
Diluar masih hujan. Syahdu sebenarnya ingin kembali ke rumah sakit tapi tidak bisa. Tadinya Wicak menawarkan untuk mengantar pulang, tapi Syahdu menolak karena demamnya saja masih tinggi, malah mau mengantar pula.
Syahdu melirik jam di dinding kamar Wicak. Sudah pukul 9 malam dan hujan sangat deras. Dia sudah terjebak disana selama tiga jam lamanya.
Wicak duduk tenang di depan laptopnya. Walau tengah sakit, dia tetap ingin menyelesaikan skripsinya sedikit lagi.
Syahdu menatap wajah lelaki itu. Tampan, dari dulu orang-orang bilang kalau Wicak berkarisma. Sampai-sampai cara bicaranya saja membuat banyak perempuan menyukai lelaki itu.
Itu juga salah satu penyebab Syahdu menyukainya. Sama seperti gadis lain, Syahdu menyukai pembawaan Wicak yang tenang dan gaya bicara yang menyenangkan.
Syahdu jadi teringat masa dulu. Suatu hari, dia baru keluar dari kelas setelah bel pulang sekolah. Waktu itu, Syahdu bertengkar dengan salah satu teman sekelas yang mengejeknya sebagai anak pelacur. Dia sampai kena cakaran dibagian pipi sampai leher. Merah dan perih, tapu Syahdu tak peduli karena dia tengah sakit hati.
Wicak berjalan berlawanan arah dengan Syahdu. Tiba-tiba saja lelaki itu berdiri menghalangi jalan Syahdu. Lalu menunjuk pipi yang merah karena cakaran.
"Diobatin dulu sebelum pulang." Ucapnya tiba-tiba.
Syahdu tak menjawab. Dia menyingkir supaya bisa melanjutkan jalannya. Tapi lagi-lagi Wicak menggeser, menghalangi langkah Syahdu. Padahal tidak saling kenal, tapi lelaki itu malah sok akrab. Ya, waktu itu Wicak memang terkenal karena namanya selalu dipanggil sebagai anak yang berprestasi. Belum lagi parasnya yang tampan membuatnya disukai. Syahdu juga hanya tahu wajah dan namanya. Tapi tidak ada perasaan sama sekali. Apalagi Wicak kelas 3 dan Syahdu kelas 1 saat itu.
Wicak menunjuk ban di bahunya. Ada lambang seperti tanda tambah berwarna merah disana. "Aku ketua PMR. Ikut aku sekarang."
Syahdu mau tak mau mengikutinya dari belakang.
"Duduk disitu." Ucapnya tanpa menoleh. Dia mengambil kotak obat dalam lemari ruang UKS.
Syahdu duduk dan membiarkan Wicak mengobati lukanya. Perih, tapi Syahdu menahankannya supaya ia bisa cepat pergi.
"Kecil-kecil udah berantem. Gimana nanti besarnya."
Syahdu langsung memundurkan kepalanya saat Wicak mengoleskan obat. Alis lelaki itu sampai mengerut karena Syahdu menghindar.
"Kalau ngga tau apa-apa, mending gausah ngomong!" Tukas gadis itu kemudian pergi begitu saja.
Begitu juga waktu itu. Syahdu yang enggan mendengar sindiran teman-temannya memilih duduk diam di dekat gudang. Tapi dia malah bertemu Wicak.
"Ngapain disitu?"
Syahdu terkejut mendapati Wicak berdiri di dekatnya yang lagi berjongkok. Lelaki itu rapi dengan seragam dan dasi SMP, kedua tangannya masuk kedalam saku, menatap dingin kearah Syahdu.
Gadis itu mendesah saat mendapati lagi-lagi Wicak yang datang.
"Ngga ngapa-ngapain." Jawabnya kemudian pergi. Tak ingin berurusan dengannya.
