
Mami tidak tega Harus melihat Damian hanya disebutkan pekerjaannya. Lima tahun sudah dia menduda. Sepertinya itu sudah cukup baginya hidup sendiri. Mami kasihan kepada cucu kita Pi. Karena bagaimanapun Prasetya butuh figur seorang ibu."ucap Nyonya Julia Perez kepada tuan Gaston Perez dibalas anggukan dari tuan Gaston.
"Nanti kita akan bicarakan baik-baik dengan Damian. Kita akan mengikuti apa keinginannya. Kita hanya memberikan masukan kepadanya tanpa ada unsur pemaksaan. Tapi tidak mau kalau Damian akan tertekan dengan permintaan kita yang memaksakan kehendak.
Di tempat lain terlihat Ayeuna sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya yang diberikan oleh Mario kepadanya. Mario menatap Ayeuna dengan tatapan penuh tanya. Ia terlihat sangat santai mengerjakan pekerjaannya tanpa terlihat terbebani masalah yang ia hadapi. Padahal Mario tahu persis jika Ayeuna memiliki masalah yang sangat besar.
Ketika Ayeuna sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Ponsel milik Ayeuna terdengar jelas di telinga Mario dan juga Ayeuna tetapi Ayeuna memilih untuk mengabaikan panggilan itu.
Beberapa kali deringan ponsel itu berdering hingga Mario menghampiri Ayeuna dan meminta agar Ayeuna segera mengangkat sambungan telepon video call.
"lebih baik kamu angkat dulu teleponnya siapa tahu ada penting." ujar Mario kepada Ayeuna.
Ayeuna melirik ponselnya dengan sekilas. Alangkah terkejutnya Ayeuna ketika melihat di layar ponselnya, bahwa yang menghubungi dirinya adalah Prasetya. Melihat panggilan video call-nya dari Prasetya, Ayeuna langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
"Hallo Putra Mami yang tampan, Bagaimana kabarmu apa kamu baik-baik saja? Sapa Ayeuna dalam sambungan telepon video call nya.
"Prasetya sangat merindukan mami, apa Mami tidak merindukan Prasetya? tanya Prasetya sembari menatap layar ponselnya melihat Ayeuna di dalamnya
Prasetya ingin sekali langsung pergi ke Medan dan ketemu sama Ayeuna.
"Prasetya sangat merindukan mami."
"Mami juga sangat merindukanmu sayang, tapi kamu harus benar-benar sembuh dulu baru bisa datang ke Medan."ucap Ayeuna sambil mengembangkan senyumnya. Setelah selesai berbicara kepada Prasetya dalam sambungan video call ayeuna kembali mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
Mario menghampiri Ayeuna.
"Apa kau benar-benar menyayangi keponakanku?
"Ya aku sangat menyayanginya layaknya seperti putraku sendiri. Bahkan ketika aku meninggalkannya di rumah sakit separuh jiwaku seakan tinggal di sana.
" Entahlah mengapa aku bisa begitu dekat dengannya. Melihat anak itu sakit aku dapat merasakan sakit yang ada di tubuhnya. Jujur aku juga tidak bisa jauh darinya. Setiap hari pikiranku selalu kepada Prasetya. Aku terus khawatir terjadi sesuatu kepadanya. Seolah-olah Aku tidak percaya kepada orang lain yang menjaganya. Padahal mungkin Tuan damaian dapat mempekerjakan baby sister yang lebih handal menjaganya daripada aku. Tetapi Entah mengapa rasa khawatirku tetap ada."ucap Ayeuna dengan tulus.
"Tapi bagaimana dengan Papinya anak itu? Apa kau sangat membencinya? tanya Mario mulai mengorek-ngorek masalah pribadi Ayeuna dengan Damian.
"Terkadang masalah pribadi tidak bisa semua kita bicarakan dengan orang lain pak Mario, walaupun itu adalah orang terdekatnya. Untuk masalah tuan Damian bolehkah kita samping kan sekarang?karena aku hanya ingin membahas mengenai putraku selain itu aku no comment." ucap Ayeuna
"Tolong jujur kepadaku, Apa yang dilakukan kakakku kepadamu sehingga kamu sepertinya sangat membencinya?
Ayeuna tersenyum tipis dan menatap Mario seolah-olah dirinya ingin menertawakan pertanyaan Mario yang hanya itu-itu saja pertanyaannya.
"Sebenarnya Pak Mario ini pengen mengetahui kehidupan pribadi saya apa pengen mengetahui kehidupan pribadi Tuan Damian? tanya Ayeuna kepada Mario.
"Ingin dua-duanya. Kamu mau aku jujur?
"Tentu pak Mario!"
"Kalau boleh jujur Saya menginginkan kamu menjadi kakak ipar saya dan ibu sambung untuk Prasetya."ucap Mario to the point
__ADS_1
Ayeuna tertawa cengengesan seolah dirinya tidak percaya apa yang diungkapkan oleh Mario. Bahwasanya Mario menginginkan menjadi kakak iparnya. Ia tidak mengetahui hubungan antara Damian dan Ayeuna cukup rumit.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menerima kakakku?
Ayeuna menghela napas berat. Ia hanya menatap Mario dengan tatapan penuh tanya. Sejujurnya Ayeuna ingin sekali Jika dirinya menjadi maminya Prasetya. Tetapi karena kebenciannya kepada Damian membuat dirinya menjadi dilema. Apalagi sikap Arogant dan egois yang membuat Ayeuna kehilangan respek kepada Damian
"Siapa juga yang mau kepada laki-laki seperti dia, sikap Arogant dan egoisnya itu membuat aku tidak tahan. Hanya mementingkan diri sendiri benar-benar laki laki egois." gumam Ayeuna dalam hati.
"Sudahlah pak Mario tidak perlu kita membahas hal yang tidak penting seperti itu. lebih baik kita membahas pekerjaan kita sekarang daripada harus membahas yang itu-itu saja yang tak kunjung ada hasilnya." ucap Ayeuna sambil berkutat di depan laptopnya.
"Aku akan berjanji akan mempersatukan kalian kembali. Aku tidak akan mundur jika itu bisa membuat keponakanku bahagia." Gumam Mario dalam hati.
"Oh iya kalau sudah selesai nanti kita langsung pulang saja sepertinya kamu sudah lelah. Tapi kamu jangan lupa Besok kita ada meeting bersama klien kita di hotel JW. Aku ingin kita yang memenangkan tender itu."ucap Mario kepada Ayeuna.
Ayeuna menganggukkan kepalanya Ia pun berharap mereka memenangkan tender besar yang akan diadakan esok hari. Yang jauh-jauh hari sebelumnya Ayeuna sudah mempersiapkan berkas-berkasnya bersama Mario dan jajarannya.
Tuan Gaston sengaja mempercayakan perusahaannya yang ada di kota Medan kepada Mario agar Mario mandiri dan tidak tergantung kepada Damian.
"Aku akan tunjukkan kepada Papi. Kalau aku juga dapat menjalankan perusahaan dengan baik. Selama ini Papi selalu menganggapku tidak mampu karena Damian selalu ikut campur dalam menjalankan usahaku."gumam Mario yang bertekad ingin memenangkan tender besar yang akan diselenggarakan esok hari.
Bersambung......
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
jangan lupa like coment dan votenya ya