
"Ehemmm."
demand terdengar dari arah belakang tubuhnya. wanita yang sedang berdiri di pembatas balkon itu menoleh. dibelakangnya nampak Damian menghampiri dirinya dan ikut berdiri di pagar pembatas itu.
ayeuna kembali menatap langit malam yang begitu cerah.* bintang yang berkelip indah dengan bulan yang menyempurnakan terangnya cahaya malam. wanita itu memandang lurus kedepan tanpa berniat untuk menyapa pria yang berdiri di sampingnya.
"Angin malam tidak baik untukmu!"ucap Damian dari kata-kata dinginnya. terdapat sebuah perhatian yang terbalut ucapan ketus dari pria itu.
ayeuna tak ingin menjawab. iya tetap bergeming dengan pandangan lurusnya. untuk beberapa saat, mereka saling terdiam. Damian menjadi sangat kikuk. iya baru pertama kali diabaikan seorang wanita tanpa bisa ia protes terhadap nya.
"Hemmm.... aku tahu jika kau yang meminta Prasetya dekat denganku!"sahut Damian akhirnya. iya hanya ingin sekedar berbasa-basi dengan wanita itu. sebenarnya ia ingin berterima kasih, tapi lidahnya begitu kelu untuk mengucapkan hal tersebut.
"baguslah jika kau sudah bisa menebaknya!"kalimat bernada ketuk itu membuat kami and tak senang. Entah mengapa akhir-akhir ini ayeuna menjadi sangat dingin padanya.
"kau tak perlu lakukan itu. Aku tak butuh dikasihani!"tanpa sadar dan ia mengatakan hal yang sebaliknya. itu sukses membuat ayeuna meliriknya sekilas lalu tersenyum kecut kepadanya.
"maka jangan pernah menyesal jika Prasetya lebih dekat denganku!"ucap ayeuna akhirnya.
"kau mengancamku, ayeuna?
"tidak, buat apa aku mengancam. Aku hanya ingin sedikit menjauh dari Prasetya, Agar suatu saat jika aku pergi anak itu tak akan sedih!"imbuhnya dengan mimik yang serius.
Damian langsung terdiam. pergi? Apa benar ayeuna akan pergi? pertanyaan tersebut mengusik pikirannya.
"Kau akan pergi?"
"iya, tentu. Prasetya sudah sembuh. tugasmu hanyalah tinggal mendekatkan diri dengan Prasetya. dia kurang perhatian darimu!"
Entah mengapa, ada perasaan Tak rela yang menyusup dalam sanubari pria itu.
"kau tak bisa pergi begitu saja! Bagaimana dengan kuliahmu? kau butuh banyak biaya kan?"Damian berharap ayeuna mengurungkan niatnya.
"itu urusanku. aku bisa membayar atau tidak Itu bukan urusanmu. Aku akan pergi secepatnya. dan secepat itu aku harap kau menemukan pengasuh yang kuat dengan hinaan dan cacian yang selalu terlontar dari bibir manismu.
penuturan bernada sindiran itu begitu menusuk hati. Damian tahu jika wanita itu sedang menyindirnya saat ini. apa separah itu luka hati yang telah damen torehkan padanya hingga ayeuna begitu ingin pergi secepatnya.
__ADS_1
"apa maumu, Nona ayeuna? tanya Damian.
"Aku hanya ingin pergi dari sini!"ujarnya dengan santai
"kau tak kasihan pada Prasetya?"
ayeuna bergeming. Bahkan ia lebih dari kasihan pada anak itu, tetapi ia juga sangat sayang. anak itu sudah membuat hati ayunan Lulu dan tertarik padanya. sebenarnya ayeuna sangat berat, berpisah dengan Prasetya. itulah yang membuat dilema saat ini.
"sudahlah. aku mau istirahat. masa cuti ku sudah habis untuk menjaga Prasetya rumah sakit. Besok aku harus kembali bekerja!"ujarnya sambil berjalan menjauh dari Damian yang masih mematung ditempat.
"kau wanita yang sulit diatur!"tak akan aku biarkan kau pergi begitu saja dari rumah ini!" tuturnya pelan
***
Jam menunjukkan pukul 7 pagi. ayeuna sedang menikmati sarapan pagi dengan Damian dan suasana yang hening. hanya di tikungan sendok dan garpu yang terdengar saling bersahutan. wanita itu masih saja bersikap dingin pada Damian.
"Bagaimana keadaan Prasetya? Apa dia sudah bisa masuk sekolah?"tanya Damian berbasa-basi.
"dia sudah sangat baik. aku menyarankan untuk proses penyembuhan yang total, Prasetya tak disarankan untuk beraktivitas dulu!"ucap wanita cantik yang kini sudah rapi dengan seragam guru berwarna biru tersebut.
"ada apa? apa Aku melakukan kesalahan?"tanya ayeuna saat ia menyadari bahwa pria itu sejak tadi memperhatikannya.
