SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Pindah Kamar


__ADS_3

"Kalau ngga kuat, lo bisa ngubungi gue."


Syahdu mengangkat kepalanya, menatap Arga dengan wajahnya yang basah.


"Kita jadi temenan, nih?"


Arga sampai terkekeh sendiri. "Nggaklah. Khusus pas lo lagi kesusahan aja. Tapi sebenarnya emang udah jadi temen. Temen ranjang, temen kuliah, temen curhat, temen hidup, eh."


Syahdu ikut tergelak mendengarnya. Ternyata Arga juga bisa bercanda.


"Aku ngga mau jadi temen hidup kamu. Bisa-bisa aku dijambak mbak Soraya." Ucap Syahdu menghapus air mata yang sudah berhasil ia kendalikan.


"Berantem dong, kalian. Adu jotos, yang menang ntar jadi pasangan gue." Canda Arga.


"Maaf-maaf, nih. Aku sangat-sangat ikhlas ngasih kamu ke mbak Soraya."


Arga tertawa. Dia mengacak-acak rambut Syahdu sampai perempuan itu kesal, rambutnya jadi berantakan.


"Tapi, makasih ya, Ga. Walau awalnya aku benar-benar ngga suka banget sama kamu. Tapi sampe sini, aku jadi tahu kalau sesuatu kadang emang harus dikorbankan." Syahdu menunduk lagi.


"Waktu nenek drop, aku benar-benar ngga tau harus ngapain. Aku mikirin macem-macem. Kalau sampe nenek ngga ada, aku..." Syahdu menahan sesaknya. Tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.


"Untung ada kamu. Makasih banget.."


Arga kini memberanikan tangannya mengelus rambut Syahdu yang kini sudah menangis lagi.


"Yang penting lo jalanin aja apa yang ada didepan. Masalah lain-lain ngga usah lo pikirin dulu."


Syahdu mengangguk-angguk dan menghapus air matanya. Dia setuju dengan ucapan Arga. Dia memang harus fokus dengan apa yang di depan, tak perlu memikirkan hal yang belum terjadi walau Syahdu sudah mempunyai rencana sendiri soal itu.


"Lho, Syahdu kenapa?" Julia tampak panik saat melihat Syahdu menangis di dekat Arga. "Syahdu, kamu diapain sama Arga?"


Kening Arga berkerut. "Kok..."


"Diem kamu." Sentak Julia pada anaknya.


"Ngga apa-apa, tante. Tiba-tiba teringat nenek." Ucap Syahdu sembari menghapus air mata dan berusaha tersenyum.


"Yang benar? Kamu jangan takut sama Arga. Ada mami, kok."


"Hehe. Iya, mi. Bener ngga ada apa-apa." Jawab Syahdu lagi.


"Tuh, kan. Emang dasar Syahdu aja yang cengeng. Aww!"


Pukulan Julia berhasil mendarat di bahu Arga.


"Ya sudah kalau begitu. Mami kesini cuma mau nyuruh kamu kebawah sebentar. Ada yang mau oma bicarain. Syahdu istirahat aja di kamar, ngga apa-apa, kan?"


"Iya, mi. Ngga apapa, kok."

__ADS_1


"Mami tunggu ya, Ga." Ucap Julia kemudian turun ke lantai satu.


"Ya udah, gue kebawah. Lo masuk kamar, gih. Tapi jangan dikunci pintunya."


"Kenapa?"


"Suka macet. Ntar lo ngga bisa keluar, lagi." Jawab Arga sambil berlalu membawa gitarnya.


Sesampainya dibawah, Arga mendekati ruang keluarga. Disana sudah ada Julia dan Margareth menunggunya.


"Ada apa, oma." Arga duduk berhadapan dengan Margareth, sementara Julia tak jauh disebelahnya.


Margareth menghela napas sebelum berbicara. Dia menatap wajah Arga yang masih tampak bekas cerianya.


"Tadi, Soraya bilang kalau Syahdu itu.. udah punya pacar. Apa benar?"


Arga sampai merubah ekspresi wajahnya. Kesal, dia sangat tidak suka pada gadis bernama Soraya itu.


"Sayang, apa benar kamu menyukai perempuan yang udah punya pacar?" Julia menimpali pertanyaan karena Arga tak menjawab.


"Soraya bilang, Syahdu dan pacarnya sudah tujuh tahun lamanya. Dia menyelidiki gadis itu. Coba jawab oma, apa itu benar?"


Arga menghela napas. Dia semakin kesal saat mendengar Soraya menyelidiki Syahdu. Apa lagi yang gadis itu tahu soal Syahdu?


"Arga..."


Jawaban Arga membuat Julia dan Margareth sontak membuang napas dengan lemas.


"Jadi, kamu menyukai gadis yang udah punya pacar? 7 tahun pula."


"Mi, Arga kan udah bilang. Arga ngga ada niat buat nikah. Baik sama Syahdu apalagi Soraya. Perasaan Arga sebatas suka. Just it!"


