
Ayeuna tersenyum puas. Meski Ia yakin setelah ini pasti akan menjadi bulan-bulanan temannya. tapi ya sudah tak peduli. Terserah mereka mau berpikir seperti apa yang penting ia tidak melakukan hal yang dapat mencoreng nama baik nya sendiri.
"Jangan senyum-senyum seperti itu! aku tak berniat sama sekali membelamu. Itu semua aku lakukan karena aku tak suka pada pengajar di tempat ini yang berperilaku memalukan."
Demian berbicara ketus saat menyadari Ayeuna sedang tersenyum di belakangnya. Meski Ia senang melihat senyuman wanita itu, tetapi ia juga tidak ingin membuat Ayeuna menjadi besar kepala.
Ucapan Damian sontak membuat senyum di wajah cantik Ayeuna memudar. Wanita yang saat ini sedang mengantar Damian menuju kantor kepala yayasan itu seketika menghentikan langkahnya dengan kesal.
"Kau bisa jalan sendiri. Ruangan ibu ketua ada di ujung sana!"sahut Ayeuna seraya membalikkan badan lalu berjalan meninggalkan Damian sendirian.
Wanita itu berdecih. Damian memang tak pernah membuat dirinya senang. Baru saja bangga karena telah dibela dan dipuji di depan teman-temannya, kini pria itu malah mengatakan bahwa hal tersebut semata-mata bukan karena rasa peduli nya.
Pria itu juga mengatakan bahwa penuturannya tadi juga bukan ditunjukkan pada satu atau dua pengajar. Mulai dari penampilan maupun etika, semuanya terlihat kurang baik di sekolah elit yang seharusnya memiliki pengajar berkualitas. Dan Damian juga menyebut Ayeuna salah satu pengajar tak berkualitas itu.
Ayeuna mendengus kesal. Dari mana pria itu bisa menilai seseorang hanya karena pandangan pertama melihat orang tersebut. bahkan Damian hanya menilai semuanya dari luarnya saja. Pria itu tak mencari tahu terlebih dahulu kebenaran dan sikap para pengajar yang tentu sudah tak perlu diragukan lagi. Sehingga mereka mampu dan lulus mengajar di sekolah internasional ini.
"Huuhhh.... benar-benar hari yang melelahkan!"Ayeuna baru saja masuk ke dalam ruangan guru setelah ia bertugas mengajari anak-anak 4 jam lamanya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Waktunya dia berikut anak-anak beristirahat makan siang. dan pukul 1. iya harus menidurkan anak-anak playgroup itu sebelum akhirnya mereka akan dijemput oleh orang tua masing-masing pukul 3 sore nanti.
"Hai, Miss Ayeuna!" Sapa Jefanya. Wanita itu menghampirinya yang sedang bersiap-siap untuk membawa bekalnya ke kelas. Ia akan melaksanakan rutinitas untuk makan siang bersama anak-anak didiknya.
Ayeuna menoleh dan mendesah pelan. mau apa lagi wanita itu? ia merasa jefania akan memperpanjang urusan tadi pagi. Apalagi Ayeuna telah membuat wanita itu kesal. Karena Ayeuna sedikit curiga, ia pun menolak permintaan Miss Jefanya itu.
Hai juga miss,"jawabnya dengan senyuman yang dipaksakan.
"Bisakah kita bicara sebentar?"tanyanya dengan suara lembut. tumben sekali, biasanya wanita itu akan menghina atau berbicara ketus padanya.
"Sorry, Saya sibuk hari ini, miss. Saya pamit dulu ke kelas!"
Penolakan tersebut sontak membuat Jefania geram. Sudah di baik-baiki, tapi sikap Ayeuna malah cuek padanya. Jefania berfikir Ayeuna sudah mulai berani mentang-mentang dekat dengan CEO Tampan itu.
"Sebentar saja miss. please!" wanita itu merendahkan diri demi permintaannya.
__ADS_1
Ayeuna mencabik kesal. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Mengapa wanita itu selalu saja mengganggunya? seperti tidak memiliki pekerjaan saja? umpatnya dalam hati.
"Baiklah... tapi hanya sebentar saja!"
Jefanya mengangguk. Ia segera duduk di kursi yang berhadapan dengan meja Ayeuna. Ia me lirik kekanan dan kekiri. Untung saja suasana saat ini sangat sepi. Karena guru yang lain pun sedang melaksanakan makan siang di kelas masing-masing.
"Jadi begini, Apakah benar kalau Prasetya itu sakit types? tanya Jefanya sok-sok perhatian.
Iya benar. lalu?"
"Hemm.....sebagai wali kelas, saya harus tahu dong kondisinya saat ini. So.... Saya ingin meminta alamat lengkap rumah Prasetya. Saya akan menjenguknya!"
Wajah cantik Ayeuna seketika menjadi pucat. Ia bingung harus mengatakan apa pada wanita itu. Ia tak ingin jika Jefanya dan seluruh pengajar sekolahnya Ini tahu jika dirinya tinggal satu atap dengan Damian tanpa adanya hubungan yang jelas. Itu akan merusak pamornya di sekolah ini
Ehemmm....Sa....saya nggak tahu, miss!"ucapkan Ayeuna berdusta.
