Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 166


__ADS_3

Sora berdiri menatap sekelilingnya. Sisa bangunan yang hancur dan terbakar sejauh matanya memandang. Tidak ada lagi keindahan dan kehangatan di tempat ini seperti saat youkai tikus putih itu menginjakkan kaki pertama kali saat kecil—tidak ada lagi sang kisaki dengan senyum sehangat musim semi tersebut.


Berjalan pelan menyusuri tempat yang telah hancur, Sora berusaha keras memikirkan kemungkinan di mana dirinya berada sekarang di paviliun timur istana tanah barat yang hancur tidak dikenali lagi. Istana tanah barat yang besar dan indah ini kini seakan tinggal nama tanpa seorangpun penghuninya. Kemegahan dan kebesaran yang ada telah menghilang tidak terhentikan.


Terus melangkah, Sora penuh kewaspadaan, dia tidak tahu mengapa tempat ini kosong sekarang, tapi melihat bekas darah di pintu masuk istana dan paviliun lainnya, dia tahu, ada pertarungan sengit yang terjadi sebelumnya. Apa Shui meninggalkan tempat ini dan kembali ke istana tanah utara? Keberadaan youkai naga itu sama sekali tidak diketahui sekarang.


Langkah kaki Sora kemudian terhenti saat matanya menangkap sesuatu di bawah lantai tatami yang hancur. Berjongkok ke bawah, tangannya mengambil sesuatu tersebut, dan itu adalah kain kanvas yang terkoyak. Namun, meski begitu, mata merahnya masih bisa melihat wajah dan senyum indah yang selalu ada dalam ingatannya pada kain kanvas tersebut.


....xOxOx....


"Kenapa kau duduk termenung, Kegome?" Inuyasha bertanya dan duduk disamping Kagome. Wajah inuhanyou itu penuh kekhawatiran saat melihat istrinya duduk sendirian diberanda kamar yang disediakan untuk mereka di tanah netral.


Kagome menoleh kepalanya menatap Inuyasha dan tersenyum. Tapi, dia tidak menjawab pertanyaan yang diarahkan padanya.


"Apa yang kau pikirkan, Kagome?" tanya Inuyasha lagi. Dia tidak dapat menebak apa yang dipikirkan miko masa depan tersebut, karena itu kekhawatiran yang ada semakin besar.


"Kau tahu, Inuyasha," ujar Kagome kemudian dengan senyum yang tidak berubah di wajahnya. "Yang dia tanyakan padaku saat aku mencerita dongeng sang youkai dan putri manusia adalah; 'apakah dia bahagia?'."


Inuyasha terdiam mendengar ucapan Kagome. Dia tidak perlu bertanya siapa 'Dia' yang dimaksud Kagome, sebab dia tahu dengan jelas jawabannya.


"Kurasa bagi Shura, sampai akhir," lanjut Kagome lagi sambil tertawa kecil. Namun, matanya sama sekali tidak tertawa. "Yang paling penting adalah kebahagiaan Rin. Persis seperti kakak."


Inuyasha tetap diam mendengar ucapan Kagome, kali ini adalah karena dia tidak tahu harus mengatakan apa. Kebahagiaan Rin, pentingnya Rin bagi Sesshoumaru dan juga Shura, dia tidak dapat berkomentar sedikitpun.


"Karena itulah, takdir itu; kejam." Tersenyum sendu, Kagome tidak dapat tertawa lagi. Dia berterima kasih pada Jaken yang tiba-tiba masuk mencari Shura semalam, karena dia tidak bisa bercerita lebih lagi kisah tersebut. Sampai hari ini, dia masih tidak dapat mengerti dan menerima, kenapa kisah sebenarnya tidak dapat berakhir seperti dongeng yang diceritakannya?—bahagia selamanya. Kenapa kisah yang sebenarnya harus berakhir dengan penuh air mata?


Inuyasha tidak dapat berkata apa-apa, sebab dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan. Dongeng Kagome adalah kisah yang dilihatnya dengan matanya sendiri, hanya saja akhir kisah berbeda dengan cerita. Sepuluh tahun telah berlalu, tetapi luka yang ditinggalkan membekas selamanya.


Keheningan memenuhi mereka, sebab topik pembicaraan ini adalah sebuah topik pembicaraan yang selalu membuat mereka tidak tahu harus mengucapkan apa. Mungkin karena sedih, atau mungkin karena iba ataupun karena; bersalah. Wanita yang paling pantas bahagia tidak mendapatkan kebahagiaan, dan pada akhirnya dia memberikan kebahagiaan tersebut kepada mereka.


