![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Kau sudah dengar?" tanya seorang pria berkimono hitam pada temannya.
"Dengar apa?" tanya temannya kembali penuh kebingungan.
"Kisaki youkai tanah barat sedang mengandung." Jawab pria berkimono hitam itu cepat.
"Mengandung? Berarti anaknya adalah hanyou, kan? Kudengar kisaki youkai tanah barat seorang manusia." Balas temannya itu cepat.
"Iya, hanyou," balas pria berkimono hitam itu dan mengangguk kepala. Wajahnya kemudian berubah menjadi sangat serius. "Dan kau tahu artinya?"
"Maksudmu?" tanya temannya bingung. Tapi, ekspresi wajah pria berkimono hitam itu membuatnya merasa khawatir.
"Artinya, dia pasti mau melahirkan anaknya yang setengah youkai setengah manusia untuk menguasai youkai dan manusia bersamaan–anaknya ancaman bagi kita manusia."
....xOxOx....
Inuyasha tidak mengatakan apa-apa saat melihat Sesshoumaru berjalan melewatinya dan meninggalkan kamarnya dan Rin. Inuhanyou itu membuang muka tidak mempedulikan sifat dingin serta aura mengerikan yang dipancarkan penguasa tanah barat itu. Menurunkan pandangannya ke bawah, dia kemudian berusaha menenangkan Shiro, Mamoru, Aya dan Maya yang bersembunyi di belakangnya ketakutan karena kakak seayahnya tersebut.
Rin tidak mengatakan apa-apa melihat Sesshoumaru yang berjalan menjauh. Seulas senyum kecil memenuhi wajahnya. Sampai sekaranh, inuyoukai itu masih tidak mengijinkan dia melahirkan anak mereka. Tapi, setidaknya, inuyoukai itu tidak memaksanya meminum ramuan untuk menggugurkan anak mereka lagi.
Karena itu, kondisi antara mereka sekarang, Rin sudah menyukurinya. Sesshoumaru masih menemaninya tiap hari, walau selalu diam membisu, walau wajahnya masih penuh dengan kekacauan. Untuk pilihannya–Rin tidak bisa melakukan apa-apa.
Rin kemudian menoleh wajah menatap anak-anak. "Shiro-chan, Mamoru-chan, Aya-chan dan Maya-chan," panggilnya pelan sambil tersenyum. "Kemarilah.."
Para anak-anak segera berlari meninggalkan Inuyasha ke arah Rin yang duduk di atas futon. Senyum indah dan lembut kisaki tanah barat dengan segera membuat mereka melupakan ketakutan pada Sesshoumaru yang telah meninggalkan kamar.
"Rin-chan!!"
"Lin-chan!!"
"Ibu mertua!!"
Suara panggilan anak-anak segera memenuhi kamar, membuat Kagome yang ada di samping menghela napas dan menggeleng kepala. "Jangan lari dan jangan ribut."
Aya danMaya segera berhenti berlari mendengar ucapan Kagome. Diam membisu, mereka segera mengangguk kepala. Namun, tidak untuk Shiro dan Mamoru, mereka berdua tetap berlari ke samping Rin.
Mata Shiro menatap perut Rin yang telah membesar. Dia sesungguhnya sangat menantikan bayi dari bibi kesayangannya ini, terlebih lagi, semua orang mengatakan padanya bahwa bayi itu akan sama dengannya; seorang inuhanyou.
Takut-takut, Shiro kemudian mengangkat tangan kecilnya untuk menyentuh perut Rin. Seulas senyum memenuhi wajahnya saat dia berhasil menyentuh perut itu, menoleh pada Rin yang tertawa dengan tingkahnya, inuhanyou kecil itu bertanya pelan. "Kapan adik bayi lahir?"
"Masih sekitar lima bulan, Shiro," jawab Mamoru sambil menatap serius Shiro. "Dia istri masa depan Mamoru–kau tidak boleh merebutnya dariku, mengerti?"
"Ayah sudah bilang, bayi Rin-chan laki-laki," potong Aya sambil tersenyum menyeringai pada Mamoru. "Dia tidak akan menjadi istrimu."
"Tidak!" tolak Mamoru keras. Dia menatap balik Aya penuh kekesalan. "Perempuan. Bayi itu adalah istri masa depan Mamoru."
