![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Sesshoumaru membuka sepasang mata emasnya. Seperti biasa, dia menemukan Rin yang tertidur dengan damai. Hanya ditutupi mokomokonya, badan kisaki tanah barat yang tidak terbalut sehelai benangpun berada dalam pelukannya.
Hari ini adalah salah satu hari dalam musim panas. Langit biru cerah dengan matahari pagi yang bersinar terang, angin yang bertiup pelan dengan hawa panas, serta suara serangga yang berbunyi keras.
Namun, Sesshoumaru yang baru membuka mata bisa merasakan sesuatu yang sangat berbeda hari ini. Bukan matahari di atas langit, bukan juga hawa panas musim panas, terlebih lagi, bukan juga suara serangga yang keras di atas pohon—yang berbeda hari ini adalah Rin.
Menatap wanita manusia yang tertidur dengan damai itu, kedua mata emasnya terbelalak karena terkejut. Indra penciumannya yang tajam bisa mencium jelas perubahan bau musim semi abadi yang ada—bau asing yang dulu pernah diciumnya.
Sesshoumaru bisa merasakan jelas betapa jantungnya berdetak sangat cepat. Perasaan terkejut yang ada bahkan membuat dia tidak bisa bergerak. Pertama kali dalam hidupnya, dia kebingungan dan meragukan indra penciumnnya—apakah bau asing yang diciumnya sekarang benar?
Menguatkan hatinya, perlahan, Sesshoumaru membuka mokomokonya yang menutupi tubuh Rin. Dengan hati-hati, dia melepaskan pelukannya tanpa membangunkan kisakinya. Bangkit duduk, pandangan matanya tidak lepas dari wajah damai di depan.
Menatap lekat wajah Rin, pandangan Sesshoumaru kemudian bergerak turun dan berhenti pada perut rata wanita manusia itu. Bermacam-macam perasaan memenuhi hatinya. Tidak percaya, terkejut, bingung, ragu, hangat, puas, bangga, bahagia—semua perasaan bergabung dan bercampur menjadi satu.
Menggerakkan tangan kanannya yang tanpa disadari kini bergetar sedikit, Sesshoumaru menyentuh perut rata itu pelan dan hati-hati. Hangatnya kulit seputih salju itu bagaikan meresap ke seluruh relung hatinya. Lalu, dalam pagi musim panas ini, sang daiyoukai penguasa tanah barat tersenyum—senyum lebar dengan mata yang bersinar penuh kebahagiaan.
....xOxOx....
"Apa yang harus aku lakukan!!?" tangis Myoga keras. Air mata mengalir tidak tertahankan bagaikan air terjun dari mata besarnya. "Aku benar-benar akan mati kali ini!!"
"Hmnn, kau cukup membawakan fushi no kusuri pada Sesshoumaru," balas Totosai yang sedang menempah sebilah pedang tidak peduli. Kedua matanya fokus pada apa yang dikerjakannya. "Dengan begitu, masalahmu terselesaikan."
"Di mana aku mencarinya, Totosai!!" teriak Myoga penuh kemarahan. Meloncat dari atas tanah, dia mendarat pada pundak youkai penempah pedang tessaiga dan tensaiga. "Katakan padaku dimana aku harus mencari obat itu!!??"
Totosai mengangkat tangan kanannya dan menepuk Myoga yang meloncat-loncat dan berteriak keras di pundaknya. Dia tidak peduli sedikitpun youkai kutu yang merupakan temannya sejak ratusan tahun yang lalu itu jatuh kembali jatuh ke atas tanah.
"Aku juga tidak tahu," ujar Totosai kemudian. Menggerakkan lagi tangan kirinya, dia mengorek-ngorek telinganya. "Aku bahkan baru pertama kali mendengar itu fushi no kusuri."
Myoga tidak berkata apa-apa. Dengan badan yang gemetaran, dia berusaha berdiri lagi dengan kedua kakinya di atas tanah.
"Kau selalu bersama Toga-sama selama beliau masih hidup, " lanjut Totosai lagi dan menoleh pandangannya pada Myoga. "Kurasa kau boleh menenangkan diri dan berpikir di mana kemungkinan fushi no kusuri di sembunyikan."
