
Argh, Wicak membuang pikiran jahatnya. Dia tidak ingin melakukan itu pada kekasihnya. Tapi sorot mata itu, kenapa seperti menginginkan sesuatu?
Syahdu pula menatap kedua mata Wicak yang berada di bawah kungkungannya. Perlahan ia menurunkan wajahnya, mendekat ke wajah Wicak dan kini matanya terfokus menatap bibir lelaki itu.
"Aku dapat." Bisik Syahdu sambil tersenyum jahil. Dia bangkit kegirangan karena tangannya berhasil mengambil botol wine dari Wicak.
Wicak duduk di tepi tempat tidur. Sejenak pikirannya kacau karena Syahdu. Tapi gadis itu hanya menggodanya supaya mendapatkan anggur yang terlepas dari tangannya.
"Syahdu, itu nggak baik buat kesehatan." Ucap Wicak dengan lembut.
"Dikiiit aja, yaaa. Ngetes doang, kook." Rengek gadis itu. Melihat wajah melas Syahdu membuatnya luluh juga.
"Kemarikan, biar kubuka."
Syahdu dengan cepat memberikan botol wine pada Wicak.
Lelaki itu menarik kursi dan meja mendekat ke jendela. Dia menata dua gelas dan beberapa makanan yang ia beli tadi diluar.
Terdengar tepuk tangan riang dari Syahdu. Dia gembira sebab malam itu akan menjadi malam spesial diantara mereka berdua. Duduk dengan anggur di tangan sambil mengobrol santai dan pemandangan laut malam. Benar-benar luar biasa.
Wicak menarik kursi, mempersilakan Syahdu duduk. Gadis itupun duduk dengan manis. Matanya mengikuti arah tubuh Wicak yang kemudian ikut duduk dihadapannya, menuangkan sedikit anggur di kedua gelas itu.
"Tos dulu, kan, sebelum diminum?" Syahdu mengangkat gelasnya, menunggu Wicak menyambut untuk mendentingkan kedua gelas supaya sah bahwa mereka tengah menikmati segelas anggur.
Wicak mengangkat gelasnya. "Pertama dan terakhir minum alkohol untuk kita. Ngga boleh lebih dari ini, dan sudahi penasaranmu."
Syahdu terkekeh, dia mendentingkan gelasnya dengan gelas Wicak, lalu meminumnya sedikit. Sementara Wicak hanya melihat Syahdu, dia tidak berniat meminum sedikitpun.
Wajah Syahdu langsung mengerut. "Rasanya kok ginii." Protesnya.
"Enak?" Tanya Wicak meledeknya.
"Sepettt.." Syahdu meletakkan gelasnya. "Kakak ngga minum?"
Wicak menggeleng, dia ikut meletakkan gelasnya. "Syahdu."
"Iya?"
"Kamu.. ada apa dengan laki-laki yang bernama Arga?"
DEG!
__ADS_1
Seketika tubuh Syahdu membeku. Tak bisa ia hindari jantungnya berdegub lebih kencang jika membahas soal ini. Kenapa tiba-tiba langsung menanyakan itu?
Tapi Wicak, tau dari mana soal Arga? Apa sebenarnya dia sudah tahu?
"Kakak.. tau Arga?" Tanya Syahdu. Dia meremas kedua tangannya di bawah meja. Syahdu mencoba bersikap tenang, walau tak bisa ia hindari, deguban jantungnya begitu kuat.
"Kemarin aku liat kamu merasa terganggu karena dia terus mengejarmu. Hampir aja aku datengin dia."
Ah, ternyata waktu Arga mencoba bicara pada Syahdu dan perempuan itu menolaknya. Ternyata Wicak melihat itu.
Tapi syukurlah, Wicak tidak tahu apa-apa soal yang lainnya.
"Ada masalah kecil, kak. Dia cuma mau minta maaf tapi aku terlanjur sebel. Ngga ada apa-apa, kok." Jawab Syahdu. Dia merasa lega sekarang.
"Baguslah. Ingat, siapapun yang mengganggu, cepat kabarin aku."
Syahdu mengangguk sembari mengangkat kedua jempolnya. Obrolan pun berlanjut, mereka menghabiskan waktu cukup lama mengobrol sampai tanpa sadar Syahdu menghabiskan anggur di gelasnya. Ia minum perlahan-lahan, tahu-tahu gelas itu sudah kosong.
Syahdu menatapi gelasnya. Kenapa dia ingin lagi? Tapi kepalanya mulai agak berat.
Wicak berdiri, dia menyimpan botol wine di atas lemari. "No more, Syahdu." Ucapnya.