"Ayah tidak pernah salah," sela Maya sambil tertawa. "Jadi dia bukan istrimu! Istrimu di tempat lain, cari saja sendiri saat sudah besar nanti."
"Sudah-sudah, jangan bertengkar," relai Kagome melihat tingkah para anak-anak. Dua hari telah berlalu semenjak Miroku dan Sango meninggalkan istana tanah barat dan menyerahkan pengawasan ketiga anak mereka pada Inuyasha dan dirinya. Perlahan, mata hitam miko masa depan itu kemudian terarah pada inuhanyou yang duduk dengan tangan terlipat di dada tidak jauh dari mereka. "Inuyasha, tugasmu menjaga anak-anak, kan? Katakan sesuatu."
"Cih," berdecak tidak suka, Inuyasha membuang mukanya. "Itu bukan tugasku."
Rin tertawa dengan suaranya yang lemah. "Tidak apa-apa, Kagome-sama. Rin suka dengan keributan yang ada. Suasana jadi hidup."
Kagome menghela napas dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Duduk diam dia hanya dapat menatap Rin yang tertawa dan bercanda dengan Shiro, Mamoru, Aya serta Maya.
Hari ini, Kagome datang dan meminta Sesshoumaru keluar agar Rin bisa berinteraksi dengan anak-anak. Ibu hamil ini butuh mengganti suasana sekelilingnya untuk sementara. Keberadaan inuyoukai yang terus memancarkan aura menakutkan disampingnya, jelas bukan sesuatu yang bagus untuk kesehatan wanita manusia yang lemah ini.
Sesshoumaru tidak menolak permintaan Kagome. Dengan segera, dia keluar dari kamar setelah memastikan Rin baik-baik saja. Miko masa depan itu tahu, untuk sekarang, inuyoukai itu bersedia melakukan apapun demi kebaikan wanita yang dicintainya.
Pandangan Kagome kemudian jatuh pada perut Rin. Usia kandungannya itu baru dua bulan, tapi perutnya terlihat seperti lima bulan. Lalu, tidak peduli bagaimana dia, Jinenji dan Inukimi memeriksa, anak dalam kandungan itu tidak terdeteksi, seakan dia menghilang.
Perlahan pandangan mata Kagome kemudian naik dan terarah pada batu merah di dada Rin yang berdetak dengan tenang. Sebenarnya, baik dirinya maupun semua orang memiliki pemikiran bahwa keadaan anak dalam kandungannya sekarang adalah perbuatan meido seki. Tapi, mereka juga tidak berani sembarangan mengemukan pendapat mereka.
Mereka semua hanya dapat bersyukur, keadaan Rin tidak memburuk meskipun meido seki menunjukkan kekuatannya. Bersyukur meskipun mereka juga tidak tahu ke depannya akan seperti apa, sebab kehamilan Rin adalah kehamilan yang tidak dapat dipredeksi.
Inuyasha yang diam membisu, dengan perlahan, dia kemudian mengarahkan pandangannya pada Rin yang tertawa bersama anak-anak. Baginya, sejak hari kelahiran Shiro, wanita manusia itu adalah salah satu orang yang penting baginya–keluarganya; seseorang yang bagaikan adik perempuannya. Karena itulah, keadaan Rin sesungguhnya sangat mengkhawatirkannya.
Kehamilannya sekarang, Inuyasha tahu, tidak ada yang mendukungnya. Rin sendirian sekarang, tanpa ada seorangpun yang ada di pihaknya, tidak untuk teman, keluarga, dan juga; suaminya. Semua yang ada sampai sekarang masih berusaha meminta Rin mengugurkan anak dalam kandungannya. Namun, dia tetap pada pendirian akan melahirkannya. Tekadnya, keberaniannya–Inuyasha bertanya dalam hati, apakah wanita itu tidak takut?
Belum lagi, rumor yang beredar di dunia manusia. Kohaku telah menjelaskan semuanya dengan lengkap, dan Inuyasha benar-benar tidak mengerti kenapa rumor itu bisa ada. Persatuan antara youkai dan manusia, seorang daiyoukai dan wanita manusia–apakah itu persatuan yang tidak dijinkan?
Sesshoumaru dan Rin, seorang daiyoukai dan wanita manusia–Inuyasha, mau tidak mau teringat akan kedua orang tuanya; Inu No Taisho dan Izayoi.
