Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 81


__ADS_3

Langit biru dengan sinar matahari musim semi yang hangat di atas. Dalam taman bunga sakura istana tanah selatan, Rin yang mengenakan kimono sutra berwarn putih duduk diam menatap bunga sakura yang ada di atas dengan seulas senyum di wajah. Hari ini adalah hari terakhir dari hanami di istana tanah selatan yang diadakan selama tiga hari tiga malam. Sore ini, pesta hanami ini resmi akan berakhir.


Menurunkan kepalanya, Rin kemudian menatap sekeliling. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ini, suasana taman benar-benar sangat hening dan damai. Para youkai selatan yang ada diam membisu memakan makanan mereka dan meminum sake, walau terkadang, mata mereka akan terarah padanya. Musik yang dimainkan di atas panggungpun tidak menarik hati mereka lagi.


Pertarungan antara Sesshoumaru dan Akihiko, serta meido seki yang menunjukkan kekuatannya, semua youkai selatan sudah mengetahuinya–tidak mungkin mereka dapat menyembunyikan bekas kekacauan yang berantakan seperti itu, bukan?


Rin hanya bisa bersyukur Akihiko yang memerintah para youkai selatan untuk tidak menganggu atau bertanya padanya mengenai apa yang  terjadi. Walau sejujurnya dia juga ragu apakah ada youkai yang berani mendekatinya sekarang.


Dalam taman sakura ini, dia kini duduk dengan Inuyasha di sisi kirinya, Sesshoumaru di kanan, serta Kira dan Kiri di belakang. Bagaikan penjaga, mereka berempat dapat membuat gentar para youkai selatan yang ada.


"Hei!! Lihat apa kalian!!??" teriak Inuyasha tiba-tiba dengan keras penuh kekesalan. Dia sudah tidak dapat menahan diri lagi dengan mata yang terus terarah ke Rin.


Tidak ada yang mempedulikan Inuyasha, mereka semua berpura-pura tidak mengerti ucapan inuhanyou tersebut.


"Inuysha, duduk," sela Kagome yang ada di samping kanan Inuyasha. "Sebelum aku memaksamu."


Inuyasha terdiam mendengar ucapan Kagome. Kembali duduk perlahan, dia tidak berani bertingkah lagi. Kedua mata emasnya hanya dapat menatap pasrah istrinya yang sedang makan dengan tenang.


"Abaikan saja pandangan semua orang yang ada, Inuyasha." ujar Sango yang ada di samping Kagome tersenyum.


"Benar," setuju Miroku tertawa sambil meneguk sake di tangan. "Nikmati saja sebelum pesta hanami berakhir."


Inuyasha berdecak tidak suka mendengar ucapan sahabatnya itu. Melipat tangan di dada dia membuang muka, bagaimana di bisa menikmati hanami ini lagi setelah apa yang terjadi? Dia benar-benar tidak mengerti pikiran Kagome, Miroku dan Sango.


Sesshoumaru diam membisu menatap Kagome dan yang lainnya. Sessungguhnya, dia benar-benar tidak ingin tinggal di selatan lebih lama. Tetapi, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa saat Kagome melarang mereka meninggalkan selatan secepat itu demi kesehatan Rin.


"Rin." Suara memanggil namanya tiba-tiba terdengar dan membuat Rin menoleh pandangan pada pemilik suara. Senyum memenuhi wajahnya saat dia melihat siapa itu; Akihiko.


"Akihiko-sama." panggil Rin gembira.


Akihiko berjalan mendekati Rin dengan diikuti Tsubasa dan Koga yang diam membisu dari belakang. Senyum lembut memenuhi wajah tampan penguasa tanah selatan tersebut. Duduk di depan gadis manusia itu, senyum di wajahnya semakin lembut.


Mata Sesshoumaru, Inuyasha begitu juga dengan Kira dan Kiri menatap Akihiko, walau mereka tetap diam membisu. Namun, penguasa tanah selatan tidak peduli. "Kuharap kau bisa menikmati hari terakhir hanami ini."


"Cih, kami akan dapat menikmatinya jika kau tidak ada di depan kami." cibir Inuyasha dengan kedua tangan yang masih terlipat di dada.


