SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Belajar Masak


__ADS_3

Syahdu melenguh, tiba-tiba saja dia merasakan ada sesuatu yang memainkan puncak dadanya.


Tapi rasa kantuk luar biasa membuatnya enggan membuka mata.


Syahdu merasakan sekujur tubuhnya meremang, bagai sengatan listrik yang mengalir keseluruh tubuh. Kini, pergerakan itu perlahan turun ke bagian bawahnya.


Syahdu merapatkan kedua kaki saat merasa geli dan denyut nikmat di pusat inti tubuhnya.


Tangannya meraba, dia sadar ada seseorang diatas tubuhnya, lalu menjambak kecil rambut panjang yang kini mulai menaiki tubuhnya lagi. Sentuhan itu sekarang terasa dibagian puncak dada dengan gigitan kecil.


"Aaah..." Syahdu membuka mulut karena nikmat. Sungguh, des*han yang keluar dari mulutnya lolos begitu saja.


Syahdu membuka matanya perlahan dan mendapati Arga tengah bermain di atas tubuhnya.


Arga yang mendengar des*ahan halus Syahdu, langsung menatapnya. Mata lelaki itu sudah tidak terlihat seperti biasa. Pandangan Arga terasa berbeda, dia terlihat sangat nafsu dan bergairah, apalagi setelah mendengar itu dari Syahdu, jantungnya berpacu ingin melakukannya dengan iringan suara lembut gadis itu.


Arga mulai mendekatkan wajahnya pada Syahdu, lalu mellumat bibir ranum gadis itu dengan lembut. Tangannya tidak diam, dia meremas gundukan indah yang tidak pernah bosan ia mainkan.


Ciuman itu perlahan turun ke leher, lalu turun lagi ke dada Syahdu.


Arga menggenggam kedua tangan Syahdu yang berusaha meremat sprei. Arga menatap wajah yang kini berharap untuk Arga tidak menghentikan permainannya.


Dia menatap kedua mata Syahdu. Ada perasaan yang tak bisa ia gambarkan, tapi terasa seperti tak ingin berpisah darinya.


Tiba-tiba Arga mengecup kening Syahdu begitu lama, membuat Syahdu sejenak tertegun.


Ciuman itu turun lagi ke bibir lalu lehernya. Disaat itu, Arga memasukkan miliknya pada Syahdu, membuat gadis itu lagi-lagi mengerang nikmat.


Dengan perlahan Arga menggerakkan pinggulnya, matanya tak lepas dari Syahdu. Gadis itu pula memejamkan mata, merasakan dibawah sana terasa penuh masuk ke dalam miliknya.


Arga meraih dan melingkarkan kedua tangan gadis itu di lehernya.


Syahdu meremas kecil rambut Arga saat dia merasa tak tahan dengan denyut nikmat itu.


Lalu, Arga menghentikan permainannya. Matanya masih saja menatap Syahdu lekat-lekat. Syahdu pula merasa ada yang berbeda dari Arga. Entah mengapa ia melihat sedikit kesedihan di wajah itu. Apakah karena malam ini sudah sangat larut, atau Arga baru minum sesuatu yang memabukkan?


"Aku.."


Syahdu menunggu, apa yang ingin lelaki itu katakan di tengah pergulatan nikmat ini? Tidak ada. Arga diam. Dia tak melanjutkan ucapannya yang kini menyebut dirinya dengan 'Aku'. Bukan 'Gue' seperti biasa. Dan itu cukup membuat Syahdu menyadari, memang ada yang berbeda dari Arga.


Syahdu ingin menurunkan tangannya dari leher Arga, tapi laki-laki itu menahannya.


"Tetap disini." Bisiknya. Lalu mulai menggerakkan lagi pinggangnya dengan lambat, sampai beberapa waktu kemudian dia menggerakkan dengan cepat hingga membuat napasnya memburu hebat.


Setelah selesai, Arga menjatuhkan dirinya di atas tubuh Syahdu. Tentu itu membuat Syahdu gelagap. Laki-laki itu memendamkan wajahnya di dada Syahdu.


