Terjerat Cinta Duda Arogant

Terjerat Cinta Duda Arogant
BAB 21. KESAL


__ADS_3

Ayeuna mendelik kesal. Ia memilih bungkam daripada meladeni kata-kata pedas yang terlontar dari bibir tipis pria itu. Sementara Damian, ia merasa puas. Ia tak akan membiarkan ayeuna merasa besar kepala atas perhatian yang ia berikan. Ini semua dilakukan semata-mata karena dirinya sangat tahu jika Prasetya menyukai wanita itu.


"Kau bisa mengambil hati Prasetya. tapi tidak denganku, Nona Ayeuna!"gumam Damian dengan seringai tipis mengukir wajahnya yang tampan.


Sampai di rumah, Ayunan langsung bergegas menuju kamar Prasetya. begitupun Damian. pria itu ingin tahu bagaimana keadaan anaknya saat ini.


"Hai anak tampan, kau sudah bangun?"Ayeuna masuk ke dalam kamar bernuansa biru dengan wallpaper kartun Doraemon. Ia tersenyum melihat Prasetya yang sedang disuapi bubur oleh pengasuh.


'Hai miss Ayeuna. kau lama sekali. Aku sejak tadi menunggumu!"salut Prasetya sambil menekuk wajahnya.


Ayeuna menghampiri anak tampan yang menggemaskan itu. diusapnya kepala Prasetya dengan lembut.


"Maaf ya Sayang. Miss tadi membeli ini untukmu!"Ayeuna mengeluarkan kantung berisi obat dan vitamin untuk Prasetya. Nama anak itu masih merajuk. Damian menggelengkan kepalanya. Entah mengapa akhir-akhir ini Prasetya menjadi sangat manja. Jika seperti ini terus, ini tak akan baik. Anak itu pasti akan ketergantungan dengan Ayeuna. sedangkan Damian, iya tak ingin memiliki hubungan dengan siapapun saat ini.


"Apa kau mau disuapi?"tanya Ayeuna. Prasetya mengangguk senang. Dia segera meraih mangkuk bubur di tangan pengasuhnya lalu memberikannya pada gurunya tersebut. Prasetya sangat senang dengan perhatian yang diberikan ayunan untuknya.


"Anak pintar, makan yang banyak ya. Nanti siang kita harus ke rumah sakit untuk mengecek kondisimu secara detail!"sahut ayeuna


Prasetya terhenyak. Ia paling tak suka jika pergi ke rumah sakit. Apalagi kita harus Melihat jarum suntik. Ia benar-benar takut dan trauma dengan sesuatu yang berbau medis tersebut.


"Ngak aku ngak mau!"pekiknya. Ia melirik ayahnya. Namun demikian membuang pandangannya. Pura-pura tak terlibat dengan ayeuna yang ingin membawanya ke rumah sakit besar.


"Kenapa, sayang?"kita hanya ke sana untuk memeriksa Apakah Prasetya harus di rawat inap atau bisa di rawat jalan!"ucap Ayeuna membujuk.


"Aku sudah sehat miss. lihat ini, Aku sudah makan."


"Ayolah, hanya sebentar saja. mesti kau sudah terlihat sehat. belum tentu yang ada dalam tubuhmu juga,"ujar ayeuna kembali merayu.


"Tidak. pokoknya aku nggak mau!"Prasetya merengut dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. bersembunyi dalam selimut itu agar gurunya itu tak membawanya ke rumah sakit.


"Dia takut jarum suntik,"bisik Damian


Ayeuna menutup mulutnya seperti menahan tawa. anak itu benar-benar menggemaskan. ternyata anak aktif dan terkenal nakal di kelas itu memiliki kekurangan. Dia takut jarum suntik.


Ayeuna membenarkan posisi duduknya lalu meraih pundak Prasetya dan membalikkannya. iya akan merayu sekuat tenaga agar anak itu mau menurut.

__ADS_1


"Prasetya...."


"Apa Prasetya tak sayang padamu?"tanya ayeuna pura-pura terlihat sedih.


Prasetya membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. ia melirik Ayeuna yang terlihat sendu.


"Aku sayang miss. tapi aku tak ingin ke rumah sakit!"anak itu berkata dengan pelan. Sangat berbeda dengan tadi yang menolak kasar untuk dibawa ke rumah sakit.


"Apa yang Prasetya takutkan? ada miss yang selalu mendampingi Prasetya. Jika Prasetya tak menurut, mungkin lebih baik Mas Pergi saja!"ujar Ayeuna terlihat merajuk.


Prasetya menggeleng cepat. Ia tapi ini jika Ayeuna pergi dari rumah ini. Wanita itu sudah ia anggap seperti ibunya. Prasetya sangat nyaman berada di dekat ayeuna.


"Jangan, Miss. Aku tak ingin Miss pergi. baiklah, siang nanti aku mau ke rumah sakit. tapi Miss harus janji dulu...."Prasetya menggantung kalimatnya lalu menatap ayahnya dengan alis yang di naik turunkan.


