![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Shura, ayo temani aku berburu hari ini." Ajak Akihiko sambil tersenyum menatap Shura yang sedang duduk menatap keluar melalui jendela kamarnya di istana tanah selatan. Shura tidak membalas ajakan Akihiko yang tiba-tiba masuk ke kamarnya tersebut, dia hanya mengangkat wajah menatap penguasa tanah selatan dengan wajah tanpa ekspresi.
Melihat sikap Shura itu, sebuah senyum mengembang di wajah tampan Akihiko. "Jangan menatapku seperti itu dengan wajahmu yang mirip dengan anjing itu, Shura."
Ekspresi wajah Shura tetap tidak berubah sedikit pun saat mendengar ucapan Akihiko, mata emasnya tetap menatapnya lurus youkai di depannya. Pewaris tanah barat ini tidak suka diperintah, meski yang dihadapannya adalah seorang penguasa seperti Ayahandanya, dia tidak akan menuruti perintahnya begitu saja. Dia adalah penguasa tanah barat di masa depan, dia tidak akan tunduk kepada siapapun dengan mudah meski masih kecil.
Senyum di wajah Akihiko semakin melebar. Dia memang tidak dapat mempungkiri betapa miripnya Shura dengan Sesshoumaru. Penguasa tanah selatan ini telah mengenal penguasa tanah barat itu semenjak mereka masih kecil, dan melihat Shura sekarang, dia bagaikan melihat Sesshoumaru kecil sekali lagi. Bukan hanya fisik mereka yang mirip, pembawaan diri mereka pun bagaikan pinang dibelah dua.
Tahu Shura tidak akan mungkin membalas ucapannya, Akihiko pun melangkahkan kakinya meninggalkan pewaris tanah barat itu. "Aku tunggu kau di pintu keluar istana." Ujarnya sambil tertawa.
Shura tetap tidak mengucapakan sepatah kata pun, dia hanya diam menatap Akihiko menghilang dari hadapannya. Dengan pelan dia kembali menolehkan matanya ke luar jendela, menatap langit biru yang ada, dan menikmati hembusan angin pagi.
Shura sebenarnya tidak mengerti kenapa Ayahandanya mengirimnya kemari. Beliau memerintahkan padanya baru pulang saat dia jadi lebih kuat, hal itu membuatnya berpikir bahwa tujuannya ke istana tanah selatan adalah untuk latihan. Namun, meski sudah satu minggu dia berada di sini, dia tidak melakukan apapun kecuali duduk di kamarnya menatap langit biru dari jendela kamarnya. Memang semua penghuni istana ini melayaninya dengan baik seakan dia adalah tuan muda di istana ini. Tapi, pewaris tanah barat itu tidak ingin berada di sini, dia ingin kembali ke istana tanah barat, atau lebih tepatnya tempat dimana lukisan itu berada.
Shura menghela napasnya begitu keinginan untuk melihat lukisan itu terlintas dalam hatinya. Dia menutup mata dan memasukkan tangan kanannya ke dalam haorinya untuk menyentuh obi merah muda yang disimpannya di sana. Dalam seminggunya di sini, tidak sehari pun dilaluinya tanpa tidak memikirkan senyuman gadis manusia dalam lukisan itu. Hanya obi milik gadis itulah satu-satunya yang membuat dirinya dapat bertahan menghadapi semua ini.
Shura kembali menghela napasnya, baginya sekarang, ajakan berburu dari Akihiko mungkin tidaklah begitu buruk. Pewaris tanah barat ini tahu, dia pasti bisa melepaskan kebosanan dan juga mengesampingkan keinginannya untuk melihat senyum itu sejenak jika berburu. Ya. Itulah pilihan terbaik yang dimilikinya sekarang.
Tanpa membuang waktu lagi, Shura pun segera berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya menuju tempat dimana Akihiko telah menunggunya.
Saat Shura menunjukkan dirinya, Akihiko hanya bisa tersenyum. Dia sudah bisa mempredeksi bahwa pewaris tanah barat itu pasti akan menerima ajakannya untuk berburu. Penguasa tanah selatan itu kemudian membalikkan badan dan berjalan memasuki hutan yang ada di depan. "Ayo, Shura."