Myoga tertegun mendengar ucapan Totosai. Ucapan temannya itu sangat beralasan, sepertinya dia memang harus menenangkan diri dan berpikir dengan kepala dingin mengenai keberadaan fushi no kusuri.
Tidak mengatakan apa-apa, youkai kutu itu kemudian duduk di atas tanah. Melipat keempat tangannya di dada, dia menutup mata dan memikirkan masa lalu ratusan tahun yang lalu.
Totosai yang melihat Myoga kini diam berpikir, kembali menempa pedang yang dikerjakannya. Tapi, tidak lama kemudian, dia kembali berbicara. "Tapi, aku tidak menyangka akan ada hari dimana Sesshoumaru menginginkan seorang manusia bisa hidup panjang agar bisa selalu bersamanya. Bukankah dia dulu selalu membenci manusia?"
Menghela napas Totosai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mengangkat kepala menatap langit, dia kemudian tersenyum kecil. "Buah memang tidak jatuh jauh dari pohon. Sesshoumaru semakin mirip saja dengan Toga-sama, ayahnya."
"Totosai!!" teriak Myoga tiba-tiba memanggil nama temannya keras. Berdiri tegap, kedua matanya terbuka lebar dengan ekspresi wajah penuh keseriusan.
"Apakah kau sudah mendapatkan petunjuknya?" tanya Totosai menatap Myoga.
"A-aku," jawab Myoga terbata-bata. Sedetik kemudian, ekspresi serius di wajahnya menghilang digantikan tangisan putus asa. "Aku sama sekali tidak memiliki petunjuk!!"
Totosai menggeleng kepala melihat sikap Myoga. Tidak mempedulikannya lagi, dia kembali menempah pedang yang ada di depannya. Sesshoumaru telah berubah, tapi sepertinya temannya, Myoga sang kutu tidak akan pernah berubah.
....xOxOx....
Rin merasa hari ini ada yang aneh. Seharian ini, Sesshoumaru selalu ada di sampingnya. Dari pagi hingga malam, penguasa tanah barat tidak meninggalkan dirinya sedetikpun. Dia tidak mengijinkannya melangkah keluar dari kamar mereka, seharian ini kisaki tanah barat di minta untuk beristirahat.
Sesshoumaru bahkan juga memerintahkan para dayang dan pelayan membawakan semua dokumen tugasnya sebagai penguasa ke kamar mereka. Sambil mengerjakan tugasnya, inuyoukai itu mengawasi Rin yang dipaksanya beristirahat.
Rin walau bingung, dalam hati terdalamnya, sesungguhnya juga sangat gembira. Bisa bersama inuyoukai yang dicintainya, dia tidak akan mungkin menolak. Karena itu, hari ini menjadi salah satu hari paling bahagia baginya.
Duduk diam di samping Sesshoumaru yang mengerjakan tugas, sambil merangkai bunga, menulis sajak ataupun melukis, Rin tidak keberatan sedikitpun dengan hari yang dilaluinya. Dia menyukainya—bersama Sesshoumaru, dia tahu, dia tidak membutuhkan apapun lagi.
Seperti sekarang, duduk di atas kaki Sesshoumaru, berada dalam pelukan dengan punggung membelakangi inuyoukai itu, Rin bisa merasa kehangatan membungkus dirinya. Tangan yang memeluk erat pinggangnya, bau khas, serta tarikan napasnya—dia ingin berada di tempat ini selamanya.
"Rin!!" suara teriakan Jaken yang keras tiba-tiba terdengar. Pintu kamar shoji yang tertutup segera terbuka dengan keras. Mata Rin bisa melihat jelas sosok tubuh youkai katak yang pendek berjalan masuk dengan membawa sebuah meja kecil berisi makan malam masuk ke dalam.
"Rin, ini makan ma—ahhhh!! Sesshoumaru-sama!!" teriakan terkejut dan ketakutan Jaken terdengar jelas saat dia melihat sosok sang penguasa tanah barat yang juga ada dalam kamar.
Meletakkan meja kecil berisi makan malam Rin ke atas lantai tatami, Jaken segera berlutut. Badan kecilnya bergetar, dia mengutuk dirinya sendiri. Jika saja dia tahu Sesshoumaru ada di dalam, dia tidak akan berani bersikap tidak sopan seperti tadi.
