
Di tengah nyanyianku, beberapa orang disekitar kami terdengar ikut bernyanyi. Tentu membuatku senang, karena ternyata kami tidak mengganggu, justru membantu menghibur mereka sambil memasang tenda.
Dua orang laki-laki ikut duduk di dekat kami. Mereka juga bernyanyi bersama, lalu me-request lagu untuk kunyanyikan. Tidak masalah, selagi bisa menghibur.
"Mbak, suaranya bagus." Puji lelaki berjeket hitam.
"Mbaknya penyanyi, ya?" Tanya yang satu lagi.
"Iya. Biduan kampung." Ceplos Awan.
Anjrit! Aku spontan melotot ke arahnya, tapi dia tidak peduli dengan tatapan tajamku.
"Hahaha. Masnya kocak. Pacaran, ya?"
"Enggak!" Jawabku cepat.
"Oh, hoho. Semangat mas, semoga lancar jaya, ya." Lelaki berjeket hitam menepuk-nepuk bahu Awan. Kemudian mereka pamit pergi.
"Apaan, sih. Lancar.. lancar." Gerutuku yang tahu maksud mereka. Mereka kira kami punya hubungan lain? Kami cuma teman! Aku melirik kesal pada dua orang itu yang perlahan menghilang dalam kegelapan.
"Kenapa, sih! Gitu aja marah-marah. Memangnya kenapa kalau didoakan lancar jaya?"
"Bilang, dong, kalau kita nggak pacaran!" Senggakku.
"Halah. Memangnya penting? Kenal mereka juga enggak."
Aku mencebik, Awan sialan itu malah santai saja. Tentu saja bagiku penting.
"Seru banget, ya. Yang nggak kenal jadi kayak udah kenal, gitu." Ucap Adina merasa terharu dengan tali keramahan antar pecinta alam.
"Emang gitu. Apalagi kalau udah sering kesini dan mengenal beberapa dari mereka, pasti udah kayak sodara. Gue pernah tuh, kehabisan air untuk minum. Dikasih aja sama mereka. Padahal stok air mereka juga menipis." Jelas Awan mengingat betapa baiknya orang-orang yang mendaki disini dan Dina hanya mengangguk-angguk dengan mata yang berbinar karena salut.
Tak lama, Naya dan yang lainnya pun datang dan ikut duduk di dekat perapian.
Arga duduk disebelah Ibra, lalu Naya pula ikut duduk tepat disebelah Arga.
"Lelah juga." Ucapnya dengan helaan napas. Yang lain ikut duduk melingkari api kecil yang kami buat tadi.
"Dari mana kalian?" Tanya Adina.
"Bukit sebelah. Jalannya nggak terlalu turun kebawah, jadi gampang disebrangi." Jawab Ibra.
"Nggak keliatan apa-apa, katanya keren. Buat lelah aja." Keluh Naya sambil mengurut kedua kakinya.
"Namanya juga malam. Kan, lo sendiri yang mau kesana." Omel Ibra dan Naya hanya mencebik tak terima dengan omelan Ibra.
"Eh, dari pada sunyi-sunyi, kita main game aja yuk." Usul Naya tiba-tiba. "Gimana kalau truth or dare?"
"Wah, seru tuh.." Alika bertepuk tangan dengan semangat.
__ADS_1
"Wah, iya. Ayo main truth or dare!" Adina malah kegirangan.
Aku menatap Arga. Lelaki itu santai dengan menenggak minuman dalam kaleng.
"Aku.. mau istirahat dulu, ya. Masih agak capek."
"Eh, kok mendadak pergi. Padahal mau mulai main game loh, ini."
"Iya nih, ngga seru ih, Laras."
"Mau kabur, ya? Apa ada yang lo rahasiain? Haha. Penasaran gue."
"Emang rahasia apaan, sih?" Tanya Awan.
"Ngga ada rahasia. Emang mau istirahat aja." Elakku. Sudah seperti ini, mana mungkin aku kabur.
Sekilas kulirik Arga. Dia masih sama, duduk menekuk lutut dengan menggenggam sekaleng minuman.
"Disini aja dulu. Masa mau langsung tidur. Ngga seru lu." Oceh Awan padaku.
Ya sudah, akhirnya aku mengalah. Truth or dare, permainan yang sebenarnya ingin mengulik informasi seseorang dengan beralibi permainan. Itu prasangkaku. Itu karena Naya yang mengusulkannya.
