![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Ayo, Ah-Un, terbang lebih tinggi." Perintah Shura sambil menatap desa manusia di bawahnya dari atas seekor naga berkepala dua yang terbang di langit biru. Mata emasnya bisa melihat para manusia penduduk desa yang berteriak ketakutan dan bersembunyi. Sungguh makhluk yang bodoh dan pengecut, mengapa mereka harus berteriak dan bersembunyi saat melihatnya? Tidak ada niat sedikit pun dalam dirinya untuk meladeni makhluk seperti mereka.
Ah-Un, naga berkepala dua yang ditunggangi Shura pun segera mematuhui perintah tuan mudanya dan terbang lebih tinggi ke atas menembus awan, hilang dari pandangan para manusia.
Perjalanan ke istana barat cukup jauh, dan Shura memerlukan waktu kurang lebih seminggu untuk mencapainya. Pewaris tanah barat ini lumayan bersyukur saat mengetahui teman sepejalanannya menuju istana tanah selatan adalah Ah-Un. Dia akan sangat tersiksa jika yang mengikutinya adalah Jaken, youkai katak pengecut, cerewet dan tidak berguna yang selalu mengikuti Ayahandanya. Dia sebenarnya sering bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ayahandanya bisa tahan dan membiarkan Jaken di sampingnya? Pertanyaan itu mungkin adalah sebuah pertanyaan yang tidak dapat dijawab siapa pun kecuali Ayahandanya sendiri.
Membiarkan seorang pewaris yang baru berusia delapan tahun menuju tanah selatan hanya ditemani seekor naga, sebenarnya adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Kemungkinan besar musuh Ayahandanya akan menculik ataupun membunuhnya sangatlah tinggi. Namun, memang itulah yang terjadi, kenyataan yang tidak dapat dibohongi.
Shura bisa memakluminya, sebab bagi Ayahanda dan Ibundanya, dirinya pasti bukanlah sesuatu yang berharga dan berarti. Bahkan, saat pewaris tanah barat itu meninggalkan istana tanah barat, kedua orang tuanya juga tidak mengantarnya, hanya para pengasuh dan pelayan yang mengantarnya.
Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya akan membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang bisa hidup sendirian.
Kalimat yang selalu didengarnya kembali tergiang dalam kepala Shura, dan dengan pelan dia menutup kedua mata emasnya. Ya. Dia adalah youkai, dia tidak perlu memikirkan itu semua. Dia tidak akan mengharapkan kasih sayang dari orang tuanya, itu hanya akan membuatnya menjadi lemah. Dia adalah youkai yang kuat meski masih sangat kecil—dia bisa hidup sendirian.
Saat langit biru telah digantikan langit hitam, saat matahari telah digantikan bulan dan bintang, mata Shura pun menangkap sosok istana tanah selatan yang terletak di puncak sebuah gunung tinggi. Istana itu dikelilingi oleh pohon-pohon besar berusia ratusan tahun dan tersembunyi dari mata manusia. Ukurannya lumayan besar, tapi tetap saja lebih kecil dibandingkan istana tanah barat tempatnya tinggal selama ini.
Dengan gerakannya yang luwes dan gesit, Ah-Un terbang turun menuju halaman istana tanah selatan. Para penjaga yang melihat naga berkepala dua itu terbang mendekat hanya berdiri diam, sebab mereka semua telah mendapat kabar bahwa pewaris tanah barat akan tinggal di tempat mereka untuk beberapa saat.
__ADS_1
Shura segera meloncat turun dari punggung Ah-Un saat naga itu telah mendarat dengan sukses dalam taman istana tanah selatan. Para pengawal yang ada langsung menundukkan kepala padanya untuk memberi salam hormat. Namun, pewaris tanah barat itu tidak menpedulikannya, mata emasnya menatap lurus Akihiko-sama, penguasa tanah selatan yang ada di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.
Akihiko adalah seekor youkai serigala. Dalam wujud manusianya, dia memiliki rambut putih kebiruan yang dipotong pendek, mata sewarna dengan langit biru, hidung yang mancung, telinga yang runcing serta dua garis biru tua di pipinya. Secara keseluruhan, dia sangat tampan. Namun, sekali melihat saja, semua yang ada akan tahu, dia adalah youkai yang berbahaya dan harus dihindari seperti Ayahandanya, Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.
"Selamat datang ke istanaku yang kecil ini, Shura." Ujar Akihiko pelan dengan nada malas. Dia tidak bergerak sedikit pun dari sebuah kursi santai tempatnya berbaring. Namun, kedua mata biru langitnya menatap lekat-lekat pewaris tanah barat itu dari atas hingga bawah.
Shura tidak membalas salam Akihiko, dia hanya mengangguk kepala. Pertemuan ini adalah pertemuan pertama mereka, tapi pewaris tanah barat tidak mmeperlihatkan sikap sopan sedikitpun.
Melihat sikap Shura itu, sebuah senyum terlintas di wajah Akihiko. "Kau memang mirip dengan anjing itu, kau sama sekali tidak mirip dengan ibumu."
