
Syahdu menekuk lutut, memeluk tubuhnya sendiri. Menghirup sisa aroma Wicak pada jeket yang ia kenakan. Dia menguatkan jiwa dan hatinya seorang diri. Dia berusaha sekuat mungkin walau harus terjatuh dan hancur berkali-kali.
Duka di hatinya sangat nyata terasa. Janji lelaki yang akan terus ada di sisinya hanyalah sebuah untaian kata. Ucapan cinta dari Wicak di telinganya juga masih terus berdengung dan tiada bermakna.
Rasanya seperti tak percaya. Berkali-kali Syahdu mengigit jarinya dengan kuat, berharap ini hanya mimpi. Namun sampai jarinya berdarah pun, ia tak kunjung bangun hingga membuatnya harus menelan kenyataan perih yang ia rasakan.
Kelam sekali. Masa-masa ini, akankah Syahdu bisa melupakannya? Ditinggal Suriani dan Wicak dalam waktu yang berdekatan. Bisakah ia melanjutkan hidup disaat hatinya terasa mati seperti sekarang ini?
Syahdu menoleh saat Mirna duduk disebelahnya. Wanita itu memangku sebuah kotak bermotif koran. Dia mengelus kotak itu sambil menangis.
Syahdu menatapnya. Seorang ibu kehilangan anak laki-laki yang paling ia cintai. Padahal sudah lama tak bersua, namun sekalinya bertemu malah Wicak yang mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia.
"Ini punya Wicak." Katanya dengan suara parau, lalu menyerahkan kotak itu pada Syahdu.
"Semua barang-barang itu dia simpan khusus untukmu."
Syahdu membuka kotak itu. Dia menemukan buku rekening pada tumpukan paling atas.
"Itu tabungan yang dia buat khusus untukmu. Cita-citanya supaya bisa nikah sama kamu."
Syahdu membuka buku rekening yang jumlahnya mencapai seratus dua puluh lima juta.
"Ibu ga mau ambil, karena Wicak sejak awal menyimpan tabungan itu memang untuk kamu."
Lagi, air mata Syahdu jatuh saat namanya tertera di buku tabungan itu. Syahdu tak kuasa menahan nyeri di dadanya, saat ingatannya terbang pada memori dimana Wicak memaksanya membuat rekening baru dan Wicaklah yang menyimpan buku dan Atm beratas namakan dirinya itu.
"Saya.. ga bisa terima ini." Syahdu menyerahkannya pada Mirna, tapi wanita itu menolaknya.
"Sejak awal, sebenarnya ibu tau kamu gadis baik. Tapi status kamu yang buat saya tidak bisa terima walau berulang kali Wicak meyakinkan ibu kalau kamu tidak seperti yang orang-orang katakan." Mirna menghapus air matanya.
"Setelah melihat semuanya, ibu semakin yakin kalau anak ibu memang ga pernah salah menilai perempuan. Dia memilihmu, dan akan berdosa kalau ibu mengambil usaha yang dia lakukan untukmu."
Syahdu menunduk terisak. Lagi-lagi dia merasa bersalah dengan semua yang pernah ia lakukan. Gadis baik yang disematkan Mirna rasanya tidak pantas ia sandang mengingat pengkhianatan yang ia lakukan pada Wicak.
__ADS_1
Lagi, Syahdu menyesali dirinya. Menginjakkan kaki di kota ini memang sebuah kesalahan baginya.
"Bu, ayo. Ambulan sudah siap. Mari kita berangkat." Bayu menghampiri, merangkul Mirna berdiri, juga mengajak Syahdu untuk pergi ke pemakaman.
Sesampainya disana, Syahdu hanya diam membisu menyaksikan pemakaman Wicak dengan buliran air mata dari teman-teman sekelasnya. Dia memperhatikan orang-orang yang menyayangi kekasihnya. Terdengar juga rintihan seorang gadis. Imel, dia tersedu-sedu dan meratap saat melihat Wicak dimasukkan ke dalam liang lahat.
Syahdu juga tahu perempuan itu merasa kehilangan cintanya. Syahdu mengerti karena diapun sama. Hanya saja, Wicak menjanjikan kebersamaan untuknya, mengutarakan bahwa ia akan selalu ada, mendambakan pernikahan, masa depan bersama dan itu semua tidak ia laksanakan.
"Yang sabar, ya." Cintya menghampiri Syahdu, memberinya sedikit dukungan. Juga beberapa teman Wicak yang mengenal Syahdu karena Wicak memang selalu bercerita tentang kekasihnya itu.
Mata Syahdu sudah bengkak dan merah. Dia bahkan tak lagi menangis saat melihat gundukan tanah dengan taburan bunga.
Mirna masih menangis disana bersama beberapa orang keluarganya.
