SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Calon Tunangan Arga


__ADS_3

Pagi hari, Syahdu sudah terbangun tetapi belum bergerak dari tempatnya. Dia tengah menatapi wajah Wicak yang tertidur.


Syahdu menyentuh rahang tegas lelaki itu. Bibirnya sedikit terbuka membuat Syahdu tersenyum. Dia tidak bosan menatap Wicak. Dia ingin pagi yang seperti ini setiap hari. Tapi rasanya tidak mungkin, karena berkali-kali Syahdu memikirkan cara terbaik untuk mereka berdua, tapi yang terpikir olehnya adalah berpisah.


Bersama lelaki baik itu membuatnya sedih sendiri. Dia merasa kasihan pada Wicak. Dia telah membohongi Wicak. Perempuan yang diperjuangkan Wicak, bukan seperti apa yang dia pikirkan selama ini.


"Morning, sayang."


Pagi-pagi sudah melihat pillow face-nya Wicak, juga suara berat lelaki itu terasa menyenangkan bagi Syahdu. Lelaki itu mendekap Syahdu, lalu memejamkan matanya lagi. Dia pun begitu, merasa senang tatkala membuka mata dan langsung menangkap Syahdu di hadapannya.


Tadi malam Syahdu menangis lama, Wicak pun mencoba menenangkannya, walau hasilnya malah Syahdu semakin menangis. Wicak sendiri tidak bertanya apa-apa, tapi ia sudah paham kalau gadis kesayangannya itu memang agak cengeng.


Setelah sesi pelukan yang cukup lama, mereka pun bersiap dan keluar kamar untuk sarapan. Saat berjalan menuju ruang breakfast, mata Syahdu melihat seseorang yang dia kenal tengah berenang bersama seorang gadis. Gadis itu membelakangi Syahdu, sehingga dia tidak bisa melihat. Tapi laki-laki itu, dia tahu dengan jelas kalau itu adalah ayah Awan.


Ayah Awan? Dia menginap disini bersama siapa? Dia dan perempuan itu amat mesra, saling siram dan pelukan. Jelas itu bukan Ibu Awan karena Syahdu pun mengenalnya.


Apa ayah Awan selingkuh? Ah, mana mungkin. Syahdu menepis prasangka buruk dalam pikirannya. Dia ingat betul bagaimana sayangnya Ayah Awan pada istrinya, apalagi saat masa terpuruk dulu di desa, istrinya itulah yang menguatkannya.


"Syahdu, ayo."


Wicak menggamit Syahdu. Membuat perempuan itu tersentak dan langsung mengikuti Wicak, walau matanya masih terus menatap dimana ayah Awan berada.


~


Arga menahan layar ponselnya. Dia memandang lama foto Syahdu sambil tersenyum. Akhirnya perempuan itu mengunggah foto juga.


Di foto itu Syahdu tampak cantik dengan senyuman yang dia jarang sekali liat. Di foto itu pula Syahdu bilang rindu, bukan pada Arga, tapi pada anjing kesayangannya yang sebenarnya Arga hadiahkan untuknya. Tapi Arga tidak mengatakannya karena dia memang menyembunyikan perasaannya.



Dia sendiri bingung, kenapa perasaannya pada Syahdu begitu kuat, padahal mereka baru bertemu beberapa bulan. Syahdu bukan orang pertama yang menjadi teman tidurnya. Tapi entah apa yang membuatnya merasa Syahdu punya hal yang menarik dalam dirinya. Gadis itu juga baik dan penyayang. Benar-benar membuat hati Arga tergugah.


Namun sayang, gadis itu sangat mencintai kekasihnya. Bahkan tidak terlihat celah dalam hatinya untuk menyukai Arga. Hatinya tertutup rapat untuk lelaki beruntung itu.


Sebelum menyimpan ponselnya, Arga menangkap layar dan menyimpan foto Syahdu yang sangat menggemaskan di matanya.


"Arga, udah lama?"


Seorang perempuan datang dan duduk di depan Arga. Dia berparas cantik dan berpakaian cukup seksi. Namanya Soraya. Teman Arga saat SMP. Terakhir bertemu ketika reuni waktu itu, dimana perempuan ini menemui Arga setelah keluar dari toilet saat Arga mencari Syahdu.


"Lumayan." Jawabnya sembari melepas kacamatanya. Dia menyadari gadis di depannya tengah menatap dirinya sejak tadi.

__ADS_1


Ditatap seperti itu dianggap biasa oleh Arga. Bukan sombong, dia memang populer sejak dulu. Bahkan perempuan seperti Soraya sudah sering ia temui. Apalagi dengan cara orang dalam, yaitu mendekatinya melalui orang tua Arga tentunya.


