SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Malam Hangat untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

** Episode Ini Mengandung Plusplus. Harap bijak, kalau nggak skip aja bisakali, yaaa..**


...PoV Syahdu Larasati....


Pidato pembukaan dari ayah Soraya mendapat sambutan yang hangat. Dia tersenyum bangga kepada Arga dan Soraya yang berdiri didepan para tamu.


Aku dan Arga saling tatap dalam jarak yang cukup jauh. Tak sedikitpun dia mendengarkan apa yang disampaikan oleh ayahnya, yang kini mendapat giliran untuk bergantian memberi pidato.


Akupun memberi senyuman terbaikku untuk Arga yang masih saja menatapku tanpa berkedip. Entah ada utang apa aku padanya, kenapa dia sampai seperti ingin memangsaku seperti itu.


Seseorang datang membawa sebuah nampan cantik yang di dalamnya ada dua buah kotak cincin.


Soraya dengan senyuman lebarnya, meraih tangan Arga lalu menyematkan cincin di tangan lelaki itu.


Kini gilirannya, tetapi Arga belum juga bergerak. Julia membantunya, memberikan cincin untuk disematkan dijari Soraya yang sudah menantinya sejak tadi.


Arga menatapku. Bersamaan angin yang menerpa wajahku, aku mengangguk kecil pada Arga, meyakinkan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar.


Ya, benar. Memangnya untuk apa dia bertahan denganku? Aku tidak sebaik yang dia pikirkan, dan aku pula tidak ingin menjalin hubungan dengannya, yang pasti akan merepotkanku.


Arga masih mematung kearahku. Setelah Soraya menggenggam jemarinya untuk menyadarkannya, barulah ia menyematkan cincin di jari gadis itu.


Tepuk tangan meriah terdengar mengisi ruang terbuka itu. Kini, mereka telah menjadi sepasang kekasih yang telah resmi bertunangan.


Musik mengalun dengan syahdu. Para tamu juga sepasang kekasih itu diminta untuk berdansa.


Aku bisa melihat itu. Bagaimana Arga dengan kaku dan wajah datarnya mengikuti Soraya yang mengajaknya berdansa.


Aku mengangkat gelas pada Arga, sebagai ucapan selamatku untuknya. Tetapi dia membuang wajah, mungkin kesal padaku.


Tak apalah, aku memang tidak bisa menerimanya. Karena aku sendiri masih bingung dengan perasaanku. Yang bisa kurasakan hanyalah rasa bersalah yang sangat besar pada Wicak. Apalagi kalau sampai aku menerima Arga, bukankah sebuah penghinaan pada Wicak yang sudah tulus menerimaku?


Aku meletakkan minuman yang sejak tadi tidak kusentuh, lalu berjalan menuruni anak tangga. Aku ingin pulang setelah memastikan acara berjalan dengan lancar. Untuk apa berlama-lama, semua sudah sesuai rencana. Arga bertunangan dan aku tinggal menata hidupku kembali. Membuka lembaran baru untuk menjadi Syahdu yang lebih baik lagi.


~


Sekarang aku berjalan sendirian di sebuah lorong. Lihatlah, pada akhirnya aku tidak mendapatkan apa-apa. Hanya sebuah jalan pedih yang penuh duri, yang mungkin kedepannya akan lebih menyakitkan tanpa siapapun disampingku.


Aku memasuki apartemen Arga dengan sidik jari, menghempaskan tubuhku di sofa lalu membuka high heels yang sejak tadi membuat kakiku sakit.


Lelah, aku menyandarkan punggung di sofa yang empuk itu. Tempatku dan Arga sering mengerjakan tugas.


Tiba-tiba saja aku teringat dengan semua yang pernah terjadi diantara aku dan Arga. Kuedarkan pandangan, memperhatikan setiap sudut ruang. Seluruh tempat ini, aku dan Arga pernah memakainya.


Aku beranjak, membuka pintu balkon yang seketika anginnya membuat tirai putih terbang dan terasa sangat dingin.


Entah kenapa, tiba-tiba saja ada rasa sedih dihatiku saat akan meninggalkan tempat ini. Padahal jauh sebelum nenek dan Wicak meninggal, aku sangat bersemangat untuk pindah. Menyebalkan, sekarang aku merasa berat untuk pergi.


Tapi, aku memang harus meninggalkan tempat ini karena Arga, lelaki itu akan segera menikah dan tinggal disini bersama istrinya, mungkin?


Ucapan dan janji manis Arga, kuanggap semuanya lembaran tisu yang terbang tertiup angin.


