Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 99


__ADS_3

Inuyasha berdiri tidak tahu harus melakukan apa dengan Shiro yang ketakutan di sampingnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi, dia bisa melihat jelaskan kekacauan di depannya. Disampingnya juga, Miroku dan Sango berdiri, dengan anak-anak mereka yang juga ketakutan mengintip keluar dari belakang kaki mereka.


Kiri dan Kira, dua saudara kembar dari barat juga ada di sana. Mereka berdua berdiri dengan wajah mereka yang tidak berekspresi, walau mata mereka berkata lain–ketakutan yang luar biasa terpancar jelas.


Inuyasha menatap Miroku dan Sango yang berwajah pucat, dia ingin bertanya apa yang terjadi, tapi, dia tidak menemukan suaranya. Beberapa menit yang lalu, dia yang tidur di atas atap kamar tidur Sesshoumaru dan Rin, tiba-tiba mendengar suara teriakan ketakutan mereka yang ada di bawah, dan saat dia meloncat turun ke bawah, mata emasnya menemukan Rin yang tidak sadarkan diri di atas tanah.


Mengendong masuk Rin dengan segera ke dalam kamarnya, Sesshoumaru tiba-tiba muncul di depan mereka, dan Inuyasha yakin, dia tidak akan dapat melupakan ekspresi kakak seayahnya itu untuk seumur hidupnya.


Wajah yang selalu tenang dan tanpa ekspresi itu terlihat sangat berbeda. Mata emas tajam yang biasanya tanpa emosi memancarkan jelas satu emosi saat itu; ketakutan.


Menoleh wajahnya lagi, Inuyasha kemudian menatap Sesshoumaru dan Kagome yang berada di samping Rin. Inuyoukai itu tidak bergerak, dia duduk di samping futon di mana Rin berbaring dengan Kagome yang terus memompa jantung wanita yang tidak sadarkan diri menggunakan tangannya.


"Ayo, Rin-chan!! Berdetak!! Bernapaslah!!" teriak Kagome panik. Air mata telah mengalir turun di kedua pipinya. Rasa takut yang luar biasa memenuhi hatinya.


Kagome benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, beberapa menit yang lalu, Rin masih tersenyum dan tertawa padanya, wanita manusia ini masih berjalan dan sehat-sehat saja. Namun, tiba-tiba saja–dia pingsan.


Badannya yang hangat dengan seketika menjadi dingin seperti es. Namun, yang paling menakutkan adalah, napasnya yang perlahan semakin pendek serta detakan jantung yang semakin lemah dan lemah, hingga akhirnya–berhenti.


"Kumohon, Rin!! Berdetaklah!!!"


Sesshoumaru yang berada di samping Kagome tidak mengatakan sepatah katapun. Menyentuh tangan mungil sedingin es dari wanita yang dicintainya, inuyoukai itu tidak mempedulikan teriakan yang terus berusaha memompa jantung Rin yang tidak sadarkan diri dengan tangannya.


Rin berbaring di depannya, di atas futon. Dengan kedua mata tertutup dan wajah yang pucat pasi. Dengan indra pendengarannya yang tajam, dia tidak bisa mendengar detak jantung wanita manusia yang seharusnya berdetak seirama dengan jantungnya.


Sakit, tapi dia tidak terluka. Jantungnya berdetak, tapi Sesshoumaru merasakan sesuatu yang salah, seakan ada bagian dari dirinya yang telah terampas darinya.


'Sesshoumaru-sama'


Wajah yang tersenyum memanggil namanya, suara yang indah bagaikan dentingan lonceng–musim semi abadi dalam hidupnya


'Menurut anda, anak kita laki-laki atau perempuan, Sesshoumaru-sama?'


Kehangatan yang memenuhi seluruh relung hatinya saat dia menyentuh perut rata Rin, berharganya anak dalam rahim–hartanya yang tidak ternilai.


Apakah dia akan kehilangan mereka bersamaan?–tidak! Dia tidak ingin kehilangan mereka, tidak untuk hari ini, tidak juga untuk besok! Selamanya, Sesshoumaru tidak ingin kehilangan mereka!


"Rin.." panggil Sesshoumaru. Suaranya sangat rendah, tapi penuh dengan emosi yang tidak dapat dijelaskan. "Buka matamu."