Tidak mau larut dalam keadaan yang dia tahu tidak akan pernah mendapatkan penyelesaiannya, Kagome kemudian menepuk kedua pipinya dan tersenyum pada Inuyasha, "Baiklah, ada apa kau mencariku, Inuyasha?"


Pertanyaan dan juga sikap Kagome membuat Inuyasha tersadar dari pikirannya. Seketika dia teringat kembali dengan tujuannya mencari istrinya tersebut, "Hei, Kagome," panggilnya, ekspresi wajahnya kini penuh protes. "Kenapa kau membiarkan Sakura berada di dekat si kecil itu? Jika Shiro tidak memberitahuku, aku tidak akan tahu!!"


Kagome tidak menjawab pertanyaan Inuyasha, dia menatap suaminya tersebut dalam diam.


"Kau tidak lihat bagaimana cara si kecil itu menatap Sakura? Matanya itu seakan mengatakan Sakura adalah miliknya!! Lalu yang paling penting, kau tidak dengar cerita Shiro??!! Si kecil itu suka memeluk Sakura! Ingat itu!! Memeluk!!!!"


Kagome tidak tahu harus mengatakan apa untuk membalas ucapan Inuyasha, tapi sejenak kemudian dia tertawa. "Inuyasha, Shura dan Sakura adalah anak-anak, apa yang kau khawatirkan?"


"Anak-anak??!! Si kecil itu adalah inuyoukai, kau tahu posesifnya Sesshoumaru, kan?? Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, bagaimana kalau kelak si kecil itu juga begitu kepada Sakura??"


Kagome melipat kedua tangannya di dada dan menunduk kepala sedikit memikirkan protes Inuyasha yang masih belum selesai. Ucapan inuhanyou itu mungkin ada benarnya, tapi, dia tidak melihat ada permasalahan di dalamnya.


"Hei, Kagome, kenapa kau diam membisu?" tanya Inuyasha melihat diamnya Kagome yang tidak memberikannya reaksi sedikitpun.


"Inuyasha," panggil Kagome kemudian dan mengangkat kepala menatap Inuyasha. "Aku tetap tidak mengerti kenapa kau protes seperti ini."


"Eh??" jawaban Kagome membuat Inuyasha tertegun.


"Shura dan Sakura masih kecil, mereka dekat bukanlah sesuatu yang salah. Kulihat, Sakura sendiri juga ingin dekat dengan Shura." Lanjut Kagome lagi sambil tersenyum. "Dan juga, jikapun kelak hubungan mereka berubah, mereka berdua pasti bisa mempertangung jawabkannya."


"Apa??!" teriak Inuyasha. Jawaban Kagome jelas bukanlah jawaban yang dipredeksinya.


"Aku percaya Sakura dan Shura. Lagian, jika hubungan mereka berdua kelak memang seperti itu, bukankah itu sesuatu yang baik?" tanya Kagome sambil menatap Inuyasha penuh senyum.


Inuyasha terdiam seribu bahasa menatap bingung Kagome, dia tidak tahu apa indra pendengarannya yang salah atau otaknya yang salah memproses apa yang di dengar.


"Dengar, Inuyasha," lanjut Kagome tidak peduli akan reaksi Inuyasha. "Sesuai katamu, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, jadi aku bisa membayangkan bagaimana Shura kelak saat besar. Dia akan seperti kakak. Tampan, kuat, pintar, bisa diandalkan dan juga terjamin kehidupannya—di mana lagi kita bisa menemukan menantu laki-laki sesempurna itu?"


Inuyasha masih terdiam tetapi ucapan Kagome membuatnya sangat terguncang. Dia hanya membahas kedekatan Shura dan Sakura, tapi bagaimana bisa istrinya itu malah membahas menantu laki-laki?


"Aku akan senang jika itu benar-benar terjadi. Bagaimana—" lanjut Kagome lagi. Tapi, Inuyasha yang diam membisu tiba-tiba berdiri sambil berteriak menghentikannya. "Tidak!!!"


Terkejut, Kagome menatap penuh kebingungan Inuyasha yang terus berteriak di hadapannya.


"Tidak!! Tidak!! Tidak akan kubiarkan!! Aku tidak mengijinkannya!!" Inuyasha tidak bisa mengontrol emosinya. Membayangkan putri kecilnya yang cantik dan lucu itu bersama dengan Shura yang seperti Sesshoumaru, dia benar-benar tidak dapat mengijinkannya. Sakura terlalu bagus untuk si kecil itu. Memangnya kenapa kalau kelak si kecil itu tampan, kuat, pintar, bisa diandalkan dan terjamin kehidupannya?—putrinya berhak mendapatkan pasangan yang lebih dari itu!!


