SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
I am not a Slut!


__ADS_3

**Terima kasih Like-nya. Sesuai janji aku up, ya**


Syahdu berjalan di lorong rumah sakit menuju kamar vvip dimana neneknya berada. Dia kemudian memperlambat jalannya saat melihat beberapa perawat mengintip kedalam kamar neneknya. Membuat Syahdu penasaran, ada apa sampai mereka berdiri disana.


"Ganteng banget, ya." Bisik salah satu perawat.


"Iya, mirip tuan Arga." Sahut yang lain.


Syahdu mendekat, lalu menepuk bahu salah satu perawat yang langsung terlonjak kaget.


"Sus, kenapa berdiri disini?" Tanya Syahdu sembari melihat kearah para perawat memandang.


"Ah, mbak Syahdu. Itu..." Perawat menunjuk kearah pintu yang sebagian atasnya merupakan kaca.


Syahdu melihat sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas ada di dalamnya.


"Siapa itu?"


"Itu.. ayahnya tuan Arga."


Jawaban perawat itu membuat tubuh Syahdu sedikit bergetar. Ayah Arga ada disini? Kenapa Arga tidak bilang kalau ayahnya pulang?


Mendadak kepala Syahdu terasa pusing. Tadi malam dia ingat Arga memaki ayahnya, itu artinya Arga juga sudah bertemu dengan sang ayah.


Syahdu membuka ponsel, lalu mengetik pesan pada Arga bahwa ayahnya menjenguk nenek.


"Saya masuk dulu ya, sus." Syahdu membuka pintu, membuat seisi ruangan menoleh.


"Eh, ini dia Syahdu." Sambut nenek dengan senyum lebar. Hati Syahdu sedikit tenang karena ternyata tidak terjadi apa-apa pada nenek, mengingat ayahnya menjodohkan Arga dengan Soraya, Syahdu sudah duga kalau Ayahnya pasti tahu dari Soraya soal biaya rumah sakit yang disokong Arga.


"Selamat pagi, pak." Sapa Syahdu dengan menunduk.


Pria bule itu tersenyum, bersamaan dengan seorang lelaki muda disebelahnya.


"Halo, mbak Syahdu?" Lelaki muda itu maju dan mengulurkan tangan pada Syahdu.


"I-iya." Jawabnya gugup.

__ADS_1


"Saya Dion, asisten pribadi tuan Alex selama di Indonesia. Saya juga yang akan membantu menerjemahkan kalau mbak Syahdu kurang paham bahasa tuan Alex."


Syahdu menyambut tangan lelaki itu sambil mengangguk-angguk mengerti.


"Syahdu, tuan Alex suruh duduk." Sahut nenek dari brankarnya.


"Mari duduk, pak." Syahdu mempersilakan pria itu duduk walau dia sendiri masih deg-degan kenapa dan ada apa ayah Arga sampai datang menemui nenek, apa soal dana rumah sakit yang dihabiskan Syahdu? Atau dia ingin mengusir? Tapi, dia tadi tersenyum ramah.


Alex tidak menjawab, dia berbicara pelan pada asistennya sampai Dion mengangguk.


"Mbak Syahdu, tuan mau bicara sama mbak, bisa?"


Spontan lutut Syahdu bergetar. Mau bicara apa sampai berdua? Syahdu benar-benar takut melihat wajah tegas Alex yang mirip dengan Arga. Tapi dia segera mengangguk, karena dia sudah bertemu Margareth dan Julia yang baik hati, tidak mungkin Alex mau macam-macam padanya.


Syahdu mengikuti Alex keluar dari ruangan nenek dan berjalan ke salah satu ruangan yang belum pernah Syahdu lihat. Nampaknya itu memang ruang khusus untuk pemilik atau pertemuan penting mereka.


"Have a seat." Ucap Alex pada Syahdu yang masih melihat ke arah pintu dimana Dion tidak ikut masuk. (Duduklah)


Syahdu duduk dan berusaha tersenyum tenang.


Jantung Syahdu berdetak kencang. Entah kenapa saat melihat ayah Arga, dia yakin lelaki ini berbeda dari Julia dan Margareth. Itu mungkin menjadi penyebab Arga sangat membencinya.


"You just need money, don't you? I will give it to you. How much do you want?" (Kau butuh uang, kan? Aku akan memberimu uang. Butuh berapa?)


Syahdu membuang wajahnya. Dia tak bisa berkata-kata atas apa yang barusan ayah Arga ucapkan. Apa maksudnya itu?


