
Setelah Baby Catherine menghabiskan satu botol susu formula, yang sudah dibuat Tati sebelumnya, baby Catherine pun terlihat mulai tenang dan tertidur pulas. Di dalam box bayi yang disediakan oleh suster sebelumnya.
Ayeuna merasa lega setelah baby Catherine sudah tertidur pulas.Ia tinggal ingin menenangkan Prasetya agar Prasetya tidak merasa ketakutan lagi.
Mas sepertinya Putra kita benar-benar harus mendapatkan perhatian yang ekstra. Ayeuna tidak ingin Putraku kenapa-kenapa.
"Putra Mami yang tampan, Kamu tenang saja sayang. Kamu ada bersama mami Di Sini. Kamu jangan kwatir ada Papi dan Mami yang menjagamu."ucap Ayeuna kepada Prasetya Perez berusaha menenangkan Prasetya.
Tiba-tiba seorang dokter dan suster datang menghampiri Prasetya.
"Hai tampan,bagaimana keadaanmu sekarang Apa sudah baikan? tanya dokter dan suster ramah kepada Prasetya Perez sambil memeriksa kondisi kesehatan Prasetya Perez.
Prasetya Perez tampak tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Ayeuna dengan erat. Karena terlihat Prasetya sangat ketakutan.
"Bagaimana kondisi Putra saya dokter?" tanya Ayeuna kepada dokter yang bertugas memeriksa kondisi kesehatan Prasetya Perez.
"Kondisinya sudah mulai membaik. Tetapi sepertinya dia mengalami trauma. Hingga ia tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan orang lain. Selain Nona dan juga tuan." ucap dokter itu kepada Ayeuna.
"Apa yang harus kami lakukan dokter? agar Putraku tidak merasa trauma lagi?" tanya Ayeuna kepada dokter itu.
__ADS_1
"Kami berharap nyona dan Tuan memperhatikan Prasetya perez dengan ekstrak. Dan perlu juga berkonsultasi kepada dokter psikiater anak. Agar rasa trauma yang dirasakan Prasetya Perez saat ini, dapat diantisipasi. Mudah-mudahan Prasetya cepat pulih dari traumanya.
Ayeuna mengangguk paham apa yang dikatakan dokter itu berbeda dengan Damian. Anak saya tidak gila jadi tidak perlu dokter psikiater." ucap Damian dengan nada meninggi membuat dokter itu sangat terkejut mendengar suara bariton dari Damian.
"Kami tidak mengatakan Putra tuan gila, tetapi Putra Tuan Prasetya Perez mengalami trauma. Tidak semua anak yang diperiksakan ke dokter psikiater mengalami gangguan jiwa. Tetapi anak yang mendapat perlakuan yang tidak pantas, itu bisa mengakibatkan anak itu trauma dan itu perlu penanganan dokter psikiater.
Anda jangan salah paham tuan." ucap dokter itu berusaha ramah menjawab apa yang dikatakan Damian yang sudah penuh emosi.
"Mas, jangan salah paham. Maksud dokter itu baik.
Tidak semua orang yang dibawa ke dokter psikiater itu mengalami gangguan jiwa. Tetapi anak yang mengalami trauma juga dapat di pulih, jika kita berkonsultasi dengan dokter Psikiater" ucap Ayeuna berusaha menenangkan hati suaminya.
Ketika Ayeuna memberikan pengertian kepada suaminya. Damian langsung terdiam dan mulai memahami maksud dokter yang menangani Prasetya Perez. Ayeuna meminta maaf kepada dokter itu.
"Tidak apa apa nyonya, saya paham. Mungkin seandainya saya yang ada di posisi Nyonya dan Tuan, mungkin lebih sensitif dari pada Tuan dan Nyonya." ucap Dokter itu kepada Ayeuna sambil mengebangkan senyumnya.
Setelah selesai memeriksa memeriksa kondisi Prasetya dan memberikan masukan kepada Ayeuna, dokter itu berpamitan dan berlalu dari ruang rawat inap Prasetya. Mengingat masih ada beberapa pasien yang harus di periksa di rumah sakit itu.
Sepeninggalan dokter, Ayeuna memberikan dan memberikan suapan semua suapan kepada Prasetya perez, makanan yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit. Terlihat Prasetya sudah mulai memakan nasi yang diberikan Ayeuna.
__ADS_1
"Wah putra mami pintar dan jago makan." ucap Ayeuna, ketika Prasetya Perez memakan beberapa suapan nasi yang diberikan Ayeuna. Damian dan Ayeuna sudah mulai, merasa lega ketika Prasetya Perez sudah mulai berinteraksi dengan Ayeuna.
Ditempat lain, Saida sudah bersiap ingin menjenguk Prasetya Perez. Ia sudah menunggu Jonathan.
"Mas cepat dong kok lama bangat?" rengek Saida yang sedari tadi menunggu suaminya untuk menghantarkan Saida ke rumah sakit.
Jonathan justru asik bermain dengan baby Neptunus.
"Ya Allah mas, kok malah masih sini? Saida sedari tadi menunggu malah asik asik bermain sama Neptunus." pekik Saida yang melihat suaminya bermain dengan putranya. Padahal Ibu Amelia yang menemani putranya ketika Meraka pergi ke rumah sakit.
"Sabar kenapa sayang?
"Mas masih kangen sama putra kita." ucap jonathan sambil terus memberikan kecupan Demi Kecupan di wajah tampan baby Neptunus yang terlihat begitu menggemaskan baginya. Baby yang mencuri perhatian jonathan.
"Tapi nanti macet sayang!" ucap Saida kepada suaminya yang sedari tadi tidak ingin berpisah dengan Putranya. Saida menggelengkan kepalanya melihat suaminya tetap tidak ingin meninggalkan putranya.
Karena tidak ingin berdebat dengan isterinya, akhirnya Jonathan mengalah dan langsung berpamitan kepada Ibu Amelia ."Bu kami berangkat dulu, titip putraku baby Neptunus." ucap
Bersambung.....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih
JANGAN LUPA LIKE COMENT VOTE DAN HADIAH NYA YA.🙏🙏🙏🙏