Kalau diingat-ingat lucu juga. Bagaimana Wicak bisa selalu ada saat Syahdu dalam kesulitan, bahkan sampai sekarang. Lalu, entah keberanian apa yang menghantui Wicak, tidak ada angin dan hujan, dia nembak Syahdu. Padahal hubungan mereka tidak bisa dikatakan sebagai orang yang sedang melakukan pendekatan.
Walau akhirnya Syahdu juga menerima dan hubungan mereka sempat dicerca banyak orang. Saat SMA, Syahdu mengikuti jalan Wicak ke sekolah yang sama, sampai lelaki itu lulus akselerasi dan berhasil menyelesaikan SMA dalam dua tahun.
"Bosan, ya?"
Wicak memecahkan lamunan Syahdu. Gadis itu tersenyum, kemudian menggeleng pelan.
Wicak menutup laptop, lalu duduk di dekat Syahdu. "Maaf, di kosanku ga ada apa-apa."
"Ngga apapa. Lagian aku jadi ganggu kakak disini."
__ADS_1
Wicak tertawa pelan. "Ganggu apa? Aku senang akhirnya bisa ditemani gini."
Syahdu juga merasa senang. Apalagi bisa melakukan aktifitas bersama seperti makan dan menonton film.
Wicak menyandarkan tubuhnya ke tembok sebelah Syahdu.
"Besok aku harus ke kampus."
"Tapi kakak masih sakit."
"Besok dosen pembimbingku hadir. Jadi, aku ga mau ngelewatin kesempatan. Sekalian daftar meja hijau."
Syahdu menoleh. "Meja hijau? Sidang maksudnya?"
Wicak mengangguk-angguk.
"Kakak bakalan sidang? Berarti udah selesai, dong, skripsinya?" Tanya Syahdu antusias. Pasalnya kemarin-kemarin Wicak bilang kalau dia minta waktu beberapa bulan untuk menyelesaikan skripsinya dan mereka bisa kabur sama-sama.
"Iya. Untungnya semua berjalan dengan lancar dan-"
Wicak menahan kalimatnya karena Syahdu tiba-tiba saja memeluknya dengan erat.
"Akhirnya selesai." Ucap gadis itu. Dia merasa jalan untuk pergi lebih mudah.
"Iya. Ini juga karena kamu. Aku jadi kerja siang malam supaya bisa nyelesain ini." Wicak menyelipkan rambut Syahdu ke belakang telinganya. "Makasih, ya."
Syahdu mengangguk-angguk senang. "Kalau gitu, kakak harus sembuh supaya besok bisa daftar sidang, ya. Eh, trus, kalau udah daftar, sidangnya kapan, kak?"
"Ngga tau juga. Biasanya nunggu pesertanya mencukupi. Paling satu atau dua minggu."
"Senang banget, ya, kamu."
"Bangett. Aku juga pengen liat kakak pake toga."
Wicak mengacak rambut Syahdu gemas. "Iya. Aku juga ga sabar. Semoga aja semua berjalan dengan lancar, ya."
"Aamiiiiinnnn.." Jawab Syahdu dengan cepat, lalu mereka berdua tertawa.
Wicak berdiri, dia mengambil sesuatu dalam tasnya yang tergantung di dinding.
Ia menyerahkan beberapa lembar kertas pada Syahdu.
"Apa ini, kak?" Tanya gadis itu.
"Desa yang akan kita datangi."
Syahdu langsung memperhatikan gambar desa di gambar yang Wicak berikan. Desa itu tampak begitu asri dibawah kaki gunung.
"Desa itu belum masuk listrik dan sinyal Hp. Penduduknya juga hanya berjalan kaki. Ke kota kecil untuk menelepon atau mengirim surat aja jaraknya 3-4 jam. Gimana, kamu mau?"
Syahdu mengangguk. Baginya hal itu tak masalah. "Berapa jam perjalanan ke desa ini, kak? Kalau ngga ada kendaraan, gimana kita sampe sana?"