Rin meskipun telah menjadi kisaki tanah barat, sikap dan perlakuaannya kepada Jaken sama sekali tidak berubah. Wanita manusia itu tetap menghormati serta menganggap penting youkai katak tersebut, dan itulah yang membuat Jaken tidak berubah—sifat dan sikapnya yang semaunya.
__ADS_1
Rin menatap Jaken yang berlutut ketakutan diam membisu tanpa mengatakan apa-apa. Pemandangan Jaken yang seperti ini bukanlah sesuatu yang langka, sejak kecil hingga sebesar ini, sudah tidak terhitung berapa kali dia melihatnya.
Tertawa, Rin kemudian membuka mulutnya. "Terima kasih telah mengantarkan makan malam Rin, Jaken-sama."
Sarapan pagi, makan siang, snack sore maupun makan malam Rin, biasanya diantarkan Rei. Namun, terkadang, Jakenlah yang mengantarnya, dan biasanya, setelah mengantar makanan, youkai katak itu akan tinggal bersama Rin untuk beberapa saat. Dari bercerita, membahas masa lalu ataupun meminta bantuan menyelesaikan masalahnya—Rin tahu, Jaken sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu sejenak dengannya.
"Sudah tugas hamba, Rin-sama." Balas Jaken cepat dengan menggunakan bahasa sopan pada Rin. Dia serasa ingin menangis, jika saja dia tidak melihat Kiri berjalan menuju perpustakaan istana tanah barat dan berpikir Rin sendirian di kamar, dia akan membuka pintu dengan sopan serta memanggil nama wanita manusia itu 'Rin-sama'.
Sesshoumaru tidak mengatakan apapun melihat interaksi Rin dan Jaken yang ada di depannya. Menatap wanita yang duduk di kakinya, dia kemudian berujar pelan. "Rin, makanlah."
Rin mengangguk kepala. Berusaha bangkit dan pindah dari kaki Sesshoumaru, dia merasakan tangan yang memeluk pinggangnya sama sekali tidak terlepas, malahan, semakin mengerat.
"Sesshoumaru-sama.." panggil Rin pelan penuh kebingungan. Namun, Sesshoumaru tidk peduli, dia menatap Jaken yang di depan dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
Jaken memang tidak dapat menebak apa yang ada dalam pikiran sang penguasa tanah barat. Tapi, mengembara bersama inuyoukai itu ratusan tahun, dia lumayan bisa membaca perintah tidak terucap dari sepasang mata emas itu. Mengangkat meja kecil berisi makan malan, dia segera meletakkannya di hadapan Rin dan Sesshoumaru.
"Makan." Ulang Sesshoumaru lagi dan menatap Rin. Wajahnya tetap datar seperti biasa tanpa ekspresi.
Wajah Rin memerah mendengar ucapan Sesshoumaru, apakah ini artinya, inuyoukai ini menyuruhnya makan dengan posisi seperti ini?
Melihat Rin yang masih saja tidak bergerak, Sesshoumaru kemudian melepaskan tangannya yang berada di pinggang wanita itu. Mengambil sumpit dan mangkuk nasi serta lauk pauk yang ada, perlahan, dia kemudian mulai menyuapi Rin.
Mata Rin terbelalak melihat apa yang dilakukan Sesshoumaru. Wajahnya semakin memerah, tapi melihat mata emas yang menatapnya serta sumpit berisi nasi yang ada di depan mulut, dia kemudian membuka mulut.
Mata Jaken terbelalak besar, dia tidak bergerak sedikitpun melihat pemandangan di depannya. Mengangkat kedua tangan kanan, dia mengucek-ngucek matanya tidak percaya. Apakah yang dilihatnya sekarang nyata? Atau matanya yang sedang bermasalah?—Sesshoumaru menyuapi Rin?
Wajah Rin masih memerah, tapi seulas senyum yang sangat indah merekah di wajahnya. Kedua mata coklat besarnya berbinar penuh kebahagiaan—dia benar bagaikan bunga musim semi yang mekar dengan indah.
"Sesshoumaru!!!!!"
