SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Kepercayaan pada Syahdu


__ADS_3

Aku mengejar ke arah Syahdu berjalan tadi. Untungnya, aku masih bisa menemukannya.


Dengan langkah cepat, aku mengejar Syahdu dan berhasil meraih tangannya.


"Apasih, Ga!"


Syahdu terdiam saat mendapati ternyata akulah yang memegang tangannya.


"Ah, kak. Aku kira tadi.."


Dia tidak melanjutkan ucapannya, apa benar dia merahasiakan sesuatu?


"Siapa?" Tanyaku penasaran.


Syahdu tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Aku tertegun, benarkah dia menyembunyikan sesuatu?


"Kenapa nggak balas pesanku?"


"Aku belum cek hp, kak. Baru keluar kelas." Jawabnya.


"Ayo, makan siang." Aku menggenggam tangan Syahdu dan membawanya menuju satu tempat untuk kami makan siang berdua.


Aku membawanya ke sebuah kafe kecil tak jauh dari kampus. Disana banyak varian makanan dan dessert, apalagi ada eskrim, kesukaan Syahdu.


Kami duduk berhadapan diantara meja kecil. Wajah Syahdu sudah kembali ceria. Dia terus menggenggam tanganku sambil bercerita banyak hal terutama tentang bagaimana interaksinya dengan dosen yang sangat bagus karena nilainya yang tinggi.


Jika seperti ini, apakah terlihat bahwa dia telah mengkhianatiku? Jelas tidak. Lihatlah senyuman dan tatapan matanya yang terus mengarah pada mataku. Akupun bisa merasakan cinta Syahdu, aku benar-benar bisa merasakannya.


"Aku tau kamu pasti lulus dengan nilai sempurna." Responku pada cerita Syahdu. Dia tersenyum lebar lalu mengukir-ukir abstrak di telapak tanganku dengan jari telunjuknya.


"Aku mau kakak terus ada disampingku. Sampai kapanpun." Ungkapnya tiba-tiba.


Ucapan Syahdu membuat hatiku bergetar. Aku suka jika dia terus menunjukkan cintanya, aku suka jika dia menginginkanku tetap disampingnya. Aku ingin Syahdu terus membutuhkanku, aku suka melihat senyumannya, aku mencintai Syahdu.


"Aku nggak akan kemana-mana, Syahdu. Aku tetap disampingmu."


Bukan tersenyum, Syahdu justru menatapku dengan dalam. Wajahnya pula terlihat murung. Apa dia tidak puas dengan jawabanku?


"Kak, aku mau cerita." Katanya sambil melipat tangan di atas meja.


"Ceritalah."


"Aku punya temen, dia.." Syahdu tampak ragu melanjutkan kalimatnya. "Dia melakukan hubungan dengan cowok lain."


"Hubungan apa?" Tanyaku yang sebenarnya paham tapi ingin Syahdu memperjelasnya.


"Hubungan itu.."


"Apa?"

__ADS_1


"Aargh. Kakak pasti taulah." Jawabnya agak kesal dan membuatku tergelak.


"Haha. Oke, lalu?"


"Em.. jadi, dia melakukan itu karena butuh uang untuk keperluan mendesak, misalnya." Lanjutnya dengan perlahan, seperti takut salah bicara.


"Tapi, cowoknya nggak tau soal itu. Kalau dia tau, bagaimana kira-kira, ya. Apa cowoknya akan marah?"


"Jelas, dong. Memangnya ada orang yang nggak kecewa kalau pasangannya ada hubungan dengan orang lain?" Tanyaku dan Syahdu diam mendengarkanku. "Itu namanya dia mengkhianati perasaan pasangannya."


"Tapi dia butuh uang banget, kak."


"Jadi, apa kalau aku butuh uang, terus main sama tante-tante supaya dapet duit, menjadi satu kebolehan? Kamu pasti sakit hati, kan, kalau aku melakukan itu?" Kucoba untuk membuat analisa supaya Syahdu mengerti, tapi gadis itu diam saja.


"Terus, menurut kakak, misalnya dia udah ngakui kesalahannya dan ingin berhenti, apa cowoknya mau menerimanya lagi?" Tanya Syahdu dengan wajah serius, sampai membuat dahinya berkerut.


"Kenapa kamu nanya beginian, sih?" Tanyaku penasaran.


"Aku cuma penasaran aja, kak. Emm.. kakak kan, laki-laki. Jadi, aku mau tau dari sudut pandang kakak." Jawabnya dengan senyum tipis.


"Hmm.. kalau aku, yaa.. berat."


"Berat?" Tanya Syahdu ulang.


Aku mengangguk cepat. "Ya, berat. Bagaimana pun dia membutuhkan uang, seperti apapun, tetap bukan jalannya menjual diri seperti itu."


"Pasti ada jalan lain selain itu, kan? Semoga aja cowoknya mau menerima lagi. Pasti ada laki-laki yang mau menerima dengan tulus dan melupakan masa lalu orang yang disayanginya. Yang jelas, aku yakin Syahdu nggak akan melakukan hal yang seperti itu, karena dia pekerja keras." Jelasku pada gadis itu yang kini tersenyum tipis padaku.