Shura berlari kecil mengejar Akihiko, mata emasnya bisa melihat semua pelayan dan juga prajurit yang ada di sana membungkukkan badan, mengantar penguasa mereka dengan ucapan semoga pemburuan mereka menyenangkan dan lancar. Sikap mereka itu sudah memberitahu pewaris tanah barat bahwa pemburuan yang ada hanya akan dilakukan oleh mereka berdua saja.
Di dalam hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun, Shura menatap punggung tegap Akihiko dengan penuh pemeriksaan. Berbeda dengan ayahandannya yang selalu mengenakan baju pelindung saat meninggalkan istana, Akihiko hanya mengenakan haori berwarna biru bercorak bulan dengan hakama berwarna hitam, dan itu pun dipakai dengan tidak rapi. Senjata yang dibawanya pun hanyalah sebatang pedang katana. Penguasa tanah selatan adalah orang yang santai, itu terlihat dengan jelas sekali.
__ADS_1
Sebenarnya ada berpuluh-puluh pertanyaan yang memenuhi kepala Shura saat melihat sikap penguasa tanah selatan ini terhadapanya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa, penguasa yang ada di depannya sekarang dan Ayahandanya telah saling mengenal semenjak kecil. Mereka berdua sama-sama terlahir sebagai anak youkai penguasa di jepang dan ditakdirkan menjadi penguasa. Sesshoumaru dari barat dan Akihiko dari selatan. Namun, hubungan mereka sejak dulu bukanlah hubungan persahabatan. Dari pada sahabat, mereka lebih tepat dikatakan sebagai rival yang saling menjatuhkan. Shura pernah mendengar cerita dari Jaken, bawahan ayahandanya bahwa sebelum dia dilahirkan, kedua penguasa ini pernah berperang hebat, walaupun pada akhirnya, tidak ada yang menang maupun kalah. Jadi, kenapa Ayahandanya mengirimnya kemari? Dan kenapa Akihiko mengijinkannya tinggal di istananya?
"Bagaimana kalau kita bertanding?" ujar Akihiko tiba-tiba. Dengan senyum yang masih mengembang di wajah, dia menolehkan kepala menatap Shura yang ada dibelakangnyak. "Sampai sore nanti, kita lihat siapa yang berhasil mendapat hasil buruan lebih banyak."
"Apakah anda ingin membodohiku, Akihiko-sama?" tanya Shura tajam begitu mendengar tantangan Akihiko. Dia bukan youkai yang bodoh, dan dia cukup tahu diri. Dibandingkan dengan peguasa tanah selatan, dirinya yang masih kecil tidak mungkin dapat mengalahkannya, baik itu dalam kecepatan maupun kekuatan. Kekalahan pasti ada dipihaknya. Jadi, buat apa dia menerima suatu tantangan yang sudah dapat dipredeksi hasilnya dengan baik itu?
Akihiko tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Shura. Sekali lagi dia terkejut dengan kemiripan youkai kecil di depannya dengan Sesshoumaru. Sikap yang tenang dan selalu berhasil mempredeksi apa yang mungkin terjadi di depannya dan mengambil langkah terbaik itu; memang tidak diragukan lagi, Shura menwarisi semua sikap Sesshoumaru. Ada perasaan penasaran yang muncul dalam hati penguasa tanah selatan itu, dia ingin sekali melihat seberapa miripnya Shura dengan Sesshoumaru.
"Aku tidak membodohimu, Shura. Aku akan membiarkamu berburu lebih dulu hingga siang nanti. Dan jika kau menang, aku berjanji padamu, aku akan melatihmu secara langsung hingga kau menjadi lebih kuat." Jawab Akihiko kemudian. Dia tahu apa yang membuat Shura meninggalkan istana tanah barat dan tinggal di istananya; untuk berlatih, untuk jadi lebih kuat. Namun, di dalam hatinya, peguasa tanah selatan ini juga tahu, itu sebenarnya hanyalah sebuah alasan—alasan yang dibuat Sesshoumaru.
