hatinya sejak tadi sudah mantap ingin jujur tapi lidahnya terasa kelu.
"Hati-hati." Ucap Syahdu akhirnya.
Wicak tersenyum lalu berdiri. "Iya. Kamu juga. Aku pergi dulu. Habisin sarapannya. Jangan lupa kunci pintu."
Syahdu mengangguk. Dia menatap kepergian lelaki itu.
Wicak berbalik, tersenyum pada Syahdu kemudian menutup pintu.
Syahdu menghela napas. Bagaimana pun ketulusan Wicak benar-benar membuatnya seperti seorang penjahat.
Syahdu mengetuk-ngetuk meja makan sembari berpikir. Dia ingin jujur pada Wicak sebelum lelaki itu menikahinya tapi kenapa terasa sangat berat. Syahdu tidak ingin Wicak menyesal setelah mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Namun sekali lagi, Syahdu harus menyiapkan hati, apabila Wicak tidak bisa menerimanya, maka dia harus berbesar hati dan menghormati keputusan lelaki itu dan tentu saja, tekad yang bulat sejak dulu adalah pergi dari hadapan Wicak dan juga Arga.
Syahdu mengangkat kepala saat melihat bayangan besar berdiri di depannya. Dia terkesiap melihat siapa yang datang di hadapannya.
"Hai." Sapa lelaki itu dengan senyum kakunya.
'Arga, bagaimana dia bisa tahu kontrakanku?'
__ADS_1
TBC