SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Suara Syahdu


__ADS_3

Ruangan mulai hening saat Syahdu menurunkan standmic tepat di dekat bibirnya.


Melihat wajah gugup Syahdu, Arga berinisiatif naik ke panggung untuk menariknya, tapi langkahnya terhenti saat Syahdu mulai mengeluarkan suaranya.


🎶Denting yang berbunyi dari dinding kamarku


Sedarkan diriku dari lamunan panjang


Tak terasa malam kini semakin larut


Ku masih terjaga


Sayang kau dimana aku ingin bersama


Aku butuh semua untuk tepiskan rindu


Mungkinkah kau disana merasa yang sama


Seperti dinginku di malam ini🎶


Arga tak berkedip dengan bibirnya yang sedikit terbuka. Rasa kagum mengalir keseluruh tubuhnya. Dia tidak tahu Syahdu punya suara yang begitu menenangkan di telinganya.


Bukan hanya laki-laki itu, suara Syahdu juga seperti menyihir seisi ruang yang tidak bergeming. Semua orang kini hanya menatap dan mendengarkan lantunan merdu gadis itu.


🎶Sepi kurasa hatiku saat ini, oh sayangku. Jika kau disini... aku.. tenang..🎶


Suara tepuk tangan yang meriah mengisi seluruh ruang. Gema itu membuat Syahdu menarik senyum tipis karena akhirnya bisa bernyanyi dengan lancar dan membuat kekaguman seisi aula pesta. Dia menghela napas, hingga menyadari Arga sudah berdiri di ujung panggung.


Bisik-bisik mulai terdengar saat Arga berjalan menghampiri Syahdu. Sorot lampu panggung memperjelas langkah Arga menuju gadis itu. Hal itu pula membuat beberapa bibir menanyakan siapa wanita yang dihampiri Arga, mengapa Arga naik ke atas panggung dan menjemputnya.


Tanpa kata, Arga mengulurkan tangan. Entah mengapa, setelah mendengar Syahdu bernyanyi, hatinya sedikit lebih baik sebenarnya. Tetapi setelah mendengar tanda tanya orang-orang pada sosok Syahdu, membuatnya sedikit khawatir jika gadis itu dikenal banyak orang.


Syahdu menyambut uluran tangan Arga, dia mengikuti lelaki itu yang menariknya turun. Suara hening di ruangan membuat suasana canggung karena banyak pasang mata yang hanya menatap dua orang yang berpegangan tangan menuruni panggung.


"Yaaa, terima kasih kepada mbaknyaa yang sudah menyanyi dengan suara emasss. Sekali lagi tepuk tangannnyaaa." Si MC mulai bersuara saat menyadari keheningan yang tercipta.


"Arga, sama siapa dia?"


Pertanyaan yang tak bisa terjawab, karena tak satupun dari mereka mengenal perempuan itu.


...~...


...PoV Syahdu Larasati...


Aku menunduk saat Arga menatap wajahku dengan tatapan mautnya itu. Tidak ada suara, hanya napas berat Arga terdengar di telingaku. Aku tahu, Arga pasti marah karena aku yang tidak menepati janji untuk terus berada disampingnya. Akupun tidak mengerti kenapa aku lari darinya dan tiba-tiba saja bernyanyi di atas panggung. Walau sejujurnya, akupun ingin kabur saja. Tapi aku tahu, itu akan membuat Arga malu. Apa alasan yang akan kubuat untuk menyelamatkanku dari hukuman Arga padaku?


"Udah puas?"


Aku mendongak, menatap Arga sebentar lalu menundukkan pandangan.


"Lo ga dengarin omongan gue untuk terus di dekat gue. Kenapa lo lari?"


"A-aku.."


"Arga!"


Kami menoleh pada orang yang mendekat. Dia salah satu teman Arga yang berada di lingkaran tadi. Lelaki itu melihatku dengan senyuman yang aneh di mataku.


