Terjerat Cinta Duda Arogant

Terjerat Cinta Duda Arogant
BAB 267.TANGIS SAIDA


__ADS_3

Aurelin menatap suaminya dengan tatapan penuh arti. "Entahlah Mas, Aurelin pun bingung setiap kali Aurelin jauh dari Mas, rasa rindu terhadap mas begitu mendalam. Itu artinya, benar tebakan Mas. Kalau anak kita, ingin sekali selalu berada bersama Mas." sahut Aurelin sambil mengembangkan senyumnya. Ada rasa bahagia di hati Mario Perez mendengar apa yang diucapkan Aurelin kepadanya.


Mario Perez meraih tubuh istrinya kepelukannya. Lalu ia mengelus perut Aurelin yang masih terlihat rata. Semoga anak kita jika perempuan cantiknya seperti kamu dan jika laki-laki tampannya seperti Mas." ucap Mario Perez kepada istrinya Aurelin.


"Ya pasti iya dong Mas, tidak mungkin juga mirip tetangga." sahut Aurelin Sambil tertawa cengengesan.


****


Sementara di tempat lain, tepatnya di kota Jakarta. Ibu Amelia terhenyak mendengar mendengar kabar Kalau suaminya berada di rumah sakit. Karena mengalami serangan jantung. Hal itu membuat Ibu Amelia Langsung menangis histeris. Ibu Amelia tidak dapat menopang bobot tubuhnya ketika mendengar kabar tentang suaminya.


Salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah keluarga Ibu Amelia dan Pak walson menghubungi nomor ponsel Saida. Berharap sambungan telepon selulernya tersambung kepada Saidah


Kring...


Kring....


Kring....


Suara deringan ponsel milik Saida terdengar jelas di telinganya. Ia melihat nomor ponsel milik salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Ibu Amelia yang menghubunginya. Saida mengerutkan keningnya, ia heran mengapa tiba-tiba asisten rumah tangga ayah dan ibunya menghubungi dirinya.


Karena penasaran, ingin mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh asisten rumah tangga itu, Saida menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada asisten rumah tangga itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bi, ada apa menghubungiku siang-siang seperti ini?" tanya Saida penuh selidik. Terlihat asisten rumah tangga itu sangat panik dan memberitahu kalau ibu Amelia jatuh pingsan.


Tetapi asisten rumah tangga itu tidak mengetahui Apa penyebab ibu Amelia jatuh pingsan. Yang pasti ia mengetahui Ibu Amelia jatuh pingsan, setelah menerima sambungan telepon seluler dari seseorang.


Mendengar kabar itu, Saida langsung menuju rumah yang selama ini ditempati Ibu Amelia dan Pak walson. Saida menitipkan baby Neptunus kepada baby sitter. Dengan menggunakan mobil yang sudah disediakan Jonathan untuk Saida, Saida meninggalkan rumah yang mereka tempati selama ini.


Tetapi sebelumnya Saida mengirimkan pesan Whatsapp kepada Jonathan. Kalau saat itu ia akan pergi ke rumah Ibu Amelia. Karena mendapat kabar Ibu Amelia jatuh pingsan. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit kemudian, Saida tiba di rumah yang ditempati oleh ibu Amelia.


Terlihat asisten rumah tangga yang bekerja di sana berusaha untuk menyadarkan Ibu Amelia. Saida langsung berlari menghampiri Ibu Amelia. "Ibu kenapa Bi? tanya Saida karena merasa heran melihat ibu Amelia sudah tidak sadarkan diri. lalu asisten rumah tangga itu memberitahu kepada Saida kalau ibu Amelia jatuh pingsan. Setelah menerima sambungan telepon seluler dari seseorang.


Saida berusaha untuk menyadarkan Ibu Amelia mengolesinya dengan minyak kayu putih, dan mengusap-usap telapak tangan dan telapak kaki Ibu Amelia. Hingga Ibu Amelia pun akhirnya tersadar dan langsung kembali menangis histeris.


"Mami kenapa? tanya Saida penuh selidik. Ibu Amelia langsung memeluk Saida. Papi kamu.... Papi kamu..., ucap Ibu Amelia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. "Memangnya kenapa dengan Papi mom?cerita sama Saida. Mohon Saida berharap Ibu Amelia memberitahu apa yang sebenarnya terjadi menimpa Pak walson.