Inuyasha tidak pernah tahu cerita akan kedua orang tuanya. Dia hanya tahu ibunya mencintai ayahnya, dan ayahnya mati karena melindungi ibunya serta dirinya yang baru lahir. Apakah keadaan dari ibu yang mengandungnya saat itu juga seperti ini? Dihina, dicaci dan direndahkan para manusia karena anaknya seorang hanyou?
Melihat Rin sekarang, Inuyasha selalu dapat melihat bayangan ibunya. Ibu yang selalu menatap penuh kasih sayang dan memeluknya meski dihina sanak saudara mereka–ibunya yang lembut. Apakah beliau pernah menyesali pilihan yang dipilihnya itu?
Lalu, ayahnya–apakah beliau tahu keadaan ibunya? Jika saja ayahnya tahu apa yang akan dilalui ibunya setelah dia tiada, apakah ayahnya masih akan berani bersama ibunya? Akankah mereka berpikir melahirkannya?
Inuyasha tahu, kisah Sesshoumaru dan Rin memang berbeda dari kisah Inu No Taisho dan Izayoi, tapi kisah mereka sama-sama merupakan kisah seorang daiyoukai penguasa tanah barat dan seorang wanita biasa–anak mereka. Apakah anak itu akan mengalami segala yang dia alami? Penderitaan seorang hanyou, hanya hanyoulah yang paling mengerti. Penolakan, pengasingan, penghinaan dan–kesendirian.
Sebagai hanyou, Inuyasha sadar, dia adalah hanyou yang sangat beruntung, karena dia bertemu dengan; Kagome. Wanita manusia yang menerima dirinya apa adanya, tidak pernah menolak ataupun mengasingkannya, selalu menghargai dan bersamanya.
Tapi untuk anak Sesshoumaru dan Rin, akankah ada Kagome kedua? Akankah anak itu menemukan seseorang yang seperti Kagome dan menerimanya apa adanya?–akankah anak itu bahagia di masa depannya? Mungkin memang sesungguhnya, untuk masa depan yang lebih baik–anak itu memang tidak pernah dilahirkan..
"Rin." panggil Inuyasha kemudian. Suaranya pelan, mata emasnya menatap lurus wanita manusia yang segera menoleh menatapnya.
"Ada apa, Inuyasha-sama?" tanya Rin pelan. Seulas senyum lembut mengembang di wajahnya.
"Kenapa?" tanya Inuyasha pelan. Senyum di wajah Rin sekarang, betapa senyum lembut itu mengingatkannya pada ibunya yang telah tiada. "Kenapa kau mau melahirkannya?"
"Inuyasha!!" potong Kagome panik dengan pertanyaan Inuyasha yang tiba-tiba. Kelahiran anaknya sekarang adalah masalah paling sensitif untuk dibahas. Bagaimana jika Rin panik lagi?
Namun, Inuyasha tidak peduli. Dia tetap melanjutkan ucapannya. Mata emasnya bersinar penuh kesedihan, suaranya meninggi. "Mungkin anak itu dan kau akan lebih bahagia jika tidak pernah dilahirkan!!"
Kagome terdiam, begitu juga dengan Shiro, Mamoru, Aya dan Maya yang tertawa. Mereka semua menoleh wajah pada Inuyasha yang terlihat sangat sedih.
"M-mungkin jika bisa memilih, anak itu akan lebih memilih untuk tidak dilahirkan..."
Rin tidak membalas ucapan Inuyasha. Tertegun, dia hanya menatap inuhanyou dalam diam. Tapi, sejenak kemudian, dia tersenyum.
Kenapa kau mau melahirkannya? Anak itu dan dirinya mungkin akan lebih bahagia jika anak itu tidak dilahirkan. Jika bisa memilih, mungkin anaknya akan lebih memilih tidak dilahirkan–pertanyaan dan ucapan Inuyasha, Rin mengerti.
Membuka selimut yang menutupi kakinya, Rin kemudian berdiri, mengejutkan Kagome dan Inuyasha bersamaan.
"Rin-chan!!" panggil Kagome terkejut. Kedua tangannya segera bergerak untuk membantu wanita manusia yang masih sangat lemah itu. Namun, tangan Rin menghentikannya. Dengan wajah yang masih tersenyum, dia menggeleng kepala.