Suara teriakan nyaring tiba-tiba terdengar. Sedetik kemudian, pintu kamar yang tertutup kembali terbuka dengan sangat keras dan memperlihatkan sosok mantan penguasa tanah barat, Inukimi yang berlari masuk.
"Ibunda?" panggil Rin terkejut melihat ibu angkat sekaligus ibu mertuanya itu.
Inukimi tertegun melihat Rin yang duduk di atas kaki Sesshoumaru, serta Sesshoumaru yang menyuapi Rin. Tapi, sejenak kemudian dia segera sadar, perubahan dan sikap aneh putra bodohnya saat berada di dekat sang istri, walau tidak biasa bukanlah sesuatu yang aneh lagi baginya—Rin adalah harta paling berharga bagi Sesshoumaru.
Duduk tepat di depan Sesshoumaru dan Rin, hanya terhalangi meja kecil berisi makan malam Rin, dia mendekatkan wajahnya pada putra kandung satu-satunya. "Sesshoumaru!! Temani ibundamu ini melepaskan semua beban pikirannya!"
Sesshoumaru tetap tidak mempedulikan sedikitpun perintah Inukimi. Tangannya dengan pelan, menyumpit ikan di atas meja dan menyuapkannya pada Rin yang menatap dirinya serta ibu kandungnya bergantian.
Inukimi yang mengurung diri dalam pepustakaan istana barat kurang lebih dua bulan mencari tahu tentang meido seki, sepertinya sudah mencapai batas. Inuyoukai yang selalu semaunya tidak mungkin lagi dapat bertahan berdiam diri lebih lama, dan dia membutuhkan pelampiasan untuk semua deritanya itu.
Melepaskan beban?—Sesshoumaru tahu, maksud Inukimi itu tidak lain adalah menemaninya bertarung, dan dia tidak sudi membuang waktunya yang berharga untuk sesuatu yang tidak berguna itu.
"Sesshoumaru!! Apakah kau mendengarkan ku???" teriak Inukimi lagi. Kekesalan memenuhi hatinya melihat sikap putra kandungnya yang tidak acuh.
"Ibunda," suara Rin yang memanggilnya lembut membuat Inukimi menoleh wajah menatap wanita manusia itu. Hatinya yang kesal langsung melunak saat melihat seulas senyum manis terarah padanya. "Bagaimana kalau Rin saja yang menemani Ibunda melepaskan semua beban pikiran?"
"Oh, putriku..." Inukimi mendesah penuh pujaan melihat senyum dan mendengar ucapan Rin. Ternyata memang putri angkat sekaligus menantunya inilah yang paling menyayanginya, berbeda sekali dengan putranya yang berengsek.
"Rin tidak bisa bertarung dengan ibunda," lanjut Rin lagi dengan senyum yang makin melebar. "Tapi, Rin bisa menemani Ibunda bercerita, memainkan shamisen ataupun bernyanyi."
"Oh, kau memang putriku, Rin-kecil!!" desah Inukimi lagi. Mengangkat kedua tangannya, dia segera memeluk kepala Rin dan mencium kening wanita manusia itu lembut.
Rin tertawa dengan sikap Inukimi. Berada di tengah kedua daiyoukai dari barat yang ditakuti dan dihindari semua orang, ekspresi bahagia di wajahnya tidak berubah sedikitpun—yang ada, tawanya yang bagaikan dentingan lonceng semakin kuat.
Sesshoumaru tetap tidak bereaksi sedikitpun, tapi melihat tawa bahagia di wajah Rin, mata emasnya melembut—dia sungguh menyukai tawa itu.
Inukimi yang memeluk dan mencium kening Rin juga tersenyum bahagia. Berada sedekat ini dengan wanita manusia ini, dia bisa mencium jelas bau musim semi yang menyenangkan, meski tidak dapat dipungkiri, juga bau putra kandungnya yang tertinggal kuat serta bau—bau ini??
Mata Inukimi terbelalak saat indra penciumannya yang tajam mencium bau asing yang sekaligus tidak asing dari tubuh Rin. Melepaskan pelukannya, dengan matanya yang terbelalak, dia kembali mencium-cium menantunya itu dengan saksama sekali lagi.
Sikap Inukimi yang mencium-cium bau Rin membuat kebingungan memenuhi hati. Mengernyitkan dahinya, dia bertanya pelan. "Ibunda, ada apa?"
