SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Sop untuk Syahdu


__ADS_3

"Sayang, bisa kesini sebentar?" Seru Julia dari depan.


"Nggak bisa, Mi. Arga ada urusan penting!" Teriaknya sambil lari turun dari tangga.


"Alexander!"


Arga terhenti di tengah anak tangga. Dia diam disana saat setelah mendengar seruan keras dari sang mami.


"Katanya mau nemenin mami!"


Arga menghela napas, lalu berbalik menghadap Julia yang sudah berdiri di puncak anak tangga.


"I have important thing to do, Mom."


"Apa yang lebih penting dari mami??"


Arga membuang wajah. Dia ingin pergi saja tapi maminya pasti akan marah. Sementara Arga tahu, Julia hanya ingin mendekatkan Soraya padanya.


Arga membuang napasnya perlahan. "Mi, gadis yang Arga suka lagi sakit. Arga mau jenguk dia and please, jangan jodoh-jodohin Arga lagi."


Arga melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga dengan cepat sembari memakai jeket. Dia berlari keluar dari rumah.


Sepanjang perjalanan Arga tidak tenang. Dia tahu betul kondisi Syahdu sejak siang tadi memang tidak baik. Apalagi tekanan yang ia berikan pada gadis itu lantaran kecurigaannya tentang kehamilan itu. Tentu Syahdu tertekan dan stres memikirkannya.


Sesampainya di rumah sakit, Arga bergerak cepat ke tempat yang sudah ia hapalkan lokasinya. Lantai paling atas dimana kamar vvip berada.


Arga ragu saat sudah berada di depan pintu. Dia khawatir ada laki-laki itu disana. Dia mengintip sedikit dari celah pintu, dan mendapati ruangan itu hanya diisi oleh Syahdu dan nenek yang tertidur.


Arga masuk dan mengunci pintu dari dalam. Ia tak ingin diganggu siapapun termasuk dokter ataupun perawat.


Syahdu tergolek diatas tempat tidur. Dia tertidur pulas. Ya, gadis itu memang bisa dihitung jam tidurnya, perhari paling tidak hanya dua jam. Belum lagi perutnya yang tidak bisa menerima makanan, membuatnya langsung pingsan.


Arga menarik kursi. Dia duduk disebelah gadis itu. Perlahan ia mengangkat telapak tangan Syahdu dan menjalin jari-jari Syahdu ke jari-jarinya. Ia genggam erat seakan tak ingin lepas. Ada rasa bersalah di hatinya. Kalau saja ia memaksa Syahdu untuk makan dan minum obat terlebih dahulu, pastilah hal ini tidak akan terjadi.


"Syahdu.."


Tidak ada jawaban. Gadis itu benar-benar terlelap.


Dipandanginya wajah Syahdu. Alis matanya sedikit bertaut, seperti mengkhawatirkan sesuatu, padahal ia sedang tidur.


Arga menggenggam tangan Syahdu dengan kedua tangannya. Dia menunduk, memejamkan mata sembari meletakkan jalinan tangan mereka di dahinya, seperti tengah berdoa.


"Kumohon, sembuhkan dia. Kembalikan keceriaannya.."


Arga, entah kenapa rasa sedih melihat Syahdu jatuh sakit seperti ini menguasai hatinya.


Jari Syahdu bergerak, membuat Arga langsung membuka mata.


"Syahdu.."


"Hm.." Mata gadis itu separuh terbuka.


"Kamu sudah baikan? Apa ada yang sakit?"


Tidak ada jawaban. Mata Syahdu tampak sayu. Dia pasti terlalu kelelahan.


"Masih ngantuk? Tidur lagi, aku akan jaga disini." Arga mengelus lembut kening Syahdu, sampai ia terlelap kembali.


Arga mengecup kening Syahdu cukup lama, dia mengelus lembut rambutnya, supaya tidurnya nyenyak dan nyaman.


~

__ADS_1


Arga bangun pagi-pagi sekali. Bahkan matahari belum naik, dia sudah menuju ke dapur dan membuka kulkas, mengambil beberapa bahan makanan untuk dieksekusi olehnya.


"Tuan, ke-kenapa ke dapur?" Seorang koki laki-laki panik melihat Arga memakai apron kemudian meraih pisau. Dia mulai mengupas kulit kentang dengan lihai dan cepat.


"Tuan, saya akan buatkan makanan apa yang tuan mau."


"Ngga perlu. Gue mau masak sendiri." Jawabnya cepat. "Ada jahe, lengkuas?"


"Ada, tuan." Koki itu langsung mengeluarkan apa yang Arga minta.


"Tolong daging di freezer keluarin, potong kecil-kecil." Titahnya lagi.


"Siap, tuan." Koki itu langsung mengerjakan apa yang Arga minta.


Kesibukan di dapur membuat Arga tersenyum sendiri. Dia ingin membuatkan Syahdu sop daging sapi untuk menambah energi gadis itu. Dia tahu betul makanan di rumah sakit tidak enak dan pasti membuat Syahdu semakin tak berselera.


Setelah ini, Arga akan mengantarkannya pagi-pagi sekali supaya gadis itu bisa cepat menikmati sarapannya.


Setelah selesai, Arga menuju kamarnya untuk bersiap. Dia sudah menyiapkan dua tingkat kotak bekal berukuran besar. Dia mengisinya dengan nasi dan tentu saja sop buatannya.


Koki di dapur sampai menggelengkan kepala setelah mencicipi masakan yang dibuat Arga. Dia tak sangka cucu nyonya rumah ini ternyata jago masak. Sampai seorang tukang kebun yang tadinya ingin mengambil cangkul di gudang malah berputar ke dapur.