"Elus kepalaku, Du."


Syahdu diam, mencoba mencerna kata-kata Arga. Elus kepala, katanya?


Merasa lama, Arga meraih tangan Syahdu dan meletakkannya di atas kepalanya. Pelan-pelan Syahdu mengelus rambut Arga yang sangat lembut.


Dia merasa aneh, dari tatapan Arga juga terasa ada yang berbeda. Kenapa Arga sampai seperti sekarang? Bahkan kelakuannya tak biasa. Kali ini Arga terlihat manja.


"Ga.."


Syahdu menghentikan tangannya saat mendengar dengkuran halus dari bibir Arga.


Wait, dia tidur? Syahdu mencoba melihat mata Arga. Namun tidak bisa karena rambutnya yang lebat. Tapi, kenapa malah tidur disaat posisi seperti ini? Bahkan miliknya belum terlepas dari punya Arga.


Syahdu menghela napas. Ya sudahlah, dia tak ada pilihan lain. Karena mengantuk, Syahdu memilih memejamkan matanya saja.

__ADS_1


~


"Hoi. Bangun. Udah jam berapa, nih?"


Syahdu membuka matanya perlahan. Dia melihat bayangan laki-laki berdiri di dekatnya. Rasa lelah sangat terasa diseluruh tubuhnya, Syahdu memejamkan matanya lagi.


"Bagun, lo nggak liat ini jam berapa? Jadi naik, nggak?"


Arga sudah kembali ke mode semula. Gue-elunya sekarang muncul lagi. Tetapi, mendengar kata terakhir membuat Syahdu membuka mata. Syahdu mengangkat kedua tangannya, meregangkan tubuh yang masih terasa sangat lemas. Apalagi ada tubuh yang tertidur diatas tubuhnya tadi malam.


"Jam berapa ini?" Tanya Syahdu dengan suara serak.


"Jam 8."


Syahdu berdecak. Baru jam segitu. Padahal janjian kumpul jam 1.


Arga duduk di tepi tempat tidur. "Lo nggak bangun juga?"


"Capek, Ga. Satu jam lagi." Ucapnya tanpa membuka mata.


Tak ada suara. Kini Syahdu mulai tenggelam dalam tidurnya.


Lagi, Arga mengecup kening Syahdu lalu beranjak dari sana menuju sofa. Sebelum mendaki, dia ingin menyelesaikan pekerjaannya sedikit lagi.


Sementara Syahdu. Matanya terbuka sesaat setelah Arga mengecup keningnya. Ada apa dia? Sudah dua kali Arga melakukan itu padanya.


Syahdu mengangkat kepalanya sedikit, melihat ke arah Arga yang berkutat dengan laptop. Wajahnya mulai serius dan sesekali terdengar decakan kesal dari mulutnya.


Syahdu kembali merebahkan kepala. Soal cium mencium bagi Arga adalah biasa. Apalagi dia tinggal diluar negeri dan pergaulannya bebas. Pasti hal semacam itu sudah sering ia lakukan pada perempuan lain.


Tak mau pusing, Syahdu memejamkan matanya untuk kembali tertidur. Dia berbalik kesana kemari, mencoba mencari posisi ternyaman. Tapi, matanya tak lagi mengantuk.


Dengan berat hati dia duduk, menatap Arga yang tak jauh darinya.


Arga menoleh sekilas, lalu kembali ke laptopnya lagi.


"Ayo, masak."


"Gue udah buatin lo sarapan."


Syahdu meraih baju dan memakainya. Dia berjalan menuju dapur dan melihat apa yang Arga masak. Bubur ayam.


"Beli, ya?" Celetuk Syahdu dari dapur.


"Enak, aja. Gue masak." Sanggahnya.


Syahdu menghampiri Arga, berdiri di hadapan lelaki itu.


"Ayo, masak lagi."


Arga mendongak. "Kenapa? Ngga suka bubur ayam?"


"Bukan. Buat bekal kita disana. Cewek-cewek pada bawa makanan, tau. Masa aku enggak." Jelasnya.


