SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Pelukan Rindu Yang Sangat Erat


__ADS_3

Dari kejauhan tergambar cerita tentang kita


Terpisah jarak dan waktu


Ingin kuungkapkan rinduku lewat kata indah


Tak cukup untuk dirimu, sebab kau terlalu indah dari sekedar kata-kata. Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu...


...*...


Syahdu tak bisa bergerak dari tempatnya saat melihat Arga berjalan cepat menuju kearahnya. Apa yang akan dilakukan lelaki itu, Syahdu tak bisa menebaknya. Yang saat ini terjadi justru dia tak mampu mengelak saat Arga tiba-tiba saja merengkuhnya dalam pelukan.


Erat sekali, sampai Syahdu bisa mendengar degupan jantung Arga yang begitu kencang. Sama hal dengan dirinya, pelukan Arga membuat tubuh Syahdu membeku dengan detakan tak kalah hebat di dadanya.


Syahdu tak berani mengangkat tangan untuk membalas pelukan Arga. Hanya, dia merasa perasaan yang selama ini tertahan di dasar hatinya pun mencuat keluar tanpa izinnya. Sesuatu bergejolak membuat Syahdu ingin sekali menangis di pelukan Arga. Dia mengutuk lelaki itu, kenapa sudah bertahun-tahun berlalu aroma tubuhnya masih sama, membuat ingatan Syahdu kembali ke masa dimana ia dan Arga sering tidur bersama.


Lama Arga memeluknya, seolah dirinya tengah menyerap energi dalam diri Syahdu yang sudah lama sekali hilang dari dirinya.


~


Syahdu dan Arga duduk berdiam cukup lama. Sudah 15 menit berlalu, Arga masih terus menggenggam dan mengelus tangan Syahdu. Dia memiringkan tubuhnya, duduk mencondong kearah Syahdu.


"Akhirnya kamu datang, Syahdu.."


Kata pertama yang keluar dari bibir Arga, membuat Syahdu menatap mata yang kini berubah hangat. Sorotnya terasa menusuk ke dalam hatinya, membuat Syahdu sadar betapa Arga merindukannya.


Arga menatap jari jemari Syahdu yang digenggamannya. "Selama ini kamu kemana aja? Aku udah cari kamu kemana-mana, tapi kamu pergi tanpa ada jejak sedikitpun." Arga tersenyum kecil mengingat usaha besarnya mencari gadis yang kini ada dihadapannya.


"Makasih udah datang." Ucapnya kemudian dengan senyum lebar. "Apa.. kamu dengar podcast-ku kemarin? Atau.. karena besok ulang tahunku, ya?"


Syahdu ikut menatap jarinya yang digenggam Arga. Tak sepatah katapun muncul dari bibirnya. Entah kenapa, melihat betapa bahagianya Arga sekarang membuatnya mengerti seberat apa Arga menjalani harinya selama ini. Syahdu malah bisa merasakan suara dan tangan Arga yang sedikit bergetar.


"Kamu.. nginep disini, kan? Apartemen ini milik kamu, Syahdu. Semua masih sama kaya dulu, kan? Aku ngga ubah sedikitpun supaya kamu bisa senyaman dulu." Katanya lagi, mencoba mencairkan suasana yang cukup canggung diantara mereka.


"Aku.. bener-bener ngga nyangka kamu akhirnya datang, Syahdu. Aku.. aku merasa ini kayak mimpi." Arga tertawa kecil. Suaranya masih terdengar gemetar, sementara Syahdu menatap matanya.


Wajah Arga naik, dia membalas tatapan Syahdu. "Tau kan, kalau aku.. sangat merindukanmu.. sangat-sangat merindukanmu." Kata laki-laki itu akhirnya dengan air mata yang menggenang.

__ADS_1


Syahdu tak berani menatapnya lama. Gadis itu menunduk karena merasa menyesal dan bersalah. Arga menangis karenanya.


Perlahan Syahdu menarik tangannya dari genggaman Arga. Gadis itu tampak bingung sebentar saat Arga berubah ekspresi karena tangan yang dilepas Syahdu.


"A-aku.. mau ke kamar mandi."


Tanpa melihat kearah Arga, Syahdu beranjak menuju kamar mandi dan langsung menutup pintunya rapat-rapat. Seketika air matanya tumpah disana. Syahdu menutup mulutnya, tak ingin ada suara yang didengar Arga. Dia terisak, entah apa yang saat ini dia rasakan. Sedih, senang, marah, menyesal, dan tentu saja rasa sayang yang baru saja muncul kepermukaan hatinya.