"Jangan berbohong, Miss Ayeuna. Anda cukup dekat dengan Prasetya. Dan seminggu kemarin kata Bu ketua Anda izin karena menjaga anak Anda pasti tahu rumahnya."
"Apa Anda takut jika Damian melirikku? Anda takut tersaingi kah Miss Ayeuna?"sindirnya
Bukankah sebelum janur kuning melengkung pria itu belum sepenuhnya milikmu? kau tak berhak menghalangi siapapun yang berniat baik seperti saya, yang ingin menjenguk anak didiknya sendiri. Yah, itu sih kalau anda tidak pengecut!"
Wanita itu terus saja nyerocos memojokkan Ayeuna. Membuat pengasuh pribadi Prasetya itu geram karenanya.
"Dengar ya, miss Jefania, Saya tidak menghalangi siapapun. Dan saya juga tak ada hubungan apapun dengan Pak Damian. Jika anda mau, Silakan ambil saja pria itu. Dia bukan tipeku!"ucap Ayeuna. Akhirnya ia meraih selembar kertas lalu menuliskan sesuatu di atasnya. Setelah selesai Ayeuna memberikan kertas bertulisan alamat lengkap rumah Prasetya itu kepada Jefania.
Senyum di bibir seksi wanita itu mengembang. akhirnya Jefania bisa mendapatkan alamat rumah Prasetya dan menjadikan alasan menjenguk untuk bertemu dan melakukan pendekatan dengan ayah dari anak itu.
"Thanks, Miss Ayeuna!"sahutnya sambil berlalu begitu saja.
Ayeuna bergidik melihat tingkah guru satu itu. guru kelakuannya sungguh tak mencerminkan sebagai seorang pengajar. Sambil memijat kening Ayeuna berharap semoga tak bertemu wanita itu saat di rumah Prasetya nanti.
__ADS_1
Sepertinya aku ke kampus aja nanti sore. daripada Bertemu dengan wanita itu,"gumam Ayeuna. Sebenarnya ia tak ada kelas hari ini. tapi daripada langsung pulang dan bertemu dengan Jefania, wanita itu pasti akan menjadikan gosip miring lagi jika tahu Ayeuna tinggal serumah dengan Damian.
Ayeuna langsung meraih ponselnya untuk memberitahu pengasuh Prasetya yang lain bahwa ia pulang telat karena ada jadwal kuliah. setelah itu, ia menghubungi Prasetya. memberikan pengertian pada anak itu agar mau bekerjasama dengannya. Ayeuna mengatakan jangan sampai Prasetya buka mulut jika Miss Ayeuna tinggal di sana. Anak itupun menurut, tentu dengan iming-iming coklat yang akan Ayeuna berikan jika ia pulang nanti.
Setelah urusannya selesai, wanita itu pun kembali melanjutkan tugasnya. Mengajari anak-anak di kelas sampai jam pulang tiba.
"Miss ayeuna tak langsung pulang? tanya miss Liana. mereka sama-sama berjalan keluar dari ruang guru. Waktu menunjukkan pukul 3.30 sore. Waktunya untuk para guru itu pulang setelah memastikan tak ada lagi anak-anak yang belum dijemput.
"Saya mau ke kampus dulu liana!"ucap Ayeuna
kampus adalah tujuan utama karena ia bisa menghabiskan waktu untuk sekedar membaca buku di perpustakaan atau bertemu dengan teman-temannya yang ada jadwal kelas hari ini.
"Kalau begitu ikut saya miss. Kebetulan rumah saya searah dengan kampusnya!"ajak mis Liana dengan ramah.
"Apa tak merepotkan miss? saya bisa naik taksi online,"ucap Ayeuna sungkan.
"Merepotkan apa sih? Ayo naik!"miss liana menekan tombol kunci mobilnya lalu mereka berdua pun masuk ke dalam mobil berwarna merah tersebut.
Miss Ayeuna boleh saja mengatakan sesuatu? wanita itu bertanya saat mereka telah melesat jauh dari sekolah
"Tentu miss, katakan saja! ada apa? tanya Ayeuna penasaran.
Miss Ayeuna harus berhati-hati dengan mis Jefania. Saya mendengar sendiri bahwa dia berniat menyingkirkan Miss Ayeuna untuk mendapatkan ayahnya Prasetya. Maaf saya mengatakan hal ini agar Miss Ayeuna selalu waspada terhadapnya
Ayeuna tertegun dengan penuturan dari rekan sesama pengajar itu. Ia tak menyangka bahwa jefania memiliki ambisi sebesar itu untuk mendapatkan Demian. Ayeuna sendiri tak peduli karena ia tak memiliki hubungan apa pun dengan pria itu.
Sepertinya Jefanya berpikir lain, wanita berwajah blasteran itu pasti nekat melakukan apapun demi mendapatkan apa yang dia mau .
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1