"Masak apa, Bud? Wangi bener."


"Sop daging sapi. Wangi, ya?" Jawabnya.


"Ho'oh. Laper aku jadinya."


"Bukan aku yang masak."


"Hah, jadi siapa?"


"Tuan Arga."


~


"Masak apa kamu? Tumben semerbak sampe kamarku." Margareth menggeser kursi, lalu duduk di meja makan. Dia mengedarkan pandangan ke meja yang sudah penuh dengan berbagai aneka masakan.


"Anu, nyonya. Tadi tuan Arga masak di dapur."


Margareth langsung mengerutkan dahi. "Tumben. Biasanya nggak pernah mau megang dapur selama disini. Masak apa dia?"


"Sop daging sapi, Nyonya."


"Ada apa, ma?" Julia baru datang. Dia duduk di depan Margareth.


"Ini, kata Budi, Arga masak sop." Margareth menuangkan sop kedalam mangkuk.


"Ooh. Mungkin karena gadis kesukaannya itu lagi sakit." Ucap Julia ikut menuangkan sop ke mangkoknya.


"Hah? Syahdu sakit?" Margareth diam sejenak. Kemarin memang sepertinya Arga bilang kalau Syahdu lagi nggak enak badan.


"Lho, mama udah kenal sama perempuan yang disukai Xander?"


"Mama kan, pernah cerita. Kalau Arga bawa perempuan kesini. Ya itu, anaknya. Namanya Syahdu. Kalau diliat dari perawakannya, anaknya baik dan sopan." Margareth mulai menyendokkan sopnya ke mulut. Setelah dirasa mantap, ia terus mengunyahnya.


"Ooh, yang itu." Jawab Julia singkat, mulai menyantap makanannya. "Xander mana? Tolong panggilin, pak." Titah Julia pada Koki yang masih berdiri dibelakang Margareth.


"Sudah pergi, nyonya." Jawab Budi.


"Ke?"

__ADS_1


"Kurang tahu, nyonya. Saya mana berani tanya."


"Pagi-pagi masak sop, pasti dia nganter ke rumah Syahdu." Tukas Margareth masih setia menyendokkan kuah ke mulutnya.


"Aah. Anak itu lagi jatuh cinta rupanya, sampe bela-belain masak begini." Julia manggut-manggut.


"Makanya, biar dia nentuin pilihannya sendiri. Masih mending anak itu bisa jatuh cinta. Kalau enggak..." Margareth sampai tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Biar dia sadar sendiri, kalau prinsipnya itu nggak akan bisa berdiri kalau udah berurusan dengan hati." Sambung Margareth lagi.


Julia terkikik. "Iya, juga ya, ma. Kalau aku sih, terserah Xander. Asal dia bahagia." Jawabnya dengan senyum penuh di bibir, saat tahu anak keras hati dan kepala itu sudah menemukan tambatan hatinya.


~


Syahdu terbangun. Dia mengerjap untuk menghilangkan buram di pandangannya. Sesaat ia langsung merasa tubuhnya lebih baik, tapi kepalanya masih terasa berat.


"Mbak Syahdu, udah bangun? Gimana mbak, udah baikan?" Sapa suster Dewi yang tengah memeriksa kondisi nenek yang masih terlelap.


Syahdu berusaha duduk, lalu dibantu suster Dewi mengatur posisi kepala brankar supaya Syahdu lebih nyaman.


"Lumayan, sus." Jawabnya.


"Makan dulu, mbak. Ini, sopnya enak banget wanginya."


Syahdu melirik dua tingkat kotak bekal makanan diatas nakas.


"Dari siapa, sus?"


"Nggak tau, mbak. Tiba-tiba udah disini. Mau saya bantu bukakan?"


Syahdu menimbang sebentar. Memang sop itu harum baunya sampai menusuk hidung. Sampai membuat Syahdu lapar, apalagi sejak kemarin dia belum ada makan.


"Boleh, deh, sus."


"Bentar ya, mbak." Suster Dewi langsung menyiapkan alat makan untuk Syahdu.


"Sus, itu sopnya beneran buat saya? Kok ngga tau siapa yang kirim?" Tanya Syahdu curiga. Apa jangan-jangan salah alamat, pikirnya.


"Iya nih, mbak. Tadi pas saya masuk, bekalnya udah ada. Padahal satu jam sebelumnya ngga ada, tuh."


Suster Dewi memberikan semangkok nasi beserta sopnya.


"Sus, masih banyak, kan? Makan sama-sama, yuk."


"Yang bener, mbak?" Mata suster Dewi bersinar. Pasalnya sejak tadi bau harum sop daging sapi sudah menyambar-nyambar hidungnya.


"Iya. Makan aja."


"Waah, makasih, mbak." Ucap suster Dewi dan langsung mengambil porsinya.


Syahdu mulai menyendokkan sop ke mulut. Dia diam sejenak saat satu nama terlintas di pikirannya.


Arga, ini jelas masakan Arga. Lalu, sekilas ingatan Syahdu tentang malam tadipun muncul. Saat Arga menjalin jari-jemarinya, lalu mengelus kepala sampai ia tidak ingat lagi apa yang terjadi.


'Arga, ternyata dia datang kesini dan membuatkan aku sop?' Batin Syahdu terus bertanya-tanya, walau sebenarnya dia sudah sangat tahu jawabannya.



(Arga tengah frustrasi menunggu chat dari Syahdu, menunggu gadis itu mengirim pesan sekedar mengatakan terima kasih padanya untuk sop itu^^ Arga be like: Syahdu lama banget bangunnya!!)


TBC

__ADS_1


50 likes untuk update🥰


__ADS_2