Tawaran dari Akihiko adalah sebuah tawaran yang sangat menguntungkan bagi Shura, dia tahu itu. Jika dia benar-benar bisa membuat penguasa tanah selatan ini melatihnya secara langsung, dia pasti bisa jadi lebih kuat. Dan dengan begitu, keinginannya untuk pulang ke istana tanah barat lebih cepat pasti akan menjadi kenayataan. Namun, pewaris tanah barat ini tahu, walau Akihiko adalah youkai yang sangat santai, dia pasti memiliki maksud tersembunyi dalam tantangan ini.
"Jika aku kalah, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Shura kalem.
Sebuah senyum langsung terlintas di wajah Akihiko. Sikap yang penuh perhitungan, dia berhasil menemukan satu lagi kemiripan ayah-anak ini. Dengan pelan, Akihiko kemudian mengangkat tangannya menunjuk dada Shura. "Aku menginginkan obi itu. Aku menginginkan obi yang selalu kau simpan dengan baik dibalik haorimu."
"Apakah kau setuju?" tanya Akihiko lagi tanpa mempedulikan kemarahan Shura. Sikap yang selalu posesif terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan 'Dia', betapa miripnya sikap Shura ini dengan Sesshoumaru. Ironis sekali, meski Shura tidak pernah mengetahui siapa 'Dia' sebenarnya, dia telah begitu terobsesi padanya—obi milik 'Dia' yang dimiliki Shura telah menjawab semuanya.
Kemarahan Shura semakin memuncak, cakarnya yang panjang kini telah mulai mengeluarkan racun-racun yang sama dengan racun milik ayahandanya. Dia tidak tahu bagaimana Akihiko bisa mengetahui keberadaan obi yang ada di balik haorinya. Namun, apa pun yang terjadi, dia tidak akan membiarkannya merebut obi itu darinya.
"Tidak ada jawaban? Ternyata kau sama dengan anjing yang menjadi ayahmu itu," ujar Akihiko lagi dengan nada merendahkan. Dia tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuat Shura menerima tantangannya. Ego yang dimiliki Shura pasti sama besarnya dengan ego yang dimiliki Sesshoumaru. Namun, pengendalian diri Shura pasti masih belum sebagus pengendalian diri Sesshoumaru, dia pasti akan menerima tantangannya tanpa ragu jika dia terus menghina pewaris tanah barat itu. "Seekor anjing yang pengecut."
Kata terakhir yang diucapkan Akihiko berhasil membuat Shura kehilangan pengendalian dirinya, dia langsung menggeram penuh kemarahan, "Kuterima tantanganmu." Balas Shura kemudian. Dan tanpa membuang waktu yang ada sedikit pun, dia langsung membalikkan badannya, berlari secepat yang dia bisa memasuki hutan di depan, memulai pemburuannya.
Melihat Shura yang telah menghilang dari pandangannya, Akihiko mengangkat kepala menatap langit biru di atasnya. Sebuah senyum lembut terlintas di wajahnya yang tampan. "Kau menang. Ternyata kau memang benar, dia memang mirip dengan anjing itu..." ujarnya pelan.
__ADS_1
....xOxOx....
Shura tidak mempedulikan apa pun, dia mengerahkan segala kemampuannya untuk memburu makhluk apa saja yang ada di dalam hutan tempatnya berburu. Dengan indra penciuman, penglihatan, pendengaran yang tajam, serta gerakannya yang cepat dan akurat, dia berhasil memburu para binatang yang ada dalam hutan, tidak peduli itu kijang, rusa, maupun harimau dan beruang. Kemarahan yang masih begitu membara dalam hati membuatnya tidak dapat berpikir dengan baik, yang ada di dalam kepalaya sekarang hanya satu, yaitu; memenangkan taruhan yang ada.
Dia tidak akan membiarkan penguasa tanah selatan itu menghina dirinya, terutama, dia benar-benar tidak bisa mengijinkan serigala sialan itu menghina ayahanda yang begitu dihormatinya. Lalu, yang terpenting, dia tidak akan membiarkan obi gadis dalam lukisan itu jadi milik orang lain. Dia pasti akan memenangan taruhan ini, dia akan membuat penguasa tanah selatan ini melatihnya, menyumbat mulut besar itu serta menjaga obi itu tetap ditangannya.