Bagaimana cara Soraya membuat Ibunda Arga meminta anaknya untuk menemui Soraya? Entahlah, Arga juga tidak mau tau. Yang penting, dia menemui Soraya hanya supaya sang Ibu senang.


"Maaf ya, macet tadi. Oh ya, makasi banget udah mau dateng. Gue kira tante Julia bercanda. Eh, beneran dong, lo mau nemui gue." Celotehnya panjang lebar.


"Ada apa?" Tanya Arga tanpa basa-basi.


"Eng.. gue cuma mau ketemu lo aja. Soalnya lo ngga pernah mau kalau gue ajak jalan."


"Gue sibuk."


"Iya, gue tau. Makanya, gue ajak lo ketemu hari ini. By the way, lo ganteng banget pake outfit hitam-hitam gini." Puji Soraya, namun Arga tak menjawab, dia menyesap kopinya. Puji-pujian seperti yang dilontarkan Soraya pun, dia sudah sering mendengarnya. Itu tak membuatnya senang.


"Eh, kata tante Julia, dia mau pulang ke Indonesia, ya?"


"Gue gatau." Jawab Arga. Dia memang tidak tahu karena ibunya tidak pernah mengabari jika pulang. Selalu tiba-tiba sampai di Indonesia.


"Ohh. Emm, lo kapan ngisi acara lagi, Ga?"


"Nanti malem."


"Oh ya? Dimana?"


"Oh.. Gue dateng, ya?"


"Terserah lo."


"Selesainya jam berapa ya itu? Soalnya gue ada acara lagi."


"Ngga nentu."


"Oh, gitu ya." Soraya tampak berpikir keras. Mencari topik yang membuat Arga tertarik dan mau mengobrol santai dengannya. "Emm.. soal pertunangan itu, menurut lo.. gimana?" Tanya Soraya ragu.


"Ha?"


"Soal pertunangan.."


"Pertunangan? Siapa?" Tanya Arga lagi.


"Pertunangan kita.."

__ADS_1


"Hah? Apa lo bilang? Pertunangan gue sama lo?"


Soraya tampak ragu, tapi dia mengangguk.


Arga malah tertawa melihat anggukan Soraya.


"Gue? Nikah sama lo?" Kata Arga disela tawanya.


"I-iya. Apa tante Julia nggak cerita? Bokap lo sama bokap gue udah buat rencana untuk kita."


Harga terkikik mendengar kata 'bokap', karena dia dan ayahnya tak cukup akrab, tapi malah menjodoh-jodohkannya dengan perempuan yang tak disukainya.


"Come on, gue ngga ada niat buat nikah. Kalo lo mau, lo nikah aja sama bokap gue."


"Arga, kita-"


"Ngga ada kita-kita. Gue mau nemuin lo juga karna nyokap. Udah ya, gue cabut. Inget, gue ngga ada niat nikah. Paham, kan lo?" Tukas Arga kemudian pergi. Membuat Soraya kesal setengah mati.


Dia merogoh ponsel dan langsung menelepon Julia untuk mengadukan tingkah laku anaknya pada dirinya.


...🍁...


Puas bermain-main disekitar pulau, Syahdu dan Wicak beristirahat di pinggir pantai. Satu jam lagi mereka akan pulang, dan Syahdu ingin menghabiskan sisa waktunya di pantai.


"Syahdu, aku ke kamar ambil barang dan check out. Tunggu disini, ya."


Syahdu mengangguk. Untung pagi tadi dia dan Wicak sudah berkemas supaya tinggal angkat barang dan langsung pulang.


Syahdu berjalan santai sambil sesekali mengutip benda-benda lucu yang ada di pasir pantai. Dia mengambil beberapa batu unik, cangkang kerang, dan serpihan terumbu yang terseret ombak.


Diapun menikmati angin dan pemandangan indah yang mungkin tak ia lihat lagi dalam waktu dekat.


Ada niatan untuk kembali oleh Wicak, tetapi Syahdu tak langsung mengiyakannya karena sesuatu hal yang memberatkannya.


Syahdu berhenti melangkah saat matanya melihat ke arah dimana seorang lelaki dan perempuan berciuman mesra tak jauh dari hadapannya.


Ingin dia kembali, tapi langkahnya tertahan saat dia tahu kalau lelaki itu ayah Awan. Tak lama, lelaki itu pergi dan alangkah terkejutnya Syahdu saat melihat pasangan ayah Awan masih bermain di pinggir pantai. Matanya tak berhenti menatap sebab dia harus dengan jelas melihat supaya tidak salah sangka.


"Riska.."


Gadis itu menoleh dan terkejut mendapati Syahdu berdiri di belakangnya.

__ADS_1


TBC



__ADS_2