Tangan Sesshoumaru kemudian mendekati wajah Rin. Kemarahan yang tidak terbendung seketika memenuhi wajahnya. Kedua mata emasnya berubah menjadi merah sekarang, "Sesshoumaru ini memerintahmu membuka mata sekarang!!!!"


Suara Sesshoumaru yang keras dan menakutkan memenuhi kamar. Lalu, bersamaan dengan suaranya, tiba-tiba saja, meido seki yang tidak pernah terlepaskan dari Rin bersinar.


Sinarnya yang sangat terang dan kuat mendorong Kagome yang ada di samping Rin hingga terpental ke belakang. "Kya!!!!"


Inuyasha bergerak cepat, melihat Kagome yang terpental, dia segera menangkapnya, "Kau tidak apa-apa, Kagome?" tanyanya khawatir.


"Aku tidak apa-apa." Kagome segera menggeleng kepala. Namun, dengan segera juga, dia kembali menolehkan wajahnya pada Rin dan juga Sesshoumaru.


Cahaya meido seki yang kuat mementalkan Kagome ke belakang. Namun anehnya, cahaya itu tidak mementalkan Sesshoumaru. Inuyoukai itu masih berada di posisinya.


Perlahan, cahaya meido seki meredup, dan saat cahaya itu hilang sepenuhnya, Sesshoumaru bisa mendengar kembali suara detak jantung Rin yang seirama dengannya, dan juga detakan pelan dan kecil pada–meido seki.


"Sesshoumaru-sama..."


Suara yang pelan memanggil namanya, membuat mata merah dan ekspresi kemarahan di wajah Sesshoumaru kembali seperti biasanya. Perasaan lega yang luar biasa segera memenuhi hati penguasa tanah barat. Di hadapannya, mata coklat jernih itu telah terbuka kembali, dengan seulas senyum indah walaupun lemah di wajahnya.


"Rin mendengarkan perintah anda.."


....xOxOx....


Dalam hutan yang tidak begitu jauh dari keramaian, Shippo, seorang youkai rubah berjalan riang. Senyum tawa menghiasi wajah, dan rasa puas memenuhi hatinya melihat langit senja kemerahan.

__ADS_1


Dia baru saja berhasil menguasai satu jurus baru yang sangat kuat. Tidak sia-sia dia mengembara sendirian dalam beberapa tahun ini semenjak kehancuran Naraku. Mungkin tidak lama lagi, dia bahkan dapat mengalahkan Inuyasha yang berpikiran sempit itu dengan kedua tangannya sendiri.


"Hahahahaha," berhenti berjalan. Shipo kemudian tertawa sendiri. Dia tidak bisa menahan emosinya lagi saat membayangkan Inuyasha yang terkapar di depannya. "Tunggulah Shippo yang hebat ini Inuyasha!!!"


Tawa Shippo bergema memenuhi hutan. Namun, gerakan di balik semak-semak disampingnya tiba-tiba mengejutkan dirinya. Meloncat menjauh, tawanya menghilang digantikan kewaspadaan dan ketakutan.


"S-siapa di situ??" tanya Shippo keras dengan suaranya yang bergetar. Ketakutan memenuhi hatinya, apakah ada youkai berbahaya yang mengincar nyawanya di sana?


Tidak ada jawaban dari pertanyaan yang dilontarkannya, dan Shippo juga bisa melihat semak-semak itu telah berhenti bergerak.


Memberanikan diri, Shippo berjalan mendekati semak-semak itu pelan. Kewaspadaan tetap ada dalam dirinya. "Siapa kau?? Sebelum aku menyerangmu, tunjukkan dirimu!!"


"J-jangan menyerang kami," balas suara seorang gadis kecil tiba-tiba dari balik semak-semak. "Kami keluar sekarang.."


Berdiri di tempat, Shipo kemudian melihat dua orang gadis kecil berpenampilan seperti anak berusia tujuh dan enam tahun berjalan keluar. Sekali lihat, youkai rubah itu tahu, kedua gadis kecil di depannya adalah youkai. Dari mata merah, kulit putih pucat dan telinga runcing–mereka.


Tapi, yang membuat Shippo bingung adalah ketakutan dan juga luka di seluruh tubuh mereka yang bergetar ketakutan. "Siapa kalian? Kenapa kalian terluka seperti ini?"