"Tentu saja," balas Shura dengan nadanya yang datar, dan membuat Akihiko menatapnya dengan penuh kebingungan. "Meski wanita itu merupakan putri penguasa tanah timur dan juga wanita yang melahirkanku, aku bersyukur tidak mirip dengannya." Lanjut Shura lagi.
Shura tidak membalas ucapan Akihiko, dia hanya diam menatapnya dengan wajah yang tetap tanpa ekspresi, membiarkan penguasa tanah selatan itu tertawa sepuasnya. Setelah beberapa menit, penguasa tanah selatan itu pun akhirnya berhenti tertawa. "Kau sudah lelah, kan? Istirahatlah, kamarmu sudah kusiapkan." Ujarnya pelan sambil menjentikkan jarinya memanggil pelayan untuk menunjukkan letak kamar Shura yang telah disiapkan untuknya.
Seorang pelayan langsung mendekati pewaris tanah barat itu dengan penuh hormat untuk mengantarnya ke kamar yang telah disiapkan. Tidak bertanya apa pun lagi, Shura langsung membalikkan badan mengikuti pelayan itu. Namun, dia bisa merasakan dengan jelas bahwa kedua mata biru langit penguasa tanah selatan terus menatapnya yang berjalan menjauh.
Saat tiba di kamar barunya, Shura bisa melihat kamar itu tidak beda jauh dengan kamarnya yang ada di istana tanah barat. Luas, lantai tatami yang bersih, lukisan indah di dinding, serta perabotan indah yang mewah.
__ADS_1
Pewaris tanah barat itu langsung memerintahkan para pelayan yang ada untuk meninggalkannya sendirian sesaat dia menginjakkan kaki ke dalam kamar barunya. Dia ingin sendirian dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun sekarang.
Para pelayan tidak bertanya apa pun. Penuh hormat, mereka segera meninggalkan pewaris tanah barat itu sendirian. Dengan langkah yang pelan, Shura berjalan mendekati futon yang sudah disiapkan dan menghempaskan badan di atasnya. Matanya tertutup dan dia menghela napasnya. Ini adalah kamarnya sekarang, dia harus membiasakan dirinya dengan istana baru ini, sebab dia masih tidak tahu kapan dia baru bisa pulang ke istana tanah barat.
Saat Shura membuka mata emasnya lagi, tangan kanannya bergerak ke bagian dada haori yang dikenakannya dan mengeluarkan sebuah kain berwarna merah muda dari dalamnya —sebuah obi.
Obi milik gadis manusia dalama lukisan itu.
Obi itu diambilnya secara diam-diam dari kamar itu pada pagi sebelum dia berangkat ke istana tanah selatan. Shura hanya berharap siapa pun yang selalu datang membersihkan kamar itu tidak akan pernah menyadari hilangnya obi tersebut. Dia telah menghapus baunya yang tertinggal dikamar itu, jadi dia cukup yakin, tidak akan ada seorang pun yang akan mengetahui bahwa dia pernah menginjakkan kaki ke sana.
Shura sebenarnya tidak tahu kenapa dia bisa melakukan hal seperti ini, mengambil obi tersebut. Sesaat dia harus meninggalkan kamar itu, kakinya terasa sangat berat, begitu juga dengan hatinya. Dia tidak ingin meninggalkan istana tanah barat, meninggalkan lukisan itu lebih tepatnya. Namun, dia tidak punya pilihan. Dan di dalam hatinya yang terdalam, dia merasa takut. Takut apa yang dia temukan, apa yang dia lihat di paviliun timur istana tanah barat akan menghilang. Takut senyuman musim semi gadis yang dilihatnya hanyalah sebuah mimpi, sesuatu yang tidak nyata —sebuah ilusi.
Walau tahu itu salah, walau tahu itu adalah sebuah tindakan bodoh, pewaris tanah barat itu tidak dapat menghentikan niatnya untuk mengambil obi itu, sebab, baginya sekarang, obi itulah satu-satunya bukti yang dapat dipegangnya bahwa apa yang dilihatnya memanglah kenyataan, bukan sebuah ilusi.
Shura kemudian mendekatkan obi itu pada hidungnya, menciumnya. Tidak ada bau. Tidak peduli bagaimana dia mencoba menciumnya, dirinya tetap tidak dapat menemukan sedikit pun bau dari gadis tersebut. Tidak ada bau menyenangkan seperti yang diciumnya dalam mimpi malam pertama dia menemukan lukisan itu. Namun, dia tidak peduli. Bagi pewaris tanah barat itu, obi itu memang tidak memiliki bau seperti yang diciumnya dalam mimpi, tapi, obi itu selalu terasa hangat ditangannya. Memegang obi itu, menyimpannya di balik haorinya, dia bisa merasakan kehangatan menyelimutinya.
Dengan perlahan, Shura menutup mata emasnya sambil mendekapkan obi itu di dadanya dengan erat. Dia merasa sangat nyaman dan juga ngantuk. Kehangatan menyelimutinya. Sebuah senyum damai terlukis di wajahnya yang tampan. Ini adalah obi gadis itu, kehangatan yang dia rasakan adalah kehangatan dari gadis itu.
__ADS_1
....xOxOx....