Akihiko tidak mempedulikan Inuyasha, seakan inuhanyou itu memang tidak ada di sana. Dia kemudian tertawa melihat Rin mengangguk kepala.


"Kudengar kau akan kembali ke barat besok," lanjut Akihiko lagi. Suaranya tetap bersahabat. "Kau tidak berniat tinggal lebih lama di selatan?"


"Rin sudah terlalu lama meninggalkan barat, Akihiko-sama." jawab Rin sambil tersenyum, dia tidak menyadari perubahan para inuyoukai dan inuhanyou yang menatap tajam tidak suka Akihiko.


"Begitu, ya?–aku mengerti. Kalau begitu," ujar Akihiko pelan. Perlahan, dia kemudian menoleh wajahnya pada Sesshoumaru. Mata biru langitnya bersinar penuh tantangan. "Kau tidak keberatan jika aku mengunjungi  istana tanah barat, kan, Sesshoumaru?"


"Kau!!!?" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Dia benar-benar tidak mengerti dengan Akihiko. Apakah dia tidak tahu arti kata menyerah? Setelah apa yang dilakukannya, dia masih berpikir untuk mendapatkan Rin?


Namun, jawaban Sesshoumaru  yang dari tadi diam membisu membuat semua yang ada di sana terkejut. "Baiklah."


Menoleh tidak percaya, mata semua yang ada di sana termasuk Rin menatap terbelalak Sesshoumaru.


Mata emas Sesshoumaru menatap balik mata biru langit Akihiko penuh tantang juga. Perlahan, kedua ujung bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum menyeringai. "Sesshoumaru ini pasti akan mengundangmu ke istana tanah barat dalam waktu dekat."


Akihoki tertegun melihat senyum Sesshoumaru. Namun, ekspresi tertegunnya dengan segera berubah menjadi ekspresi menghina. Seulas senyum menyeringai juga muncul di wajah tampannya. "Aku akan menunggu undanganmu."


Rin yang melihat senyum menyeringai di wajah Sesshoumaru dan Akihiko tidak tahu harus berbuat apa, sebab dia bisa merasakan jelas, suasana yang sudah aneh bertambah aneh sekarang.


"Ya!" suara Kagome tiba-tiba terdengar memecahkan suasana aneh tersebut. Miko masa depan itu tersenyum menatap Rin. "Rin-chan, bagaimana kalau kau duduk di sampingku dan Sango saja?"


Rin menoleh wajah menatap Kagome kebingungan. Namun, dengan senyum yang masih ada di wajah, miko masa depan itu tertawa tidak mempedulikan kedua daiyoukai yang menatapnya tajam. "Kemarilah Rin-chan. Hanami ini akan menjadi seperti pemakaman jika kau terus berada di sana."


"Aku setuju denganmu, miko aneh." sela seseorang tiba-tiba. Dari atas pohon sakura seseorang meloncat turun memeluk Rin erat. "Hanami ini benar-benar seperti pemakaman meski banyak makanan dan sake."


"I-ibunda." panggil Rin terkejut.


"Ayo," tidak mempedulikan reaksi Rin, maupun Sesshoumaru dan Akihiko. Inukimi langsung menarik gadis manusia itu dan membawanya ke samping Kagome dan Sango. Tertawa, mantan penguasa tanah barat mengangkat sake yang tidak tahu sejak kapan ada di tangannya. "Sekarang kita tinggal mencari hiburan untuk meriahkan suasana."


"Iya, kau benar Inukimi-san." setuju Sango semangat. Menatap Rin, dia kemudian tersenyum. "Rin-chan, keberatankah kau bernyanyi untuk memeriahkan hari terakhir hanami ini?"


"Eh??" seru Rin terkejut.


"Benar juga," sela Inukimi tersenyum. Mata emasnya menatap Rin penuh suka cita. "Sudah lama ibunda tidak mendengar nyanyianmu, Rin-kecil. Kau juga sudah lama tidak menari."


"Eh??" seru Rin sekali lagi. Dia kebingungan tidak tahu harus bagaimana menolak ide Sango dan Inukimi. Menunduk kepala ke bawah, dia menjawab terbata-bata. "M-maaf, Rin tidak bisa bernyanyi dan menari.."