Untuk apa aku mendengarkan janji lagi. Karena berkali-kali janji itu diingkari, oleh kak Wicak, nenek, dan sekarang Arga.


Aku memejamkan mata. Aah.. Entah angin malam ini lebih dingin dari biasanya, atau memang karena perasaanku yang kelabu, aku tidak tahu.


Arga, sejak tadi ada yang ingin aku katakan padanya. Aku belum bilang kalau aku akan pergi. Aku ingin mengucapkan terima kasih, tapi rasanya tidak mungkin. Dia tengah sibuk sekarang.


Jadi, aku harus meninggalkan secarik kertas disini, atau mengetik kata-kata di ponsel dan mengirimkan untuknya?


"Syahdu."


Perlahan kubuka mata. Aku seperti mendengar suara Arga di gendang telingaku. Mungkin ini suatu kebiasaan yang harus terhapus nantinya. Suara Arga yang terkadang dingin...

__ADS_1


"Syahdu."


Sebuah jemari dingin menyentuh lenganku. Aku berbalik, dan memang mendapati Arga kini dihadapanku, masih berpakaian sama saat kulihat terakhir dia berdansa dengan calon istrinya.


"Arga, kenapa..."


Kenapa dia disini? Bukankah saat ini pesta pertunangannya?


"Aku cari kamu, ternyata disini.." lirihnya. Matanya menatapku begitu dalam, membuatku terhanyut karena aku tahu dia menyayangiku.


"Kenapa kesini?"


"Kamu mau pergi?" Arga menjawabku dengan sebuah pertanyaan baru. Lalu aku mengangguk, menjawab pertanyaan bodohnya itu. Jelas aku harus pergi, karena kau sudah memiliki penggantiku.


"Bisa tinggal disini lebih lama, Syahdu?" Arga menggenggam kedua lenganku dengan erat. "Aku mohon disini aja, jangan kemana-mana. Aku butuh dirimu."


Aku tertegun. Lelaki ini nampaknya sudah bergantung padaku.


"Disini aja, Syahdu. Bisa, kan?"


Aku mendekatinya. Menatap manik yang kini bisa kuartikan sebagai tanda cinta. Ya, tatapan Arga belakangan terasa berbeda.


Aku mengalungkan tangan ke lehernya. Kukecup bibirnya yang mengajariku banyak hal tentang cara berciuman.


Selama ini aku diam, tapi aku mengerti apa yang pernah Arga jelaskan dan sekarang, entah kenapa aku ingin memberikan ini untuknya.


Arga membalas ciumanku. Dia mellumat bibirku dengan lembut. Kali ini kulihat dia memejamkan mata, lalu memeluk pinggangku dengan erat.


Kami berciuman cukup lama. Angin dingin di malam itupun aku tidak peduli, karena aku mendapatkan kehangatan lain dari Arga.


Dia melepaskan ciumannya. Lalu memegang daguku.


"Aku menagih hadiah yang pernah kuminta kalau aku bertunangan." Ucapnya padaku dengan suara berat.


Arga kembali mellumat bibirku lebih bernapsu. Dan ini terasa lebih nikmat. Sungguh..


Dia membawaku masuk tanpa melepaskan ciumannya.


Arga mendorong dan menghempaskanku keatas tempat tidur. dia diam sebentar melihatku seolah aku ini buruannya. Dia membuka jas dan dasinya dengan mata yang terus menatapku. Dia membuka seluruh kancing kemeja tanpa melepaskan dari tubuhnya. Lalu ia naik ke tempat tidur, tepat mengungkungku diatasnya.


Arga mencium keningku cukup lama.


"Aku mencintaimu, Syahdu. Aku sangat mencintaimu. Dan aku akan tunggu sampai kamu siap untuk menerimaku."


Darahku berdesir mendengar kalimat yang keluar dari bibir Arga. Entah itu memang benar, atau hanyalah sebuah kata-kata indah diatas ranjang. Aku tidak tahu, tapi aku ingin menuntaskan ini.


Aku menariknya dan mencium lagi bibir Arga, memberikan sensasi yang selama ini Arga tidak pernah rasakan dariku.


Tetapi bukan Arga namanya, jika ia tidak mahir. Untuk pertama kalinya, aku merasa ciuman yang Arga berikan sangat membakarku.


Aku ingin menghentikan Arga saat merasa, perbuatan yang kami lakukan sangat salah. Arga bertunangan dua jam yang lalu, tapi aku malah melakukan ini padanya.


Namun saat aku ingin mengatakannya, laki-laki itu dengan ganas menciumiku. Bibir, leher, hingga ia dengan kasar merobek kain yang menutup dadaku.