"Kenalin, Alvin." Dia mengulurkan tangan dan aku melirik ke arah Arga.

__ADS_1


"Laras."


Aku menyambut uluran tangannya dan kulihat dari ekor mataku, Arga bertolak pinggang dan membuang badannya. Mungkin kesal karena aku memperkenalkan diri. Padahal dia sudah mewanti-wanti tadi supaya aku menolak kenalan dari siapapun.


"Punya Arga, ya?" Tanya Alvin terang-terangan.


Aku mengangkat alis, kalimat Alvin tidak begitu jelas untuk dijawab. Jika maksudnya pacar, aku bukan pacarnya.


"Biasanya Arga gak pernah bawa cewek ke setiap acara. Pasti disewa, kan?"


Aku terkejut dengan pertanyaannya lalu melirik Arga. Lelaki itu masih menoleh ke arah lain dengan rahang mengeras.


"Gue tau kok, Arga itu suka sewa perempuan. Lo juga, kan? Heran, gimana caranya sih, biar dapet cewek kayak lo gini. Arga dapet yang cakep mulu perasaan."


Dia menatapku dari atas sampai bawah dan itu sungguh membuatku risih.


"Nih, kartu nama gue. Suara lo bagus banget. Gue berniat buat jadiin lo penyanyi terkenal. Ntar lo ketik aja tuh, nama gue di internet. Pasti banyak. Soalnya gue udah ngejadiin banyak penyanyi yang sekarang sukses besar."


Aku mengambil kartu itu dengan malas. Hanya menghargai karena aku pasangan Arga disini.


Alvin maju selangkah, merapatkan wajahnya ke telingaku. "Gue tau lo simpenan Arga. Gue akan bayar berkali-kali lipat dari harga Arga."


Aku terdiam. Murahan. Itu kata pertama yang kudapat saat dia mengatakan kalimat itu di telingaku. Aku memang terlihat murahan dari sudut pandang orang-orang selama ini, tapi bukan berarti aku bisa dilecehkan.


Dia tertawa kecil menatapku yang diam padahal sebenarnya aku tengah menahan emosi, merasa direndahkan olehnya. Ingin rasanya menghajar orang ini. Kalau bukan karena Arga, aku pasti akan menamparnya dengan keras.


Arga menarik tanganku menjauh dari Alvin. Dia melihatku sekilas lalu menatap kesal ke arah Alvin.


"Jangan ketus gitu dong, Ga. Kita kan, sama-sama pecinta wanita." Alvin tertawa lagi sambil menepuk-nepuk bahu Arga.


"Gue cuma nawarin dia harga yang bagus. Sesuai lah sama wajah dan kelasnya. Gue tau kok, ini pelacur pribadi lo."


Aku langsung mengambil minuman yang dibawa pelayan dalam nampan, menyiramnya pada Alvin hingga membuat seisi ruangan heboh tertuju pada kami.


Darahku mendidih saat dia mengucapkan kata itu tentangku. Sumpah, aku tidak suka disamakan dengan ibuku. Perkataannya sungguh menyakiti perasaanku.


Aku melepaskan tangan Arga dengan kasar lalu keluar dari sana. Persetan dengan cara kelas atas! Isinya hanya otak-otak mesum kelas dangkal. Apa karena mereka berduit makanya bisa sesuka hati?


"Syahdu!"


Aku berhenti. Siapa? Arga? Dia memanggil namaku? Baru ini kudengar dia menyebut namaku. Bukan Laras, tapi Syahdu.


Aku menatap Arga dengan kesal. Dia pasti sama saja dengan temannya itu. Apa dia juga menganggapku pelacur?!


Arga diam menatapku yang mulai menangis. Lalu memberikan sapu tangan padaku.


"Ayo kita pulang." Ucapnya dan menggenggam tanganku lagi.


"Arga, tunggu!"