"K-kami adalah youkai dari klan tikus putih dari netral," jawab gadis kecil yang lebih besar terbata-bata. Mata merahnya mengalirkan air mata yang tidak berkesudahan. "D-desa kami diserang manusia. Kami satu-satunya yang berhasil menyelamatkan diri.."


....xOxOx....


Dalam ruang kerja Sesshoumaru, inuyoukai penguasa tanah barat itu berdiri menatap keluar pada langit senja yang sudah mulai menjadi malam. Di belakangnya, Inuyasha, Kagome, Jinenji dan Inukimi berdiri dalam diam.


"Jelaskan pada Sesshoumaru ini, apa yang terjadi pada Rin."


Suara Sesshoumaru tetap tenang dan datar. Tapi, kengerian yang terkandung membuat Kagome dan Jinenji yang mendengarnya merinding karena ketakutan. Hanya Inuyasha dan Inukimi yang masih dapat menguasai diri mereka.


"H-hamba tidak tahu bagaimana menjelaskannya," jawab Jinenji terbata-bata. Hanyou itu menatap sosok Sesshoumaru dengan badannya yang gemetaran. "Rin-sama selalu sehat selama hamba memeriksanya."


"Jadi?" tanya Sesshoumaru lagi. Perlahan, dia membalikkan badannya dan menatap lekat Jinenji. "Kau tidak memiliki penjelasan untuk Sesshoumaru ini?"


Jinenji langsung berlutut dengan badan yang bergemetaran hebat. Wajahnya yang pucat pasi penuh ketakutan. Pandangan mata penguasa tanah barat itu sekarang sungguh menakutkan. "M-maafkan hamba,  Sesshoumaru-sama!!"


"Jadi?" tanya Sesshoumaru lagi. Ucapan Kagome sama sekali tidak memiliki efek apapun bagi inuyoukai itu, dan itu membuat miko masa depan itu menjadi panik. Sesshoumaru terlihat sangat tenang, tapi juga sekaligus sangat mengerikan. Ini adalah pertama kali dia melihatnya seperti ini.


"Hei, berengsek!!" suara teriakan penuh kekesalan Inuyasha tiba-tiba terdengar. "Sekarang bukan saatnya kau bersikap seperti ini!!"


"Putra Taisho benar, Sesshoumaru," tambah Inukimi. Wajahnya datar seperti biasa, namun kedua matanya juga berisikan kekhawatiran. "Yang bisa kita lakukan sekarang adalah fokus untuk mengembalikan kesehatannya Rin kecil."


Sesshoumaru diam membisu mendengar ucapan Inukimi. Dia tahu, apa yang dikatakan ibu kandungnya benar, yang menjadi fokus utama mereka sekarang adalah mengembalikan kesehatan Rin.


Menutup mata, dia kemudian menarik napas dan berusaha mengontrol emosinya. Membuka mata lagi, dia menatap Jinenji lagi. "Bagaimana kondisi anak dalam kandungan Rin?"


"Anak dalam kandungan Rin-sama tidak apa-apa," jawab Jinenji cepat. "Hamba sudah memeriksanya dengan saksama, anak dalam kandungan sangat sehat."


"Iya, kakak," tambah Kagome. Hal yang paling disyukurinya dari kejadian mengerikan yang terjadi adalah bahwa anak dalam kandungan Rin tidak apa-apa. Anak itu tetap sehat meskipun jantung ibunya sempat terhenti beberapa saat. "Meski keadaan Rin-chan tidak begitu bagus, anak kalian sangat sehat."


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa mendengar jawaban Jinenji dan Kagome. Diam membisu, dia kemudian menoleh wajahnya menatap Inukimi. "Meido seki yang kembali bersinar dan berdetak, kau tahu apa artinya, ibunda?"


Inukimi tidak menjawab pertanyaan Sesshoumaru. Dia yang berada dalam perpustakaan tidak berada di tempat kejadian saat meido seki bersinar dan mulai berdetak kembali. Jadi, dia tidak berani membuat kesimpulan.


Hampir tiga bulan lebih telah berlalu semenjak dia mengurung diri dalam perpustakaan, dan sampai detik ini juga, Inukimi tidak menemukan jawaban kenapa meido seki berdetak. Catatan panjang berusia ribuan tahun dalam keluarga mereka, tidak pernah menuliskan bahwa dia bisa berdetak–ini adalah yang pertama kalinya.


