
Arga mengendarai mobilnya dengan tenang. Dia belum bilang pada Syahdu kalau ia akan membawa gadis itu ke salah satu psikolog kepercayaannya. Dalam pikirannya, Arga merangkai kata. Bagaimana caranya supaya Syahdu tidak tersinggung jika ia membawa gadis itu ke tempat konsultasi jiwa.
"Kayanya ini bukan jalan pulang, deh."
Arga tergagap. Beberapa kali dia melirik Syahdu yang tengah memperhatikan jalanan.
"Kita mau kemana?" Tanya gadis itu.
"Emm.. ke suatu tempat."
"Iya, kemana?"
Arga masih menimbang. Apa sebaiknya dia langsung mengatakannya?
"Ga, kamu kenapa?"
"Sayang, kamu.. ada ngerasa sesuatu, nggak?"
Syahdu tampak berpikir, kemudian menggeleng pelan. "Kenapa? Kamu ngelupain sesuatu?"
Arga akhirnya menepikan mobilnya di depan sebuah praktek psikolog. Dia menghela napas. Semoga saja ucapannya nanti tidak menyinggung Syahdu.
Syahdu memperhatikan tempat dimana Arga menghentikan mobilnya.
"Kita.. kenapa kesini?" Tanya Syahdu setelah membaca papan nama diatas sebuah ruko besar.
Arga meraih tangan Syahdu. Dia menatap dalam gadis itu, berharap Syahdu mau mengerti karena ini demi kebaikannya.
"Syahdu, aku mau bawa kamu kesini. Aku ngerasa kamu masih mendam semua disini." Arga menyentuh dada Syahdu. Mata lelaki itu tak lepas dari kekasihnya, sembari ia berdoa agar Syahdu menurut padanya.
"Aku bisa rasain itu waktu kamu di makam Wicak. Udah 7 tahun, sayang. Tapi kamu masih menangisi dia." Lanjut Arga lagi dengan nada yang sangat lembut.
"Arga, aku nangis bukan karena masih cinta ke kak Wicak. Aku cuma ngerasa.." Syahdu menghentikan kalimatnya. Air matanya hampir saja lolos.
"Kamu liat sendiri kan, kalo aku udah ngubur foto-foto dan semua kenangan aku dan ka Wicak kemarin di desa. Aku sama sekali ga ada perasaan yang kaya kamu bayangin.."
"Iya, aku ngerti. Aku ngerti, sayang." Arga merengkuh Syahdu kedalam pelukannya. Dibelainya rambut Syahdu dengan lembut, ia kecup pelipis gadis itu dengan hangat supaya Syahdu merasa nyaman dan tenang.
"Aku paham, Syahdu. Itu kenapa aku bawa kamu kesini, karena aku ga mau kamu masih ngerasa bersalah seperti sekarang. Aku mau kamu bahagia, kita bahagia. Aku juga mau kamu lega dan gak nyimpen apapun yang buat kamu tertekan. Makanya, kita masuk, ya. Aku janji akan temenin kamu di dalam. Hm?"
Syahdu melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata yang sudah membanjiri pipinya. Sejenak ia tertegun mendengar ucapan Arga. Memang benar dia masih menyimpan rasa bersalah. Bagaimana pun dia tertawa, jika mengingat Wicak, dia pasti akan kembali merenungi masa lalu yang buruk itu.
Syahdupun mengangguk. Dia setuju sebab waktu itu sahabat dekat Wicak pun sudah pernah menyarankannya untuk datang ke psikolog.
__ADS_1
"Oke, kita keluar sekarang, ya?" Arga membantu Syahdu menghapus air matanya. Sekali lagi, Arga mengecup keningnya dan keluar dari mobil bersama dengan Syahdu. Untungnya tempat itu tidak ramai, hingga membuat mereka tak perlu terlalu menutup diri.
~
Arga memilin jari. Ia duduk di kursi tunggu sementara Syahdu masih berada di dalam. Tadi gadisnya itu malah meminta Arga menunggu diluar. Tetapi Arga malah terlihat cemas.
Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya Syahdu keluar ruangan ditemani psikolog. Mata Syahdu terlihat basah, sementara wanita yang menjadi tempat Syahdu konseling tersenyum hangat.
"Emm.. apa Syahdu baik-baik aja?" Tanya Arga penasaran.
"Sangat baik. Tapi, Syahdu perlu datang lagi untuk psikoterapi minggu depan."
"Baik." Syahdu mengangguk dengan senyum kecilnya.
"Kalau gitu, kami permisi dulu." Pamit Arga seraya merangkul Syahdu keluar dari ruangan itu.