Pesanan kami pun datang, Syahdu mengambil eskrim coklat kesukaannya. Dia mulai menyuapkan sesendok ke mulutnya dengan lambat. Padahal biasanya dia sangat lahap kalau soal eskrim.


"Hei, ada apa?" Tanyaku dengan menggenggam tangannya. "Apa temanmu itu satu kampung?" Tanyaku lagi. Jika dia terlalu memikirkan hal itu, sepertinya itu teman dekatnya. Tapi dia menggelengkan kepala.


"Bukan, ya? Jadi, siapa?" Tanyaku lagi.


"Kepo, ya. Kalau aku kasih tau, namanya aku buka aib orang." Jawabnya yang langsung mencebik padaku.


"Habisnya kamu langsung mendung gitu mukanya."


Syahdu mulai tersenyum lebar dan mengambil sesuap eskrim, menyulangkannya padaku.


"Aaaaa.." Katanya untuk membuatku membuka mulut. Aku menurut dan melahap eskrim yang dia suapkan padaku. Kami terus bercanda bersama. Akupun melupakan apa yang kulihat tadi, dan tidak bertanya karena aku mempercayai Syahdu.


...🍁...


...PoV Syahdu Larasati...


Sebenarnya hatiku sedikit pilu, setelah mendengar jawaban dari kak Wicak barusan. Dengan beralasan kisah teman, aku menanyakan perihal apa yang aku alami. Aku ingin mendengar pendapat kak Wicak tentang keadaanku sekarang dan sedihnya, dia berat menerima walau semisal aku telah berhenti dari pekerjaan ini.


Aku memang sangat egois, ingin terus bersama dengannya sementara aku merusak diriku.

__ADS_1


Aku menatap wajah nenek yang tengah tertidur tak lama setelah minum obat. Aku merasa, apa yang kulakukan ini tidak begitu menggangguku jika melihat nenekku masih hidup. Tapi, jika melihat kak Wicak, tentu rasa bersalah timbul di hatiku.


Sebenarnya, aku harus apa? Sempat terpikir olehku untuk meninggalkan kak Wicak supaya dia bisa mencari penggantiku. Supaya dia bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Namun, memikirkannya saja aku tidak sanggup.


TRING!


Ponselku berbunyi dan kudapati pesan dari Awan.



Butuh sandaran, katanya? Awan, tahukah kau kalau aku juga tengah stres dan butuh sandaran? Kenapa kau malah mencari aku..


Sebenarnya aku agak malas keluar malam ini, tapi nampaknya awan tengah galau dan butuh teman.


Akupun beranjak menemui Awan di tempat yang kukatakan padanya. Dia menjemputku dengan sepeda motornya.


"Kenapa? Galau?" Tanyaku pada Awan yang wajahnya tampak kusam.


"Riska, dia selingkuh." Ucapnya dengan raut menyedihkan. Awan menyerahkan ponselnya, menyuruhku membaca pesan dari Riska.


"Kenapa tiba-tiba?" Tanyaku padanya setelah membaca pesan permintaan pisah dari Riska.


"Itu pasti bukan dia! Yang mengirim pesan itu, pasti selingkuhannya itu!" Pekik Awan dengan kesal.


Kasian juga, padahal Awan mendam perasaan pada Riska sejak lama, tapi malah diselingkuhi. Lihatlah wajahnya, sudah bagai benang kusut. Tapi apa boleh buat. Memang seperti itulah dunia ini bekerja. Tidak semua yang kita inginkan akan selalu kita dapat, kan?


Contoh saja aku. Keinginanku sangat banyak dan besar. Tapi apa yang kulakukan??


Aku tidak bisa memberinya masukan karena akupun juga sedang stres.


"Mending kita cari minum dulu. Biar fresh dikit."


Awan mengangguk lemas dan kami pun mencari minuman yang bisa membuat mood kami berdua menjadi lebih baik.


Kami berhenti di salah satu gerai minuman, Awan menyuruhku memesan apa saja asal bisa diminum sementara dia menunggu di atas motor sambil bermain ponsel.


Setelah mendapatkan pesanan, aku berdiri di dekat Awan sambil memegang dua minuman.


"Nih, coklat dingin biar pikiran lebih seger." Kataku sambil menyerahkan minuman itu.


Awan mengambilnya tanpa menoleh. Dia terus menatapi chat Riska di layar ponselnya.


"Udaah, ngapain dibaca terus. Move on aja, sih. Perempuan juga masih banyak." Ucapku sok menangkan. Padahal kalau aku disuruh meninggalkan kak Wicakpun, aku tidak sanggup.


"Stress banget! Kurang apa sih, aku??"


Kalau ditanya kurang apa, jelas banyak, Wan. Dalam hatiku.


Lalu tiba-tiba, ponsel Awan ditarik oleh seseorang dari belakang dengan sepeda motor, membuatnya reflek menjatuhkan coklat dingin yang ia pegang dan langsung berlari mengejar orang yang menarik ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2