SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Kesembuhan Syahdu


__ADS_3

"Nenek boleh makan sopnya, sus?" Tanya Syahdu pada suster Dewi yang baru menyelesaikan sarapannya.


"Nggak boleh, mbak."


Nenek cemberut. Padahal dia sudah sangat semangat saat mencium aroma sop daging sapi ada di dalam kamarnya.


"Saya cuci tangan dulu, mbak." Ucap suster Dewi kemudian keluar dari ruangan.


"Nenek tau nggak siapa yang buat sop ini?" Tanya Syahdu.


"Siapa?"


"Arga."


"Arga? Dia pinter masak?"


Syahdu mengangguk. "Syahdu belajar banyak sama dia, nek. Soalnya Arga pernah cerita, kalau dia pernah les masak juga."


Nenek tersenyum mendengarnya. "Syahdu."


"Ya?"


"Arga itu... agak keras. Kalau lagi sama dia, jangan kerasin suara. Jangan melakukan apa yang dia ngga suka. Dia laki-laki realistis yang melihat sesuatu berdasarkan fakta dan lingkungannya."


Syahdu termangu. "Dari mana nenek tahu?"


"Karakternya terbaca. Walau begitu, dia anak yang baik."


Syahdu mengangguk-angguk saja, walau dia sendiri nggak pernah memikirkan karakter Arga, tapi sepertinya apa yang nenek bilang ada benarnya.


"Syahdu.."


"Hm?"


"Arga itu suka sama kamu."


Syahdu membulatkan mata. Sedetik kemudian ia menahan tawa. Andai aja nenek tahu, kalau Arga menilai dirinya sebagai perempuan murah, pelacur pribadinya. Dia baik, bukan karena suka. Tapi demi mempertahankan Syahdu supaya betah bersamanya selama 2 tahun kedepan.


"Dia itu, kalau udah suka akan sulit berpaling. Jadi, cepat bilang kalau kamu udah punya Wicak. Ya?"


Syahdu semakin ingin tergelak melihat raut serius nenek.


"Kamu ini, nenek bicara serius. Kalau sampai kamu terjerat sama Arga, pasti sulit lepas."


"Iyaaa, iyaa, nek. Oh ya, Nek. Emm.. nanti kalau kak Wicak datang, jangan bilang kalau sopnya dari Arga, ya? Soalnya.."


"Iya, nenek ngerti."


"Mbak, mau dibuka sekarang?" Suster Dewi masuk lagi.


"Iya, mau kuliah."


"Eh, istirahat aja dulu." Tegur nenek.


"Kuliahnya masuk jam 10 kok, nek. Ada waktu 3 jam untuk istirahat. Soalnya Syahdu udah bolos kemarin." Ucapnya sambil memperhatikan suster Dewi mulai membuka jarum infusnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan, sus." Syahdu menggigit bibir, takut melihat jarum panjang yang keluar kulit dari lengannya.


"Mbak Syahdu mending istirahat aja dulu." Ucap Suster Dewi.


"Tapi aku udah ngerasa fit banget, sus. Gimana, dong."


"Mau kuliah?" Tanya Wicak yang tiba-tiba masuk karena pintu tidak tertutup rapat.


Bibirnya menyunggingkan senyum melihat siapa yang masuk. "Iya." Jawab Syahdu.


"Berapa mata kuliah?" Tanyanya lagi sembari duduk disebelah gadis itu.


"Dua, kak."


"Emang udah sembuh?"


Syahdu mengangguk-angguk yakin. "Lagian bosen di rumah sakit.."


"Ya sudah, kuliah aja. Wicak jagain Syahdu bisa, kan?" Sahut nenek.


"Bisa dong, nek. Malah kalau ngga dijaga aku yang takut."


"Takut kenapa?" Tanya nenek dengan dahi berkerut.


"Takut diambil orang." Candanya.


"Ceileeee.. so sweet banget, mas Wicak." Ledek suster Dewi yang tengah membereskan bekas makan nenek dan memberinya obat.


"Heheh, harus dong, sus. Harus dijaga banget. Ngga nemu lagi soalnya, perempuan kaya gini. Langka!"


Wicak tertawa sambil terus menggenggam tangan Syahdu. Dia bergurau bersama nenek dan suster Dewi, sementara Syahdu terus menatap wajahnya dengan senyum kecil.


Tentu kata-kata itu sangat membuat perasaan kita bahagia jika mendengarnya dari orang yang kita cinta. Tapi Syahdu, berbeda cerita. Setiap Wicak menunjukkan perasaannya, lagi dan lagi, Syahdu merasa sangat buruk baginya.


