
Syahdu terbangun saat mendengar suara berisik tak jauh darinya. Suara itu terdengar kian kencang hingga membuatnya terduduk. Setelah menyadari siapa pemilik suara, Syahdu buru-buru meraih pakaiannya yang berserakan dan dengan segera memakainya.
Gadis itu kemudian keluar kamar, mendapati Arga berdiri menghadap Julia yang hendak menyiram tanaman.
"Tapi Mami nggak bermaksud kaya gitu.."
"Mami gak perlu lah, ngenalin Syahdu kesiapapun. Arga gak suka dia kenalan sama cowok manapun." Ucap lelaki berkaos putih dengan rambut yang masih acak itu.
"Astaga, Alexander. Itu temennya anak mami yang lagi ada disana. Mereka cuma kenalan biasa. Dia juga tau Syahdu mau menikah sama kamu!" Jelas Julia dengan nada yang sedikit naik. Wajahnya mulai frustrasi melihat sang anak tidak kunjung mengerti.
"Tapi Arga nggak suka, Mi. Liat, dia upload foto sama Syahdu berdua. Siapa yang ngefotoin?? Sekarang foto itu juga lagi trending, dimana orang-orang banyak yang ngedukung Syahdu dengan dia. Pake ngedoain aku sama Syahdu putus segala lagi!"
"Mami ga tau soal ituuu.."
"Arga, stop." Syahdu segera mendekat setelah menyadari Julia mulai kehabisan akal menghadapi anaknya yang tengah cemburu buta itu.
"Ga, tadi malam soal ini udah clear. Kamu bilang kamu percaya sama aku."
"Aku percaya sama kamu. Aku cuma mau ingetin mami supaya nggak sembarangan ngenalin kamu ke orang lain!"
"Dia bukan orang lain, Xander! Mami kenal Andreas sedari kecil. Dia ga mungkin berencana ngerebut Syahdu dari kamu. Kalian juga dulu kecil pernah ketemu, kok!" Sentak Julia.
Melihat perdebatan mulai memanas, Syahdu akhirnya menarik tangan Arga masuk kedalam kamar. Sekilas ia juga melihat Julia turun ke lantai satu. Nampaknya ia juga sudah tak berhasrat untuk menyirami tanaman lagi.
"Kamu apa-apaan, sih, Ga! Nggak gitu caranya ngomong sama orang tua!"
"Aku emang ngomong apa? Aku cuma bilang ke mami supaya gak lagi ngenalin kamu ke orang-orang. Aku gak suka liat foto kamu sama dia kesebar di internet kaya gini!"
Syahdu menghela napas. "Aku 'kan udah bilang kalo aku ga tau menahu soal foto itu, Ga."
"Iya, aku nggak nyalahin kamu. Aku cuma gak suka kamu dideketin banyak laki-laki!"
"Astaga! Nggak ada yang deketin aku, Argaa! Kami emang kenalan tapi cuma sebatas itu!"
__ADS_1
"Sebatas itu apanya? Kamu liat!" Arga mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto itu pada Syahdu.
"Kamu senyum-senyum kaya gini ke dia kayak udah kenal lama banget. Trus kamu juga nggak masalah kalo foto ini kesebar!"
"Itu cuma foto yang nggak sengaja diambil, Arga."
"TAPI AKU NGGAK SUKA! Liat, kamu baca komentar mereka! Banyak yang dukung supaya aku putus sama kamu!"
Syahdu sedikit tersentak saat Arga membentaknya. Gadis itu sampai merubah ekspresi yang kini terlihat tak suka dengan sikap Arga.
"Memangnya selama ini gimana sama kamu? Kamu juga banyak foto sama cewek, bahkan main rangkul-rangkul segala. Kamu ngebebasin cewek-cewek megang-megang kamu, foto sambil ngedekap kamu. Foto itu juga kesebar di internet tapi aku nggak ngomong apapun soal itu! Kamu pikir adil kalo kamu permasalahin foto yang aku sendiri nggak tau kapan diambil? Kamu boleh, trus aku enggak, gitu?"
Arga sampai terdiam melihat perlawanan Syahdu. Selama ini gadis itu memang tak pernah komplain apapun soal dirinya.
"Aku baru tau kamu kaya anak-anak banget. Permasalahan kecil kaya gini aja jadi gede."
"Bukan gitu maksud aku-"
Syahdu menepis tangan Arga sampai lelaki itu terdiam.
"Syahdu, aku bilang gini supaya kamu gak dikenalin ke sembarang orang." Nada Arga mulai merendah saat tersadar Syahdu marah padanya.
"Udahlah. Aku malas berdebat sama kamu." Ucap Syahdu akhirnya saat merasa suasana hatinya sudah buruk akibat ulah Arga.