Shura tidak menghitung lagi sudah berapa banyak binatang buruan yang berhasil diburunya, hingga hidungnya berhasil menangkap bau dari dua youkai yang bergerak menuju arahnya. Mata merah darahnya segera berubah menjadi emas, dia bisa merasakan keanehan dari youkai yang mendekatinya, sebab dari bau yang ada, kedua youkai itu jelas bukan berasal dari istana tanah selatan.
Saat mata Shura berhasil menangkap sosok kedua youkai itu, dia langsung tahu, mereka memang bukan youkai dari istana tanah selatan, dan dilihat senyum di wajah mereka saat melihat dirinya, dia tahu siapa mereka.
"Lihat! Ternyata kabar bahwa pewaris tanah barat yang pergi ke selatan memang benar." Senyum salah satu youkai tersebut. Wujud mereka yang bermata kuning serta badan manusia yang tidak begitu sempurna karena memiliki organ tertentu yang lebih panjang, kulit bersisik, lalu, lidah yang terjulur saat berbicara, membuat Shura tahu, mereka berdua adalah youkai ular.
"Ya. Nama dan juga kehormatan kita pasti akan naik jika kita berhasil memenggal kepalanya." Balas youkai satu lagi sambil tertawa.
Shura menutup mata begitu mendengar apa yang diucapkan kedua youkai itu. Youkai yang mengincarnya nyawanya adalah hal yang biasa, sebab bagaimanapun juga dia adalah anak dari Sesshoumaru, penguasa tanah barat. Dan saat ini, bagi kedua youkai di depannya yang berani datang untuk membunuhnya, dia tidak akan segan-segan, sebab dia masih belum selesai melampiskan kemarahannya.
Saat Shura membuka kedua matanya lagi, bola mata emasnya telah kembali digantikan dengan bola mata merah darah. Tanpa membuang waktu, dengan cakar ditangannya, dia meloncat untuk menyerang.
....xOxOx....
Akihiko bisa merasakan bahwa ada youkai tak dikenal yang berani memasuki wilayahnya, dan saat dia merasakan kedua youkai itu bergerak mendekati Shura, dia pun langsung berlari menuju tempat Shura berada, sebab, dia tahu, youkai-youkai itu pasti merupakan pembunuh yang mengincar nyawa pewaris tanah barat. Dia tidak bisa menginjinkan Shura terluka ataupun mati di tempatnya, sebab jika itu benar-benar terjadi, perang pasti akan pecah lagi. Namun, yang paling penting, bagaimana dia bisa membiarkan Shura menghadapi bahaya, sebab nyawa pewaris tanah barat itu adalah nyawa yang mati-matian dipertahankan oleh 'Dia' tanpa mempedulikan apa pun yang ada.
Dalam hatinya, Akihiko hanya bisa berharap Shura bisa bertahan sampai dia tiba di tempatnya. Namun, saat dia tiba di tempat Shura berada, mata biru langitnya langsung terbelalak. Dia sangat tertegun melihat apa yang terjadi di depannya sekarang.
Di bawah langit biru, di bawah pohon berusia ratusan tahun yang daunnya mulai berguguran, Shura berdiri tegap penuh kebanggan dengan badannya yang berlumuran darah. Dari bau yang ada, Akhihiko langsung mengetahui bahwa darah ditubuhnya bukanlah darah pewaris tanah barat itu, melainkan darah dari youkai yang datang memburunya—darah dari dua youkai ular yang telah tergeletak tidak bernyawa di kakinya. Pemandangan di depannya adalah sebuah pemandangan yang tidak enak dilihat, walau juga tidak dapat dipungkiri baginya; sangat indah.
__ADS_1
Perasaan kagum dan juga salut muncul dalam hati Akihiko saat melihat Shura. Meski masih kecil, dia sudah begitu kuat. Tidak diragukan lagi, kelak, youkai kecil di depannya pasti akan tumbuh menjadi seorang youkai yang sangat-sangat kuat. Youkai yang akan ditakuti dan disegani lawan maupun kawan. Youkai yang berbahaya, youkai tidak berperasaan seperti ayahnya sebelum menemukan 'Dia' yang merupakan keajaiban di dunia.
....xOxOx....