SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Rooftop Apartemen


__ADS_3

"Seru kan, filmnya?" Tanya Wicak saat mereka baru saja selesai menonton. Tangan mereka saling bertaut dan Syahdu merapatkan tubuhnya pada Wicak. Mereka berjalan bergandeng mesra keluar dari gedung bioskop.


Syahdu mengangguk cepat, setuju saja dengan pendapat kekasihnya. Walau dia tidak begitu menyukai film laga, demi Wicak, dia mau saja menemaninya.


"Kemana lagi?" Tanya Wicak.


Syahdu tampak berpikir. Dia melihat jam di tangannya, ternyata sudah pukul 10 malam. Seharian dia menghabiskan waktu dengan Wicak tanpa melirik ponsel sedikitpun. Lagi pula ini malam minggu, kan. Memang waktunya dia berpacaran. Toh, di kontrak itu tertulis kalau Arga tidak akan mengusiknya saat bersama Wicak.


Tapi, entah kenapa Syahdu sedikit merasa bersalah. Sebab sejak siang dia tahu Arga menelepon tetapi ia dengan sengaja tidak mengangkatnya. Sudah jelas keinginan Arga jika menghubunginya, minta dilayani.


"Emm.. kita pulang aja yuk, kak."


Wicak ikut melirik jam tangannya. "Udah mau pulang, ya?" Wajah Wicak tampak agak sedih. Engah mengapa saat bersama Syahdu, waktu terasa begitu cepat berlalu. Tahu-tahu sudah pukul 10 malam aja.


Syahdu menyembunyikan senyumnya. Dia merasa senang dengan Wicak yang sekarang. Entah kenapa belakangan Wicak terus menunjukkan rasa cintanya. Padahal dulu agak cuek, tidak sesering seperti sekarang. Membuat Syahdu semakin cinta padanya.


"Kalau besok, ada rencana?" Tanya Wicak lagi. Jelas Syahdu tahu maksudnya. Wicak pasti ingin mengajaknya untuk jalan-jalan lagi.


"Emm.." Syahdu pura-pura berpikir sekalian menatap Wicak yang juga menatapnya penuh harap. "Kosong sih, kayanya."


Senyum Wicak mengembang. "Kita kencan, yuk."


Kata yang terucap dari bibir Wicak begitu indah terdengar. Kencan, katanya? Padahal biasanya juga 'jalan-jalan'. Syahdu terkekeh sendiri jadinya. Tapi dia lagi-lagi mengangguk tanpa memikirkan Arga yang sudah punya rencana lain bersamanya. Lelaki itu ingin menagih sesuatu yang sudah ia berikan pada Syahdu.


"Besok aku jemput di rumah sakit jam 9, ya?"


"Ha? Jam 9, kak?" Apa tidak kecepatan? Batin Syahdu.


"Ada tempat yang ingin kudatangi bersamamu. Bisa, kan?" Tanya Wicak tak berkedip ke arahnya.


Lagi-lagi Syahdu mengangguk tanpa berpikir. Dia menyerah, kalah dengan wajah memohon Wicak yang amat menggemaskan di matanya.


Melihat setujunya Syahdu, Wicak tersenyum lebar. Dia menarik Syahdu masuk ke dalam lift yang kosong menuju lantai paling bawah, tempatnya memarkirkan motor.


"Syahdu.."

__ADS_1


Mata Syahdu naik mendongak ke arah Wicak yang menyebutkan namanya dengan lembut. Namun tiba-tiba saja laki-laki itu memegang tengkuknya dan mencium bibir Syahdu dengan menggebu.


Syahdu terbelalak. Jantungnya berdebar seketika. Darahnya pun mengalir deras keseluruh tubuhnya. Suasana mendadak berubah menjadi panas saat dengan jelas Syahdu merasakan bibir Wicak membasahi bibirnya. Terasa manis, apalagi Wicak melakukannya dengan sangat lembut. Sampai-sampai Syahdu terhanyut ke dalamnya. Dia mulai menutup mata dan berusaha membalas ciuman kekasihnya. Tapi, baru saja ia menikmati, Wicak malah dengan cepat melepas ciumannya dan berusaha bersikap normal.


Syahdu mengumpat dalam hatinya, segerombol anak remaja masuk ke dalam lift, membuat tubuhnya dan Wicak terhimpit ke ujung.


Posisi yang sangat mendebarkan hatinya, Syahdu menelan ludah saat Wicak tersenyum menatapnya sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang Syahdu. Memeluk tubuh gadis itu yang saling berhadapan. Ah, senyuman itu, senyuman lelaki yang selalu membuat hatinya berdebar.


