SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Ujian Pranikah (3)


__ADS_3

Disaat yang sama, Arga datang dari pintu masuk. Wajah khawatirnya mendadak hilang saat melihat Syahdu sudah duduk di meja makan diapit Julia dan Shania.


"Kamu pindah." Titah Arga pada adiknya.


"Nggak ah! Aku udah duluan deket kak Syahdu." Tolaknya.


"Arga, duduk sini. Sebelah Oma." Margareth menepuk kursi disebelahnya, membuat Arga mau tak mau harus berjauhan dengan Syahdu.


Selama di meja makan, semua asyik mengobrol. Hanya Arga yang diam dengan tatapan yang tak lepas dari Syahdu. Tadi dia menawarkan banyak makanan pada Syahdu, tapi kekasihnya itu hanya menggelengkan kepala. Bahkan Syahdu tak mendengarkan ucapannya. Arga tentu merasa diabaikan dan itu membuatnya teramat sedih.


"Syahdu, hari ini kita jalan-jalan, ya? Mau, kan?" Arga membujuk Syahdu. Dia ingin gadis itu tak lagi mengabaikannya.


"Oh iya, Mami sampe lupa. Syahdu, hari ini mami mau ke salon trus mami juga ada kursus masak. Kamu ikut mami aja, ya?" Ajak Julia pada Syahdu.


"Kursus masak?? Mau, Mi. Syahdu mau banget ikut kursus masak." Jawabnya antusias. Arga mengerutkan dahinya pada Julia, tanda ia tak setuju. Lantaran dia duluanlah yang mengajak Syahdu. Kenapa Julia malah menyerobotny? Namun Julia hanya tersenyum pada Arga saat menyadari tatapan tajam anaknya itu.


Arga juga tak bisa tiba-tiba melarang. Walau biasanya Syahdu akan meminta izinnya dahulu, tapi kali ini gadis itu bahkan tak meliriknya.


"Kalo gitu, siap-siap gih. Mami tunggu di mobil, ya."


Syahdu mengangguk mantap. Dia berdiri untuk membereskan meja makan. Walau sudah berulang kali Margareth melarangnya, namun Syahdu tak mengindahkan larangan itu. Dia terbiasa melakukan semuanya dan merasa tak enak jika tak membantu.


Arga pula melangkahi tangga dengan cepat. Dia ingin berada di kamar sebelum Syahdu. Ada yang ingin ia bicarakan dengan gadis itu.


Namun sudah hampir 30 menit Arga menunggu, Syahdu tak juga masuk kedalam kamar.


Lelaki itu keluar lagi dan turun kebawah, mendapati Shania bermain bersama Popi dan Margareth yang membaca majalah.


"Oma, mana Syahdu?"


"Lho, kan pergi sama mami kamu. Baru aja berangkat."


"Hah?" Syahdu kenapa tidak masuk kedalam kamar? Padalah ia menunggu lama sekali.


"Tadi kak Syahdu mandi di kamar Shania. Trus pakai baju mami yang baru beli kemarin. Cantik banget kak Syahdu pakai baju floral-nya Mami." Celoteh Shania.


"Memang cantik. Makanya kakakmu itu gila setengah mati." Sahut Margareth dan mendapat cekikikan dari Shania.


Arga berdecak. Syahdu sampai tak mau menemuinya. Apa dia semarah itu?


Arga langsung teringat saat ia membentak Syahdu tadi. Gadis itu pasti sangat marah.


Tak mau terlambat, Arga buru-buru keluar untuk mengejar dua perempuan itu.


Cukup ngebut ia di jalan sampai menemukan mobil putih milik Julia. Mobil berhenti disebuah salon langganan Julia. Arga ingin keluar mengejar Syahdu, tetapi ponselnya malah berdering.


"Apasih!" Gerutunya pada Ibra diseberang.


'Heh, lo dimana, nyet? Dari tadi gue hubungi nggak lo angkat. Lo gak inget jadwal hari ini, hah?'

__ADS_1


Arga berdecak. Iya, dia lupa jadwal pemotretan iklan hari ini.


"Bentar lagi gue kesana!"


'Gak bisa! Ini setengah jam lagi udah mulai. Lo buru kesini.'


"Gue belom mandi."


'Astagaaa. Lo tuh, niat nggak sih? Cepetan gue tungguuuiinn.' Teriak Ibra dan langsung memutuskan sambungan telepon.


Arga menghela napas berat. Terpaksa ia memutar mobilnya untuk pulang. Padahal ia ingin menghampiri Syahdu terlebih dahulu. Namun nampaknya pekerjaannya kali ini tidak bisa ditunda lagi. Ibra bisa memunculkan taringnya jika Arga terus membatalkan jadwal.


Sesampainya disana, Arga langsung masuk ke ruang stylist. Ibra tak sempat menyemprotnya dengan omelan lantaran waktu sudah sangat ketat. Tapi Ibra masih bisa melihat gurat yang berbeda dari Arga. Lelaki itu tak seperti biasa.


Ia memotret wajah Arga dan mengiriminya pada Syahdu. Ia yakin dua orang itu pasti terlibat pertengkaran dan membuat wajah Arga bertekuk-tekuk.



"Masalah cowok itu, ya?" Tanya Ibra saat semua stylist sudah keluar ruangan.


"Lo gak percaya banget sama Syahdu. Gua yakin banget dia gak ada apa-apa sama cowok itu." Jelas Ibra lagi.


"Berisik lo." Arga menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya.


"Gue fotoin lo ya, malah ngerokok lagi." Ibra bersiap mengangkat ponsel, mengancam Arga yang langsung kesal dan membuang rokoknya. Ibra sampai menahan senyum. Selama ini dia tidak bisa membuat Arga menurut. Namun hanya dengan alasan Syahdu, dia bisa melihat ketakutan Arga.


