
Aku menatapi jalanan yang ramai kendaraan. Pagi-pagi Arga mengajakku keluar entah kemana. Tapi dia memakai pakaian rapi dengan kemeja dan jas slimfit.
Aku juga tidak bertanya walau aku penasaran, ini mau kemana? Karena pasti dia menyuruhku diam saja. Mudah-mudahan aja nggak ke tempat yang aneh-aneh mengingat Arga orang yang aneh.
Jalanan macet pagi ini, membuatku menghela napas kasar dan aku bisa melihat dari ekor mataku kalau Arga tengah menatapku.
"Kenapa lo?"
"Kita kemana sih, Ga?" Akhirnya aku bertanya lagi. Melihat jalanan padat membuatku sesak. Lebih baik aku tidur di rumah atau apalah yang membuat otak fresh ketimbang bertatapan dengan panas pagi dan polusi kota besar ini.
"Kenapa? Takut gue bawa ke tempat yang aneh-aneh?"
Aku mendelik pada Arga. Lah, kenapa dia tahu? kaya bisa baca pikiranku.
"Bener ya, gue?" Arga terkekeh. "Gue mau ketemu klien. Dia minta bertemu pagi-pagi karena jam 10 nanti mau balik ke negara asalnya." Jelas Arga dan aku manggut-manggut.
"Kamu kerja apa, sih. Kok pake klien segala." Tanyaku lagi.
"Gue jelasin juga lo nggak ngerti." Tukasnya dan berhasil membuatku bungkam. Setiap kutanya dia kerja apa, pasti jawabannya selalu gitu. Apa aku bodoh banget di matanya?
Tak lama, kami sampai di Cavil Uptown. Aku tau tempat ini tapi ngga pernah datang karena kata kak Wicak, sesuai namanya 'Uptown', tempat ini biasanya di datangi orang-orang kaya dan harga makanan atau apapun disitu sangat mahal.
Arga turun dari mobil dan aku mengikutinya yang akan masuk ke salah satu restoran mewah.
"Eh, Ga. Aku ngga ikut masuk, ya. Aku mau lihat-lihat sebentar di dekat sini." Kataku sembari menarik tangan Arga.
Arga mengangguk dan langsung menemui pelayan untuk menanyakan reservasi. Sementara aku mulai berkeliling di tempat yang masih sepi itu. Beberapa orang terlihat duduk santai dengan kopi di atas mejanya. Ada juga yang nampaknya tengah bekerja dengan laptop dan roti di depannya. Sungguh terlihat kehidupan orang kaya ada disekitarku.
Aku melihat petshop dan langsung masuk ke dalamnya. Aku perlu membeli sesuatu untuk Popi si bayi mungilku.
Aku mengambil kalung anjing berwarna coklat terbuat dari kulit sintetis. Lucu sekali jika Popi pakai ini, dengan bandul tulang kecil.
Tapi, mataku membulat saat melihat harganya. Begini saja 650.000??
"Permisi, kak. Ada yang bisa dibantu?"
Seorang pegawai toko menghampiriku padahal aku mau keluar dari toko itu.
"Oh, kalung yang kakak pegang bisa costume, loh. Bisa ukir nama dan nomor telepon supaya anjing atau kucingnya bisa dikenali. Hanya beberapa menit saja kok, kak. Pengerjaannya tidak lama." Jelas pegawai wanita itu dengan ramah.
"Ah, begitu ya." Terus terang aku tertarik.
"Boleh. Saya mau, deh." Akhirnya aku tergoda membelinya. Setelah kupikir-pikir aku belum pernah gunain uang Arga.
Akupun mengambil beberapa barang lagi tanpa kusadari ternyata belanjaanku sudah bernilai lima juta khusus untuk Popi saja. Tidak apa, anjing itu pasti lucu sekali jika mengenakan semua yang kubeli untuknya.
Baru keluar dengan senyum lebar membayangkan Popi, Arga berdiri di jalan dengan wajah kesal. Ah, kenapa lagi dia? Apa dia marah karena aku pakai duitnya?? Mati, aku!
__ADS_1
"Kemana aja lo?"
Astaga, baru beberapa menit doang.
"Cepat!"
Wajah butek Arga membuatku tegang. Kenapa ya, dia? Akupun mengikutinya dibelakang menuju mobil.
Wajahnya yang bertekuk-tekuk itu memang sudah sering kulihat, tapi kali ini ada aura yang buruk.
Ponselnya berdering dan dia mengangkatnya dengan pandangan tetap ke jalan.
"Iya, oma?"
"...."