__ADS_1
Perlahan, dalam tatapan semua yang ada dalam kamar, Rin kemudian berjalan mendekati Inuyasha yang kebingungan. Duduk di depan inuhanyou itu, mata coklat jernihnya menatap Inuyasha lembut. "Karena anda bahagia, Inuyasha-sama.."
"Eh?" Inuyasha tertegun mendengar jawaban Rin.
Rin tahu, pertanyaan Inuyasha bukan ditujukan padanya, bukan juga pilihan anaknya–pertanyaan itu, pilihan itu, ditujukan pada Izayoi dan dirinya sendiri.
Kisah Inu No Taisho dan Izayoi adalah kisah yang sangat terkenal di barat. Dia yang dibesarkan di istana tanah barat sering mendengar kisah cinta yang indah dan menyedihkan itu. Cinta seorang daiyoukai penguasa dan seorang putri manusia yang berakhir tragis.
Dulu, saat pertama kali dia mendengar cerita itu, dia juga merasa kisah itu kisah yang menyedihkan. Tapi, saat dia menyadari kehadiran anaknya dan Sesshoumaru dalam perut, saat dia melihat Inuyasha–dia tahu, kisah itu bukanlah kisah yang menyedihkan.
Kisah mereka yang dikatakan menyedihkan oleh semua orang adalah kisah permulaan dari kebahagiaan tiada batas dari seorang inuhanyou bernama; Inuyasha, putra mereka yang tercinta.
Saat kau menjadi seorang ibu, saat kau menjadi orang tua, kau akan tahu, tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain anakmu. Untuk kebahagiaan anakmu, segala penderitaan dan kepedihan yang kau lalui, semua itu akan terasa manis saat kau melihat senyumnya.
Mengangkat tangannya, Rin kemudian memeluk Inuyasha, membenamkan wajah inuhanyou itu pada dadanya. "Rin bukanlah Izayoi-sama, tapi Rin mengerti beliau. Beliau sangat-sangat mencintai anda, Inuyasha-sama."
Pelukan Rin dan ucapan lembutnya membuat Inuyasha tidak dapat bergerak.
"Izayoi-sama bahagia dengan pilihannya, Inuyasha-sama," lanjut Rin lagi lembut. "Melihat putra satu-satunya bahagia, beliau juga bahagia. Bersama Kagome-sama dan Shiro, anda bahagiakan, Inuyasha-sama?"
Air mata Inuyasha mengalir turun tanpa disadarinya saat merasakan kehangatan pelukan Rin, serta ucapan lembutnya. Menutup mata, dia diam membisu. Pelukan ini, dia kenal walau sudah bertahun-tahun berlalu–pelukan ibunya.
Wajah ibunya yang penuh kasih sayang, suara dan tawanya yang lembut, pelukannya yang damai–cintanya yang tulus.
Perlahan, Inuyasha mengangkat tangan membalas pelukan Rin. Hatinya sangat sakit, namun sekaligus; bahagia. Kenapa dia hampir melupakannya? Di dunia ini, ada orang yang selalu mencintainya. Orang yang akan selalu mendoakan dan mengharapkan kebahagiaannya, bersedia untuk menderita demi kebahagiaannya–betapa sesungguhnya dia beruntung karena telah dilahirkan.
Tertawa, Rin membiarkan Inuyasha memeluknya erat dalam isak tangisnya yang pelan. "Jangan khawatir, Inuyasha-sama," gumamnya pelan dan menepuk punggung inuhanyou itu pelan. "Anak Rin juga akan bahagia sebagaimana anda bahagia. Pilihan Rin adalah pilihan yang pling benar..."
Kagome berdiri tidak bergerak melihat Rin dan Inuyasha, tapi, dia mengerti sekarang. Pertanyaan Inuyasha–dia melihat bayangan ibunya dan dirinya sendiri pada Rin.
"I-ibu, ada apa? Ayah kenapa?" tanya Shiro bingung sambil menarik ujung baju Kagome.
Kagome tersenyum dan kemudian memeluk Shiro. "Ayah tidak apa-apa, dia hanya teringat pada nenekmu..."
Shiro masih tidak mengerti, tapi dia tidak bertanya lagi. Perlahan, pandangan Kagome jatuh pada anak-anak Sango dan Miroku yang juga diam membisu penuh kebingungan.
Anak.