Saida menangis histeris mendengar kabar itu. Lalu ia pun menghubungi nomor ponsel Jonathan berniat memberitahu apa yang dialami Pak walson saat ini. Saida meminta kepada Ibu Amelia, untuk segera bersiap pergi ke rumah sakit melihat kondisi Pak walson.


Ibu Amelia dan Saida akhirnya pergi ke rumah sakit, melihat kondisi Pak walson yang sedang dirawat di ruang ICU. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit, Saida dan ibu Amelia tiba di rumah sakit di mana Pak walson dirawat. Saida bertanya kepada salah satu suster yang bertugas di sana.


"Maaf suster, pasien atas nama Pak walson dirawat di mana ya? Tanya Saida dengan langkah tergesa-gesa. "Oh pasien atas nama Pak walson, sekarang berada di ruang ICU. Kalau boleh tahu anda siapa ya?" tanya Suster itu penuh selidik.


" Saya anaknya dan ini Ibu saya." sahut Saida sambil melihat ke arah ruang ICU yang ditunjukkan oleh Suster itu. Suster itu menganggukkan kepalanya. lalu meminta kepada Ibu Amelia dan Saida agar lebih bersabar. Ibu Amelia dan Saida meninggalkan Suster itu begitu saja. Dan berniat melihat kondisi Pak walson yang sedang berada di ruang ICU.

__ADS_1


Tetapi pihak rumah sakit tidak mengizinkan mereka masuk saat ini karena jam besuk belum waktunya. Setelah melakukan negoisasi kepada pihak rumah sakit, akhirnya pihak rumah sakit mengizinkan Ibu Amelia dan Saida masuk melihat kondisi pak walson. Yang saat ini sedang mempertaruhkan nyawanya. Bertahan untuk hidup demi orang-orang yang menyayanginya.


Tangis Saida dan ibu Amelia pecah, ketika melihat Pak walson sudah tak berdaya. Padahal selama ini Ibu Amelia sama sekali tidak mengetahui kalau Pak walson mengalami penyakit jantung.Membuat Ibu Amelia sedikit heran penyakit yang menimpa suaminya hari ini.


****


Sementara di tempat lain Jonathan yang mendapat kabar dari Saida,Kalau Pak Walson saat ini, berada di rumah sakit,Jonathan langsung menuju Rumah Sakit tempat di mana Pak walson dirawat.


Terlihat suster dan dokter menghampiri Ibu Amelia dan Saida yang sedang berada di ruang ICU. Sejujurnya dokter tidak yakin kalau Pak walson dapat bertahan. Tetapi dokter terus berusaha untuk menyelamatkan Pak walson. Denyut nadi Pak Walson semakin melemah. Membuat Saida dan ibu Amelia semakin mengkhawatirkan kondisi Pak Walson.


dokter menggelengkan kepalanya terlihat di layar monitor sudah lurus lurus itu artinya denyut nadi Pak walson sudah berhenti. suara teriakan Ibu Amelia dan Saidah semakin menggema di seisi ruangan. dokter itu menggelengkan kepalanya lalu meminta maaf kepada Ibu Amelia kalau mereka tidak berhasil menyelamatkan Pak walson.


"Maaf Bu, Pak walson sudah tiada. Yang sabar ya Bu." ucap dokter itu kepada Ibu Amelia dan Saida. Ibu Amelia tidak percaya begitu saja. Ibu Amelia berusaha membangunkan suaminya. "Mas bangun mas..... mas bangun......, jangan biarkan Amelia sendiri.


"Mengapa kamu terlalu cepat meninggalkan aku Mas." tangis Ibu Amelia sambil terus menangis sesunggukan. "Yang sabar bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi Tuhan berkehendak lain." ucap dokter itu sambil menutup tubuh Pak walson.


Jeritan tangis Saida semakin pecah ketika dokter menutup tubuh Pak walson. Jangan kamu tutup, Papi saya!" Papi saya masih hidup." tangis Saida memohon kepada dokter itu untuk tidak melepas alat-alat yang tersambung ke tubuh Pak walson, dan juga tidak menutup tubuh Pak walson.


BERSAMBUNG......


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏


JANGAN LUPA FOLLOW OUTHOR MORATA KARNA AKAN ADA GIVEAWAY DI SANA AKHIR BULAN


__ADS_2