Belum pernah Syahdu rasakan ini pada Arga sebelumnya. Setelah pelukan itu, Syahdu tak bisa menahannya lagi bahwa memang perasaannya pada Arga sejelas itu sekarang. Apalagi melihat kesungguhan Arga, pintu hatinya terbuka sangat lebar menyambut lelaki itu.


Setelah sedikit tenang, ia menghapus air matanya dan membuka pintu. Syahdu terkejut mendapati Arga berdiri di depan pintu. Wajah lelaki itu panik sekali.


"Kenapa? Apa ada yang sakit? Apa kalau datang bulan masih sakit, Syahdu?"


Syahdu menatap manik coklat milik Arga. Pancaran kekhawatiran itu, dia pernah melihatnya dulu. Saat itu Syahdu tak menyadari bahwa Arga sudah lebih dulu mencintainya.


Syahdu melangkah maju. Dia membuka kedua tangan, lalu melingkarkannya di pinggang Arga. Syahdu memeluk lelaki itu, bersandar di dada yang kini terasa lebih bidang.


Getaran hati Arga semakin hebat tatkala ia dipeluk sesuatu yang menenangkan jiwa. Syahdu mendekapnya erat dan memejamkan mata, menikmati detakan Arga yang semakin kencang.


Terbius. Lelaki itu bergeming dengan aliran darah yang semakin kencang. Tak ingin melewatkan kesempatan, ia pun membalasnya dengan pelukan yang kemudian tak henti mengecup puncak kepala Syahdu.


~


Arga tersenyum lagi. Bukan tanpa sebab, dia merasa sangat senang dan bersyukur akan kehadiran Syahdu lagi saat ini. Kemunculan gadis itu nampaknya menjadi kado terindah untuk ulang tahunnya besok. Namun tiba-tiba senyumnya memudar saat mengingat esok hari...


"Syahdu.."


"Hmm.."


"Kamu.. terus disini, kan?" Tanyanya dengan hati-hati, mengingat saat ini dia belum tahu dengan jelas makna kemunculan gadis ini.


Belum Syahdu menjawab, ponsel Arga berbunyi. Dia meraihnya diatas nakas, lalu mengangkat telepon dari Ibra.


"Jangan ganggu aku sekarang sampe minggu depan."


'WHAAATTT!!'

__ADS_1


Arga langsung menutup panggilan bahkan sebelum Ibra menjelaskan apapun.


"Bukannya kamu nanti malam ada acara, ya?" Tanya Syahdu mengingat baliho yang tadi ia sempat baca.


"H'em. Tapi aku batalin aja. Kamu lebih penting sekarang."


"No, jangan gitu. Kasian kan, Ibra pasti kena masalah nanti."


Arga menyipitkan mata. Terakhir kali Syahdu meninggalkannya adalah di malam ulang tahunnya. Apakah gadis ini mau meninggalkannya lagi?


"Kamu mau kemana emang?" Tanyanya menyelidik.


"Aku... ngga kemana-mana."


"Aku nggak mau kamu sampe pergi lagi, Syahdu."


Syahdu diam. Dia mengerti sekarang. Arga pasti takut dia ditinggalkan lagi apalagi besok adalah ulang tahunnya.


"Aku ngga kemana-mana, Ga. Aku disini, nungguin kamu."


Arga tak menyahut. Dia hanya terus menatap wajah Syahdu.


"Bener. Aku sama Popi disini. Kamu pergilah, jangan kecewain penggemarmu. Aku ngga akan pergi kemana-mana, aku janj..." Belum ia melengkapi kalimatnya, lidahnya tertahan saat menyadari iapun dulu berjanji untuk tetap disisi Arga namun ia mengingkarinya secara nyata.


Syahdu menghela napas. Dia tahu, tak ada yang bisa menghilangkan kekhawatiran di hati Arga saat ini karena janjipun bukan berarti apa-apa untuknya.


"Aku ikut. Aku akan disana buat nonton kamu nyanyi."


Alis Arga naik. "Kamu mau liat aku manggung?"


Syahdu mengangguk. "Iya. Aku pengen liat kamu."


Lelaki itu tersenyum, "Oke. Sore nanti kita berangkat bareng. Aku ngga mau kamu pergi sendiri walau dekat. Sampe sana, orangku yang akan jaga kamu. Ngerti, kan?"


Syahdu mengangguk saja, membiarkan Arga yang memutuskan sesuatu yang berhubungan dengannya supaya lelaki itu puas dan tak ragu ataupun merasa kehilangan.


TBC

__ADS_1


Haii singgah ya ke karya baru aku, Pen. Terjebak Candu Sepupu...


__ADS_2