"Kenapa?" tanya Kagome bingung. Betapa Rin menyukai bernyanyi dan menari, dia tahu. Bakatnya juga sangat luar biasa, karena itu, kenapa dia tidak mau bernyanyi dan menari?


Rin tidak menjawab, mengigit bibir bawahnya, dia makin menundukkan kepala ke bawah.


Reaksi Rin dengan seketika membuat Inuyasha, Kagome, Sango, Miroku dan Inukimi menoleh kepala menatap Sesshoumaru. Tidak sulit bagi mereka untuk menebak alasan gadis manusia itu tidak bernyanyi dan menari lagi pasti ada hubungannya dengan inuyoukai itu. Hanya sesshoumaru yang bisa membuat Rin seperti itu.


"Apa yang kau lakukan pada Rin, berengsek?" tanya Inuyasha. Mata emasnya menatap tajam Sesshoumaru yang tidak bergerak sedikitpun.


"T-tidak, Inuyasha-sama," sela Rin cepat. Dia segera mengangkat kepala menatap Inuyasha penuh kepanikan. "Tidak ada hubungannya dengan Sesshoumaru-sama."


Namun, mata Rin kemudian terarah pada Sesshoumaru. Wajahnya seketika memerah karena sepasang mata emas yang menatap lembut dirinya. Dirinya berbohong, dia ketahuan berbohong di depan inuyoukai itu. Tapi–janji hari itu, dia tidak berniat melanggarnya.


Perasaan hangat memenuhi hati Sesshoumaru melihat Rin yang masih memegang janjinya itu. Gadis manusia itu dengah bodoh dan polosnya menuruti keegoisannya.


"Kakak," senyum Kagome. Wajah merah Rin dan pandangan lembut Sesshoumaru tidak luput dari matanya. Apa yang terjadi antara mereka berdua?–mungkin tidak akan ada yang tahu. "Kau tidak boleh memonopoli Rin-chan seperti itu."


Kata monopoli yang diucapkan Kagome membuat Sesshoumaru menatap miko itu.


Namun, seperti biasanya, Kagome tidak peduli. Dia tersenyum semakin lebar. "Kau tidak boleh mengengkang Rin-chan seperti itu, dia tidak akan bahagia. Kau harusnya membiarkan dia bebas."

__ADS_1


Ucapan Kagome membuat Sesshoumaru tertegun. Menoleh wajahnya pada Rin yang masih menundukkan kepala ke bawah, pertama kali dia sadar, apakah dirinya telah melakukan kesalahan?


Kenapa dia tidak ingin Rin bernyanyi dan menari?–karena gadis itu terlalu indah. Dia tidak ingin membagi keindahan itu pada orang lain. Tapi, apakah gadis itu tidak ingin bernyanyi dan menari di depan orang lain?


"Ahh, aku tidak peduli!" teriak Inukimi tiba-tiba. Berdiri, dia melangkah maju dan berteriak keras, dia memerintah para pemain musik yang ada di panggung turun. "Kalian turun kemari!!"


Para pemain musik yang kebingungan di atas panggung menatap Akihiko. Saat mereka melihat penguasa tanah selatan mengangguk kepala, mereka segera turun ke bawah dan berdiri di depan Inukimi.


"Mainkan nada yang ceria." perintah Inukimi sambil tersenyum.


Tidak membuang waktu, para pemain musik segera memainkan alat musik mereka. Nada ceria segera mengalun memenuhi taman.


Tidak membuang waktu, Inukimi segera berjalan mendekati Rin. Mengulur tangannya, dia menarik gadis manusia itu berdiri, begitu juga dengan Kagome dan Sango. Tertawa keras, dia kemudian berteriak kepada semua youkai yang ada dalam taman. "Ayo!! Menari!! Kita semua menari!!"


Kagome dan Sango tertawa, menarik Rin yang masih kebingungan mereka kemudian menari mengikuti musik yang memenuhi taman. Miroku yang melihat juga ikut tertawa, penuh semangat biksu itu berdiri dan menarik Inuyasha, Kira dan Kiri mengikuti mereka.


Rin yang kebingungan menatap Sesshoumaru. Namun, melihat inuyoukai itu mengangguk kepala, senyum memenuhi wajahnya. Menggerakkan tangan dan kakinya, penuh tawa, dia mengikuti gerakan.