Suara seorang perempuan terdengar. Aku langsung pergi, tak ingin dilihat oleh siapapun sekarang termasuk Arga.


Gak tau apa yang mereka bicarakan, aku hanya ingin menjauh karena masih dengan terbakar emosi, masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai paling atas.


Belum sampai tujuan, lift terbuka.


"Syahdu?"


Aku kaget. Awan, kenapa dia bisa ada disini? Pakaiannya sedikit berantakan dengan setelan jasnya.

__ADS_1


Awan masuk ke dalam lift. Dia melihatiku dari atas sampai bawah.


"Dari mana? Cantik banget. Pangling aku."


Aku tak tersenyum. Tak bisa. Sebab amarahku masih di puncaknya.


Awan melihat tombol di lift yang mengarah ke lantai paling atas. Dia mengikutiku keluar menuju rooftop gedung saat pintu lift terbuka.


"Syahdu, kau nangis, ya?"


Aku tak menjawab pun, Awan sudah pasti tahu jika melihat raut wajahku yang berantakan.


Aku berdiri menatap gedung di bawah sana. Angin mulai menyibakkan rambutku ke belakang. Dingin, tapi aku menahankannya.


"Awan, apa aku terlihat mirip dengan Ibuku?"


Awan melihatiku dengan alis berkerut. "Beda. Kau berbeda dari Ibumu. Tidak sama, sama sekali beda. Aku tahu karena kita udah lama berteman."


Aku menangis mendengar jawaban Awan. Walau aku sakit hati, namun jauh dalam lubuk hatiku, sungguh, apa yang dikatakan Alvin bukanlah kesalahan. Hanya saja, diriku belum menerima siapa aku sebenarnya sekarang.


"Hei.."


Awan memegang kedua bahuku, sedikit menunduk menatapku yang tak mau melihat ke arahnya.


"Siapa yang sudah membuatmu seperti ini, hm? Apa aku perlu menghajarnya?"


Aku menggelengkan kepala.


"Siapapun itu, dia pasti sangat iri padamu. Lihat, kau sekarang sangat cantik. Perempuan baik-baik sepertimu, tidak sedikitpun mirip dengan Ibumu. Aku yakin itu."


Perkataan Awan malah membuatku semakin terlihat menyedihkan. Bagaimana jika dia tahu kalau aku memang seseorang yang sama dengan Ibuku? Hanya saja aku menyembunyikan itu.


"Udah ya, Syahdu. Jangan nangis. Jelek banget kalau nangis, sumpah! Kayak nenek-nenek."


Aku tertawa disela isakanku. Nada bicara Awan membuatku tergelak. Tapi, aku menangis lagi dan Awan, dia memelukku.


"Aku lebih suka dibilang mirip nenekku."


Awan hanya tertawa ringan, "Kau pasti sangat menderita selama ini, kan?" ucapnya sambil menepuk lembut punggungku.


"Kau tau kan apa yang kita lakukan dulu kalau kau seperti ini?"


Aku langsung melepas pelukan Awan. "Apa disini ada?"


"Ada. Agak jauh, sih. Kau mau?"


Aku sedikit berpikir, "Apa boleh ajak yang lain?"


"Boleh, dong. Tapi jangan pasang-pasangan. Males gue jadi nyamuk."


Aku tergelak.


"Oke, aku akan ajak yang lain untuk naik gunung. Tapi beneran, kan? Aku lagi semangat, nih!" ujarku dengan nada yang riang padahal bekas air mata masih sangat jelas di pipiku.


"Nah, gitu dong. Riang lagi, kayak Syahdu yang seperti biasa. Aku akan urus semua. Kabarin kalau sudah ready semua."


Aku dengan semangat mengacungkan kedua jempol. Lalu senyumku kembali pudar saat menatap layar ponselku yang berdering.


Arga, dia menelponku. Dia pasti tengah mencariku sekarang....

__ADS_1


__ADS_2