Kata Rin benar, seorang ibu akan bahagia jika anak mereka bahagia. Kebahagiaan seorang anak adalah apa yang paling penting bagi seorang ibu–keinginan dan doa dari seorang wanita yang di panggil 'Ibu'.
Menghapus air matanya, Inuyasha kemudian melepaskan pelukannya. Menatap Rin yang tersenyum lembut, dia merasa wanita di depannya benar luar biasa. Dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa menghibur orang lain. Dia tidak berubah, dan tersenyum dengan damai–senyum seorang ibu yang kuat.
"Rin," panggil Inuyasha lagi. "Apakah kau tidak takut?"
Pertanyaan Inuyasha membuat Rin tertegun. Takut?–apakah dia takut? Pertanyaan ini, hanya ada satu jawabannya. Mengelus pelan perutnya, Rin tersenyum yang kemudian berubah menjadi sebuah tawa lembut. "Rin tidak boleh takut."
Dalam keadaannya sekarang, Rin tahu, dia harus membuang rasa takutnya. Untuk anaknya–dia tidak diijinkan untuk takut.
Inuyasha adalah orang yang tidak peka pada apapun. Namun, tidak untuk kali ini. Jawaban Rin, dia mengerti, karena dia juga merupakan orang tua; seorang ayah.
Berdiri, Inuyasha kemudian tersenyum dan tertawa. "Aku mengerti Rin."
Keputusan Rin, pilihan Rin, taruhannya–apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak? Inuyasha tahu sekarang. Untuk Rin yang begitu berharga, dia harus melakukan apa yang seharusnya dia lakukaan.
Membalikkan badannya, Inuyasha kemudian membuka pintu kamar dan berlari meninggalkan kamar, tidak peduli dengan Kagome yang panik dan berteriak memanggil namanya.
....xOxOx....
Sesshounaru ingin segera kembali pada Rin, ingin berada di samping wanita manusia dan juga–anak mereka. Dia ingin selalu memastikan mereka baik-baik saja.
Cinta akan membuatmu lemah dan musnah;cinta adalah kelemahan.
Sesshoumaru menutup mata emasnya. Sekarang, seberapa dia telah melemah? Kata itu memang benar, cintanya ada Rin dan anak mereka benar-benar telah melemahkannya. Dia telah jatuh dari puncak ke dasar terdalam–jatuh tanpa tahu lagi bagaimana cara untuk merangkak naik.
Suara langkah kaki yang keras tiba-tiba ditangkap telinga Sesshoumaru. Suara langkah kaki itu menuju ruang kerjanya, dan dia jug tahu siapa itu dari aura yang dirasakannya.
"Sesshoumaru!!!" suara teriakan Inuyasha yang keras tiba-tiba terdengar, bersamaan dengan suara pintu shoji yang terbuka.
Membuka mata, Sesshoumaru membalikkan badan menatap Inuyasha yang berdiri menatapnya penuh kemarahan. Pandangannya seketika berubah menjadi sangat tajam saat dia mencium bau Rin yang sangat kuat dari badan inuhanyou itu. Kenapa bau Rin menempel pada hanyou itu?
Namun, belum sempat Sesshoumaru mengatakan apa-apa, Inuyasha tiba-tiba berlari mendekatinya. Mengangkat tangannya, dia meninju wajah kakak seayahnya itu dengan sangat kuat.
Serangan Inuyasha yang tiba-tiba membuat Sesshoumaru jatuh ke atas lantai tatami. Kemarahan seketika memenuhi hatinya, tapi belum sempat dia melakukan apa-apa, inuhanyou itu telah duduk di atas badannya dan kembali meninju wajahnya.
"Berengsek!! Berengsek kau!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan.
Sesshoumaru yang terus ditinju Inuyasha kemudian menangkap kepalan tangan inuhanyou itu. Mata emasnya telah berubah menjadi merah, kedua ujung bibirnya terangkat memperlihatkan seringai kemarahan.
Inuyasha tidak peduli dengan kemarahan Sesshounaru. Menggerakkan kepalanya kuat, dia membentur kepala inuyoukai itu.
Serangan Inuyasha yang diluar dugaan membuat tangan Sesshoumaru yang menahan tangan inuhanyou itu terlepas. Dalam kebingungannya, tiba-tiba, adik seayahnya mencekeram erat kerah kimono yang dikenakannya.