Tidak tahu siapa yang memulainya. Namun, perlahan para youkai selatan ikut berdiri dan bergabung dalam tarian yang penuh tawa, bahkan Akihiko, Koga dan Tsubasa juga ikut di dalamnya.


Menari di dekat Rin dan tertawa bersamanya, Akihiko tertawa lepas. Namun, Inuyasha yang ada disamping datang menyela dan memisahkan mereka, begitu juga untuk Koga yang mendekati Kagome.


Keributan terjadi, walau tarian tidak terhenti. Suara tawa dan suara musik terus mengalir. Membentuk barisan yang tidak beraturan dan sangat berantakan, semua yang ada dalam taman menari bahagia. Taman sakura yang tadinya sempat hening, kembali ramai. Tapi kali ini dengan musik ceria, hentakkan kaki, tepukan tangan, senyum dan tawa.


Sesshoumaru tidak ikut dalam keramaian, duduk diam di tempat, dia hanya terus menatap Rin. Mata emasnya mengikuti setiap langkah kaki dan gerakan lembut gadis manusia itu–mengikuti setiap senyum dan tawa kebahagiaan gadis itu.


Kebahagiaan.


Sesshoumaru teringat betapa khawatir dirinya saat melihat Rin terbaring tidak sadarkan diri. Melihat kekacauan yang ada, melihat begitu banyak yang mencintai gadis itu, dia berharap gadis itu selamanya hanya akan melihatnya seorang saja, cuma mencintainya.


Namun, melihat gadis itu bahagia sekarang, dia sadar; dia ingin Rin selalu bahagia. Betapa dia menginginkan gadis itu untuk selalu tersenyum, tertawa dan–bahagia.


Dari pada sepasang mata coklat jernih yang tertutup, Sesshoumaru ingin mata itu terbuka. Dia ingin gadis itu selalu tersenyum dan tertawa seperti ini. Tidak apa-apa meski senyum itu bukan ditujukan padanya, meski tawa itu adalah milik orang lain,meski mungkin mereka tidak akan bersama–asal gadis itu hidup dan bahagia.


Keegoisan untuk memiliki, keegoisan untuk menyembunyikan Rin dari dunia, itu adalah cinta Sesshoumaru. Namun, sekarang, cintanya itu ternyata berubah. Tawa dan senyum gadis itu menyadarkannya–cintanya sekarang adalah cinta yang hanya mengharapkan gadis itu bahagia.


Jika Rin bisa tersenyum dan tertawa, jika Rin bisa bahagia, jika Rin bisa hidup–Sesshoumaru rela melakukan apapun, termasuk; mati untuknya.


Inu no Taisho dan Izayoi.


Bukankah cinta ayah yang begitu dihormatinya adalah cinta yang seperti itu? Cinta yang membuat seorang daiyoukai penguasa tanah jepang rela mati demi seorang manusia–Sesshoumaru mengerti sepenuhnya sekarang, ternyata seperti inilah cinta ayahnya; cinta mereka yang sama.


Mengangkat kepala ke atas langit biru, Sesshoumaru menutup mata. "Sesshoumaru ini mengerti sekarang, Ayahanda.." gumamnya pelan.


....xOxOx....


Langit senja kemerahan telah menggantikan langit biru, tanda hanami akan segera berakhir. Rin yang duduk di samping Sesshoumaru tertawa dan bertepuk tangan melihat pertunjukkan di atas panggung.


Menoleh kepala pada Sesshoumaru, Rin tersenyum. "Hanami akan segera berakhir, Sesshoumaru-sama."


"T-tapi, kenapa Rin merasa masih ada yang kurang, ya?" gumam Rin pelan. Senyumnya menghilang digantikan kerutan kecil yang memenuhi dahi karena memikirkan sesuatu.


"Apa yang kau pikirkan, Rin-chan?" tanya Kagome, dia menatap gadis itu bingung. Begitu juga dengan Inuyasha, Sango, Miroku, Inukimi, Kira dan Kiri yang juga ada samping Kagome.


"Hanami ini sudah sesuai dengan apa yang Rin pikirkan. Sakura, makanan, minuman, lagu, tarian, permainan" jelas Rin cepat. "Tetapi, untuk penutup musim semi, seperti ada yang kurang.."