"Ehm, tidak. tidak apa-apa!"
keduanya pun melanjutkan kembali sarapan mereka. Ingin rasanya kembali mengobrol banyak dengan wanita itu. tapi ia sangat gengsi. sudah jelas ayeuna mengabaikan dirinya dan hanya menjawab seperlunya setiap pertanyaan yang ia lontarkan.
"good morning my honey!"dalam kecanggungan itu di bati-bati terdengar suara seorang wanita dari arah pintu utama. suara itu semakin mendekat hingga ayeuna tahu siapa pemilik suara serak basah yang sangat menggoda itu.
"Sania....? buat apa kau kemari?"Damian nampak tak senang. tapi meski begitu Ia tetap tersenyum menyambut kedatangannya.
"aku membawakan sesuatu untuk Prasetya. i'm sorry aku tak sempat menjenguknya ketika dia di rumah sakit!"ucap Sania dengan manja. wanita itu duduk di samping Daniel dan senyumnya memudar tatkala menyadari ada wanita lain yang sedang bersama calon tunangannya itu.
ekor matanya melirik ayeuna. Ia mengerenyitkan dahi heran. sepertinya ia pernah melihat wanita itu? dan mengapa wanita itu ada di rumah Damian seperti ini? pertanyaan itu berkecamuk dalam benaknya.
sementara ayeuna, wanita itu tetap santai menghabiskan makanannya. dia tersenyum singkat saat Shania menatapnya begitu jeli.
__ADS_1
"Mengapa ada perempuan itu di sini? apa dia juga menjenguk Prasetya?"tanya Sania
kini ia sudah ingat bahwa wanita yang duduk berhadapan dengannya itu adalah wanita yang pernah Damian bawa ke acara makan malam keluarga waktu itu.
"dia adalah guru nya Prasetya!"ujar Damian menjelaskan. ayeuna tersenyum Dalam Hati, tumben pria itu mengenalkan dirinya sebagai guru, tidak sebagai pengasuh.
"guru?"Sania Manggeryit tak percaya. wanita itu menelisik penampilan ayeuna yang sangat rapi. iya sedikit percaya Karena Ayuna mengenakan setelan kerjanya dengan name tag dan logo sekolah internasional tempat dirinya mengajar.
"lalu untuk apa dia di sini?"tatapan wanita cantik itu menjadi kurang bersahabat. tak ada lagi senyum menghiasi wajah cantiknya. ayeuna lihat, Sania sepertinya sangat kesal dan emosi pada wanita yang dikiranya akan merebut calon tunangannya tersebut.
"dia juga pengasuh pribadi Prasetya. so sudah jelas dia akan selalu ada di sini!"ucap Damian Perez.
ayeuna mencabik. baru saja ia memuji dalam hati karena Damian berkata baik tentangnya. sekarang, pria itu mengatakan dengan jujur bahwa ayeuna juga penghasilan pribadi di rumah ini.
"dasar pria menyebalkan. Tak bisakah dia berbohong sedikit saja untuk tak mengatakan bahwa aku adalah seorang pengasuh?"ayeuna terus mengumpat dalam hatinya dengan kesal.
Sania menarik sudut bibirnya. iya cemburu mengetahui kenyataan bahwa Damian memasukkan wanita asing ke dalam rumahnya, tapi dia juga puas dan lega. setidaknya wanita itu hanyalah seorang pembantu di rumah ini.
"oh, hanya pengasuh,"sindirnya dengan sinis.
"Damian, ayolah kapan kau ada waktu? Aku ingin kau menemaniku mencari gaun terbaik untuk acara pertunangan kita nanti!"sahut Sania. Wanita itu sudah tak mempedulikan kehadiran ayeuna. baginya wanita pengasuh itu Tak ubahnya seperti butiran debu yang tak penting sama sekali. Ia berlendot manja pada Damian. namun pria itu, terlihat tak peduli menyantap makanannya.
Ayuna bangkit setelah menggosok mulutnya menggunakan tisu. lebih baik ya berangkat kerja daripada harus menjadi lalat pengganggu.
"tunggu!"kau mau ke mana?"Damien Perez menghentikan langkah ayeuna.
"Aku mau berangkat. ini awal masuk setelah cutiku. Aku tak ingin terlambat!" ujarnya dengan tegas. iya segera meraih tas yang teronggok di atas meja lalu berjalan keluar dari rumah itu tanpa mempedulikan panggilan Damian.
"sombong sekali wanita itu. sok kecantikan!"ucap Sania dengan kepala yang masih menyender di bahu Damian.
pria yang saat ini nampak gusar dan hatinya gamang itu tiba-tiba bangkit hingga membuat Sania terhuyung. iya berniat untuk mengejar ayeuna dan mengantarnya menuju tempatnya kerja.
melihat hal demikian, Sania yakin jika wanita itu penyebab dan niat berubah menjadi cuek padanya. iya mengepal tangannya geram. wajahnya memerah menatap kepergian Damian yang dengan tergesa nya berlari mengejar wanita itu.
"awas kau wanita sialan. Aku tak akan membiarkan wanita sepertimu merebut hati Damian. Damian Itu milikku!"
__ADS_1