Inukimi tidak menjawab pertanyaan Rin. Indra penciumannya benar tidak salah, meski tidak kuat dan sangat tipis, bau asing itu benar-benar ada dan berasal dari tubuh Rin.
Dengan mata yang terbelalak besar, tanpa berkedip serta mulut yang terbuka lebar, Inukimi kemudian mengangkat wajahnya menatap Sesshoumaru. "B-benarkah ini?" tanyanya terbata-bata.
__ADS_1
Pertanyaan Inukimi hanya membuat Rin semakin bingung. Tapi, tidak untuk Sesshoumaru, melihat ibu kandungnya yang telah mencium bau Rin sedekat itu, serta melihat ekspresi terkejut yang ada, dia jelas tahu inuyoukai itu telah menyadari keadaan Rin.
Perlahan, dengan wajahnya yang tetap tidak berekspresi, Sesshoumaru kemudian mengangguk kepala pelan.
Ekspresi terkejut di wajah Inukimi segera berubah. Seulas senyum memenuhi wajahnya, dan sedetik kemudian berubah menjadi tawa kebahagiaan yang sangat keras. "Bagus!! Bagus!! Kau sudah berkerja keras Sesshoumaru!!"
Tawa kebahagiaan dan ucapan Inukimi membuat Rin semakin bingung, menatap Inukimi lagi, dia kembali bertanya, "Ada apa, ibunda?"
Pertanyaan Rin segera membuat Inukimi menatap wanita manusia itu kembali. Sejenak kemudian, dengan senyum tawa yang tidak kunjung menghilang dari wajah, dia menatap Sesshoumaru. "Rin-kecil belum tahu?"
Sesshoumaru menggeleng kepala.
"Ada apa, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin dan menoleh kepala kepada Sesshoumaru. Dia benar-benar binggung dengan sikap ibu-anak inuyoukai di sampingnya sekarang ini.
Pertanyaan serta mata besar jernih penuh kebingungan yang terarah padanya membuat Sesshoumaru kemudian menurunkan sumpit dan mangkuk nasi di tangannya. Bergerak pelan, tangan kanannya kemudian mengenggam tangan kanan Rin dan meletakkannya di atas perut wanita manusia itu.
Rin tetap kebingungan dan tidak mengerti maksud dari gerakan Sesshoumaru. Dia tidak bertanya lagi, tapi mata coklatnya bersinar indah meminta penjelasan.
Ekspresi di wajah cantik Rin, mata coklat jernih itu-mata Sesshoumaru melembut luar biasa. Seulas senyum kecil kemudian mengembang di wajahnya yang tampan. "Anak."
"Eh?"
Rin tertegun. Kedua mata coklatnya yang menatap Sesshoumaru tidak dapat menyembunyikan perasaan tertegun dalam hatinya. Apa yang barusan dikatakan Sesshoumaru? Apakah dia salah dengar?—anak?
Perasaan tertegun Rin dengan segera berubah menjadi terkejut dan juga tidak percaya. Kedua mata coklatnya terbelalak, sedangkan tangannya bergetar. Menurunkan pandangannya secepat mungkin, dia menatap perut ratanya yang ditutupi tangannya sendiri dan Sesshoumaru.
Anak?—anak? Apakah arti kata Sesshoumaru adalah ada kehidupan baru yang akan tumbuh besar dalam badannya sekarang? Apakah dia telah mengandung sekarang? Apakah dalam rahimnya kini telah ada anak sesshoumaru dengannya?—anak mereka?
Mengangkat kepala kembali menatap Sesshoumaru, dengan ekspresi wajah yang tidak berubah, Rin kembali mengajukan pertanyaan. Akan tetapi, dia tidak menemukan suaranya.
Sesshoumaru mengenggam erat tangan Rin yang berada di atas perut wanita manusia itu. Perlahan, tangan satunya lagi bergerak membelai lembut pipi Rin.
"S-sshoumaru-sama," panggil Rin terbata-bata setelah berjuang keras menemukan suaranya. "A-apakah R-rin sedang mengandung seorang anak?"
Senyum kecil di wajah Sesshoumaru semakin kentara, mengangguk dia menjawab pertanyaan Rin. "Anak kita."