"Hmnn..." gumam Kagome bingung berusaha memikirkan jawaban untuk Rin begitu juga dengan yang lainnya. Tapi, mereka tidak menemukan jawabannya.


"Rin." suara berat dan datar Sesshoumaru tiba-tiba terdengar membuat semua menoleh kepala pada inuyoukai yang diam membisu dari tadi.


Menatap lembut dengan sepasang mata emasnya pada gadis manusia itu, Sesshoumaru berujar pelan. "Menyanyi dan menarilah untuk menutup hanami yang kau cintai ini."


"Eh?" mata Rin terbelalak tidak percaya mendengar ucapan Sesshoumaru.


"Menyanyi dan menarilah." ulang Sesshoumaru sekali lagi. "Sesshoumaru ini akan memainkan shakuhachi untukmu."


Rin terdiam dengan mata terbelalak tidak percaya mendengar ucapan Sesshoumaru. Begitu juga dengan yang lainnya, terutama Inuyasha dan Inukimi.


Namun, tidak peduli dengan reaksi mereka semua. Sesshoumaru bangkit dan mengulurkan tangan pada Rin yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Rin." panggil Sesshoumaru lagi dan menyadarkan Rin.


Dengan tangan gemetar tidak percaya, perlahan Rin menerima uluran tangan Sesshoumaru dan membiarkan inuyoukai itu membimbingnya menuju para pemain musik di atas panggung. Para pemain musik langsung menghentikan musik mereka begitu melihat siapa yang berjalan mendekati mereka.


"Aku bermimpi, ya? Sesshoumaru mau memainkan shakuhachi? Di depan orang sebanyak ini??" ujar Inuyasha tidak percaya menatap punggung Sesshoumaru di kejauhan.


Kagome dan yang lainnya tidak membalas ucapan Inuyasha, sebab mereka masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Sesshoumaru dan Rin yang berjalan ke depan para pemain musik dengan tangan terhubung langsung menarik perhatian semua yang ada dalam taman, tidak terkecuali; Akihiko.


Para pemain musik segera meninggalkan panggung begitu menyerahkan shakuhachi ke tangan Sesshoumaru. Dengan wajah tanpa ekpresi, inuyoukai itu membimbing Rin ke tengah panggung, di mana semua mata dapat melihatnya jelas.


"Inilah yang kurang, Rin." ujar Sesshoumaru kemudian dengan pelan. Tangan kirinya membelai lembut kepala gadis manusia itu. "Kau belum bernyanyi dan menari dengan bebas selama musim semi tahun ini."


Memgangkat kepala menatap Sesshoumaru, Rin tertegun. Namun, sejenak, senyum menghiasi wajahnya.


Nyanyian dan tarian di musim semi. Itu adalah rutinitas Sesshoumaru dengan dirinya setiap musim. Benar, dia masih belum bernyanyi dan menari untuk inuyoukai ini. Bukan hanami ini yang kurang, melainkan memang musim semi ini masih ada yang kurang–nyanyian dan tariannya.


Melepaskan tangannya, Sesshoumaru kemudian berjalan kebelakang. Mengangkat shakuhachi di tangan, perlahan, dia mulai meniup dan mainkan nada yang bergerak naik turun dengan indah.


Rin yang berada di tengah panggung menutup mata begitu suara shakuhachi ditangkap telinganya. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Dia tahu nada musik yang dimainkan Sesshoumaru. Nada yang tidak asing–ini lagu yang diciptakannya untuk inuyoukai itu musim semi tahun lalu.


Membuka mata coklatnya. Perlahan, Rin mengangkat tangannya ke atas dan mulai menari. Bergerak sambil tertawa, dia membuka mulutnya mulai bernyanyi.