Wicak menarik tangannya untuk berdiri, gadis itu menurut dan mengikuti Wicak menuju sofa yang ada di depan televisi. Dia mendudukkan Syahdu, menyalakan televisi, supaya Syahdu lupa dengan wine itu.
"Kita nonton aja." Wicak membuka bungkus makanan ringan, lalu menyerahkannya pada Syahdu.
Gadis itu mulai mengunyah sementara Wicak mencari tontonan menarik.
Setelah menentukan satu film, dia memadamkan lampu dan ikut duduk disebelah Syahdu, menarik selimut untuk menutupi kaki mereka.
Syahdu bergelayut manja di lengan Wicak. Kini mereka fokus menonton film yang tanpa mereka tahu kalau yang mereka tonton adalah film horor.
"Kak, ini film apa, sih. Kok hawa-hawanya nyeremin?" Tanya Syahdu yang mulai menutup wajahnya di bahu Wicak.
"Ngga tau juga. Asal pilih tadi. Mau aku ganti?"
"Jangan dulu." Katanya mulai penasaran dengan jalan cerita.
Beberapa menit berlalu, Syahdu hanya menempelkan wajahnya dengan sesekali mengintip karena dia tidak berani menontonnya.
"Ganti aja, deh." Wicak bersiap memegang remot.
__ADS_1
"Eeh. Jangan."
"Kamu nggak nonton, malah ngumpet gitu." Tukas Wicak pada Syahdu disebelah kirinya.
"Ya aku juga penasaran."
Wicak mengalah. Dia membiarkan gadis itu merusuh di lengannya. Namun setelah beberapa saat, film itu malah menunjukkan kemesraan antar pemain. Mereka berciuman dan bahkan sampai melakukan adegan panas di atas ranjang.
Hal itu sontak membuat Syahdu terbelalak. Kenapa jadi adegan tidak senonoh?? Batinnya.
Dia pula tak berani melihat Wicak. Laki-laki itu bergeming, tidak bergerak sedikitpun. Syahdu membuang wajah, dia tidak ingin melihat itu saat bersama Wicak di dalam kamar hotel pula.
Wicak juga melakukan hal yang sama. Dia enggan menonton dan membuang wajahnya ke samping. Dia menutup mata kuat-kuat saat mendengar suara nikmat dari film itu, membuat sekujur tubuhnya ikut merinding dan aliran darahnya mengalir kuat.
Wicak memberanikan diri melihat Syahdu. Ternyata gadis itu juga tengah mengarahkan wajahnya ke arah lain.
"M-mau aku ganti?" Tanya Wicak.
"I-iya. Ganti."
Wicak mulai mencari remot yang tiba-tiba tidak kelihatan.
"Mana remotnya? Tadi disini." Katanya mulai sibuk menoleh kesana kemari. Sementara Syahdu diam di tempatnya.
"Syahdu, remotnya nggak keliatan."
"Lagi pula udah ngga ada begituannya." Kata Syahdu menunjuk televisi yang sudah menampilkan adegan percakapan di dapur.
Wicak mulai mencoba duduk tenang, Syahdu pun tidak lagi menggaet lengan Wicak karena keduanya merasa canggung akibat apa yang mereka tonton tadi.
Wicak ternyata merasa gelisah. Ada sesuatu yang menderu dalam tubuhnya. Ingin sekali dia berlari kencang saat itu juga untuk menghilangkan hasrat yang mencuat dalam tubuhnya.
Dia menoleh pada Syahdu lagi. Ternyata perempuan itu juga tengah menatapnya. Wicak bisa melihat pergerakan di leher Syahdu. Gadis itu menelan ludah, lalu menggigit bibirnya. Wicak, entah bagaimana dia tahu Syahdupun merasakan apa yang ia rasakan. Terlebih perempuan itu duduk dengan meremas kuat kedua lututnya, seperti menahan sesuatu.
Apa Syahdu juga menahannya? Wicak tak berhenti menatap gadis itu. Syahdu pun menatapnya, mereka diam beberapa saat saling pandang dengan keinginan yang sama.
Masa bodo. Wicak menarik tengkuk Syahdu dan mellumat bibirnya. Dia bisa merasakan Syahdu juga membalasnya. Tangan perempuan itu bahkan sudah masuk ke dalam baju Wicak, meraba tubuhnya yang membuat Wicak memanas.
Ciuman itu turun ke leher Syahdu. Terdengar erangan kecil dari bibirnya, membuat Wicak menurunkan ciumannya lagi ke dada Syahdu. Dengan cepat dia membuka kancing baju gadis itu, hingga memperlihatkan sesuatu yang indah dibaliknya.
TBC
__ADS_1