
Setelah selesai bermain air, mereka pun naik untuk berganti pakaian.
Mereka kedinginan tapi tetap tertawa riang sambil bercerita dengan seru. Adina dan Ibra jalan di depan. Mereka mengobrol asyik sampai mengabaikan dua orang dibelakang mereka.
Arga menatapi Syahdu yang sejak tadi melipat tangannya di dada. Bibirnya membiru karena dingin. Melihat itu, Arga merasa kasihan tetapi dia tak tahu harus berbuat apa. Jeketnya pun tertinggal di atas sana.
"Mau gue peluk?"
Syahdu hanya meliriknya kesal, memintanya untuk berhenti bercanda. Padahal laki-laki itu tengah serius.
"Atau gue gendong?"
"Arga!" Syahdu melototkan matanya. Dia mendesah kemudian mengejar Adina dan Ibra di depan supaya tidak lagi diganggu Arga.
Sesampainya di atas, mereka berganti pakaian dan menyusun tenda. Ibra bilang, dia tahu kemana harus mengembalikan tenda yang disewa Awan karena dia juga sering menyewa tenda di tempat yang sama.
Setelah satu jam berkemas, mereka pun turun ke bawah pelan-pelan.
Beberapa kali Ibra terlihat menguap. Apalagi setelah tersiram air dingin membuatnya yang tak tidur semalaman semakin mengantuk.
"Capek gak, Ras." Tanya Adina.
"Banget." Jawab gadis itu dengan lemas.
Ya, setelah mandi di danau tadi, rasa pegal dan letih mulai terasa di tubuhnya.
Arga memperhatikannya dari belakang. Tanpa ia sadari, senyumannya tertangkap di mata Ibra.
"Lo naksir Laras, ya?" Bisik lelaki itu pada Arga.
Arga tak menjawab, dia hanya menatap Ibra dengan datar.
"Ngga usah lo sembunyiin. Terlalu kentara." Tukas Ibra. "Sayangnya, dia udah punya cowok. Tapi sebagai temen, gue doain deh, mereka putus." Ibra menepuk-nepuk pundak Arga. Lelaki itu pula tak menampik apa yang Ibra katakan. Dia hanya menggeleng kepala, merasa aneh dengan doa Ibra padanya.
~
Di dalam mobil, Arga menyetir. Disebelahnya ada Ibra yang sudah tertidur sejak tadi. Begitu juga Adina. Yang masih tersadar hanya Syahdu. Dia senang melihat pemandangan segar lewat jendela mobil.
"Nggak tidur?" Tanya Arga. Dia melirik Syahdu dari spion depan.
"Nggak ngantuk."
Arga fokus lagi. Lumayan, ada yang menemani, pikirnya.
"Kamu nggak ngantuk?" Tanya Syahdu kemudian.
"Sedikit."
__ADS_1
"Kalau ngantuk, kita berhenti aja. Dari pada kenapa-napa." Ucap Syahdu khawatir.
"Ngga nyampe-nyampe, ntar."
"Dari pada kecelakaan." Jawab Syahdu lagi.
Arga meliriknya dengan senyum jahil. "Takut mati, ya?"
Syahdupun mendelik kesal mendengar pertanyaan semacam itu. "Memangnya siapa yang nggak takut mati? Makanya kalau mau mati, sendirian aja sana. Jangan bawa-bawa aku. Berhenti kalau ngantuk." Omelan Syahdu malah membuat Arga terkikik apalagi matanya jadi segar.
"Iya, iya. Makanya lo ngoceh kek, nyanyi, atau apalah biar gue nggak ngantuk."
Syahdu tak menjawab. Dia merogoh ponselnya yang berdering. Ternyata pesan-pesan Wicak baru masuk. Sayang sekali saat malam sinyalnya malah padam. Itu sebabnya semua pesan Wicak baru bisa ia baca.
Senyuman Syahdu saat membaca pesan ditangkap Arga dari spion. Dia sudah tahu dari siapa pesan itu sampai membuat Syahdu senyam-senyum seperti itu.
Tak lama, ponsel Syahdu berdering dan gadis itu cukup lama menatap layar sampai akhirnya ia mengangkat teleponnya.
"Ha-halo.." Syahdu tergagap. Dia terlihat takut mendengar berita yang tak enak dari perawat yang menjaga neneknya.
'Mbak, ya ampun kenapa tidak aktif-aktif teleponnya. Ini lho, nenek tadi malam kesakitan dadanya, jadi masuk ruang Icu. Mbak segera kesini, ya. Dari tadi nenek ngigau.'
Syahdu menelan ludah. Air matanya mendadak jatuh.
"Saya kesana, sus. Tolong, jaga nenek ya. Kabarin saya kalau ada apa-apa."
"Syahdu, ada apa?" Arga ikut panik. Dia tahu sesuatu terjadi pada nenek Syahdu saat mendengar jawaban Syahdu di telepon tadi.