"Ah, ya ampun." Margareth langsung menyandarkan kepalanya di punggung sofa. Setiap Arga mengatakan tidak akan menikah, membuatnya stres. Padahal dia tadi seperti melihat adanya harapan saat di meja makan.


"Sayang, come on! Papa nggak bakal setuju ini. Dari pada kamu menikah sama orang yang ngga kamu suka, bukannya lebih baik sama Syahdu? Mami udah bela-belain bantu kamu biar bisa nikah sama orang yang kamu suka."


"This is the last time i tell you, Mom. Arga nggak akan menikah!" Tekannya pada Julia kemudian Arga naik ke lantai dua.


"Hah.. Apa sih yang ada dipikiran anak itu!" Keluh Julia.


"Semua ini gara-gara kamu, Jul." Tuding Margareth.


"Hah. Kok mama jadi nuduh aku?"


"Karena hubungan kamu dan suamimu itu, dia jadi nggak mau menikah. Kamu pikir, Arga bahagia hidup bersama kalian? Memangnya kamu tahu apa yang membuat dia pindah ke Indonesia? Ya kalian! Orang tua yang hanya punya kehidupan sendiri-sendiri, berpura-pura mesra di depan orang lain, lalu menuntut anak untuk melakukan ini dan itu demi memuaskan ambisi kalian tanpa mendengarkan keluh kesah dan keinginan anak." Margareth berhenti untuk mengambil napas. Matanya tajam menatap anaknya sendiri.


"Dengar ya, Julia. Arga udah menentukan pilihannya. Jadi sebagai gantinya, mama mau kamu punya anak lagi untuk melanjutkan keturunan mama. Dan tentu keturunan kamu juga!"


"Lho, kok jadi aku?"

__ADS_1


"Ya iyalah. Kamu masih muda, masih segar. Sana pulang dan rencanakan punya anak bersama suamimu. Bilang sama dia, kalau kalian nggak mau punya keturunan lagi, harta mama akan mama donasikan seluruhnya ke panti sosial!" Ancam Margareth kemudian berlalu pergi. Dia tahu, Alex sangat mementingkan kekayaan. Itu sebabnya dia mengancam tak akan memberi sedikitpun hartanya pada Arga maupun Julia supaya dia memikirkan apa yang diminta Margareth padanya.


~


Sudah tengah malam. Cahaya di rumah besar itu meredup. Orang-orang sudah tidur kecuali penjaga di depan rumah. Merasa momennya sudah tepat, Arga keluar dari kamar tamu dan berjalan mendekat ke arah pintu kamarnya.


Perlahan dia memutar handel pintu, ternyata Syahdu benar-benar tidak mengunci kamarnya. Arga sampai terkekeh karena berhasil menipu Syahdu.


Arga sebenarnya sulit tidur di kamar lain. Dia merasa tidak nyaman di kamar tamu makanya, dia memutuskan untuk pindah.


Kamar Arga tidak begitu gelap karena Syahdu membuka jendela yang langsung berhadapan dengan taman, sehingga lampu taman memberikan sedikit cahayanya masuk ke dalam kamar melalui celah jendela.


Arga melihat Syahdu. Gadis itu tidur dengan kaos miliknya yang ia pinjamkan tadi. Terlihat menggemaskan dengan kaos kebesaran di tubuhnya.


Arga perlahan naik ke tempat tidur. Syahdu tidur dengan membelakanginya. Jadi, dia mendekat dan memeluk gadis itu dari belakang sampai ia akhirnya pun ikut tertidur.


Tak lama, Syahdu merasa ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya. Dia tahu itu sebuah tangan, tapi milik siapa? Bukankah tadi dia tidur sendiri?


Syahdu membalikkan badan, lalu membelalak saat siluet wajah Arga sangat dekat dengannya.


"Hah. Arga! Kamu ngap..." Syahdu membulatkan mata saat Arga menutup mulut Syahdu dengan tangannya.


"Jangan berisik." Ucap lelaki itu dengan suara berat. Lalu melepas tangannya.


"Kok.. kesini? Kalau ketahuan gimana?" Bisik Syahdu dengan nada panik.


"Ngga akan." Jawab Arga dengan mata yang masih tertutup.


"Ya udah, aku aja yang pindah ke kamar tamu."


Syahdu hendak bangkit, namun tangan Arga langsung membuat gadis itu kembali tergeletak.


Langsung saja Arga mengungkung Syahdu dibawahnya.


"Ga, mau apa.." Syahdu mulai panik. Pasalnya Arga sudah berada di atasnya dan wajah lelaki itupun sangat dekat.


"Lapar.." ucap Arga, menatap Syahdu bak ingin memangsa.


"I-iya udah, mau aku temenin?"


"Bukan itu. Tapi ini." Arga menunjuk dada Syahdu, spontan gadis itu membulatkan mata.


"Hah?"


Arga langsung saja memasukkan kepalanya ke dalam baju Syahdu.


"Arga, jang-" Syahdu mengigit bibir, memejamkan mata karena kini tubuhnya mulai meremang atas apa yang Arga lakukan dibalik bajunya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2