Wicak menyapu pelan bibir Syahdu dengan ibu jarinya. "Basah." Bisik lelaki itu yang sontak membuat mata Syahdu membulat. Dia mencubit pelan dada Wicak. Lelaki itu hanya tertawa tanpa suara, menikmati wajah cemberut Syahdu yang sebenarnya tengah menahan malu~


...🍁...


Syahdu terus tersenyum sepanjang lorong apartemen. Rasanya ada yang menggelitik perutnya. Suasana seperti ini belum pernah ia rasakan sebelumnya. Berciuman dengan Wicak di dalam lift, bukankah itu sangat manis? Diusia 7 tahun bersama Wicak barulah ia rasakan nikmat ini.


Syahdu bersenandung merdu. Nikmatnya pacaran benar-benar ia rasakan sekarang. Namun, langkah Syahdu terhenti saat melihat Arga baru keluar dari apartemen dan berjalan membelakanginya.


"Mau kemana dia?" Gumam Syahdu. Bukankah jalan keluar seharusnya dari arah Syahdu datang?


Syahdu mengikuti lelaki itu diam-diam sampai Arga naik ke tangga menuju lantai paling atas. Arga membuka pintu rooftop dan angin malam langsung menyentuh rambut Syahdu hingga berterbangan.


"Wuaaah. Ada pemandangan indah, diam-diam aja, nih!"


Arga tersentak kaget. Dia menurunkan rokok yang belum sempat ia sentuhkan dengan pemantiknya. Dia menoleh ke arah Syahdu yang berjalan ke tembok pembatas.


"Ngapain lu?"


Syahdu menganga saat pemandangan dari dekat lebih menyenangkan matanya. "Ini indah banget, Ga." Katanya mengabaikan pertanyaan Arga. "Anginnya juga sejuk. Mirip dengan atap rumah sakit waktu itu." Tukas Syahdu yang tak mendapat respon dari Arga. Laki-laki itu hanya menatapnya dengan dahi berkerut.


"Kenapa, sih. Kok, liatinnya gitu banget." Tanya Syahdu tak merasa bersalah.


"Udah puas lu jalan-jalan?!"


Nada ketus Arga membuat Syahdu mencebik. "Ini malam minggu, Ga. Wajar kan, orang yang punya pacar jalan-jalan keluar?" Ucapnya.


"Sengaja kan, lu, gak ngangkat telepon gua. Gak ngeliat gua padahal di depan mata lu."

__ADS_1


Syahdu melirik. Dih, Arga kenapa dah?


"Bukan aku sengaja, Ga. Kan, di kontrak tertulis kalau ketemu diluar, kita nggak saling kenal. Gitu, kan?"


Arga membuang wajah. Dia menyalakan rokoknya dengan raut yang masih terlihat kesal.


Syahdu mulai mencari cara, supaya Arga berhenti ngambek. Sebab besok juga dia harus pergi, kan? Minimal Arga puas dan mengizinkannya jalan-jalan dengan Wicak.


"Ya udah, deh. Aku minta maaf. Aku akan layanin malam ini. Aku juga akan ikutin semua style yang kau suka." Tukasnya berusaha membujuk Arga.


"Emang udah tugas elu, kan!" Ketus Arga pada Syahdu.


Syahdu memutar bola matanya, sebal dengan jawaban Arga yang tidak ada baik-baiknya.


"Eh, by the way, Ga. Itu yang ngerjain tugasku..." Syahdu menggantung kalimatnya.


"Gue."


Syahdu memang sudah menebaknya, hanya saja mendengar langsung dari Arga membuatnya merasa yakin. Ada baiknya juga tuh anak.


"Gak gratis! Lo harus bayar!"


Ditarik. Syahdu buru-buru menarik ucapannya kalau Arga bisa baik. Tidak, dia tetap memanfaatkan Syahdu.


"Iya. Aku bayar. Berapa?" walau bertanya berapa, dalam hati Syahdu sudah tak enak. Bagaimana kalau Arga minta ratusan juta?


"Bukan pake duit." Jawab Arga.


"Eh, jadi pake apa?"


Arga menyesap rokoknya sembari menatap Syahdu dari atas sampai bawah.


"Main disini. Sekarang."


Syahdu mendelik tajam. "Hah? Gila, ya?! Enggak, ah!" Pekiknya dan langsung turun begitu saja, meninggalkan Arga yang mulai tertawa riang setelah Syahdu hilang dari pandangannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2