
...** What If - Syahdu dan Arga Setelah Masa Kontrak Selesai **...
...π...
Syahdu kembali membaca surat perjanjian dirinya dan Arga yang ia tanda tangani dua tahun yang lalu. Perjanjian itu berakhir hari ini, tepat mereka menjalaninya selama dua tahun tanpa diketahui oleh siapapun. Mereka berhasil melakukannya dengan baik.
Diletakkannya kartu ATM, laptop, dan beberapa barang penting yang Arga pernah berikan padanya. Dia tak akan menggunakannya lagi walau Arga mengizinkannya sekalipun.
Arga keluar dari walk in closet. Dia duduk di berhadapan dengan Syahdu. Mereka saling diam beberapa detik. Pikiran keduanya melayang entah kemana.
"Aku udah susun barang. Hari ini aku akan keluar dari sini."
Arga mengangguk. Iya, Syahdu akan keluar dari apartemennya. Tidak disangka, waktu dua tahun terasa cepat sekali berlalu.
"Gimana kabar nenek?"
"Semakin baik setelah pulang ke rumah. Sampai sekarang dia ngira aku kerja part time. Setelah ini, aku mau cari job supaya nenek percaya kalo aku bener-bener kerja."
Arga mengangguk lagi. Setelah melakukan hubungan diatas ranjang untuk yang terakhir kali. Melakukannya dengan sangat baik supaya Syahdu bisa mengingat dirinya dimana pun gadis itu berada.
"Jangan lupa, kamu harus bakar kertas ini."
"Tenang aja. Gue ga mungkin biarin orang tau soal ini."
Syahdu tersenyum. "Kalo gitu, aku permisi, ya." Ia berdiri, membuat Arga juga ikut berdiri dan matanya mengikuti Syahdu yang berjalan menuju koper yang sudah menunggu di dekat pintu.
Arga melihati Syahdu yang tengah memakai jeket. Rambut panjang itu ia keluarkan dan dirapikan kebelakang telinga. Tak lupa ia memakai jam tangan.
Mata Arga tak berkedip. Perempuan yang sudah dua tahun menjadi pendampingnya itu semakin menawan saja. Dia juga semakin pandai bergaya. Jika diingat lagi, Syahdu dulunya sangat polos dan tak mementingkan style-nya. Semenjak Arga sering mengenalkannya barang-barang bagus, Syahdu mulai perlahan merubah seleranya.
Syahdu bersiap menggeret koper. Senyumnya tersungging menatap Arga.
"Selamat tinggal, Arga. Semoga hidup kita semakin baik setelah ini."
Arga mengangkat sebelah tangannya pada gadis yang sangat memuaskannya. Gadis itu menutup pintu keluar dari apartemennya. Tak ada yang ia tinggalkan disana kecuali kenangan disetiap sudut ruang. Senyum yang Arga berikan sebagai perpisahan perlahan memudar. Kepergian Syahdu barusan membuat hatinya sedikit tak tenang. Kenapa? Apa Syahdu akan membuatnya rindu?
Atau malah.. gadis itu yang merindukannya? Arga tersenyum miring. Sepertinya begitu jika melihat bagaimana selama ini Syahdu menikmati permainannya.
~
Libur telah selesai. Aktifitas perkuliahan dimulai kembali. Mahasiswi baru yang ada di koridor saling senggol dan terpana melihat Arga yang lewat.
Lelaki dengan jeket jeans itu berjalan tanpa memperdulikan semua lirikan dan bisik kagum pada dirinya. Dia sudah terbiasa. Saat ini yang cukup mengusiknya adalah kabar Syahdu.
Setelah hampir satu bulan tak melihat gadis itu, memang membuatnya rindu. Tidur sendirian, sesuatu yang dulu membuatnya nyaman, tak lagi ia nikmati. Dia merindukan sosok gadis bernama Syahdu tergolek tanpa busana diatas ranjangnya.