__ADS_1


Sakura


hira hira mai ochiru


momo’iro no hanabira


tsunaida kimi no te wo


gyutto nigitta


Suara Rin merebut perhatian semua yang ada. Suara yang merdu dan jernih, lembut dan juga hangat–membuat siapapun yang mendengarnya terpana.


sakura tsudzuku massugu na michi


kaze ga futari wo sotto tsutsumu


tonari aruku dake de


konna shiawase wo


kanjirareru nante


shirarnakatta


Angin berhembus, membawa turun kelopak sakura yang berguguran. Jatuh ke bawah, kelopak bunga bagaikan berlomba untuk ikut menari bersama gadis manusia yang sedang bernyanyi dan menari dengan indah.


hira hira mai ochiru


momo’iro no hanabira


kisetsu ga kawattemo


zutto soba ni ite


Bergerak dengan anggun, Rin berputar dan terus menari. Dalam merahnya langit senja, dia terlihat bagaikan kupu-kupu putih di antara para bunga sakura yang mekar–sangat cantik.


kimi no sugata ga mieru dake da


naze ka itsumo anshin dekiru


kurushii koto ga aru to


kimi ni sasaerarete


ureshii koto ga aru to


tsutaetakute


Senyum indah di wajah dan sepasang mata jernih yang berbinar. Tangan yang terangkat di setiap gerakan maupun loncatan mengikuti suara shakuhachi, lalu, lagu cinta yang dinyanyikan–gadis manusia itu adalah lambang dari jiwa yang hangat dan bebas.


ima waratta kao mo


namae wo yobu koe mo


kimi jyanakya dame da yo


dou ka shitte’ite


Akihiko menatap Rin tidak bergerak, kedua mata biru langitnya tidak dapat teralih dari keindahan yang dilihatnya. Dia sudah mendengar tentang tarian dan nyanyian gadis manusia itu yang sangat terkenal, namun, sekarang, melihatnya; dirinya hanya bisa jatuh cinta dan terus jatuh cinta.


Lebih indah dari bunga, lebih bebas dari pada kupu-kupu, lebih menyilaukan dan hangat daripada matahari. Walau tidak dapat dimiliki–bagaimana jantungnya tidak ingin berdetak untuknya? Bagaimana mungkin dia tidak menginginkannya?


tatta hitori no hito


mitsuketa ki ga shiteru


tonari de kimi mo


onaji kimochi nara …


Sesshoumaru meniup shakuhachi di tangan dengan tenang. Kedua mata emasnya menatap Rin lekat. Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampannya. Dia bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari gadis itu–di setiap gerakan, suara nyanyian dan senyum tawa di wajah.


Sosok yang begitu indah dan bersinar, Rin yang bernyanyi dan menari dengan bebas adalah sosok yang paling dicintainya. Dirinya tidak akan egois mengikatnya dan menyembunyikannya lagi. Tidak terkengkang dan selalu bahagia–itulah Rin yang sebenarnya.


hira hira mai ochiru


momo’iro no hanabira


kisetsu ga kawattemo


zutto soba ni ite


Suara nyanyian terhenti, begitu juga dengan gerakan yang ada. Perlahan, gadis manusia di atas panggung, membungkuk dan menundukkan kepala memberi hormat diikuti suara shakuhachi yang menghilang–tanda pertunjukkan yang usai.


Tidak ada yang bergerak, semua masih terpana dengan apa yang dilihat. Lalu, saat gadis manusia itu mengangkat wajah dan tersenyum, mereka tersadar kembali.


Plok-plok-plok


Tepuk tangan memenuhi taman tidak tehenti. Pujian demi pujian terlontar, apa yang mereka lihat, mereka tahu, selamanya akan tersimpan dalam ingatan mereka–nyanyian dan tarian terindah di dunia.


Rin tersenyum bahagia melihat reaksi para penonton yang penuh semangat. Perlahan, dia menoleh wajah ke belakang, menatap inuyoukai yang masih tidak bergerak.


Saat mata mereka bertemu, coklat dan emas, Rin membalikkan badan dan berlari ke arah Inuyoukai itu. Meloncat, dia membuka kedua tangan dan memeluk erat inuyoukai itu. Tawa indah bagaikan dentingan lonceng meluncur keluar dari mulutnya tidak terhentikan.

__ADS_1


Sesshoumaru benar! Apa yang kurang dari musim semi ini adalah nyanyian dan tariannya. Namun kini, semua sudah lengkap. Permainan shamisennya, nyanyian dan tariannya dengan Sesshoumaru menontonnya–musim semi diusianya yang ke lima belas, semuanya telah lengkap.


....xOxOx....


__ADS_2