
Syahdu berkeliling mall bersama Julia mencari baju-baju ibu hamil. Walau Syahdu hanya menuruti saja kemauan mertua dan sang nenek. Padahal usia kandungan gadis itu masih menginjak 2 bulan. Demi kebahagiaan Margareth, Syahdu mau melakukan apapun yang diminta wanita tua itu.
Karena itu pula lah Syahdu sampai memutuskan bahwa ia akan tinggal di rumah Margareth supaya ia senang walau Argalah yang tidak setuju dengan itu.
Syahdu sampai membujuk Arga yang ingin hidup terpisah. Lelaki itu ingin bebas berdua tanpa rasa was-was adanya orang lain saat ia dan Syahdu ingin melakukan apapun di rumah dengan bebas.
"Kenapa? Kamu nggak diancam Oma sama Mama, kan?" Tanya Arga waktu itu.
"Diancam apanya sih, Ga. Aku tuh mikirnya supaya Oma senang. Kamu tau kan, kalo Oma tinggal berdua doang sama Shania. Bukan cuma Oma, adik kamu itu juga butuh temen di rumah."
"Sayang, kita bisa cari rumah yang dekat dengan rumah Oma supaya kamu bisa dateng setiap hari. Aku akan cari rumah yang lebih baik dari rumah Oma. Kamu jangan takut soal itu, ya."
Syahdu menghela napas. Dia perlu membuat Arga mengerti ucapannya.
"Ga.." Syahdu menggenggam tangan suaminya. "Kita tinggal disini sampe Oma kamu nggak lagi ngirup oksigen di dunia, ya. Cuma sampe itu aja. Setelah itu kamu bawa aku kemana aja, aku akan ikut. Ini cuma untuk buat Oma seneng. Kamu ga liat, Oma setiap hari nanyain keadaan aku, aku mau apa, nanyain kenyamanan aku, supaya anak kamu yang ada disini senang dan baik-baik aja." Syahdu meletakkan tangan Arga di perutnya.
"Dia gak sabar nunggu anak kamu, Ga." Ucap Syahdu kemudian memberi jeda beberapa waktu, "Aku.... juga rindu kasih sayang seorang nenek. Jadi.. aku mohon, kita tinggal disini aja, ya?"
Melihat mata Syahdu membuat Arga tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Jika memang itu yang diinginkan istrinya, dia hanya bisa menuruti asal Syahdu bahagia.
Penuturan itupun sampai ke telinga Margareth. Arga menyampaikan pada sang nenek bahwa mereka memutuskan untuk tinggal di rumah besar itu. Tentu Margareth senang dan membuat dirinya selalu bersemangat setelah mendengar berita itu.
"Yang ini bagus." Julia menyerahkan satu dress manis berwarna moka. Dress ibu hamil memang menggemaskan semua. Syahdu setuju saja semua pilihan Julia karena mereka satu selera.
"Mi, kita pulang jam berapa, ya?" Tanya Syahdu sembari melirik ponselnya yang sejak tadi bergetar dengan segudang pesan dari Arga.
"Kenapa? Arga, ya?"
Syahdu mengangguk. Arga sudah menyuruhnya untuk segera pulang karena lelaki itu telah sampai di rumah. Padahal dia sangat tak suka jika saat pulang Syahdu tidak ada di rumah.
"Ah, anak itu. Biar nanti Mami yang bilangin ke dia. Baru juga satu jam belanja, masa harus pulang." Gerutu Julia.
"Ini udah banyak kok, Mi."
"Ya udah kalo gitu. Besok-besok kita lanjutin lagi belanjanya, ya. Kita beli pakaian bayi lagi kalo kamu masih mau.." Oceh Julia sembari menggandeng Syahdu menuju kasir.
Sesampainya di rumah, Syahdu sudah disambut dengan Arga yang berdiri di depan teras. Wajahnya bertekuk apalagi melihat Syahdu tersenyum sepanjang berjalan dengan Julia menuju pintu depan.
"Apa sih kamu, Ga. Nggak seneng banget liat istri hepi."
