SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
What If - Arsya Besar


__ADS_3

Hari itu, Syahdu dan salah seorang anak panti yang bernama Ariva tengah duduk di taman depan rumah sembari memperhatikan anak-anak panti bermain-main. Termasuklah Arsya dan Arga, bermain bola dengan seru disana.


Rumah mereka tidak dibatasi pintu gerbang, hingga membuat halaman panti dan rumah Syahdu menyambung dan terlihat lebih luas dari yang lain. Syahdu memang tidak ingin memagarinya supaya bisa memandang luas kedepan.


Sesekali Ariva tertawa melihat kelucuan Arga dan Arsya. Walau kadang suka bertengkar, tapi dua orang itu memang begitu dekat.


Arsya akhirnya duduk di dekat Syahdu dan sahabatnya itu. Dia mengibas-kibaskan bajunya yang sudah basah karena keringat.


"Ah. Ga seru. Menang mulu." Ucap Arga seraya berjalan mendekat. Lalu duduk disebelah istrinya dengan napas tersengal.


"Arsya ngalah, Pa. Mau bahagiain orang tua." Celetuk Arsya.


"Hei-hei. Siapa yang orang tua? Papa masih segar." Protes Arga.


"Kamu kan, memang orang tua Arsya." Sahut Syahdu. Selalu pusing setiap kedua lelaki ini bertengkar.


"Tapi bukan itu maksudnya. Iya, kan?" Plotot Arga pada anaknya.


"Ya itu maksudnya. Apalagi."


Ariva yang ada disana hanya terkekeh. Dia sangat menyukai keluarga Arsya yang hangat.


"Kamu capek, Ga. Minum ini dulu." Syahdu memberikan minuman pada Arga. Sekujur tubuhnya penuh keringat. Terasa lelahnya dan ia tahu, tubuhnya memang berbeda dengan saat muda dulu.


"Bunda sama Papa, masih mesra banget, ya. Pengen deh, kalo udah nikah nanti, Ari mau kayak Bunda dan Papa." Ujar Ariva saat merasa orang tua didepannya ini masih sangat saling mencintai.


"Harus, dong. Tuh, Arsya udah tau resep gimana supaya rumah tangga awet." Unjuk Arga pada anaknya.


"Hah. Apaan. Arsya ngga tau." Jawabnya cuek, lalu meneguk air mineral dalam botol.


"Cerita dong, Bunda, gimana Papa dulu nyatain cinta ke Bunda." Ucap Ariva lagi.


"Ditinggal sampe 7 tahun. Papa ngegalau selama itu ditinggal sama Mama. Haha. Mama sih, karena kasian waktu itu." Arsya tekekeh geli menertawakan Arga.


"Yang bener? Kamu tau dari mana, Sya?"


"Liat internet, lah. Gue kan, juga cari tau."


"Seneng banget ngetawain papanya." Syahdu merapikan rambut Arsya yang berserak kedepan.


"Itu yang namanya laki-laki. Cukup dengan satu wanita. Sejauh apapun mama kamu pergi, papa tunggu karena yakin dia pasti akan kembali ke pelukan papa." Ucap Arga bangga, diiringi tepuk tangan salut oleh Ariva.


"... itu karena mama kamu ngga nemu laki-laki setampan dan sebaik papa."


"Iya, Pa. Ari juga nanti suatu hari akan cari laki-laki yang kayak Papa."


"Nah, liat. Ariva sampe mau cari yang kayak papa." Kata Arga lagi-lagi membanggakan diri.


"Papa tau, ngga. Temen Ari ada lho, yang masih ngefans sama Papa. Malah mereka bilang, Papa lebih keren daripada Arsya." Sambung Ariva lagi, membuat Arga semakin melambung tinggi mendapat pujian yang banyak.


"Bunda dulu beneran sempat pergi sampe 7 taun? Kenapa, bun?" Tanya Riva penasaran.


Syahdu melirik Arga sebentar, "Emm.. kenapa, ya." Dia pura-pura berpikir.


"Papa kan, playboy. Cewenya banyak. Dulu tuh, papa tunangan sama orang lain. Trus karena ditinggal Mama, dia malah mutusin tunangannya dan ngejer Mama sampe 7 taun." Sahut Arsya.


".. lo tau nggak, Ri. Papa sampe hampir gila karena ditinggal Mama."


"Oh, ya?" Mata Ari membelalak.


"Iya. Ngerokok, ngga keluar kamar, ga makan, ga minum.."


"Tau dari mana? Perasaan di internet kaga ada yang kaya begitu." Tanya Arga bingung.


"Dari grandma. Om Iip juga cerita. Arsya seneng banget kalo denger om Iip cerita masa lalu Papa. Hahaha."


Arga mendengus dan mengituk Ibra dalam hatinya.


"Tapi sebenarnya.. Bunda sama Papa emang udah jodoh. Ariva pernah denger, kalo sebenarnya jodoh kita udah ditentuin dari lahir. Mau disatuin kayak apapun, kalo ga jodoh, ga bakalan nyatu. Mau dipisahin kayak apapun, kalo emang jodoh, pasti bakalan ketemu dengan jalan yang gak kita sangka-sangka."


