
Damian menarik selimut lalu menutupi tubuh Ayeuna. Ia tersenyum getir, bisa-bisanya barusan berpikir untuk berbuat hal yang menjadikan itu. Kesalahan malam itu tak boleh terulang lagi. Apalagi dengan Ayeuna, ia tak akan pernah menyentuh wanita itu lagi. Tak ingin jika Ayeuna menaruh harapan besar pada nya. Jika demikian sampai tergoda olehnya.
Pria itu memilih keluar kamar lalu beranjak menuju klub malam yang ada di samping hotel tersebut. Sebuah fasilitas yang disediakan di hotel milik pamannya yang membuat penginapan ini tak pernah sepi pengunjung.
"Tuan, Apa anda mau minum seperti biasanya?"tanya seorang bartender cantik berbadan seksi yang tiba-tiba menghampirinya.
"Hemmm... boleh!"bawakan aku sebotol wine terbaik di sini!"ucap Damian seraya duduk di sofa dan menikmati dentuman musik diskotik yang sedikit menghiburnya.
Tak lama, bartender itu kembali dengan membawa sebotol minuman yang Damian inginkan. Wanita cantik itu menuangkan sedikit demi sedikit minuman pada gelas sloki yang demikian pegang.
"Apa malam ini Tuan ingin ditemani?"tanyanya dengan menggoda.
"Hemmm... kau sedang merayuku, nona?"
"Tidak. ini hanya sebagai bentuk pelayanan terbaik kami,"ujarnya dengan sangat percaya diri
Pria yang memiliki wajah tampan dan penampilan formal seperti Damian memanglah incaran para pelayan bar. Selain sebuah kebanggaan bisa melayani tamu seperti ini, mereka juga yakin tips yang diberikan tak akan main-main. Bos bos besar dan CEO pastilah royal dalam memberikan tips apabila wanita-wanita itu mampu memuaskan mereka.
"Ha ha ha ha... kau memang gadis manis. Tapi maaf, aku sudah punya seseorang,"ujarnya tanpa sadar.
"Ohh... baik kalau begitu, Tuan. Tapi kalau anda bosan dengan wanita itu, anda panggil saja aku!"sahut bartender tersebut dengan senyum yang sangat menawan.
Damian hanya tersenyum singkat lalu kembali fokus dengan minumannya. Ia terkekeh kecil saat menyadari telah mengatakan hal aneh tadi. Sudah punya seseorang? Siapa? Bahkan dia tak dekat dengan siapapun termasuk Sania.
"Apa wanita yang aku maksud itu Ayeuna?"tanyanya dalam hati.
Damian membuang rasa penasaran itu. Ia sendiri bingung dengan perasaannya. Ia tak ingin menjalin hubungan dengan seseorang, tapi dalam hatinya seperti telah memiliki seseorang yang mengisi relung kosong itu.
"Nurma.... aku merindukanmu!"lirih Damian setengah kesadarannya. Ia begitu mencintai mendiang sang istri hingga ia berkomitmen untuk tetap menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi sekarang, sepertinya janji itu perlahan terkikis oleh sebuah rasa yang ia pun tak tahu untuk siapa itu? setengah hatinya telah diisi oleh seseorang.
__ADS_1
"Tuan, Banguuuuun....!"
Ayeuna berteriak saat mendapati Damian yang masih tertidur pulas di atas sofa. Setelah mabuk, pria itu memilih Kembali menuju kamar hotel dan tak sadar telah terlelap begitu saja.
"Aaaahhh.... jam berapa ini?"Damian memijit keningnya yang berdenyut. Ia mencoba duduk meski kepalanya terasa sangat berat.
"Jam 7.30 pagi,"jawab Ayeuna singkat.
"kau mengganti bajuku?"tanya Damian setelah ia sadar.
"Ya, kau mabuk parah. Kau seperti orang gila menggedor-gedor pintu hotel. Aku mengganti kemeja mu yang basah karena takut jika kau masuk angin,"sahut Ayeuna sambil merapikan selimut dan kasur yang telah digunakan.
"Dasar wanita nakal. Kau mencari kesempatan Dalam kesempitan kan? bukannya berterima kasih, Damian Malah mencerca nya dengan tuduhan-tuduhan itu. ayeuna hanya mendelik. tak ingin meladeni pria aneh itu seperti ini.
"Haaaah, dasar wanita aneh. Ditanya malah melongos"! Damian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dari dalam kamar mandi ia tersenyum-senyum sendiri. ternyata di balik sikap ketus Ayeuna, Dia sangat perhatian. Tapi Damian yang penuh gengsi itu sangat sulit, bahkan untuk mengucapkan kata terima kasih.