Sementara Syahdu berdiri tak jauh dari sana. Dia sampai tak tahu lagi harus berekspresi seperti apa. Tubuhnya serasa ikut mati terkubur bersama lelaki itu.
Kenangan indah selama hampir 8 tahun lenyap terkubur dan yang jelas terasa hanya ingatan tentang kondisi Wicak terakhir kali di rumah sakit.
Syahdu mendekati kuburan kekasihnya. Dia sentuh nama yang tertera pada nisan. Aditya Wicaksana, lelaki yang menjanjikan pernikahan dan masa depan, tidak berkutik berhadapan dengan takdir. Dan lelaki itu, dia mengingkari semua janji-janjinya.
Wicak mengingkari semuanya. Janji yang ia katakan, tidak ada yang bisa ia jalankan.
Satu-satunya yang Wicak tepati adalah ucapannya, bahwa ia akan mencintai Syahdu sampai mati. Gadis itu tersedu-sedu ketika teringat ucapan Wicak di kos dulu.
"I love you until death do us apart (Aku mencintaimu sampai maut memisahkan kita)" Bisik Wicak waktu itu dan Syahdu ingat betul tatapan lelaki itu saat Wicak mengungkapkan kalimatnya. Benarkah Wicak sudah tahu kepergiannya?
Syahdu menunduk dalam. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak sekali. Menjerit, hanya itu yang bisa ia lakukan di depan makam Wicak.
Syahdu bahkan seperti kesulitan bernapas karena dadanya yang terasa penuh akan penderitaan. Sampai ia sendiri tak bisa menggambarkan apa yang ia rasa saat ini.
Syahdu meremas tanah yang masih basah. Ini lebih berat. Kehilangan Wicak lebih sulit ketimbang Suriani.
Saat neneknya meninggal, Syahdu masih bisa tenang karena ada Wicak disampingnya. Tapi sekarang, cahaya di hati Syahdu redup tatkala tak ada seorang pun yang berdiri di sisinya.
__ADS_1
"Syahdu.." Mirna memegang kedua bahu gadis yang berguncang hebat. Syahdu menangis terisak-isak sampai ia tak sadar bahwa gerimis mulai turun.
"Ayo, pulang, nak. Sudah hujan." Bayu berdiri memayungi Mirna dan Syahdu.
"Ayo, Syahdu. Ibu antar pulang, ya." Mirna membantu gadis itu berdiri dan memeluknya sambil berjalan.
Perlahan langkah mereka menjauh meninggalkan makam yang kini basah dipenuhi rintikan hujan.
...🍁 ...
Hujan deras mengguyur kota. Musim hujan, dan Syahdu sendirian. Dia duduk menyudut di ruang tengah kontrakannya. Masih dengan pakaian tadi, Syahdu hanya memeluk lutut. Dia sendirian.
Syahdu melihat kilatan petir dari jendela. Diluar gelap padahal masih pukul 3 sore dan gadis itu pula tak menyalakan lampu.
Gelap. Sama seperti jiwanya. Tak ada yang menerangi. Suriani, Wicak, kedua orang itu pergi meninggalkannya.
Syahdu tersenyum getir. Dia memang cocok untuk ditinggalkan. Karma itu benar-benar berjalan. Lalu apa sekarang? Apakah ini final atau hanya permulaan?
Bahu Syahdu terguncang. Dia tertawa. Secepat itu karma membalasnya. Apa takdir hidupnya memang seperti ini? Apa dia tidak ditakdirkan bahagia? Walaupun dia tidak bahagia, bisakah orang-orang yang ia sayangi bahagia??
Wicak, lebih baik dia tetap hidup dan menikah dengan perempuan yang lebih cantik dan pintar ketimbang dirinya. Lelaki itu harusnya hidup dengan limpahan kebahagiaan. Bukan malah mati.
Syahdu rela. Dia sangat berbesar hati menerima kenyataan itu dari pada Wicak harus dikubur. Dia akan lebih ikhlas kalau lelaki itu menikahi gadis lain karena dia hanya berpisah namun masih bisa saling melihat. Tapi kematian, bagaimana Syahdu menerimanya?
Kepalanya mendadak pusing. Beberapa hari ia terlalu banyak menangis. Tiba-tiba saja Syahdu merasa seluruh ruangan berputar dan gelap. Lalu dia melihat seseorang berdiri dihadapannya.
"Syahdu.."
Gadis itu tak bisa melihat wajahnya, namun dia tahu itu suara Arga.
"Syahdu, apa yang.."
Entah apa yang Arga katakan. Syahdu tak lagi mendengarnya. Dia lemas dan tak bisa menahan dirinya hingga Syahdupun terjatuh dan pingsan diatas lantai.
__ADS_1
TBC