SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
The End of The Long Story


__ADS_3

Syahdu menatap berkas yang baru diberikan Arga malam tadi padanya. Berkas-berkas pendaftarannya ke universitas yang sudah ia impikan. Gadis itu mengusap perutnya, yang ada didalam jauh lebuh berharga dari pada perkuliahan yang masih bisa ia raih setelah anaknya lahir nanti.


Dari jauh, Arga memperhatikan kekasihnya. Dia tahu Syahdu sangat ingin berkuliah, tetapi harus tertunda karena kehamilannya.


Arga mendekat, memeluknya dari belakang. "Mau jalan-jalan?" Tawar lelaki itu.


"Bukannya kamu ada pekerjaan, ya?"


"Em.. ada sore nanti. Cuma pemotretan, jadi aku punya banyak waktu untuk pacarku."


Syahdu sedang tak ingin kemana-mana. Hari ini suasana hatinya berubah tak menentu.


"Mami udah tau soal aku hamil?" Tanya Syahdu.


Arga memutar tubuh gadis itu menghadap kearahnya. "Jangan bilang-bilang dulu, ya. Aku ga bisa nebak respon mami kalo kamu hamil sebelum pernikahan."


Syahdu mengangguk-angguk. "Pantes aja Mami ngajakin aku jalan-jalan kesana kemari. Aku juga ngira kalo mami ga tau. Untung aku ga bilang." Ujar Syahdu. Lagi pula hamil sebelum nikah memang bukan berita baik.


"Kamu bisa tolak kalo capek, sayang."


"Engga apa-apa. Mami kamu lagi semangat banget."


Arga menarik tangan Syahdu untuk duduk di atas ranjang. "Gimana kalo kita cari rumah hari ini."


"Hah?"


"Aku ga mau kita terus tinggal di tempat sempit kaya gini. Biar aku minta Ibra cariin vendor. Atau kamu mau kita bangun rumah sesuai keinginan kamu?"


Syahdu sampai bingung. Kenapa Arga mau membeli rumah semudah membeli kerupuk?


"Aku.. masih nyaman disini, Ga."


"Gitu, ya." Arga tampak berpikir lagi. Dia harus membuat Syahdu nyaman dengan kehamilannya.


"Atau kita jalan-jalan ke taman, mau? Aku baca artikel kehamilan, katanya jalan-jalan bagus untuk ibu hamil."


Syahdu terenyuh. Arga sampai mencari tahu soal itu semua demi dirinya. Tangan gadis itu terangkat, mengelus rambut yang berantakan diatas kening Arga.


"Makasih ya, sayang. Aku yakin kamu akan jadi ayah yang baik buat anak kita. Maaf, karena sempat sedih pas tau aku hamil waktu itu."


"Ga apa, sayang. Aku ngerti kamu syok, karena masih banyak keinginan yang mau kamu lakuin. Tapi aku pastiin kamu ga akan nyesel nikah sama aku nanti. Sebisa mungkin aku buat kamu dan anak kita bahagia, Syahdu. Karena aku cinnttaa banget sama kamu."


Syahdu mengecup bibir Arga singkat. Lalu ia peluk lelaki itu. Sungguh rasanya sangat beruntung dimiliki oleh seorang Arga Alexander. Walau pertemuan mereka awalnya sangat pelik, namun kisah diantara mereka sangat hangat terasa.


~


Syahdu berselonjor di tempat tidur sembari membaca novel. Sudah pukul 7 malam dan Arga belum juga kembali. Padahal katanya sebentar saja, namun ternyata hampir 2 jam dia pergi. Tentu itu membuatnya mulai kesal.



Syahdu melempar ponselnya sembarang saat membaca pesan Arga. Dia selalu saja mencuri foto saat Syahdu tengah tak berbaju atau apapun yang bisa ia jadikan ancaman kalau Syahdu ngambek atau tidak mau bicara padanya.


Dan sewaktu Syahdu mau melakukan hal yang sama, Arga dengan senang hati berkata, 'Silakan share aja, beib. Aku tampan banget disitu. Pasti fotoku jadi rebutan kaum hawa.'


Dan jawaban itu sukses membuat Syahdu semakin murka. Walau begitu, Arga selalu mampu meluluhkan hati Syahdu.