"Lo tau kan, hari ini temanya apa. Lo udah bilang belum ke Syahdu kalo lo foto bareng cewe-cewe?"


Ibra terkekeh. Padahal dia baru saja berkirim pesan pada Syahdu.


"Ya udah ntar gue bantu jelasin. Sana lo, udah ditungguin photographernya." Ibra mendorong Arga yang tengah bermalasan. Mood-nya buruk setelah bertengkar dengan Syahdu tadi.


...🍁...


Arga pulang. Dia berhenti saat melihat Julia mengajari Shania belajar di ruang tamu. Langkahnya berbelok ke arah sana. Dia berdiri menatap sang ibu.


"Mi. Maaf soal tadi pagi."


Julia sampai menganga mendengar kata maaf dari bibir Arga. Tapi Julia tahu kalau itu pasti karena Syahdu.


"Iya. Mami ngerti kok. Tadi juga mami udah bilang ke Syahdu untuk maklumin sikap kamu yang kekanakan itu." Ucap Julia. Arga pun menurunkan pandangannya, ucapan sang mami mirip dengan Syahdu tadi pagi.


"Sana, minta maaf sama Syahdu. Kamu jangan sering-sering ngambek gak jelas gitu. Syahdu bisa lari kalo kamu cemburuan kayak tadi." Ancam Julia.


Arga mematung sebentar. Dia menimbang perkataan Julia. Mungkin ada benarnya, kalau Syahdu merasa dirinya terlalu kekanakan, pasti Syahdu jenuh dan akan meninggalkan dirinya.


"Hei, Ga. Kamu tidur di kamar tamu. Awas kalau masuk ke kamar Syahdu." Ancam Julia lagi dengan telunjuk yang terangkat.


"Iyeee.." Sahutnya langsung menaiki tangga. Tanpa Julia sadari jika tengah malam Arga suka menyelinap masuk ke kamarnya sendiri dimana Syahdu tertidur disana.

__ADS_1


Arga mengetok pintu. Untuk pertama kali ia lakukan itu lantaran Syahdu bisa saja semakin kesal jika Arga langsung masuk tanpa seizinnya.


Ia ketuk lagi pintu saat tak ada jawaban.


"Sayang, buka pintunya. Aku mau ngomong. Please.."


Pintu terbuka. Arga langsung masuk saat melihat Syahdu berjalan menuju tempat tidur.


Lelaki itu menutup pintu dan dengan segera mendekat kearah Syahdu.


"Sayang.."


Belum Arga mengucapkan kalimatnya, Syahdu langsung menunjukkan layar ponselnya pada Arga, membuat lelaki itu membelalak kaget. Padahal foto itu baru diambil tadi dan belum diterbitkan. Kalau Syahdu sudah memilikinya, dia tahu siapa yang mengirimi fotonya itu.


Arga mengutuk kesal dalam batinnya. Si sialan Ibra itu padahal katanya mau bantu menjelaskan. Tidak tahunya malah membuat masalah semakin ruwet.


"Sayang, ini tadi aku mau jelasin sama kamu. Tapi kamu lagi marah sama aku. Makanya aku mau minta maaf dan jelasin ke kamu sekarang."


"Ngga perlu. Dari foto ini aja aku udah tau!"


Arga duduk disebelah Syahdu. Dia mencoba meraih tangan gadis itu, namun dengan segera Syahdu menepisnya.


"Syahdu, please. Izinin aku buat jelasin ke kamu. Itu cuma foto iklan produk, sayang. Sumpah."


Melihat Syahdu yang diam, Arga berjongkok sembari menggenggam tangan Syahdu.


"Please, Syahdu. Maafin aku. Kedepannya aku akan bilang ke Ibra supaya dia tolak iklan atau apapun yang berkaitan dengan perempuan. Tapi aku mohon kamu jangan marah, ya?"


Syahdu menghela napas. Melihat Arga seperti itupun dia tak kuat.


"Duduk sini." Syahdu menepuk sisi tempat tidur, meminta Arga duduk disebelahnya. Lelaki itupun menurut dan duduk sembari terus menggenggam tangan Syahdu.


"Kamu tau kan, gimana rasanya dituduh yang enggak-enggak cuma gara-gara foto?"


Arga menunduk. Dia tahu, dia terlalu berlebihan menanggapi foto itu. Padahal benar kata Syahdu. Fotonya lebih banyak bersama perempuan lain. Baik itu fans atau model perempuan lainnya. Tapi Syahdu tidak mempermasalahkan itu dan kekasihnya malah sangat mempercayainya.


"Aku cuma mau kita saling percaya, Ga. Aku percaya ke kamu, begitu juga kamu ke aku. Itu kunci hubungan awet, sayang." Syahdu mengelus pipi Arga. Lelaki itupun mengecup telapak tangan Syahdu.


"Iya, aku paham. Maafin aku, Syahdu. Kedepannya aku akan lebih baik lagi. Makasih banyak ya, sayang. Kamu udah ngerti pekerjaan aku."


Syahdu mengangguk, lalu menerima pelukan dari Arga.


"Kamu gak marah lagi kan, sama aku? Jangan diemin aku kayak tadi lagi, ya. Aku beneran gak bisa digituin. Kalo kamu ga suka sama sesuatu, kamu marahin aku puas-puas, tapi izinin aku peluk kamu."


Syahdu mengerutkan dahi. Gimana caranya ia marah namun mengizinkan Arga memeluknya? Lelaki yang tengah ia peluk ini memang sangat aneh sekali.



__ADS_1


TBC


Haii.. Kalian udah Vote belum? Jangan lupa Vote yah🥰🥰


__ADS_2