Anak kita—anak mereka berdua.
Rin tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Waktu bagaikan terhenti detik itu juga, dunianya ini bagaikan disinari cahaya menyilaukan yang tidak berkesudahan. Angin yang berhembus adalah angin yang hangat, dan berisikan kebahagiaan—kebahagiaan tiada bandingnya di dunia.
Air mata mengalir turun tidak terbendung. Kebahagiaan dan kehangatan yang menyesakkan memenuhi dada. Menurunkan kembali wajahnya pada perut ratanya, dalam air mata, Rin tersenyum.
Anak mereka.
Dalam perutnya, dalam rahimnya, kini telah ada seorang anak. Anak dari Sesshoumaru dengannya. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kebahagiaan seperti ini menghampirinya?
Bayangan masa lalunya terlintas bagaikan sebuah pertunjukkan dalam pikiran Rin. Gadis kecil yang kehilangan keluarga dan sebatang kara. Gadis kecil yang bertemu dengan seorang inuyoukai, mati dan dihidupkan. Inuyoukai yang selalu ada untuk sang gadis, inuyoukai yang selalu dicintainya—inuyoukai yang akhirnya menjadi suaminya. Lalu—kini, gadis kecil yang telah dewasa memiliki seorang anak; anak dari inuyoukai yang dicintainya.
Hidupnya yang berubah. Kehidupan yang seharusnya telah tiada tapi terselamatkan, dan semenjak saat itu, semuanya serasa merupakan keajiban. Keajaiban akan kebahagiaan, dan sekarang kejaiban itu telah menjadi nyata, menjelma menjadi sebuah kehidupan baru yang akan tumbuh dalam rahimnya—anak mereka.
Menggerakkan tangan kirinya, bersamaan dengan tangan kanannya, Rin memeluk pelut ratanya. Air mata yang mengalir berjatuhan bersama isak tangis kebahagiaan yang pecah. "Terima kasih. Terima kasih, terima kasih, terima kasih telah bersedia menjadi keajaiban untuk Rin." mengangkat kepala pelan, tersenyum dan tertawa dia menatap Sesshoumaru. "Dan terima kasih, Sesshoumaru-sama. Terima kasih sudah bersedia menciptakan keajaiban ini bersama Rin."
Terima kasih.
Ucapan yang diucapkan dengan tulus penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Tapi, sesungguhnya, betapa Sesshoumaru tidak membutuhkan kata itu. Karena, bukan Rin yang seharusnya berterima kasih, melainkan dirinyalah yang seharusnya berterima kasih—terima kasih karena telah menjadi ibu dari anaknya.
Mengangkat kedua tangan pelan, Sesshoumaru kemudian memeluk erat namun lembut Rin yang masih menangis penuh kebahagiaan. Mendekatkan wajahnya pada telinga sang wanita, dia berbisik pelan. "Terima kasih, Rin."
Tangis Rin hanya semakin pecah, masih memeluk perut ratanya, dia tidak tahu harus apalagi untuk meluapkan kebahagiaan yang ada, dan Sesshoumaru bisa merasakan itu semua. Senyum di wajah tampannya semakin melebar, menutup mata, inuyoukai itu membiarkan dirinya larut dalam kehangatan dan kebahagiaan yang ada.
Keajaiban.
Sesshoumaru merasa hangat mendengar kata itu. Tapi, dia setuju dengan gambaran itu. Anak dalam kandungan Rin itu—anak mereka adalah keajaiban dalam kehidupan mereka.
Inukimi tidak bergerak melihat apa yang terjadi di depannya. Dia bisa merasakan pandangannya menjadi sedikit kabur karena adanya penumpukkan air di mata. Dia merasa sangat terharu melihat dan mendengar ucapan terima kasih dari seorang wanita yang akan segera menjadi seorang ibu. Tapi, meski begitu senyum lembut penuh kebahagiaan di wajahnya tidak menghilang dari wajahnya.
Jaken yang ada dalam kamar juga tidak bergerak. Kedua matanya masih terbelalak dengan apa yang terjadi di depan matanya. Anak? Anak dari Sesshoumaru dan Rin? Pewaris tanah barat yang besar kelak-mirip siapakah anak itu kelak?
__ADS_1
....xOxOx....