Penjelasan Ariva tak disangkal Syahdu maupun Arga. Mereka malah senang mendengar pendapat Ariva.

__ADS_1


"Ngga kayak Mama Papa Ari. Maksain buat nikah, padahal udah dikasih sinyal gak jodoh oleh Tuhan. Sampe akhirnya jadikan Ari sebagai korban."


Syahdu mendekat dan mengelus Ariva. "Sayang, kenapa jadi nangis."


"Nggak nangis, kok, Bun. Mata Ari kemasukan debu."


Syahdu tersenyum, lalu memeluk gadis itu, bersamaan Arsya yang menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.


...🍁...


Syahdu memasak di dapur untuk makan malam keluarga. Sekarang Arsya sudah mulai meminta apa yang dia ingin makan.


Contohnya aja sekarang. Mendadak Arsya ingin makan rendang sapi dan memberi syarat bahwa masakan itu wajib Syahdu yang masak. Dia ingin buatan mamanya, bukan papanya.


"Mau aku bantu?" Arga menggulung lengan kemejanya. Baru pulang kerja, pria itu langsung menuju dapur.


"Ngga usah, Ga. Kamu istirahat aja, ya. Arsya maunya aku yang masak." Kata Syahdu sembari terus mengaduk bumbu dan santan.


Arga menarik napas panjang. Dipeluknya Syahdu dari belakang. "Kalau dia yang minta, kamu langsung nurut."


"Eh.." Syahdu sampai membalikkan tubuh. "Kapan aku ga nurut sama kamu?"


"Waktu itu. Aku ajak kamu nonton, tapi kamu nolak." Ucapnya dengan lesu.


"Bukan nolak, sayang. Waktu itu kan, Arsya lagi demam. Mana mungkin ditinggal."


"Tuh, kan." Arga sampai menempelkan kepalanya di ceruk leher Syahdu. "Aku kangen kita punya waktu khusus berdua. Sesekali jalan tanpa mikirin yang lain selain aku.."


Syahdu mengulum senyum. Dibelainya rambut Arga yang kembali mulai panjang. Padahal usia mereka menginjak kepala empat. Tapi tak sedikitpun Arga berubah padanya.


"Sama anak sendiri aja cemburu."


Arga mengangkat kepala dan menatap tajam pada anak semata wayang yang bersedekap di pintu penghubung.


"Siapa yang cemburu." Arga melepas pelukannya dan duduk di meja makan. "Kamu tuh, suka banget ngintip orang tua lagi mesraan." Katanya sembari membuka laptop.


"Bukan ngintip, tapi mama sama papa kayak ga kenal tempat."


"Gak suka kamu, liat mama papa mesra? Sana, masuk kamar aja jangan keluar-keluar." Gerutu Arga.


Kemarin saja, mereka bisa bertengkar gara-gara berebut mengantar Syahdu ke pasar. Arga juga masih keliatan kaya anak-anak dan tidak mau mengalah pada Arsya. Terpaksa Syahdu menghukum dengan memperlihatlan keduanya video saat mereka saling sayang.


Syahdu memutar video dengan layar besar saat Arga menimang Arsya kecil dengan balutan kasih sayang. Lalu ditunjukkan juga dengan video Arsya yang menangis karena tak ingin ditinggal sang papa, merengek manja ingin terus digendong Arga. Sengaja Syahdu lakukan supaya keduanya sadar bahwa mereka saling sayang dan membutuhkan.


Arsya berdecak saat mengingat hukuman itu. Walau sebenarnya dia tidak masalah diperlihatkan video-video masa kecilnya bersama sang papa.


"Kamu tadi kemana, Sya? Ari nyari kamu." Syahdu bicara tanpa melihat karena sibuk memasukkan daging kedalam wajan.


"Pacaran. Kamu ga denger kemarin Ari bilang dia punya pacar?" Sahut Arga dengan tetap fokus pada laptopnya. Menyambung pekerjaan kantor yang belum selesai.


Syahdu tersenyum. "Mama seneng akhirnya kamu punya kenalan cewek yang lain. Soalnya kan, selama ini selalu sama Ari. Bisa juga kamu lepas dari dia dan pacaran sama Vita."


"Bukan pacar, Ma."


"Iya, pasti bukan pacar. Dia kan, naksir Ari sebelah pihak." Sambung Arga lalu terkekeh tanpa peduli tatapan tajam anaknya.


"Eh, apa, sih. Mereka sahabatan. Jangan bilang gitu, nanti jadi ga enakan kalau Ari denger." Syahdu duduk diantara anak dan bapak itu. Dilihatnya Arsya hanya diam memainkan buah jeruk di tangannya.


"Sya, mama masih tetep ingatin kamu buat hati-hati kalau pacaran. Mama gak mau kamu sampe kelewatan batas sama perempuan. Ingat, perempuan bukan untuk dimainin. Apalagi disentuh di tempat yang gak semestinya."