"Kau tahu!! Semua orang boleh meminta Rin mengugurkan anak kalian!!! Tapi, kaulah satu-satunya yang tidak boleh, berengsek!!!!"
Teriakan Inuyasha seketika membuat Sesshoumaru tertegun. Mata merah darahnya kembali menjadi emas.
"Keputusan Rin, keinginannya, bahaya yang ingin dia lalui untuk anak kalian–kau seharusnya menghormatinya!!!!"
Kemarahan kembali memenuhi hati Sesshoumaru. Menatap Inuyasha, dia berteriak keras. "Bagaimana Sesshoumaru ini menghormati keputusannya?? Apa yang harus Sesshoumaru ini lakukan jika kehilangan Rin? Rin tidak dapat dihidupkan lagi!!"
"Kau takut, kan?" gumam Inuyasha pelan. Dia mematap Sesshoumaru dengan mata mereka yang identik. "Bagaimana dengan Rin? Apakah kau kira dia tidak takut dengan keputusannya?"
Sesshoumaru terdiam, kembali tertegun dengan pertanyaan Inuyasha.
"Kau membiarkan dia melalui semua ketakutan ini sendirian? Apakah itu benar? Suami apa kau ini?"
Rin yang selalu tersenyum, Rin yang selalu tertawa, Rin yang kuat dan selalu optimis, Rin yang percaya dirinya dan anaknya akan selamat–apakah dia tidak takut?
Tidak, dibalik semua itu, dibalik senyum tawa dan sifat optimisnya, dibalik kekuatan dan kepercaya diriannya–mungkin dia sesungguhnya adalah orang yang paling takut.
Tapi, untuk anaknya, dia memaksa diri untuk kuat–untuk tersenyum dan tertawa seakan semuanya baik-baik saja di depan semua orang yang menentang keputusannya. Dia yang baru berusia lima belas tahun, tapi, dia harus menghadapi kenyataan ini sendirian–betapa Rin sesungguhnya ketakutan, tapi tidak ada yang menyadarinya.
"Kau tidak akan dapat mengubah keputusannya, tapi, kau dapat menemaninya, bukan? Memberikannya kekuatan dan dukungan–jangan biarkan dia ketakutan sendirian."
Semua ucapan Inuyasha sangat menusuk hati Sesshoumaru, namun juga sekaligus menyadarkannya. Rin, Rinya–dia tidak pernah memikirkan ketakutannya, dia tidak pernah memikirkan seperti apa perasaan wanita itu, sebab–dia telah terperangkap dalam ketakutannya sendiri.
Dia selalu ada di sampingnya dan menemaminya, memastikan wanita manusia itu baik-baik saja. Tapi, diamnya dia, keinginan mengugurkan anak mereka yang tidak pernah berubah–Sesshoumaru pertama kali sadar; apa yang telah dia lakukan kepada Rin.
__ADS_1
"Kau akan segera menjadi seorang ayah, Sesshoumaru, " lanjut Inuyasha lagi. Dia tidak melepaskan cengkeraman kerah kimono Sesshoumaru sedikit pun. "Situasi kalian sekarang, kau harus lebih kuat dari Rin.."
Perasaan Sesshoumaru, Inuyasha sesungguhnya mengerti. Ketakutan akan kehilangan istri dan anak, dia pernah merasakannya saat situasi Kagome yang mengandung Shiro menjadi berat. Karena itu dia tahu, sebagai seorang suami, itu adalah saatnya dia harus lebih kuat.
"Aku berhasil melaluinya, dan kau yang lebih kuat dariku, kau yang merupakan kakak seayahku, juga pasti akan dapat melalui ini semua..."
Mata Sesshoumaru terbelalak mendengar ucapan Inuyasha. Bisa melalui ini semua?
Sesshoumaru-sama.
Wajah Rin yang memanggil namanya sambil tersenyum manis.
Menurut anda, anak kita laki-laki atau perempuan, Sesshoumaru-sama?
Rin yang mengelus lembut perut ratanya dengan seulas senyum penuh kasih sayang.
S-sesshoumaru-sama, Rin mohon padamu, biarkan Rin melahirkan anak kita.
Wajah Rin yang berlinang air mata dan berlutut memohon padanya.
Sesshoumaru-sama, kami tidak apa-apa, jangan khawatir...
Tangan yang mengelus pipinya lembut dan seulas senyum yang terus berusaha menenangkannya.