"Ini botol mineral aku putar, ya." Naya meletakkan botol itu berdekatan dengan api. Lalu mulai memutarkannya hingga botol itu berhenti.
Seluruh mata tertuju pada Arga. Tepat sekali. Aku mulai gemetar.
Arga masih meneggak minuman kalengnya. Aku pula menahan napas sambil berdoa supaya dia menerima tantangan dan please, jangan jujur perihal apapun itu. Karena aku tahu Naya masih mencurigai aku.
"Truth."
Brengsek. Dia selalu mempermainkan aku dan kini, tak sedetikpun ia menoleh padaku.
"Hmm..." Naya ingin mengatakan sesuatu tapi tampak ragu.
"Gue aja yang nanya." Potong Ibra.
"No, no, no." Sela Naya dengan cepat. "Eemm.. Ga, lo punya crush ngga? Ada cewe yang lo suka nggak?"
"Ada." Jawabnya langsung dan spontan membuat mata Alika dan Naya membulat.
"Ada?" Ulang cewek itu.
Bukan cuma Naya, aku juga kaget. Ada katanya?
"Oh, tunanganmu itu, ya?"
"Apa? Tunangan? Arga udah tunangan??" Naya membulatkan matanya menatap serius ke arahku seolah ikut menimpal pertanyaan, 'kok lo bisa tau?'
Aku melirik Arga. Astaga, matanya itu. Kenapa menatap tajam ke arahku. Apa aku salah ngomong? Bukannya dia emang mamanya sendiri yang bilang kalau tunangannya ingin bertemu? Sepenangkapku dari obrolan waktu itu, Arga mau tunangan tapi tidak mau menikah. Gitu, kan?
__ADS_1
But, wait. Tatapan Arga membuat aku menggigit bibir. Nampaknya aku memang salah bicara.
"Ga, serius? Wah. Selamat, ya. Pasti cewek lo cakep banget." Ujar Dina.
"Hm. Cakep. Tapi bloon."
Jawaban Arga membuat Naya perlahan menunduk. Mungkin dia merasa tak memiliki harapan pada Arga, jika ternyata laki-laki itu sudah memiliki tunangan.
"Kok, lo ngga bilang-bilang sama kita?" Cetus Ibra.
"Gak tunangan. Sekedar naksir aja." Jawab Arga santai.
"Lho, kata Laras tunangan. Lo tau dari mana, Ras?" Tanya Naya dengan tatapan menyidik.
Hah. Sial. Jadi aku yang kena.
"Itu.. eng.. ada yang bilang ke aku. Temen dari temen, gitu. Sorry, ya." Ucapku pada Arga, pura-pura merasa bersalah padahal aku ingin mengeplak kepalanya.
"Ooh. Aku kira beneran tunangan."
Ada kelegaan di wajah Naya. Mungkin pikirnya, dia masih punya kesempatan lagi.
"Eh, Ga. By the way, lo pake shampoo apa?" Naya seolah melupakan permainan yang dia usulkan.
Kupikir, mungkin targetnya hanya Arga, untuk menanyakan status lelaki itu. Karena sudah tahu, diapun tidak peduli lagi.
"Kok, kayaknya harum banget. Boleh pegang, nggak?" Naya berusaha menyentuh rambut panjang Arga, tapi lelaki itu memundurkan kepalanya.
Tentu saja hal itu membuat tangan Naya menggantung di udara. Dia pasti malu karena ditolak oleh Arga seperti itu, dihadapan kami pula.
"Ah, sorry. Gue nggak bermaksud-"
"Shampoo biasa." Jawab Arga.
".. oh.. iya." Naya merasa malu dan gugup. Dia juga tampak bingung mau bicara apa lagi.
"Aku mau keliling dulu." Aku berdiri dan menepuk-nepuk pelan celana yang kupakai supaya tidak ada pasir yang menempel.
"Mau kemana gelap-gelap gini?" Tanya Awan.
"Kepo lu." Jawabku dan langsung pergi, berjalan melewati tenda-tenda dan lingkaran orang-orang dengan aktifitas malam mereka.
Ada yang bermain game, bernyanyi dengan gitar, atau sekedar bercerita seru dengan teman-teman mereka.
Namun tiba-tiba, tanganku ditarik oleh seseorang yang tentu saja membuat mataku terbelalak.
"Ikut gue."
Arga menarik tanganku melewati pepohonan yang aku tidak tahu entah kemana dia mau membawaku. Aku hanya berdoa supaya tak ada satupun dari teman-temanku yang melihatnya.
__ADS_1