Lelaki itu mengabaikan ucapan sang Ibu, dan langsung merangkul istrinya. "Belanjaannya bawa ke depan kamar, pak." Ucap Arga pada supir yang membawa banyak barang di tangannya.
"Mami jangan sering ajak Syahdu keluar, dong. Nanti kalo dia capek gimana? Dia ini sulit berkata jujur dan nurut aja walau kelelahan." Arga malah mengomeli ibunya.
"Apa iya, Syahdu? Kamu capek??"
__ADS_1
"Ah, enggak kok, Mi. Syahdu seneng banget bisa belanja bareng Mami. Jangan dengerin Arga." Syahdu buru-buru meralat ucapan Arga.
"Syahdu aja nggak masalah, kok." Cebik Julia pada anaknya. "Kamu jangan overprotective gitu. Syahdu yang malah nggak nyaman. Pokoknya besok-besok kalau mau belanja, bilang aja ke Mami ya, sayang." Julia menyentuh dagu Syahdu yang tersenyum dan mengangguk. Wanita itu berjalan santai masuk kedalam rumah meninggalkan anak dan menantunya.
Syahdu mencubit pinggang Arga. Lelaki itu menggeliat sakit.
"Ih, kamu ini. Jangan gitu, dong."
"Aduh, sakit sayang." Arga mengusap pinggangnya yang dicubit Syahdu, lalu kembali merangkul istrinya sembari berjalan masuk.
"Aku kan, mau ngabisin waktu bareng kamu. Besok aku ada jadwal tour ke 6 kota selama 8 hari. Makanya aku mau kamu cepat pulang supaya kita ngabisin waktu bareng malam ini."
"Delapan hari? Kok mendadak."
Syahdu dan Arga duduk di bangku taman sebelah kamar mereka.
"Nggak mendadak sebenarnya. Cuma aku yang terus lupa buat ngabarin kamu."
"Jadi, kamu nggak pulang sampe 8 hari kedepan?"
"Iyaaa.." Arga melingkarkan kedua tangannya dipinggang sang istri. Perasaan berat pun menyelimuti. Bagaimana dia pergi tanpa Syahdu? Bisakah sehari saja ia tak melihat dan bersentuh dengan sang istri? Bagaimana kalau Syahdu pengen ini itu dan dia tak ada disisinya?
"Ada yang perlu aku siapin buat kamu?" Syahdu mengelus lembut rambut Arga.
"Hatiku. Aku kayanya ngga kuat kalau selama itu ga ketemu sama kamu."
Arga melepaskan pelukan dan wajahnya berubah berkerut. "Itu bedalah. Dulu kan kamu kabur makanya aku rela nunggu. Kalo sekarang kamu udah jadi istri aku. Perasaan aku juga jauh lebih besar dari yang dulu. Aku terbiasa tidur sambil meluk dan ditemenin kamu. Aku mana bisa jauh-jauh dari kamu. Sehari aja ga kuat. Aku gabisa bayangin kalo selama disana aku cuma bisa denger suara kamu dan liat dari video call. Nggak bisa pegang dan peluk kamu. Aku tuh tersiksa! Kalo aja ini bisa dibatalin, udah pasti aku batalin dari awal.."
Arga akhirnya mengomel panjang lebar dengan inti yang terus sama, yaitu menjelaskan betapa ia mencintai Syahdu dan tak bisa jauh darinya. Sampai gadis itu hanya melipat bibir menahan senyuman karena ocehan Arga yang tak ada habisnya.
...🍁...
Arga tidur di paha Syahdu. Mereka duduk diatas balkon dengan suasana yang cukup tenang karena Syahdu juga tengah membaca buku parenting. Dia tak mau ketinggalan informasi mengenai cara mendidik dan merawat anak dengan benar.
"Beib.." Perlahan tangan Arga menurunkan buku Syahdu. Gadis itu menunduk, menatap Arga.
"Kita jalan-jalan keluar aja, yuk."
"Nggak ah. Ribet jalan sama kamu." Cetus Syahdu, tak ingin lagi jalan dengan Arga sejak beberapa minggu lalu ia dan Arga ketahuan salah satu fans fanatik yang membuat kekacauan hingga Syahdu harus kabur terpisah dengan Arga.