Arga menggelengkan kepala. Lagi-lagi ia memikirkan kemolekan tubuh Syahdu.
Ah, Syahdu. Itu dia. Berjalan sendirian dengan sesekali menyapa kenalannya. Dress polos berwarna lilac, rambut cepol asal itu membuatnya selalu cantik.
__ADS_1
Syahdu berjalan kearahnya. Dia bisa merasakan sesuatu bergetar dalam dada. Arga pun memperlambat langkahnya dan memasang wajah datar seperti biasa walau syaraf pada bibirnya ingin sekali mengembang.
Gadis itu tersenyum lebar dengan sesekali melambaikan tangan entah pada siapa, sampai ia lebih dekat dengan Arga, membuat lelaki itu tak bisa melepaskan pandangannya.
Syahdu berjalan lurus. Matanya melirik Arga satu detik. Hanya satu detik, dia melewati Arga begitu saja. Tak ada senyum khusus, tak ada sapa, atau memberi kode dengan mata. Tidak, Syahdu mengabaikannya.
Arga berhenti di tengah. Dia mendesah pelan saat ada rasa kecewa dalam hatinya. Seharusnya bukan seperti ini, kan? Dia mengira Syahdu akan terus menempel padanya walau kontrak mereka telah berakhir. Jika begitupun Arga takkan keberatan karena dia juga menyukai hubungan tak jelas mereka.
Tapi lihatlah apa yang barusan terjadi. Bukan, ini bukan salah Syahdu. Gadis itu tidak salah sebab memang itulah isi kontrak yang ia tulis sendiri. Dan Syahdu melakukannya dengan baik.
Arga menoleh kebelakang. Didapatinya Syahdu bersama kekasihnya. Senyum lebar gadis itu selalu tersungging saat bersama Wicak. Senyum yang juga belakangan Syahdu keluarkan saat bersama Arga. Lucu sekali, sekarang dia dan Syahdu memang benar-benar seperti tidak pernah akrab dan intim persis seperti kontrak.
"Hei!" Ibra menepuk pundah Arga, membuat lelaki itu tersentak kaget.
"Gue cariin dari tadi. Dosen ngga masuk, jadi kita mau nongkrong diluar."
"Iya, nih. Lo ikut, kan?" Naya yang baru datang bersama yang lain, langsung tersenyum lebar.
"Ayoo.." Ibra merangkul Arga berjalan. Mereka mendekat pada Syahdu yang masih mengobrol asyik dengan sang pacar.
"Ras, lo ikut kita, ngga. Mau nongkrong." Ujar Adina pada Syahdu.
Mata Arga menatapnya, berharap dia mau pergi bersama. Setidaknya ia bisa puas melihat Syahdu.
Gadis itu menggamit lengan Wicak. "Sorry banget. Mau jalan, nih."
"Dah yakin gua. Yaudah, kita cabut dulu!" Ibra dan yang lain melanjutkan langkah. Begitu juga Arga, yang terpaksa mengikuti teman-temannya. Syahdu tak ikut. Jelas saja. Dia pasti memilih jalan dengan kekasihnya.
Lelaki itu mengadahkan wajah keatas langit. Ah. Dia tidak tahu ternyata setelah kontrak berakhir, banyak hal yang tertinggal dibelakangnya. Beginilah rasanya jatuh cinta dan sakit dalam satu waktu. Tak terlihat indahnya, sedikitpun tidak.
...π...
Satu bulan setelahnya...
"Syahdu, lo disuruh anter pesenan di VIP room nomor 7."
Syahdu mengangguk walau bingung, kenapa harus dia? Padahal Syahdu belum pernah mengantar makanan ke ruang VIP. Maklum, dia anak baru di restoran itu.
Syahdu mengangkat nampan, lalu berjalan menuju ruang yang dimaksud.
Gadis itu mengetuk pintu, lalu terbukalah sedikit hingga membuatnya harus mendorong pintu lagi dengan bahunya.