"Kliennya sendiri yang bilang, kalau dia batalin karena jadwal pesawatnya dipercepat."
Aku hanya menatap jalanan dari jendela mobil, mendengarkan Arga yang nampaknya tengah dimarahi oleh omanya.
"Arga ngga tau, oma. Masa Arga larang, gimana, sih?"
"..."
"Iya.. iya.. nanti Arga cari penggantinya."
"..."
Arga melirik ke arahku dengan ponsel yang masih ia tempel di telinganya. Kenapa? Maksudnya disuruh kemana lagi?
"I-iyaa, iyaa. Arga kesana sekarang."
Dia menyimpan ponselnya dan beralih menatapku sekilas sambil terus menyetir.
"Ke rumah oma gue sebentar."
"Hah? Ngapain? Aku pulang aja, deh." Masa iya aku harus ketemu sama omanya? Takut..
"Nggak. Ikut aja, bentar doang."
Wajahku menegang. Bagaimana kalau omanya tau aku ini sewaan Arga? Bagaimana kalau aku disuruh nikah karena takut menjadi aib??
"Muke lu, tuh. Tegang banget."
Bagaimana nggak tegang, kalau dilihat di tv-tv, nenek-nenek orang kaya pasti sangar, kan?
"Belanja apa lo sampe lima juta?"
__ADS_1
Aku menelan ludah. Haduh, kenapa pake ditanya? Bukannya itu duit udah jadi hak aku? Kenapa harus ada pemberitahuan segala kalau uangnya aku pake??
"Untuk Popi, kok."
"Belanja lima juta cuma buat anjing, doang?"
"I-iya."
"Lo nggak beli apa-apa?" Tanya Arga dan membuatku menoleh padanya.
"Lo nggak belanja tadi? Bukannya mikirin diri sendiri malah mikirin anjing." Tukasnya lagi.
Bibirku ini ingin menjawab, kalau lo dateng-dateng dengan muka keruh ngajak pulang padahal gue baru masuk ke satu toko doang! Ngga sempet jalan-jalan, tau!
Tapi aku hanya diam. Pertanyaan Arga menandakan aku memang sangat boleh memakai uang pemberian darinya. Aku sendiri belum tahu mau beli apa karena sejauh ini, keperluanku hanya ongkos pulang pergi dari kampus ke apartemen Arga. Makanan dan lainnya sering ditraktir kak Wicak atau Awan.
Hmm, nampaknya aku tahu harus dikemanakan uang ini. Sesekali membeli hadiah yang bagus buat kak Wicak, nggak masalah, kan? soalnya dia sudah memberi banyak hadiah buatku. Kapan ya, aku belanjanya? Aku jadi tidak sabar.
Mobil Arga berhenti di pekarangan mewah dengan rumah megah bercat putih. Ini mah, beneran kaya istana. Mataku tidak berkedip, rasanya rumah ini luasnya kayak sebuah kampus.
"Turun." Kata Arga saat melihatku hanya diam menatap rumah itu.
"Eng.. aku disini aja, ya? Nggak lama, kan?"
Arga langsung keluar dari mobil, berbelok dan membuka pintu disisiku.
"Cepat keluar."
Argh! Dengan malas aku membuka seatbelt dan keluar, membuntutinya masuk ke dalam rumah megah luar biasa itu.
Arga disambut beberapa pelayan di depan, dia melangkah cepat sementara aku ketinggalan dibelakangnya. Ingin mengejar, tapi Arga malah naik tangga ke lantai dua. Sementara aku, terpelongo di ruang lebar itu. Sambil menunggu Arga, aku memperhatikan satu persatu hiasan yang ada di ruangan itu.
Aku benar-benar takjub. Sekaya apa sebenarnya keluarga Arga? Lalu, kenapa di rumah ini kosong tanpa penghuni?
Aku berjalan perlahan, mengagumi setiap inci rumah itu sampai tanpa sadar, tanganku menyentuh piano besar di sudut ruang.
TING...
Aku memencet satu tuts putih. Arga bisa main piano nggak, ya? Selama ini aku hanya melihatnya bermain gitar. Kalau piano besar ini ada disini, artinya penghuni rumah ini bisa bermain piano, kan?
"Hai."
Aku tersentak dan spontan menoleh ke belakang. Seorang wanita tua berdiri dengan tongkat dan tersenyum hangat dihadapanku.
"Aah,.." aku tidak bisa berkata-kata karena dia pasti nenek Arga. Akhh, kemana Arga??
"Bisa bermain piano?" Tanya wanita tua itu tiba-tiba tanpa basa-basi padaku.
__ADS_1
"T-tidak.."