Menghela napas, Inukimi kemudian menjawab pelan. "Aku tidak tahu, Sesshoumaru. Kita hanya bisa melihat keadaan.."


....xOxOx....


Shui tersenyum bahagia menatap langit malam dari jendela kamarnya. Bintang dan bulan sabit yang bersinar di atas langit sangat disukainya, terlebih lagi bulan sabit yang merupakan lambang dari keluarga inuyoukai penguasa tanah barat.


"Shui-sama," panggil seorang youkai tua yang berlutut menyembah pada Shui. Dia berpenampilan seperti seorang kakek manusia berusia lanjut, dengan janggut putih dan mata berwarna merah. Namun, badannya itu penuh dengan luka. "Tolong berikan keadilan pada klan tikus putih!!"

__ADS_1


Shui menoleh kepala ke belakang dan menatap kakek tua tersebut dalam diam. Ekspresi penuh kekhawatiran memenuhi wajahnya, menggantikan senyum bahagianya barusan. "Ada apa?"


"Shui-sama," panggil kakek tua itu lagi. Kesedihan terpancar dari wajahnya. Air mata mengalir turun tidak terhentikan dari sepasang mata merahnya. "Sekelompok youkai yang menyamar menjadi manusia tiba-tiba menyerang desa kami! Mereka memburu dan membunuh anggota klan kami!! Tolonglah berikan keadilan untuk kami!!"


Klan tikus putih adalah klan youkai dari daerah netral. Mereka adalah klan kecil dan lemah, di mana mereka lebih memilih hidup damai dan tersembunyi. Tapi, tidak tahu kenapa, youkai yang menyamar menjadi manusia tiba-tiba muncul dan menghancurkan mereka.


Youkai tua ini adalah tetua dari klan tikus putih. Di usianya yang sudah tua, dia melihat sendiri klannya diburu dan dibantai, desa mereka dibakar dan dihancurkan–dia tidak bisa melakukan apa-apa selain meminta bantuan dari Shui, sang terhormat dari youkai netral. Siapapun youkai yang menyamar menjadi manusia dan menyerang mereka, dia menginginkan mereka semua mati!


Shui segera berjalan mendekati kakek tua itu. Mebungkuk ke bawah, dia segera menggerakkan kedua tangannya membantu youkai tua itu berdiri. "Tenanglah, apakah selainmu ada anggota klanmu yang selamat?" tanyanya pelan.


Youkai tua itu menggeleng kepala. Air matanya menjadi semakin deras, begitu juga dengan isak tangisnya. "T-tidak. Hanya aku seorang yang selamat..."


"Begitu ya.." ujar Shui pelan penuh pengertian.


"Shui-sama, anda harus memberikan keadi–ughh.." ucapan youkai tua itu tidak terselesaikan. Rasa sakit yang luar biasa menyerang dirinya. Saat dia sadar akan apa yang terjadi, dia melihat tangan Shui yang ada di depannya telah melubangi dadanya–mencabut keluar jantungnya.


"K-kenapa.." terbata-bata dan ambruk ke bawah belumuran darah, mata youkai tua itu penuh kebingungan. "S-shui-sama..."


"Klan tikus putih hancur di tangan manusia, bukan di tangan youkai.." Tawa Shui gembira. Mata putihnya berbinar bahagia melihat keberadaan youkai tua yang terkejut dan kebingungan di bawahnya perlahan menghilang dari dunia ini.


Mengangkat kepala jantung yang berdetak di tangannya, Shui kemudian meremasnya hingga hancur. Melihat darah merah yang mengalir di tangannya, seulas senyum lebar memenuhi wajah cantiknya.


Senyum dan tawa seorang wanita manusia yang sangat manis melintas dalam pikirannya. Membuat hatinya terasa hangat dan gembira.


"Ah," mendesah pelan, Shui kembali tertawa. "Indahnya merah darahmu, pasti lebih indah dari merah darah ini, Rin..."


....xOxOx....


"Sesshoumaru-sama.." Rin memanggil pelan Sesshoumaru yang berjalan memasuki kamar mereka. Di atas futon, wanita manusia itu duduk dan tersenyum dengan wajahnya yang pucat.