Ruangan yang agak gelap tapi Syahdu tahu di dalamnya dipenuhi perlengkapan yang mewah.
Kosong. Tidak ada orang di ruangan itu. Dia melirik daun pintu. Benar, nomor kosong tujuh.
Yah, mungkin orangnya sedang ke toilet, pikirnya. Syahdu meletakkan nampan diatas meja, dan menyusun makanan itu supaya terlihat rapi.
Lalu ia terkesiap saat mendengar suara pintu tertutup dengan cukup keras.
__ADS_1
Syahdu berdiri. Matanya memicing melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Ruangan ini gelap, dan dia mulai takut.
"Ma-maaf, pak. Saya.. mengantar pesanan anda."
Syahdu menjerit sampai nampan di tangannya terjatuh tatkala seseorang itu menarik dan menghentakkan tubuhnya ke tembok.
Syahdu memejamkan mata dan tubuhnya bergetar hebat saat kedua tangannya terkunci dalam genggaman orang itu. Dia ketakutan.
Tak ada aksi setelahnya. Syahdu perlahan membuka mata. Ia bisa merasakan hangat napas dan harum parfum yang ia kenali.
Alisnya berkerut. Ini seperti...
Lagi-lagi ia terperangah saat orang itu mendaratkan bibirnya tepat di bibir Syahdu. Benda kenyal itu bermain dan ini mirip sekali dengan permainan Arga, hingga membuat darah Syahdu berdesir. Ah, Arga. Apa sih, yang dia lakukan sekarang?
Beberapa detik setelahnya, ciuman itu terhenti. Bisa dengan jelas Syahdu melihat mata Arga yang menatapnya tanpa bisa ia artikan.
"Arga.."
Terdengar tawa kecil. "Sehapal itu lo sama ciuman gue?"
Buk! Syahdu memukul dada Arga, membuat lelaki itu meringis.
"Aku sampe ketakutan. Aku pikir, aku mau diperkosa."
"Memang gue mau perkosa lo disini."
Tatapan Syahdu menajam. "Kontrak kita selesai. Ngga ada lagi yang kaya gitu diantara kita."
"Emang lo ga pengen?"
Syahdu mendelik. "Nggak!"
"Gitu, ya?" Ujarnya diselingi tawa. "Hmm.. Gimana kalo kita buat kontrak lagi dan tambah harganya."
Syahdu mengambil nampan yang jatuh, lalu berjalan membuka pintu. Tak lupa ia suguhkan senyuman manis untuk tamunya.
"Selamat menikmati makanan kami, pak." Ujarnya, lalu pergi.
"Syahdu, tunggu!"
Syahdu berbalik, lalu tersenyum kecil. "Aku akan nikah bulan depan, Ga. Aku udah ceritain semuanya ke Wicak, soal apa yang kulakukan tapi tenang, dia ngga tau siapa orangnya. Yah.. Memang awal-awal hubungan kami berantakan, tapi setelah itu dia datang dan mengajakku menikah. Bukannya ini kabar gembira untuk kita? Sesuai dengan ucapanmu, dia memang mau menerimaku."
Setelah berkata begitu, Syahdu pergi meninggalkan Arga yang mematung di tempatnya. Syahdu.. akan menikah? Apa ini kabar gembira? Memang iya, ini sesuai dengan prediksinya soal Wicak. Tapi ini bukan kabar gembira bagi Arga. Hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengar itu. Bagaimana bisa.. perempuan yang sudah membuatnya jatuh terlalu dalam, menikah dengan orang lain?
Ini.. sungguh akhir yang buruk bagi hidupnya. Sampai kapanpun, Arga takkan bisa melupakan patah hati pertama oleh cinta pertamanya.
Sekian~
(Cerita ini hanya pengandaian dari kisah aslinya. Terima kasih, Tunggu next uploadnya)
__ADS_1
WHAT IF TENTANG APALAGI YA KIRA-KIRAA??