Suara pin pintu terdengar, lalu pintu terbuka. Arga masuk dengan wajah ceria menenteng banyak sekali plastik di tangannya.


"Tadaa. Liat, aku bawa banyak makanan buat kamu dan anak kita." Ucapnya sembari mendekat.

__ADS_1


"Kamu basah, Ga?" Tanya Syahdu memastikan pandangannya pada pakaian Arga yang sangat menempel di badannya.


"Iya. Diluar hujan."


Syahdu membuka tirai belakangnya, dan mendapati hujan rintik-rintik di jendela kaca yang tertutup rapat. Saking asyiknya ia membaca novel sampai tak tahu cuaca diluar sedang basah.


"Aku mandi dulu, sayang. Kalo kamu laper, kamu makan duluan aja. Ya?" Ucapnya kemudian langsung masuk kedalam kamar mandi.


Syahdu beranjak mendekati semua makanan yang Arga bawa. Dibukanya satu persatu. Ada martabak manis mozarella, wafel, kacang rebus, minuman boba dan masih banyak lagi.


Syahdu termangu. Makanan ini semua yang Syahdu mau sore tadi saat ia mengajak Arga makan diluar, tapi sayang jadwal Arga tidak bisa ditunda. Dengan berat hati Syahdu menunda keinginanya karena pekerjaan Arga. Tapi Arga menggantinya sekarang, membuat Syahdu tersenyum senang.


"Ayah memang laki-laki hebat, nak." Ucapnya sembari mengusap perut ratanya.


Syahdu pun menempatkan semua makanan dan minuman yang dibawa Arga.


Ia tergerak ingin juga memberikan kejutan untuk kekasihnya itu. Arga sudah sangat membuatnya senang.


Syahdu pun menyalakan Netflix dan menata makanan di atas meja. Tak lupa ia meletakkan dua bantal di sofa panjang. Dia memadamkan lampu, lalu berganti pakaian. Ia ingin malam hangat di musim dingin ini.


Tak lama kemudian, Arga keluar sembari menghanduki rambutnya yang basah. Dia berhenti di depan pintu kamat mandi saat melihat seisi ruangan sedikit redup dengan pencahayaan dari televisi lebar diujung ruang.


"Syahdu." Panggilnya.


"Iyaa." Sahut Syahdu dari depan televisi.


Lelaki itu menggantungkan handuk lalu mendekat kearah dimana suara Syahdu berasal.


Syahdu berdiri dari sofa, menyambut Arga dengan lingerie yang ia pakai, sampai ia tersenyum melihat bengongnya Arga menatap Syahdu dari atas sampai bawah.


"Netflix and chill?"


"Tapi sayang, kita ga bisa lakuin itu."


Alis Syahdu terangkat. "Kenapa?"


"Kata Arvian, usia kehamilan kurang dari 2 bulan belum boleh berhubungan. Bisa mencelakai janin."


"Hah?" Syahdu mencoba mengingat kembali. Sepertinya Arvian tidak bicara itu kemarin.


"Jadi, kamu ga nyentuh aku belakangan karena itu?"


Arga mengangguk lemas. Benar, karena itu. Dia sudah berjuang melawan apapun hasrat yang muncul sampai ke ubun-ubunnya, demi sang jabang bayi yang ada di rahim Syahdu.


Melihat itu, Syahdu tertawa lepas. Baru kali ini dia melihat Arga mau saja dibodohi. Padahal biasanya Arga itu cerdas dan tidak bisa ditipu.


Wajah Arga sampai bingung melihat respon Syahdu.


"Gaaa.. ya ampunn.." Syahdu mengatur rasa gelinya. "Ga ada larangan, sayang. Kamu itu dikerjain sama kak Arvian. Dia malah bilang ke aku, katanya ga apa-apa kok asal ga terlalu berlebihan dan posisinya juga yang aman."


"Apa?" Arga sampai bengong mendengar penjelasan Syahdu. Sedetik kemudian matanya seperti berapi dengan tangan mengepal.


"Brengsek Arvian." Bisiknya, namun Syahdu masih bisa mendengar itu. Tentu ia kesal setengah mati telah tertipu dengan laki-laki ember itu.