...🍁...
Arga mengamati Syahdu yang sedang memotong bawang. Gadis itu menahan untuk tidak risih saat menyadari tatapan Arga padanya.
Tentu Syahdu sadar kalau Arga tengah jengkel lantaran Syahdu menolak ajakan Arga untuk makan malam diluar. Padahal Arga ingin memesan satu restoran mewah untuknya dan Syahdu makan berdua dengan tenang.
Namun Syahdu menolak lantaran tidak suka dengan cara Arga yang dinilai pemborosan oleh Syahdu. Apalagi mereka akan menikah, dan Arga juga sudah terang-terangan menunjukkan isi dompet dan rekeningnya pada Syahdu. Tentu gadis itulah sekarang yang mengatur urusan keuangan mereka.
Syahdu sampai menghela napas. Dia menghentikan aksi potong memotongnya dan memilih duduk disebelah Arga.
"Kamu masih marah, ya?"
Arga tak menyahut. Pandangannya lurus kedepan dengan tangan yang melipat di dada.
"Kita kan, bisa makan malam di rumah, Ga. Lagian masakan restoran masih kalah sama masakan kamu. Sumpah!" Dua jari Syahdu mengacung diudara dengan mata yang berbinar.
Arga sampai tak bisa berkata-kata lagi. Melihat wajah Syahdu yang seperti itu pula membuatnya gemas.
"Kamu sengaja bilang gitu supaya aku yang masak, kan?"
Syahdu cengengesan. "Tapi beneran, kok. Masakan kamu juara."
Syahdu kembali berdiri untuk menyelesaikan proses iris mengiris bawang, tapi nampaknya Arga tak mengizinkannya. Syahdu tertarik dan duduk dipangkuan Arga. Lelaki itupun mengunci pinggang Syahdu agar tak lepas dari dekapannya.
"Ga, ayo dong, biar cepat selesai." Protes Syahdu karena tak bisa bergerak dari Arga.
"Aku mau tanya dulu, deh. Kamu kapan selesai haid?" Mata Arga menyipit saat Syahdu tampak berpura-pura berpikir.
__ADS_1
"Engg.. dua hari lagi kayanya."
Arga menempelkan wajahnya di dada Syahdu.
"Bohong. Aku liat kamu ga pernah pakai pembalut. Kalau dihitunh-hitung sejak kamu chat lagi mens, itu udah 8 hari, lho."
Syahdu tak bisa mengelak. Arga sudah mengetahui itu duluan.
"Aku pengen.."
"Hah?" Syahdu melongo. Bisa-bisanya Arga mengatakan itu dengan wajah innocent-nya.
"Yaa, please.." pinta Arga lagi.
"Nggak. Aku mau masak." Syahdu segera turun dari pangkuan Arga. Dia mulai mengiris bawang lagi.
"Syahdu, please.." Arga kini merengek dibelakangnya. Lelaki itu sampai meletakkan dagunya di bahu Syahdu.
"Apaan sih, Ga."
Arga sampai menghembuskan napasnya dengan kasar. Sejak kapan dia ditolak soal begituan? Membuatnya kesal saja.
"Aaaakk! Argaa!" Pekik Syahdu memberontak saat Arga menggendongnya dengan paksa.
"Arga! Turunin!"
Bruk! Arga melemparnya keatas tempat tidur. Dengan cepat lelaki itu mengungkung dan mengunci Syahdu dibawahnya.
"Arga, aku bau bawang!" Syahdu memberi alasan supaya Arga berhenti. Lagi pula, ia memang baru memegang bawang.
Tapi jika dilihat dari tatapan Arga yang lapar itu, suara Syahdu pasti tak terdengar di telinganya.
Benar saja, Arga langsung mellumat bibir Syahdu. Walau awalnya memberontak, Syahdu kini menikmatinya. Ia memejamkan mata, lalu melenguh saat tangan Arga mulai masuk kedalam bajunya, menyentuh titik sensitif yang langsung membuat Syahdu melayang.
"Aahh.."
Arga, dengan gampangnya melucuti pakaian Syahdu hingga entah bagaimana keduanya sudah tidak lagi mengenakan sehelai benangpun di tubuh mereka. Malam itu, tak lagi hening lantaran desaah dan lenguhan Syahdu membuat suasana berbeda di hati Arga. Dia menjadikan itu sebagai alunan yang syahdu di telinganya.
**
Hutang 2 bab lagi yah. Eh, udah baca Something Between Us? Ceritanya kisah tentang sekertaris yang terpikat dgn pesona istri bosnya🤗🤗
VOTE NYA JANGAN LUPA👉👈😸
__ADS_1