Sesshoumaru benar-benar tersadar, apa yang telah dilakukannya? Membiarkan satu-satunya wanita yang dicintainya melalui ini semua sendirian, suami apa dia? Bagaimana dia pantas untuk cinta tulus wanita manusia itu?
Inuyasha bisa melihat, ada secercah emosi di mata emas Sesshoumaru. Melepaskan cengkeraman tangannya, dia kemudian berdiri dan pindah ke samping inuyoukai itu. "Pergilah, Rin membutuhkanmu, kakak.."
Kakak seayahnya yang bodoh, kakak seayahnya yang lebih tidak peka darinya–ketakutan mereka yang mirip; ternyata mereka memang merupakan anak dari ayah yang sama.
Sesshoumaru bangkit berdiri, dia tidak menatap Inuyasha sedikitpun lagi. Menggerakkan segenap kekuatannya, dia berlari ke arah kamarnya dan Rin. Tidak dipedulikannya sedikitpun keberadaan Kagome yang tidak tahu sejak kapan ada di luar pintu ruang kerjanya yang terbuka.
Keheningan setelah kepergian Sesshoumaru, Kagome kemudian melangkah masuk ke dalam ruang kerja istana tanah barat dan tersenyum. "Kau menjadi bijaksana, Inuyasha."
"Cih," cibir Inuyasha kuat. Dia menatap Kagome tidak peduli. "Di mana anak-anak?"
"Aku meminta mereka kembali ke kamar terlebih dahulu," jawab Kagome dan bergerak memeluk Inuyasha. "Dan kau benar, Rin dan Kakak pasti bisa melewati ini semua seperti kita..."
Ucapan Inuyasha barusan, membuat dia sadar. Keputusan Rin, mereka seharusnya menghormatinya dan mendukungnya–mereka tidak seharusnya membuat keputusan untuk Rin dan anaknya.
Tertawa, Kagome mengeratkan pelukannnya. Ironis sekali, ternyata yang bisa melihat keadaan sekarang dengan tenang dan benar adalah–Inuyasha
Inuyasha tidak membalas ucapan Kagome lagi. Tapi, dia membalas pelukan istrinya itu dengan sama eratnya. Pandangannya kemudian terarah pada pintu yang terbuka. Ada perasaan aneh tapi hangat yang memenuhi hatinya. Larilah–kembalilah pada Rin, Sesshoumaru.
Seperti keluarga mereka yang baik-baik saja, keluarga Sesshoumaru juga pasti akan baik-baik saja–semuanya pasti akan baik-baik saja.
....xOxOx....
Rin mengelus pelan perutnya, ada khawatir dan kegelisahan dirasakannya. Dia tidak mengerti kenapa Inuaysha tiba-tiba berlari keluar dari kamar ini tadi, dan dia hanya bisa pasrah saat Kagome dan anak-anak kemudian keluar untuk memeriksa keadaan.
Apakah dia melakukan kesalahan? Tapi, wajah Inuyasha sama sekali tidak terlihat marah–Rin benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Namun, suara pintu yang terbuka keras tiba-tiba mengejutkannya.
Menoleh wajah ke arah pintu, Rin yang kini duduk di atas futon menemukan Sesshoumaru yang berjalan masuk mendekatinya. Rasa terkejut memenuhi hatinya, saat melihat luka di wajah inuyoukai itu.
"Sesshoumaru-sama, ada apa dengan wajah anda?" tanya Rin panik. Dia langsung berusaha bangkit. Tapi, sepasang tangan yang kokoh tiba-tiba memeluk erat dirinya.
"Sesshoumaru-sama.." panggil Rin bingung.
Sesshoumaru membenamkan wajahnya pada celah leher Rin. "Rin." panggilnya pelan. "Sesshoumaru ini ada untukmu.."
"Eh?" seru Rin semakin bingung.
"Jangan menanggung semuanya sendiri lagi," menutup matanya, Sesshoumaru mengeratkan pelukannya. "Rasa sakitmu, takutmu, biarkan Sesshoumaru menanggungnya bersamamu.."
Suami-istri.
Sesshoumaru sadar sekarang. Ikatan itu bukanlah sekadar aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Dalam perjalanan sepasang suami-istri, perbedaan pendapat dan perselisihan pasti ada, dan saat itulah, ikatan yang terjalin akan diuji. Apakah kalian bisa melaluinya bersama atau kalian akan terperangkap dalam ego masing-masing.