"Sesshoumaru-sama." Kiri, Kira, serta Rei dan Rika yang menemani Rin di dalam kamar segera berlutut memberikan hormat pada inuyoukai penguasa tanah barat begitu melihatnya.


Sesshoumaru tidak membalas hormat mereka. Diam membisu dengan wajahnya yang datar, dia mendekati Rin. Berlutut ke bawah, kedua tangannya segera memeluk erat badan mungil itu. Memendamkan wajahnya pada celah leher wanita manusia itu, dia menghirup bau musim semi yang selalu dapat menenangkannya.


Kiri, Kira, Rei dan Rika segera mengundurkan diri dan melangkah keluar dari kamar penguasa melihat interaksi sepasang suami istri tersebut. Dalam diam, tanpa mengeluarkan bunyi sedikitpun, mereka menutup pintu shoji yang terbuka.


Rin yang dipeluk tiba-tiba oleh Sesshoumaru tertegun. Namun, sejenak kemudian dia menutup matanya. Pelukan yang hangat dan erat, pelukan kuat yang tidak tegoyahkan. Tapi, dia bisa merasakan kelegaan dan juga; ketakutan. "Sesshoumaru-sama.." panggilnya pelan.


Sesshoumaru tetap tidak menjawab panggilan Rin. Dia menutup matanya dan berusaha menenangkan dirinya–menenangkan ketakutan dalam hatinya.


Hari ini, dunia runtuh sesaat. Saat dia melihat wanita dalam pelukannya sekarang berhenti bernapas, saat dia tidak dapat lagi mendengar detak jantung yang seirama dengan jantungnya, Sesshoumaru tahu, apa itu–dunia yang berakhir.


Ketakutan yang luar biasa, sakit yang tidak tertahankan, kesendirian yang mengerikan, kehampaan yang tidak akan berujung–kehidupan yang tidak akan memiliki artinya lagi.


Hari ini, dia hampir kehilangan dua keberadaan yang tidak tergantikan dalam hidup panjangnya, dan dia–tidak bisa melakukan apa-apa. Dia yang kuat, hebat, berkuasa dan ditakuti semua yang ada di dunia baik youkai maupun manusia, tidak bisa melakukan apa-apa.


'Gadis kecil ini tidak akan dapat kau hidupkan ketiga kalinya.'


Dia tidak akan dapat menghidupkan Rin untuk ketiga kalinya. Tensaiga, pedang warisan ayahnya tidak akan dapat menyelamatkan hidup wanita yang dicintainya lagi. Meido seki warisan keluarganya juga tidak akan dapat digunakan lagi–kematian ketiga adalah kematian Rin yang sebenarnya.


Apakah dia siap jika kehilangan Rin dan anak mereka yang ada dalam kandungannya?–dia tidak siap, dan selamanya juga; dia tidak akan pernah siap.


Berharganya mereka, pentingnya mereka–mereka adalah segalanya bagi dirinya sekarang. Dia bersedia melakukan apapun untuk mereka, dia bersedia hancur, bersedia mati–dia hanya tidak bersedia kehilangan mereka.


Kebahagiaannya–kebahagiaan mereka yang begitu sempurna, begitu indah dan menakjubkan. Dia kira dia bisa mempertahankannya, tapi ternyata dia salah, kebahagiaan yang indah itu memiliki cacat–ada titik hitam menodai kebahagiaan mereka.


Untuk semua yang tidak pasti sekarang, untuk masa depan yang dia tidak tahu seperti apa–Sesshoumaru; takut.


"Tinggal," gumam Sesshoumaru pelan. Pelukannya semakin erat. "Tinggal. Sesshoumaru ini memerintahkan, jangan pernah pergi dari Sesshoumaru ini..."


Suara bisikan yang pelan. Perintah yang terucapkan dengan penuh pemaksaan, tapi Rin yang mendengar tahu, ini adalah permohonan–inuyoukai yang berharga diri begitu tinggi kini berlutut memeluknya erat, memohon pada seorang wanita manusia; tinggal dan jangan meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Menutup mata, Rin kemudian mengangkat kedua tangan membalas pelukan erat Sesshoumaru. "Iya, Rin akan tinggal. Rin dan anak kita tidak akan pernah meninggalkan Sesshoumaru-sama..."


....xOxO...


__ADS_2