"Beli aja, nanti."


"Aku maunya masak. Katanya janji mau ngajarin aku masak."


Arga menghela napas. Sebenarnya dia mau menyelesaikan pekerjaannya. Tapi perempuan di depannya ini mulai pandai berontak jika tak sesuai keinginannya.


"Yaudah." Jawabnya sembari menutup laptop dan berjalan ke arah dapur, diikuti Syahdu dari belakang.

__ADS_1


"Mau masak apa?" Tanya Arga.


"Hmm.." gadis itu tampak berpikir. "Kamu bisa masak apa aja?"


"Semua bisa."


"Yang bener??" Tanya Syahdu dengan mata membulat.


"Bener."


"Wah." Kata itu keluar lantaran ia merasa kagum. Hebat, pikirnya.


"Karena kita mau mendaki, aku mau bawa black paper daging sapi, chicken fillet, dan sosis saus tiram."


Arga bengong. "Banyak amat!" Protesnya.


Syahdu malah terkekeh. Dia mau mengkopi ilmu Arga supaya bisa menjadi istri yang masakannya dirindukan suami.


Walau protes, pada akhirnya Arga membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan. Dia menyuruh Syahdu mengambil tepung dan menuangkannya kedalam mangkok.


Arga berjongkok untuk mengambil bawang yang jatuh, sementara dengan keteledorannya, Syahdu menumpahkan tepung hingga mengenai kepala Arga.


Arga terdiam dibawah, dia memegangi rambutnya yang sudah putih sebagian.


"SYAHDUUU!!" Teriak Arga sambil berdiri.


"A-arga, m-maaafff. Aku nggak sengaja. Sumpahhh!" Ucapnya sambil menaikkan jari tengah dan telunjuk, tapi tangan sebelahnya menutup mulut menahan tawa.


"Sengaja lo, ya!!"


"Enggak. Sumpah. Hahahaa." Syahdu akhirnya tergelak karena lucu melihat Arga yang ketumpahan tepung.


Melihat gelak Syahdu, membuat Arga mengibaskan rambutnya ke dekat gadis itu, hingga tepung pun beterbangan kemana-mana.


"Argaaa! Apaan, sih." Protes Syahdu. Dia menepuk-nepuk bajunya yang ikut memutih.


Tak merasa puas, Arga mengambil tepung yang tertumpuk tumpah di atas meja dan langsung melemparkannya ke rambut Syahdu. Seketika rambut panjangnya itu memutih. Kini, giliran Arga yang tertawa lebar.


"Hahaha. Liat rambut lo, kaya nenek lampir."


"Apa lo bilang!?" Syahdu ingin melempar tepung, tetapi Arga berlari ke sisi meja.


Tak mau mengalah, Syahdu mengejar Arga sampai ia mendapatkannya dan menggosokkan tepung ke wajah Arga. Seketika Syahdu tertawa lebar.


Perang tepung pun terjadi. Tanpa mereka sadari dapur sudah penuh dengan bubuk putih itu. Namun, mereka tak peduli karena keseruan berdua di dalam dapur.


Arga berhasil menahan kedua tangan Syahdu yang sejak tadi menyerangnya.


"Lepasin, Ga!"


"Nggak. Gara-gara lo dapur berantakan. Liat! Semua jadi putih."


"Ya, kan, tadi aku udah bilang nggak sengaja. Kamu malah main balas. Ya salah sendiri." Syahdu malah mengomel panjang lebar.


"Ngomel terus lo kayak nenek lampir beneran."


"Iiihhh. Lepasin tangan aku!" Protes Syahdu.


"Gue lepasin, tapi gue cium dulu, ya."


"Noooo..." Jerit Syahdu sambil menjauhkan kepalanya dari Arga yang berusaha mencium dirinya.

__ADS_1



** Kebanyakan manusia hanya bisa protes ini-itu pada masalah hidup orang lain, memberi nasihat yang terkesan memaksa, padahal ia tidak pernah berada dalam posisi yang sama.**


__ADS_2