"Kendaraan sih, ada. Tapi ngga banyak. Biasanya kalau mau ke kota cuma naik motor. Dari kota kecil itu kita harus sewa transportasi. Untuk kesana, akan makan waktu 24 jam naik bus."
__ADS_1
"Wuh. Lama banget."
Wicak mengelus lembut rambut Syahdu. "Kalau kamu setuju, kakak akan secepatnya bilang sama temen kakak yang keluarganya masih tinggal disana. Untuk kerjaan juga kamu jangan khawatir, itu masalah kecil."
Syahdu mengangguk saja. Jika Wicak sudah merencakana semua ini, artinya dia memang serius ingin terus bersama Syahdu.
...🍁...
Arga pulang dalam keadaan baju yang masih basah. Sejak tadi ia banyak berdiam di dalam mobil menunggu balasan dari Syahdu. Tapi ponsel perempuan itu tidak aktif.
"Arga. Kamu baru pulang?"
Suara Margareth membuat Arga menoleh ke arah ruang tamu. Disana ada juga Julia dan.. Soraya. Arga sampai menghela napas melihat kehadiran perempuan itu.
"Sayang, kesini sebentar. Ada yang mau mami bicarain."
"Arga capek, mi." Jawabnya sembari berjalan menuju tangga.
"Alexander, come here now!" Suara tegas Julia membuat Arga mau tak mau menuju ruangan itu.
Dia berdiri disana, menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh maminya.
"Soraya needs to talk" (Soraya mau bicara)
Arga membuang wajah. Enggan menatap ke arah Soraya.
"Iya, Ga. Bisa bicara bentar, ngga.."
"Yauda cepat!"
"Kita disana aja, ya. Bentar aja, kok." Soraya berjalan menuju tempat yang ia maksud, dengan malas Arga mengikutinya.
"Cepetan." Desak Arga sesaat setelah Soraya berhenti di taman kecil rumah itu.
"Papah aku ngajak ketemuan besok malam. Dia mau ketemu kamu untuk makan malam."
"Gue sibuk."
"Harus bisa. Soalnya kalau kamu nolak, papa kamu yang akan datang kesini."
Arga menatapnya tak suka. Alisnya sampai menyatu mendengar ancaman Soraya.
"Aku ngga bohong. Soalnya papa kamu sendiri yang telpon aku. Dan.. soal cewek itu.. tante Julia sama Oma ga tau kan, kalau dia lahir dari seorang pelacur." Senyum kecil muncul di wajah Soraya.
Arga tak paham bagaimana Soraya bisa tahu soal itu. Tapi jika sudah sampai seperti ini, artinya Soraya benar-benar mengincar Syahdu sebagai umpannya.
"Gimana ya, kalau mereka tahu ternyata cewek yang disukai anak semata wayang ini asal usulnya ngga jelas. Siapa bapaknya?" Soraya menggelengkan kepala. "Nggak ada yang tau."
"Mau lo apa sampe ngancam gue kayak gini!" Tukas Arga mulai berang.
"Kamu nganggepnya ancaman?" Soraya tertawa kecil. "Aku cuma nawarin cara untuk berbagi keuntungan buat kedua orang tua kita."
Arga melangkah maju merapatkan tubuhnya ke Soraya sampai perempuan itu mundur dan menambrak tembok di belakangnya. "Kalo sampe orang tua gue tau soal Syahdu, gue yang akan ngabisin lo." Mata Arga seakan berapi menatap Soraya dengan kebencian di hatinya.
__ADS_1
"Aku ngga sejahat itu, kok. Aku cuma mau kamu bantu untuk ngelancarin usaha orang tua kita. Jadi, jangan lupa datang besok, ya." Soraya tersenyum manis, lalu melewati Arga begitu saja. Ia bersenandung ria. Dalam hatinya bahagia karena berhasil membuat Arga tak berkutik. Besok, Arga pasti datang untuk bertemu ayahnya. Tentu saja dengan jamuan manis sambil membicarakan soal pertunangan itu.
TBC