Syahdu mendekat dan mengalungkan tangannya ke leher Arga.


"Gimana? Apa kamu masih mau nahan itu?"


Arga merapatkan pinggang Syahdu ketubuhnya. "Aku ga bisa tahan kalau itu kamu, Syahdu." Ucapnya kemudian mellumat bibir Syahdu sembari tangannya meraba keseluruh tubuh Syahdu yang hanya tertutupi kain dan jaring tipis itu.

__ADS_1


...🍁...


Dua minggu telah berlalu. Suasana di dalam sebuah gedung mewah bernuansa putih sudah mulai diisi sebagian tamu. Tidak banyak yang datang, hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk kedalam gedung karena akhirnya pernikahan diadakan secara tertutup sesuai permintaan Syahdu.


Sejak hamil, Syahdu tidak menyukai keramaian. Maka dari itu Arga mengabulkan permintaan calon istrinya demi kenyamana Syahdu.


Arga menyibakkan tirai. Sejak tadi ia tak melihat Syahdu di ruangannya. Lelaki itu berhasil menemukan calon istrinya berdiri di taman belakang gedung. Melamun, entah apa yang ada dibenaknya.


"Sayang.."


Arga mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Syahdu.


"Ga.."


"Hmm?"


"Apa.. nenek lagi liatin aku dari atas?"


Pertanyaan Syahdu membuat lelaki itu memutarkan tubuh kekasihnya, menghadap kearahnya.


"Seharusnya dia menyaksikan pernikahan kita."


"Pasti, sayang. Nenek bangga sama kamu. Wanita kuat yang bahagia sekarang." Ucap Arga meyakinkan Syahdu. "Kamu bahagia kan, sama aku?"


Syahdu mengangguk. Iya, dia bahagia.


"Kamu cantik banget. Kalau ga mikirin lagi nikah, aku pasti seret kamu ke kamar sekarang." Candanya pada Syahdu yang akhirnya tersenyum sembari memukul dada Arga.


"Tapi, Ga.." Senyum Syahdu mendadak luntur. "Gimana dengan Papa kamu? Apa dia udah tau kalau kita mau nikah?"


Arga menghela napas. Dia memang tidak pernah tahu kabar Papanya itu sejak lama sekali. Dia tahu pun dari Shania. Gadis kecil itu selalu bercerita padahal tidak diminta.


"Aku denger dari Oma kemarin, dia udah tau dari Mami. Tapi Oma ga izinin dia buat dateng."


"Lho, kenapa?"


"Long story, baby. Dia marah karena pertunangan aku batal waktu itu. Sejak itu dia gak pernah pulang ke Indonesia dan mutusin buat gak akui aku sebagai anak."


Syahu merasa sedih mendengar penuturan Arga.


"Trus.. kamu..?"


"Aku ga masalah. Aku bisa berdiri sendiri, aku bisa bahagia sama kamu."


Syahdu hanya diam walau dalam hatinya merasa kurang setuju dengan sikap Arga. Namun lelaki ini memang sejak lama sekali sudah memiliki hubungan yang kusut dengan sang ayah.


"Ga usah pikirin itu, ya. Ada atau enggak dia, itu ga jadi masalah. Kamu jangan takut soal dia. Aku yakin dia ga akan ganggu kita lagi. Oke?"


Arga menggenggam kedua tangan Syahdu, menatapnya lekat-lekat. "You're gonna be my wife, my life, my breath. I will never let anyone hurt you, walau papaku sekalipun."


Syahdu mengangguk dengan senyum kecil. Dia bukan takut, tapi alangkah bahagianya jika semua orang merestui hubungannya dan Arga.


"Kamu udah siap jadi istri seorang Arga Alexander?"


Syahdu tertawa mendengarnya. Apalagi Arga menyematkan nama belakangnya dengan lengkap, entah kenapa padahal biasanya dia tidak mau menggunakan itu.


"Ms. Alexander, will you be my wife?" Tanya Arga seolah meyakinkan kembali Syahdu.


"Yes, my husband. I will." Jawabnya meledek Arga, membuat lelaki itu tertawa lalu mengecup bibir Syahdu, membuatnya basah sebagai tanda kehidupan baru keduanya akan dimulai hari ini.

__ADS_1



__ADS_2