
...PoV Author...
Syahdu melambai pada Wicak yang datang dengan motornya. Dia meminta Wicak menjemputnya di tempat yang agak jauh dari apartemen Arga, dengan alasan kalau dia menginap di kos teman.
Dari jauh, Wicak sudah tidak bisa menahan senyum lebar karena melihat kekasihnya yang sangat cantik.
Bukannya langsung memberi helm yang sejak tadi ia sangkutkan di lengannya, Wicak justru menatap Syahdu cukup lama. Membuat gadis itu merapatkan bibirnya karena menahan rasa senang ditatap demikian oleh kecintaannya.
"Cantik."
Satu kata yang mampu membuat Syahdu menunduk sembari tersenyum. Bukan sekali dua kali Wicak memujinya, tapi kata-kata itu terus membuatnya merasa haus. Dia selalu ingin mendengar kata itu keluar dari bibir Wicak. Dia menyukainya.
"Gak jadi pergi, nih?"
Wicak tergelak dan memberikan helm pada Syahdu. Tak lupa dia membuka footstep belakang supaya kaki Syahdu berpijak dengan nyaman.
"Udah?"
"Udah." Jawab Syahdu.
"Kalau udah, turun gih."
"Hiss. Garing, tau. Hihi." Syahdu terkikik dan melingkarkan tangannya di pinggang Wicak.
"Tapi kamu ketawa, kan." Sahut Wicak sambil mulai menjalankan motornya.
Sepanjang jalan, mereka mengobrol asyik diselingi canda dan tawa. Sampai tak terasa mereka sudah tiba di tempat tujuan.
"Ini taman, kak?" Tanya Syahdu yang baeu turun dari motor.
"Iya. Ayo, masuk." Wicak langsung menautkan jari-jarinya pada Syahdu dan menarik gadis itu masuk ke dalam taman.
Kedatangan Wicak dan Syahdu yang masih terbilang pagi, membuat tamat itu masih sepi. Hanya ada petugas kebersihan disana.
Wicak berjalan di depan, menunjukkan berbagai hal lucu yang ada disana pada Syahdu.
"Liat itu, dua angsa yang ada disana." Wicak menunjuk ke tengah danau kecil. Ada dua ekor angsa yang saling menautkan leher. Tampak menggemaskan sekali.
"Angsa itu salah satu hewan yang setia. Mereka cuma akan mengganti pasangan saat kekasihnya mati. Sebagian angsa akan merasakan patah hati kalau pasangannya mati." Jelas Wicak sembari terus menatap kedua angsa disana.
"Masa? Angsa sampai seperti itu?"
Wicak mengangguk. "Pernah ada cerita, seekor angsa jantan patah hati setelah melihat pasangannya mati. Dia banyak diam, menolak makan, sampai ditemuin mati tiga hari setelahnya."
Syahdu mendengarkan cerita Wicak dengan seksama. Matanya menatap wajah serius kekasihnya sambil membayangkan jika kisah angsa itu masuk dalam kehidupannya.
"Begitulah kesetiaan angsa. Mereka juga bisa merasakan patah hati."
__ADS_1
"Kalau aku mati, apa kakak akan patah hati."
Wicak menoleh pada Syahdu sebentar, lalu melanjutkan jalannya. Syahdu langsung mengejar Wicak.
"Gimana kalau aku mati? Apa kakak sedih? Atau patah hati seperti angsa itu? Atau malah.."
Syahdu berhenti saat Wicak menghentikan langkahnya. Berbalik ke belakang, menatap serius ke wajah Syahdu.
"Aku ga suka pertanyaan itu."
Syahdu menunduk, dia hanya ingin mendengar jawaban jujur Wicak.
"Jangan nanya-nanya kaya gitu. Aku bahkan ga bisa bayangin hidupku tanpamu. Jadi, berhentilah menanyakan hal yang gak penting. Kamu mengerti, Syahdu?"
Syahdu langsung mengangguk dan seketika merasa bersalah. Mood Wicak tampak memburuk. Tapi matanya tiba-tiba melirik ke atas.
"Kalau aku yang mati duluan, kamu gimana?"
Syahdu mengerutkan alis. Kenapa malah menanyakan hal yang katanya tidak penting??
"Cepat jawab. Gimana kalau aku yang mati?"
Syahdu tergagap. Dia juga tidak pernah membayangkan itu sebelumnya.
"A-akuu.. aku pasti hampir mati, karena separuh hidupku mati." Jawab Syahdu menunduk, rasanya sedih membayangkan itu. Dia tidak ingin hal itu terjadi dalam hidupnya. Baginya, Wicak adalah separuh hidupnya. Jika tidak bersama Wicak, dia mungkin tidak akan menikah.