"I know you understand what i'm talking about." Senyum Alex lebar melihat Syahdu tak berani menatapnya. Dia tahu gadis itu mengerti ucapannya sebab saat dia menyuruh duduk dengan bahasa inggris, Syahdu langsung duduk, juga respon gadis itu saat dia mengatakan tentang uang. (Aku tau kalau kau mengerti ucapanku)


"Saya.. tidak mengerti.. apa maksud.. tuan.." Jawab Syahdu gugup. Dia memilin jari-jari diatas pahanya.


"I know your mother was a ****." Senyum miring tersungging di bibir Alex saat ia melihat Syahdu menajamkan mata tak suka kearah pembicaraannya. (Aku tahu ibumu dulunya pelacur.)


"You really know what a ****'s looking for. That is why i offer you money." (Kau tahu kan, apa yang dicari pelacur. Itu sebabnya aku menawarkanmu uang)


"I am not.. a ****!" Tegas Syahdu dengan mata berkaca-kaca. Dianggap pelacur, tentu dia tak terima. (Aku.. bukan.. pelacur!)


"But you sleep with my son." (Tapi kau tidur dengan anakku)

__ADS_1


Syahdu terlihat geram. Dia meremas kain roknya sambil menahan air mata yang hampir jatuh.


Di tempat lain, Arga yang tengah menatap laptop itu meraih ponselnya yang bergetar. Dia masih saja fokus ke laptop walau ponsel sudah di tangannya. Dia masih sibuk, tapi juga ingin tahu siapa yang menghubunginya, kali saja Syahdu, pikirnya.


Arga mengusap layar ponsel. Matanya langsung terfokus pada ruang obrolannya dengan Syahdu.


Arga seketika menutup laptop, meraih jeket dan kunci mobilnya lalu berhambur keluar saat membaca pesan bahwa ayahnya itu ada di rumah sakit, tepatnya di ruangan nenek Syahdu.


Beberapa menit kemudian, Arga sampai di rumah sakit. Dia masih dengan pakaian rumahannya berlari di lorong rumah sakit. Celana jeans selutut, kaos nude dan jeket putih. Tentu Arga yang buru-buru itu membuat tanda tanya diantara para staff rumah sakit.


Arga berhenti berlari dan mendapati Syahdu tengah menangis memegangi tangan sang nenek.


"Mau ya, nek.." suara Syahdu parau. Dia tergugu sambil memohon pada neneknya.


Arga merapatkan tubuhnya ke sebelah pintu yang sedikit terbuka.


"Syahdu, ada apa? Cerita sama nenek. Kalau kamu begini, nenek ga bisa berpikir jernih."


"Tapi kalau Syahdu cerita, nenek harus turuti Syahdu, ya." Ucap gadis itu lagi. Sesekali ia menyerot cairan yang hampir keluar dari hidungnya. Air mata membanjiri wajah, Syahdu tampak begitu tertekan.


"Iya. Nenek janji."


Arga mengepalkan tangannya. Apa yang sudah dilakukan ayahnya sampai Syahdu menangis seperti itu?


"Kita pergi dari kota ini ya, nek. Kata dokter nenek udah bisa pulang dua hari lagi. Kita pergi dari sini, Syahdu ga mau tinggal di kota ini. Syahdu mau kita pergi jauh..." Gadis itu tak lagi melanjutkan kalimatnya. Dia merebahkan kepalanya diatas tangan sang nenek yang masih duduk di brankar.


Walau tidak tahu apa yang terjadi, Suriani mengangguk setuju. Selama dia sakit, dia tahu cucunya itu mengalami banyak tekanan dan masalah. Dia tak ingin lagi gadis itu tersiksa.


"Iya. Nenek setuju. Kemana pun Syahdu bawa, nenek setuju." Kata wanita tua itu sembari mengelus kepala Syahdu yang masih tertunduk dengan bahu yang naik turun karena terisak. Rasa sakit hatinya begitu besar saat mendengar penghinaan yang diberikan ayah Arga padanya.


Arga yang mendengar itupun ikut merasa sesak. Ia mematung, bagaimana bisa Syahdu meninggalkannya? Tapi gadis itu begitu terpukul. Arga sampai mengeratkan kepalan tangannya, ingin sekali menghajar pria tua yang selalu mengacau dalam hidupnya. Ini jelas, sudah pasti Alex yang mengancam Syahdu. Itu sebabnya Syahdu menangis sampai seperti itu.


Arga mengambil langkah seribu, berlari lagi untuk menemui Alex yang sudah berani mengancam Syahdu, yang tidak ada hubungannya dengan semua yang tengah terjadi dalam keluarganya. Walau Arga tahu, dia pun tidak bisa melakukan banyak hal untuk dirinya, juga Syahdu.


TBC


**Lanjut? Like nya banyak baru aku up🤗 Makasih banyak semangatnya yaaa**

__ADS_1


__ADS_2