Ayeuna duduk ditepi ranjang. Ia menjadi terdiam saat mengingat racauan pria itu. Meski Damian adalah pria yang bengis dan sedingin es, tapi Ayeuna tahu jika itu sebagai bentuk pelampiasan nya saja. Pria itu begitu rapuh Dia sangat terluka dan kesepian. Nurma, nama cantik yang Ayeuna tahu adalah nama ibu kandung Prasetya itu selalu disebutnya. Ia sangat yakin jika Damian belum bisa move on dari sosok istrinya itu.
"Hei.... kau membongkar isi koperku?"Damian menghampiri dengan raut tak senang.
"Maaf, Aku hanya ingin menyiapkan keperluan mu, tuan!"ucap Ayeuna dengan santai.
"Pakailah cepat kita kan sarapan bersama!"kata Ayeuna tanpa pernah perdulikan tatapan tajam dari Damian. Wanita itu seperti sudah terbiasa dengan perilaku Damian yang memang sangat ketus dan dingin.
"Kau tak mengganti pakaianmu?"tanya Damian menelisik penampilan Ayeuna.
"Aku bahkan tak membawa apa-apa selain tas kerja dan ponselku. Bagaimana aku mengganti pakaianku?"
"Hah, dasar gadis jorok. nih, pakai ini!"Damian melemparkan pakaian wanita yang Ayeuna lihat tadi. Dalam hati Ayeuna bertanya-tanya Apakah Damian memang sengaja mempersiapkan ini untuknya?
__ADS_1
Enggan menanyakan langsung, Ayeuna memilih meraih pakaian tersebut Lalu menggantinya di kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Ayeuna keluar dengan malu-malu.
"Tak ada pakaian lain kah? aku tak terbiasa menggunakan baju seperti ini!"sahut Ayeuna seraya menarik-narik derasnya ke arah bawah. ia merasa risih dengan resolud itu. Dress tanpa lengan dengan panjang selutut berwarna ungu pastel itu begitu manis dan terlihat seksi meski dilengkapi blazer putih di luarnya.
"Kau pikir aku pelayanmu? sudah bagus aku belikan baju baru itu? Apa kau tak suka?"nada bicara Demian terdengar tak senang. Padahal Ia telah memesan itu kemarin sebelum menjemput Ayeuna ke kampusnya.
"A......aku hanya saja, aku terbiasa memakai celana bahan atau jeans. Aku memakai dress Jika datang ke pesta saja," imbuhnya beralasan. iya benar-benar tak nyaman memakai ini. pakaian ini lebih cocok untuk dibawa ke pesta resmi atau menghadiri undangan pernikahan.
"Kau pikir aku norak? aku juga tahu jika baju itu digunakan untuk menghadiri pesta. Kau akan menemaniku untuk datang ke pesta pukul 10 nanti.
"Pesta? siang hari?"Ayeuna mengerikan dahi bingung. Sebenarnya pesta apa yang akan Damian hadiri. Mengapa ia tak mengatakan hal itu sebelumnya nya?
"iya, pesta dengan para kolega bisnisku. bersikaplah yang manis dan jangan mengacau!"ancamnya dengan penuh penekanan.
"Tapi, Bagaimana dengan kerjaan Ku? aku harus masuk hari ini!"
"Kau bolos saja !"ucap Demian Perez dengan entengnya.
"Tak bisa begitu dong, Tuan Demian yang terhormat. Kau tak bisa seenaknya menyuruhku untuk bolos. Aku harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku!"tutur Ayeuna dengan sedikit menaikkan nada bicaranya pada pria yang semena-mena itu.
"Aku sudah mendapatkan izin untukmu. kau jangan banyak protes. Bersiaplah, sebentar lagi akan ada MUA yang akan merias wajah mu yang jelek itu. Aku tak ingin sampai di permalukan jika membawa wanita yang jelek."
Mendengar itu Ayeuna menjadi geram. ia yang awalnya mulai bersimpati karena kasihan pada pria itu, kini menjadi marah dan kesal. Wanita itu terus mengumpat dengan wajah yang masam.
"Siapa suruh membawaku ke pesta? kau bisa mengajak sih Sania mu itu. Aku hanya wanita jelek yang akan mempermalukan mu."ucapnya dengan ketus.
Damian tak mengindahkan umpatan-umpatan kekesalan dari Ayeuna. iya fokus mematut penampilannya, lalu tersenyum tipis sambil merapikan dasi yang melingkar di lehernya.
__ADS_1
bersambung....