Arga pun merasa dirinya mulai kerepotan sendiri. Ternyata menjadi terkenal tidak begitu menyenangkan. Apalagi dia dan Syahdu tidak bisa keluar bebas berpacaran.
"Maaf, ya.." Arga bangkit, duduk disebelah Syahdu. "Pasti kamu juga kerepotan gara-gara aku."
"Ngga apa-apa. Aku udah bayangin resiko jadi istri seorang Arga."
__ADS_1
Mengucapkan kata 'istri Arga' membuat Syahdu tersenyum sendiri, dia teringat sesuatu.
"Kenapa senyum-senyum gitu?"
Syahdu memiringkan duduknya menghadap Arga.
"Ga, kamu bisa nggak ngomong ke aku kaya dulu lagi."
"Emang kaya dulu itu gimana?" Tanya Arga bingung.
"Kamu dulu kan, panggil gue-elo gitu. Trus jutek juga, nadanya ketus. Kangen aja masa-masa itu."
"Hah. Ya nggak mau lah."
"Ayo, dong. Aku pengen denger." Syahdu mengguncang lengan Arga. "Aku ingat kamu kalo ngomong wajahnya ditekuk-tekuk gini, trus ngomong 'ngapain lo liat-liat bibir gue? Pengen? Kangen lo sama ciuman gue?'" Syahdu lalu terkikik, kembali memasang wajah jutek persis yang dulu sering Arga tunjukkan padanya.
"Lo ngga tau aja gimana cewe-cewe pengen tidur bareng gue!" Ucap Syahdu menirukan.
"Hei.. hei. Kapan aku bilang kaya gituu? Nggak ada, ya!" Potong Arga cepat-cepat.
"Ngga ada apanya. Kamu pikir aku ga inget semua ucapan kamu ke aku?"
Arga memasang wajah melas. Topik ini sungguh tak ia sukai. Sebab ia dulu begitu bejat dan takkan cocok jika disandingkan dengan Syahdu yang begitu baik dan penurut.
"Trus, kamu inget nggak dulu waktu kamu bilang kalo kamu nggak mau nikah dan punya keturunan?"
Arga mengangguk, jelas dia ingat. Tapi kenapa istrinya membicarakan itu?
"Kamu bilang, kalo kamu bisa ngelakuin semuanya sendiri dan ngerasa fun aja ngelakuin ssex tanpa ikatan pernikahan."
"Iya, aku ingat. Trus kamu bilang gini." Arga berdehem, menirukan ucapan Syahdu yang masih ia ingat dengan jelas.
"'Suatu hari nanti pikiran kamu pasti akan berubah. Akan ada saatnya dimana kamu jatuh cinta dan semua pikiran kamu saat ini akan berbalik dan kamu malah menginginkan pernikahan bahkan keturunan dengan orang yang kamu cintai,' gitu kan?"
Syahdu terkekeh melihat cara Arga memperagakan dirinya. Tapi benar, itulah yang ia ucapkan pada Arga dulu.
"Ternyata bener, ya. Aku malah pengen banget ngikat kamu dan punya keturunan dari rahim kamu, orang yang aku cinta."
Pandangan mereka saling menyorotkan cinta. Perlahan Arga mendekatkan wajahnya, bersiap mengecup Syahdu.
"EALAH COPOT.. COPOTT!!"
Suara itu membuat Syahdu mengangkat bukunya kembali sementara Arga berdecak kesal. Ciuman yang hampir mendarat terpaksa harus berbelok lantaran seorang pembantu rumah tangga hampir saja menjatuhkan minuman dan makanan yang ada diatas nampan saat ia tersandung.
"Ehehe, maaf non, bibi hampir jatuh tadi kesandung tangga. Untung aja makanannya nggak jatoh." Ucapnya cengengesan, hendak meletakkan nampan, namun dihalangi Arga.
__ADS_1
"Antar ke kamar aja. Kita mau turun." Ucapnya seraya menarik tangan Syahdu untuk masuk kedalam kamar. Dia tak ingin acara mesra-mesraannya diganggu siapapun yang ada di rumah ini.