Arsya menggaruk kepalanya. Sudah beribu kali dia mendengar nasehat sang mama yang dia pun sampai hapal.


"Iya, Ma.. iyaa. Arsya ingat, kok. Lagian kan, udah Arsya bilang, Arsya gak pacaran."


"Satu lagi. Jaga Ari, ya. Soalnya kan, dia ga pernah keluar tanpa kamu. Apalagi sekarang dia punya pacar. Mama.. agak khawatir."


"Iya, Ma. Aman soal itu. Arsya kenal kok, pacarnya."


"Masa disuruh ngawasin cewek yang ditaksirnya lagi pacaran, sih. Bisa serangan jantung, dia." Celetuk Arga, memulai pertengkaran.


"Arsya ga suka sama Ari."

__ADS_1


"Ah, masa, sih?"


"Ari itu ngerepotin. Dikit-dikit minta anterin, minta bantuan ini itu. Sekarang dia punya pacar, Arsya agak lega." Tuturnya.


"Yang benerr? Bukannya kemaren waktu Ari mau dijemput Papanya, kamu sedih?" Ledek Syahdu. Mulai ikut-ikut suaminya.


"Nggaak." Jawabnya cepat. "Dah, ah. Arsya mau naik dulu."


Mata Syahdu dan Arga ikut melihati anaknya yang berlalu pergi dari dapur.


"Hufff.." terdengar helaan napas Syahdu. Kembali dia berdiri mengaduk sebentar masakannya. Lalu menyandarkan bokong di meja makan.


"Kenapa?" Tanya Arga.


"Aku takut, Ga."


"Soal itu?.." Arga menggenggam tangan Syahdu. "Kan, aku udah bilang. Arsya itu beda."


Tetap saja, Syahdu tidak tenang. Bayangan dirinya dan Arga dulu, mendadak jadi rasa takut yang muncul, kalau-kalau Arsya melakukan hal yang sama.


"Kamu udah ngedidik dia jadi laki-laki yang sangat menghargai perempuan. Aku bisa liat gimana dia memperlakukan Ariva."


"Bener, gitu?"


"Iya, sayang." Arga berdiri. Kini dia mengangkat tubuh Syahdu duduk diatas meja.


"Kamu perempuan terbaik, ibu yang paling baik, dan istri ter hot. Hehe."


"Is, kamu. Aku lagi gak becanda."


"Siapa yang bercanda." Arga menangkup kedua pipi Syahdu. "Dengarkan aku, ya. Aku yakin anak itu ga akan melakukan hal sepecundang aku dulu. Aku yakin dia jauh lebih baik dariku karena kamu yang mendidiknya. Aku selalu setuju apapun pendidikan yang kamu berikan ke Arsya. Anak itu.. walau banyak yang bilang sifatnya mirip aku, tapi soal cara dia memandang perempuan, dia jauh.. jauh lebih baik dari aku."


"Kamu memang pernah salah, Ga. Tapi kamu juga laki-laki yang luar biasa di mataku. Jadi, jangan beranggapan seolah kamu ini bukan laki-laki yang baik."


Bibir Arga mengukir senyum. Lalu ia mencium bibir Syahdu dengan sangat berhasrat. Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga ia tak melakukannya.


"Oh!"


Syahdu dan Arga tersentak mendengar suara anaknya.


"Arsya ga liaatt! Arsya pamit keluar bentaaarr!" Teriaknya sambil terus berjalan cepat menjauhi dapur. Arga dan Syahdu sampai tertawa.


"Yuk."


"Aku lagi masak."


Arga mematikan kompor lalu menggendong Syahdu. "Masaknya bisa ditunda, kalo aku ga bisa nunda." Ucapnya sembari membopong Syahdu menuju kamar mereka.


...** Perkenalan Visual **...



(Arsya Alexander Loui, Anak dari Syahdu dan Arga juga sahabat sejak kecilnya Ariva. Arsya menolak menjadi bintang di sekolah karena tak suka menjadi idola. Namun begitu, dia tetap banyak disukai gadis-gadis. Arsya juga seorang gamer yang terus fokus pada ponselnya.)



(Ariva Tania, cewek yang menganggap dirinya sama sekali nggak cantik namun mengharapkan kisah cinta yang manis saat SMA)



(Vita, cewek tercantik di SMA Garuda yang deket dengan Arsya)



(Arjuna Kartawijaya, Bendahara osis yang ditaksir berat oleh Ariva sejak awal masuk SMA)



(Hajoon, cowok keturunan korea yang menjadi bintang utama di sekolah)


__ADS_1


( Kai Samuran, salah satu bintang sekolah yang tidak menyukai Ariva karena keributan yang dibuat oleh Ariva. Namun nasib sial membuatnya terus menerus bertemu dengan gadis itu.)


Gimana? Udah baca HIGH SCHOOL RELATIONSHIT? Cuss langsung kesana, ya😉


__ADS_2