Arga melahap sesuatu yang membuatku semakin meremang. Sebelah tangannya memainkan puncak kenikmatan yang dulu sering kutahan. Aku menggigit bibir karena sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya hingga akhirnya aku mendessah..


Aku meremas rambut Arga, lelaki itu membuatku sangat bergairah. Dia menurunkan ciumannya kebawah, membuatku mengerang saat ia berhasil membuat sesuatu dibawah sana sudah benar-benar basah.


"Aah.. Arga.." aku meremas rambutnya. Tak bisa kutahan, Arga membuatku seakan ingin meledak.


Lelaki itu dengan cepat membuka celananya. Aku menggelinjang. Tak bisa kutahan saat Arga mulai menggesekkan benda keras miliknya pada inti kenikmatan tubuhku.


Arga, dia diam menatapku yang masih berusaha mengatur napas yang memburu.

__ADS_1


"Janji padaku, Syahdu. Jangan tinggalkan aku."


Aku menatap kedua bola mata dengan kabut gairah. Aku tidak bisa berpikir saat ini, di mataku Arga sangat garang dan membuatku tidak bisa menahannya lagi.


"Arga.. bisakah..." Aku menggigit bibirku saat kurasakan Arga memasukkan perlahan miliknya.


"Janji, Syahdu." Ucapnya dengan suara berat. Namun aku tidak bisa berkata-kata. Yang kurasakan adalah kenikmatan pada seluruh tubuhku, padahal Arga belum menggerakkan miliknya.


"Arga... kumohon." Aku memintanya, untuk pertama kali, aku meminta Arga melakukannya untukku.


Arga mencium bibirku, membasahi dengan salivanya. Bisa kurasakan napas harum mint yang menguasai hidungku.


"Aku butuh janjimu, Syahdu." Katanya lagi, tepat didepan wajahku.


"Iya. Aku janji." Kataku tanpa berpikir panjang.


"Katakan dengan jelas.."


"Aku janji, aku ngga akan ninggalin kamu." Jawabku dengan tergesa.


Aku membuka mulut saat merasa seluruh milik Arga masuk ke dalam pusat tubuhku.


"Syahdu.." Arga berbisik ditelingaku. Aku membuka mata, kini wajahnya hanya tiga centi di depanku.


"Aku mencintaimu."


Pengakuan Arga membuatku tertegun. Aku sudah tahu, tapi saat mendengarnya dikala seperti ini, rasanya..


"Aku sangat mencintaimu." Bisiknya lagi sambil mengelus lembut pipiku dengan hidungnya.


"Arga."


"Sssttt..." dia mengecup pipiku dengan lembut, lalu mencium cuping telingaku, membuat seluruh tubuhku kini meremang dan terasa dahsyat saat Arga menghentakkan pinggulnya, memberikan sensasi yang sangat luar biasa.


Napasku sudah memburu. Aku ingin Arga cepat-cepat melakukan itu untukku. Tapi dia menggantungku.


"Arga.."


Arga lagi-lagi menghentakkan pinggulnya, membuatku memejamkan mata dan membuka mulut merasakan nikmat yang luar biasa.


"Syahdu.." bisiknya dengan lembut.


Aku menahan ini setengah mati, Arga benar-benar mempermainkanku.


"Aku... nggak.. aahh.." satu hentakan lagi, aku sudah diujung kuasaku menahan hasrat yang ada digenggaman Arga.


"Aku... nggak akan ninggalin kamu.." Ucapku dengan napas memburu.


Arga diam. Dia manatap kedua mataku dengan kabut gairah yang lagi-lagi dimataku, Arga sangat gagah.


"Janji, Syahdu. Jangan tinggalkan aku."


"Aku.. ngghhh.. aku ngga akan ninggalin kamu, Arga." Kini aku mengelus kedua pipinya. "Aku janji. Aku.. ngga akan ninggalin kamu." Kataku lagi, memastikan kalau aku tidak berbohong supaya inipun bisa cepat berakhir.


Arga tersenyum miring, lalu dia ******* bibirku sambil menghentakkan pinggulnya dengan ayunan lembut, membuatku serasa ingin melayang, sampai dia mempercepat ritme yang semakin membuatku mendesaah hebat.


Arga dan aku, melakukan itu berkali-kali hanya di malam itu. Sampai akhirnya dia lelah dan tertidur diatas dadaku.


Kupeluk Arga, kukecup bahunya yang berkeringat karena aktifitas malam itu. Aku bersyukur karena ternyata masih ada laki-laki yang mencintaiku...


TBC


**Libur dulu bisa nggak. Mau tamatin novel satu lagi**

__ADS_1


__ADS_2