"Janji apa itu?"tanya Ayeuna penasaran. Hatinya pun tak berbeda jauh dengan Damian. iya merasa anak itu akan meminta hal yang aneh dan konyol.


"Jadilah mamiku!"


kedua orang dewasa itu terhenyak. mereka saling memandang tanpa ekspresi.


****


Waktu menunjukkan pukul 2 siang. Ayeuna tengah menyiapkan segala kebutuhan Prasetya. Ia membereskan beberapa pakaian anak itu. Tak lupa, dirinya juga membawa bantal kesayangan Prasetya jika anak itu harus langsung menjalani rawat inap.


Wanita itu memasukkan keperluan Prasetya pada sebuah koper kecil sambil terus mengumpat. Ia sangat kesal pada Damian. bisa-bisanya pria itu menuduhnya mencuci otak Prasetya.


Masih terngiang dengan jelas kata-kata pedas yaitu sebelum ia berangkat kerja tadi pagi.


"Apa kau mempengaruhi Prasetya?"tanya Damian seraya mengekori ayeuna menuju dapur untuk menyimpan bekas makannya Prasetya.


"Apa maksudmu?"tanya Ayeuna tak mengerti. Ia membalikkan badannya hingga tatapannya kini saling beradu dengan pria menyebalkan itu.


"Kau mencuci otak Prasetya agar kau bisa mencari ibunya. benar kan?


Ayeuna membulatkan matanya. Damian benar-benar sok tahu dan terlalu percaya diri. untuk apa ayeuna mencuci otak Prasetya? yang ada wanita itu ingin segera pergi agar tak lagi melihat wajahnya yang menyebalkan.

__ADS_1


"Ha ha ha.... mencuci otak? kau pikir aku kurang kerjaan, hah?" Ayeuna terkekeh lalu membalikkan tubuhnya kembali untuk meneruskan pekerjaannya. Ia hendak mencuci peralatan makan yang tadi digunakan oleh Prasetya.


Belum sempat dirinya menyalakan keran air, Damian terlebih dahulu menarik sebelah tangannya hingga mau tak mau ayeuna kembali berhadapan dengannya. Wanita itu memutar bola matanya malas melihat wajah dan yang yang angkuh.


"Jangan mengabaikan aku jika sedang bicara!"pekik Damian.


Ayeunamenatapnya dengan tajam. Satu sudut bibirnya terangkat. Jika Damian bisa mengancam nya, Kenapa dia tidak? Ayeuna juga punya senjata untuk membuat pria itu tak berlaku semena-mena padanya.


"Melepaskan, Tuan Damian!"Ayeuna menghempaskan tangannya hingga membuat Damian terkejut. Wanita itu telah berani melawannya.


"kau berani padaku, hah? kau tak ingat dengan hukuman waktu itu!"Damian melotot dengan tajam.


Ayeuna menyeringai tipis dan menatap intens iris coklat yang indah namun begitu menusuk.


"Hukumlah aku jika kau ingin aku pergi dari sini!"bukankah kau tahu jika anakmu tak bisa jauh dariku?"Ayeuna tersenyum sinis.


Damian terdiam sejenak. kedua tangannya mengepal. Mengapa jadi seperti ini? ayu nak ini balik mengancamnya.


"Kau mengancam Ku?"


"Tidak, Tuan. hanya saja aku sedang bernegosiasi agar kau bersikap lebih sopan. Ya.... itupun jika kau masih menginginkan aku mengasuh putramu!"Ayeuna tersenyum melihat wajah Damian yang terlihat marah.


"Kau uuuu....!"


Dengan kesal, Damian membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan wanita itu. Untuk saat ini, lebih baik yang mengalah dulu. Prasetya memang membutuhkan wanita itu. Terlebih keadaannya saat ini sangat lemah. Damian tak ingin jika anaknya semakin terpuruk jika ayeuna pergi darinya.


"Bawalah Damian ke rumah sakit. aku ada meeting penting hari ini."Damian membetulkan just miliknya lalu menoleh pada ayeuna sebelum ia pergi meninggalkan wanita itu dengan perasaan yang kesal.


"Kau bisa saja mencuci otak anakku. tapi tidak denganku, Nona ayeuna. aku sudah mengatakan dari awal agar kau tak berharap lebih. So...... kubur keinginanmu untuk menjadi Ibu dari anakku!"ucap Damian dengan sarkas.


Ayeuna melongok sambil menatap kepergian Damian. Setelah itu, iya *******-***** kain lap yang ada di atas meja makan. pria sialan itu terlalu percaya diri. Siapa juga yang mau menikah dengannya?


"Dasar pria sialan. Jika di bumi ini tak ada lagi pria, aku memilih tak menikah sama sekali daripada harus hidup dengan pria menyebalkan sepertimu,"umpat Ayeuna dengan kesal.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2