Inuyasha benar, suami apa dia? Dia terperangkap dalam ketakutannya, pada egonya untuk memimpin. Sesshoumaru pada hari dia menikahi Rin, dia mengatakan wanita itu adalah kisaki-nya, seseorang yang setara dengannya. Tapi, dia tidak mau mendengarkan dan memaklumi pilihannya. Dia membiarkan Rin sendirian melawan dunia, melawan semua orang termasuk dirinya karena dia ingin melahirkan anak mereka.
Kesedihan dan ketakutan, Sesshoumaru membiarkan Rin menghadapinya sendiri. Pilihan Rin, walau sangat menyakitkan, dia seharusnya memakluminya, menghormati, mendukung dan memberi semangat–karena Rin adalah istrinya.
"Sesshoumaru ini percaya padamu, lahirkanlah anak kita dan hidup..."
Mata Rin terbelalak mendengar apa yang diucapkan Sesshoumaru. Ucapan inuyoukai itu bahkan hampir tidak dipercayai Rin. Badannya bergetar, rasa sesak memenuhi hatinya, dan–air mata mengalir turun menuruni wajahnya.
Sedih dan takut–menangungnya bersama.
Kata-kata itu, betapa berartinya kata itu baginya. Kesedihan dan ketakutannya yang tidak berani ditunjukkannya, Sesshoumaru mau menanggungnya bersama?
lalu–percaya, lahirkan dan hidup.
Rin tidak bisa menahan semua yang ada dalam hatinya lagi, dia menangis keras.
"Iya, iya, iya, iya," ulang Rin terus dalam tangisnya. Dengan tangan bergetar dia membalas pelukan Sesshoumaru. "Rin akan melahirkannya, anak kita akan hidup!! Rin akan hidup!!"
Tangisnya yang pecah serta air matanya yang jatuh, itu semua bagaikan membawa keluar segala kesedihan dan ketakutan dalam hatinya.
Rin tidak tahu apa yangvsesungguhnya terjadi, tapi dia tahu, Sesshoumaru akhirnya mengerti. Dia akhirnya percaya dan mengijinkan anak mereka dilahirkan–itu adalah apa yang sesungguhnya paling dibutuhkan dirinya.
Sesshoumaru akan menemaninya. Rin tahu, dia tidak sendirian lagi, untuk anak mereka, untuk masa depan yang ada–Sesshoumaru akhirnya bersedia menghadapi itu semua bersama dengan dirinya.
"Kami akan hidup!!"
....xOxOx....
Akiko tersenyum menatap Asano, ayah kandungnya. Duduk dalam salah satu kamar di istana tanah timur, kedua ayah-anak itu sedang bermain catur go.
"Ayahanda sudah mendengar rumor yang beredar di dunia manusia?" tanya Akiko pelan. Tangannya meletakkan sebuah bidak catur go berwarna putih pada papan go.
"Hmnn, langkah yang bagus. Kau bisa membalikkan keadaanmu yang terdesak," puji Asano, penguasa tanah timur sambil tersenyum. Mengambil bidak hitam, dia kembali mengubah keadaan papan catur yang tidak menguntungkannya lagi. Seulas senyum mengembang di wajahnya. "Rumor apa, aku tidak tahu?"
Akiko tertawa mendengar ucapan Asano. Dia kembali meletakan bidak catur putih di papan go. "Tidak apa-apa jika anda tidak tahu, Ayahanda."
"Rumor apapun juga di dunia manusia, itu semua tidak ada kaitan dengan kita, timur," mengerakkan tangannya, Asano berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan langkah yang harus diambilnya pada papan go. "Tapi, apa kau sudah mendengar rumor kehamilan kisaki tanah barat?"
Senyum Akiko semakin lebar mendengar pertanyaan ayahnya. Mata birunya berkilau gembira dalam ruangan yang hanya diterangi lampu minyak. "Tentu sudah, Ayahanda."
__ADS_1
"Kalau begitu, pergilah," tawa Asano gembira. Kedua mata tuanya berbinar gembira. "Tunjukkan pada Sesshoumaru bahwa kaulah satu-satunya yang bisa memberikannya pewaris berdarah murni yang kuat."
....xOxOx....