"Laras, ada apa? Kenapa lo nangis??" Adina langsung terbangun saat mendengar suara parau Syahdu.
"Nenek tiba-tiba kesakitan. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Ga, nanti turunin aku di simpang depan."
"Gue anter." Sahut Arga cepat.
"Iya, Ras. Kita bareng, ya. Gue juga pingin jenguk nenek lo."
Syahdu mengangguk lambat, Adina pun memeluknya. Untunglah, Adina ada disana untuk menenangkan gadis itu.
~
Sesampainya di rumah sakit, Syahdu berjalan cepat menuju ruang icu diikuti teman-temannya dari belakang. Gadis itu panik, hal-hal buruk pun muncul di pikirannya. Ia takut sang nenek meninggalkannya.
"Mbak.." Suster berdiri saat melihat Syahdu datang. Namun gadis itu menuju pintu karena ingin masuk, tapi suster menghalangi.
"Mbak, tidak diizinkan masuk jam segini." Ucap sang suster.
Syahdu menangis, padahal dia hanya ingin melihat neneknya. "Sus, bagaimana keadaan nenek?"
__ADS_1
"Nenek belum sadar, mbak." Suster pun menceritakan apa yang dokter katakan saat pemeriksaan. Gadis itu menggigit kuku ibu jarinya. Dia panik.
"Mbak, dokter bilang akan melakukan operasi lagi tapi butuh dana besar."
Syahdu terduduk. Adinalah yang menenangkannya. Syahdu sempat mengira sang nenek akan sembuh dan mereka akan kembali bersama. Tapi ternyata, kondisi nenek malah memburuk.
Syahdu lalu menatap Arga dengan mata yang berair. Matanya memohon supaya Arga bisa membantu mengatasi masalahnya, sesuai dengan isi kontrak mereka.
Seperti paham, Arga pamit dengan alasan ke toilet. Padahal dia masuk ke ruangan dokter yang menangani nenek Syahdu.
Cukup lama Arga menghilang, sampai ia muncul dengan raut puas di wajahnya.
"Lo dari mana? Lama banget." Bisik Ibra pada Arga, tapi lelaki itu hanya tersenyum kecil.
Tak berselang lama, seorang dokter datang dan mengatakan bahwa operasi akan dilakukan satu jam lagi. Tentu itu membuat Syahdu senang dan merasa bersyukur. Bibirnya hampir saja mengucapkan terima kasih pada Arga kalau saja ia tak melihat Adina dan Ibra juga ada disana.
"Ras, gue sebenarnya pengen banget nemenin lo disini tapi.." Adina menatap Ibra. Lelaki itu tak berani menyambung kata.
"Iya, aku ngerti kok, Din. Makasih ya, udah nyempetin mampir."
Adina memeluknya erat, mengusap-usap punggung gadis itu. "Lo juga harus jaga kesehatan, Ras. Jagain orang sakit juga butuh tenaga."
Syahdu mengangguk-angguk.
"Nanti gue usahain dateng lagi kesini, ya."
"Thanks ya, Din."
"Semoga nenek lo cepat sembuh ya, Ras. Gue balik dulu." Sambung Ibra. "Eh, Ga, lo temenin si Laras disini. Biar gue balik naik taksi bareng Adina."
Tanpa menunggu respon, Ibra menarik Adina dan melambaikan tangan. Adina mau tak mau menurutinya padahal wajahnya sudah tak suka lantaran paham maksud Ibra yang menjodohkan kedua orang itu.
Setelah Ibra dan Dina pergi, Arga duduk disebelah Syahdu yang masih menangis. Dia tersedu, menghapus air mata yang keluar tanpa izinnya. Perasaannya tak bisa ia gambarkan apalagi ada rasa takut yang mendominasi kalau saja tiba-tiba neneknya pergi.
"Udah, jangan nangis terus. Yang penting nenek akan dioperasi. Tadi gue udah ngomong sama dokter Willy, katanya besar kemungkinan bisa sembuh kok."
Syahdu menghapus air matanya, perlahan kepalanya naik menatap Arga. Dia tahu apa yang diucapkan Arga adalah supaya ia tenang, padahal suster sudah beritahu kalau jantung nenek lemah.
"Makasih banyak ya, Ga. Untung kamu ada disini."
Arga menghela napas. Dia ingin sekali memeluk dan menenangkan gadis itu. Tapi, dia pasti akan memberontak kalau dipeluk begitu.
"Makasih doang ngga cukuplah."
Syahdu cengo. Maksudnya apa? Apa Arga mau meminta itu disaat seperti ini?
"Belom sarapan, kan? Ayo makan dulu."
__ADS_1
"Aku mau nunggu nenek disini."
"Nenek ngga bisa dikunjungi. Operasinya juga satu jam lagi. Lo kan belum ada makan. Minimal perut lo harus terisi dulu. Ayo." Arga menarik tangan Syahdu yang membuatnya mau tak mau melangkah mengikuti Arga.