Syahdu keluar dari kamar dengan membanting pintu. Arga tentu saja kaget dengan perilaku Syahdu untuk pertama kali. Lelaki itu juga merasa takut. Apalagi bayangan Syahdu meninggalkannya tiba-tiba saja muncul dalam benaknya. Dengan segera ia keluar menyusul gadis itu ke lantai satu. Namun ia tak menemukan Syahdu disana.
"Cari apa, kak?" Tanya Shania saat melihat Arga kebingungan disana. Ia baru turun dari tangga sembari menggendong Popi di tangannya.
"Kamu liat kak Syahdu?"
Shania menggeleng perlahan. Dia juga baru keluar kamar dan ia belum melihat siapapun sejak tadi.
Arga mendecak lalu berjalan menuju pintu depan rumah. Sementara Shania hanya mengangkat bahu dan mendekat ke meja makan yang masih ditata oleh para pelayan.
__ADS_1
Di taman belakang, Syahdu tampak murung. Ia duduk di dekat kolam ikan sembari memikirkan pertengkarannya dengan Arga tadi. Ini pertengkaran pertama mereka, dan ini juga kali pertama ia mendengar Arga membentaknya. Dulu, Arga hanya berkata ketus namun dengan nada yang rendah. Tapi kali ini suara lelaki itu tinggi dengan cara bicara yang membuatnya kesal pula. Apalagi Arga membahas sesuatu yang ia tak ketahui.
Syahdu tergerak mengecek apa yang menjadi perdebatannya tadi. Ternyata lelaki bernama Andreas itu mengunggah fotonya berdua. Tetapi yang menjadi perhatian adalah komentar teman-temannya disana. Mereka mendoakan Syahdu dan Arga putus, juga banyak yang mendukung dirinya dan Andreas menjalin hubungan.
Membaca itu, Syahdu hanya menggelengkan kepala. Jadi itukah yang membuat Arga marah? Padahal ini tidak ada apa-apanya dengan komentar nakal gadis-gadis di postingan Arga. Bahkan tak jarang ia juga mendapat banyak hinaan karena Arga.
"Syahdu.."
Gadis itu mengangkat kepala dan mendapati Julia berdiri di depannya. Dengan senyum hangat, Julia duduk disebelah Syahdu.
"Tadi, bertengkar ya, sama Arga. Apa karena Mami?" Tanya wanita yang sempat mendengar perdebatan anaknya tadi.
"Bukan kok, Mi." Jawabnya dengan menunduk dan senyum seadanya.
"Syahdu, Mami mau ngucapin sesuatu sama kamu."
Syahdu mengangkat wajah, menatap Julia yang kini tengah serius bicara padanya.
"Arga itu.. banyak mengalami perubahan. Itu terjadi sejak kamu pergi. Dia jadi lebih banyak diam dan ga peduli dengan sekitar. Dia hanya senyum diatas panggung, tapi saat turun, senyumannya pudar."
Syahdu tak berkedip. Dia serius mendengarkan Julia.
"Mami tau, mami juga salah karena maksa dia buat nikah sama orang lain waktu itu. Seharusnya mami mikirin perasaannya sejak awal."
Julia mengembangkan senyum. "Makasih ya, Syahdu. Mami senang kamu mau terima Arga. Mami ga tau gimana kalian bisa ketemu. Apapun itu mami ucapin makasih banyak udah memilih Arga untuk jadi suami kamu nantinya. Maaf juga kalau mami egois. Tapi mami mohon jangan tinggalin Arga lagi." Ucapnya sembari menggenggam tangan Syahdu.
"Mami bicara apa? Syahdu ga ada niat sama sekali buat ninggalin Arga. Waktu itu.. Syahdu pergi karena ngerasa memang ga perlu lagi ada disini. Arga mau menikah, jadi buat apa lagi Syahdu di dekatnya? Syahdu sama sekali ga tau kalo kepergian Syahdu sampe buat Arga seperti itu."
Julia mengeratkan genggamannya. "Makasih ya, Syahdu. Arga pasti banyak ngerepotin kamu. Tapi mami yakin Arga ga akan buat kamu sakit hati. Kalau sikapnya berlebihan kaya tadi, mami harap kamu maklum ya. Dia pasti sangat ketat jaga kamu karena ga ingin kamu pergi."
Syahdu mengangguk. Dia paham sekali soal itu. Tapi dia juga tidak bisa terlalu ditekan oleh Arga. Dia ingin Arga percaya penuh seperti dirinya yang sangat mempercayai Arga.
"Kita sarapan, ya." Ajak Julia. Dia menggandeng Syahdu menuju meja makan.
__ADS_1
Disaat yang sama, Arga datang dari pintu masuk. Wajah khawatirnya mendadak hilang saat melihat Syahdu sudah duduk di meja makan diapit Julia dan Shania.