"Lebih baik kakak jauhi aku, cari perempuan lain, menikah dengan orang lain, dari pada mati. Aku ga sanggup melihat kakak mati." Jawab Syahdu lagi dengan suara pelan.
"Kalau gitu, tetaplah hidup, tetaplah bersama. Jangan mikirin yang aneh-aneh lagi karena percayalah, aku akan bersamamu sampai akhir. Aku janji." Tuturnya kemudian mengecup kening Syahdu cukup lama. Tanpa sadar Syahdu mengalirkan air mata, entah bagaimana perasaannya saat ini. Apakah harus bahagia atau sebaliknya.
"Ayo, masih banyak yang mau kita datangi." Wicak menggandeng tangan Syahdu berjalan lagi berkeliling taman.
Syahdu mengambil ponsel dari tas kecilnya. Membuka kamera dan mulai membidik Wicak yang berjalan perlahan di depannya.
"Kak." Panggil Syahdu dan saat Wicak menoleh ke belakang, Syahdu memotretnya.
"Ngefoto orang diam-diam udah bukan zamannya lagi." Ucap Wicak kemudian mulai bergaya. "Nih, cepat foto."
Syahdu terkekeh, tetapi tetap memotret kekasihnya yang tiba-tiba kelewat percaya diri.
Dia mengunggahnya ke sosial media, dan saat itu juga Arga melihatnya.
Lelaki yang masih memangku laptop itu diam sebentar melihat apa yang diunggah Syahdu.
Arga berdecak dan meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja. "Ga mutu banget liat-liat begituan." Gerutunya kesal. Tapi matanya masih melihat ke arah ponselnya.
__ADS_1
"Ah, ini hari minggu tapi oma ngasih kerjaan yang numpuk gini!" Pekiknya kesal. Rasanya tidak adil saat dia ingin jalan-jalan tapi harus bersabar karena pekerjaan dadakan itu.
Arga menutup laptop dan segera ke kamar mandi untuk bersiap bertemu kliennya.
...🍁...
"Gimana? Senang hari ini?" Tanya Wicak yang masih menggandeng Syahdu. Kini mereka berjalan santai di jalan yang ramai orang dan toko-toko berjejeran.
"Senang banget. Kita mau kemana lagi?" Tanya Syahdu antusias.
"Hmm.. kamu maunya kemana?"
Syahdu tampak berpikir. "Terserah sih, kak. Kalau bareng kakak, kemana aja aku mauu.." Jawabnya sembari mengeratkan genggamannya.
"Aku bawa kemana aja mau? Yakin?"
Dengan cepat Syahdu mengangguk. "Yakin, seratus persen."
"Aku bawa pulang, mau?"
"Eh. Haha. Mau bangettt." Jawabnya sambil tertawa senang. Wicak langsung menyentil pelan dahi Syahdu yang semakin tergelak.
Tawa Syahdu terhenti saat melihat seekor anak anjing kecil yang berjalan ke arahnya.
"Ya ampun, lucuuukkk.." Syahdu menggendong anak anjing kecil yang langsung akrab dengannya.
"Ini pasti ada yang punya." Kata Wicak yang menoleh kesana kemari mencari pemiliknya.
"Iya ya, kak. Anjing cantik begini pasti ada pemiliknya." Kata Syahdu yang menyadari anak anjing kecil itu sangat bersih.
"Aduh, aku gak tahaaan. Kamu imut bangeett." Syahdu mengucel-ucel wajahnya di bulu-bulu lembut anjing itu lalu memeluknya dengan erat.
Wicak menggelengkan kepala melihat kelakuan kekasihnya itu. "Aku juga ga tahan." Ucapnya melihat Syahdu yang begitu menggemaskannya.
"Mau ucel-ucel aku juga?" Tawar Syahdu sambil bercanda.
"Mau kamu? Yang bener?"
Syahdu tertawa bersama Wicak. Lelaki itu mencubit kedua pipi Syahdu yang meringis manja dan itu tertangkap di mata Arga yang duduk di dalam kafe bersama beberapa orang lainnya.
"Pak.."
Mata Arga tak lepas dari dua orang yang asyik bercanda disana.
"Pak Arga, bagaimana?"
Arga tersentak. "Ah, ya. Maaf.. apa bisa diulangi?" Pinta Arga sambil memperbaiki posisi duduknya.
TBC
__ADS_1
(Visual Arga)