"Kalau gitu, saya doain, semoga mbak Syahdu dan mas Wicaknya langgeng sampe kakek nenek." Tutur suster Dewi. Sambutan kata Amin pun terucap oleh mereka dan amin yang paling keras tentu keluar dari bibir Wicak yang kemudian menoleh pada Syahdu dan mencium tangan gadis itu cukup lama.


"Sarapan dulu, ya." Ucap Syahdu padanya, memotong pembahasan yang membuatnya terus merasa bersalah.


"Kalau gitu, saya permisi, mbak."


"Makasih, sus." Ucap Syahdu sambil duduk di sofa, membuka kotak bekal yang tadi diberikan Arga.


"Sama-sama, mbak." Katanya kemudian menutup pintu.


"Makanan dari siapa, sayang." Wicak duduk dibawah sofa, memperhatikan Syahdu mengisi nasi dan sop diatas piring.


"Eee.." Syahdu melirik nenek. Dia tidak tahu harus berkata jujur atau...


"Temen nenek." Jawab nenek cepat.


"Oh.." Wicak pun mulai memakannya. Dia tidak berkomentar apapun soal enak atau tidaknya makanan yang ia makan. Dia mulai bercerita kalau besok Expo kampus akan dilaksanakan. Jadi, kemungkinan kegiatan belajar mengajar digantikan dengan kegiatan lain.


"Ngadep sini, bro." Syahdu ingin mengambil potret Wicak. Lelaki itu nurut, tetapi tidak berekspresi.


"Senyum, dong. Yang manis senyumnya."

__ADS_1


"Senyum manis itu yang gimana😩" keluhnya.


"Pokoknya senyum yang maaannisss banget. Senyum terbaik kakak. Oke, satu.. dua.."


Syahdu terkekeh melihat hasilnya. Diapun langsung mengupload foto Wicak itu di story-nya.


~


Arga berjalan menuju kelas. Sebenarnya dia rada malas, entah kenapa. Tadinya dia ingin ke rumah sakit lagi, tapi tidak jadi karena sudah mengira laki-laki itu pasti ada disana.


Arga pula sejak tadi belum melihat media sosial, jadi dia tidak tahu kabar apapun.


"Kusut banget." Ibra muncul dan langsung merangkulnya. "Karena Laras ngga dateng, ya."


"So tau lu."


"Alah, ngaku aja, deh. Tweet lo itu buat siapa kalo ngga dia."


Arga diam saja. Lagi pula yang ditebak Ibra itu benar.


"Eh, dateng noh, orangnya."


Arga langsung mengedarkan pandangan dan mendapati Syahdu duduk sambil mengobrol dengan Dina di kursi belakang sambil tertawa-tawa. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, merasa bersyukur gadis itu sudah kembali ceria.


"Heyyo, lagi ngobrolin apa." Ibra berjalan kebelakang, tak lupa ia mengedipkan mata pada Arga, lalu duduk di bangku depan Adina.


"Itu lho, soal Expo besok." Sahut Adina dan mereka melanjutkan obrolan.


Arga ikutan, dia duduk disebelah Ibra tepatnya di depan Syahdu.


Dia hanya diam, tidak ikut mengobrol karena ia tidak begitu tertarik soal Expo.


Arga ingin sekali bertanya pada Syahdu, apakah makanan yang ia bawa sudah dimakan, enak atau tidak? Kenapa Syahdu tidak bilang apa-apa?


"Gue duduk disini ya, Ras." Naya datang dan langsung ambil posisi disebelah Syahdu, sedangkan Alika duduk disebelah Arga.


"Lo dah baikan?" Tanya Alika, memiringkan duduknya untuk bisa melihat kebelakang.


"Udah." Jawab Syahdu.


"Kok lo bisa ngedrop gitu sih, Ras."


"Kecapekan aja, sih." Jawabnya lagi.


"Untung aja doi lo selalu ada disamping, ya." Ujar Naya.


"Iya, iri bangeett.." sambung Adina.


"Lo pasti beruntung banget dapet dia."


Syahdu diam sebentar, sesaat mengingat betapa besar pengorbanan Wicak padanya.


"Hm. Beruntung banget. Dia yang jadi semangatku." Sahut Syahdu dengan suara pelan namun masih bisa didengar Arga.


Segaris senyum muncul di bibirnya. "Baguslah kalau gitu." Gumam Arga pelan kemudian menyimpan ponselnya.

__ADS_1



**Terimakasih buat pembaca♥️♥️


__ADS_2