"Pokoknya tidak boleh!!" teriak Inuyasha lagi. Dia menatap Kagome penuh kemarahan dan tidak terima.


Kagome tertegun melihat sikap Inuyasha yang diluar dugaan. Berusaha menenangkan, miko masa depan ingin membuka mulutnya, namun, inuyoukai itu dengan segera membalikkan badannya dan berlari keluar sambil berteriak. "Aku tidak mengijinkannya! Titik!!!"


Kagome yang ditinggal sendirian dalam kamar hanya dapat menatap pintu kamar yang terbuka dengan sosok punggung Inuyasha yang menghilang dari pandangan.


"Haaisss." Menghela napas, Kagome menutup mata dan memijat keningnya. Sudah setua ini dan menjadi ayah dari dua anak, sikap Inuyasha tetap saja tidak berubah. Tetapi, tidak lama kemudian, miko masa depan itu tertawa memikirkan apa yang diucapkannya barusan.


Menantu laki-laki—Shura.


Kagome akan sangat senang dan bahagia jika itu terjadi kelak, bukan karena Shura kelak tampan, kuat, pintar dan dapat diandalkan ataupun kelansungan hidup yang terjamin karena Shura adalah anak seorang penguasa. Ya, itu penting, tapi bukanlah yang terpenting. Kriteria paling penting bagi Kagome saat memikirkan pasangan masa depan untuk anaknya hanyalah satu, yakni; mereka haruslah seorang youkai ataupun hanyou.


Mungkin akan ada banyak orang yang mengangapnya aneh, dan mungkin juga manusia akan mengangapnya penghianat karena seakan memandang rendah manusia padahal dia sendiri adalah manusia. Tapi, memang itulah kenyataannya. Anaknya bukanlah manusia, anaknya adalah hanyou yang memiliki umur panjang, dia tidak ingin anaknya mengalami perpisahan yang menyedihkan jika mencintai manusia seperti—Sesshoumaru dan Rin.


Shura dan Sakura.


Jika mereka kelak benar-benar bisa bersama, maka dirinya tidak akan keberatan. Putra Rin akan menjadi putranya juga dan putrinya akan menjadi putri Rin—Kagome kembali tertawa memikirkannya, mungkin memang inilah namanya; takdir.


Sakura.


Bagi Kagome, Inuyasha dan Shiro, kehadiran Sakura adalah keajaiban. Dirinya yang tidak mungkin mengandung lagi, bisa mengandung Sakura tidak lama setelah dia menelan fushi no kusuri. Anak yang tidak mungkin ada bisa ada dan memberikan mereka kebahagiaan yang tidak terucapkan.


Jika saja Rin tidak pernah menyempurnakan dan memberikan fushi no kusuri padanya, maka di dunia ini, tidak akan pernah ada putri mereka yang cantik. Karena itu untuk Kagome, Inuyasha dan Shiro, Sakura adalah keajaiban—keajaiban terakhir yang dihadiahkan Rin pada mereka.


Kenapa Sakura bernama Sakura? Karena itu adalah bunga musim semi kesukaan Rin. Kagome ingat jelas dulu Rin pernah mengatakan ingin memberikan nama Sakura jika anaknya perempuan. Sakura adalah putri Kagome, sekaligus juga putri Rin.

__ADS_1


Kagome kembali teringat, dulu Inuyasha pernah mengatakan bahwa dia tidak ingin Shura terlahir sebagai inuhanyou sepertinya karena di dunia ini tidak akan ada Kagome kedua yang akan menemaninya, tapi sekarang Kagome tersenyum—benar, tidak akan ada Kagome untuk Shura, karena itu dalam hatinya, Sakura akan menjadi keberadaan seperti itu untuk Shura. Lalu, melihat kedekatan kedua anak tersebut, itu mungkin saja akan terjadi. Dunia yang aneh dan tidak tertebak, masa lalu dan masa depan yang terhubung,  Kagome merasa benang takdir mungkin telah mengikat Sakura sejak lahir—untuk Shura.


....xOxOx....


Shura duduk sendiri dalam diam, di depannya, dia bisa melihat sosok ayah kandungnya yang tidak bernapas. Pertama kali dalam hidupnya dia melihat sosok inudaiyoukai berkebanggaan tinggi itu seperti ini. Menatap dan terus menatap, wajahnya datar tanpa ekspresi.


Keheningan yang ada tanpa suara, Shura tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu sejak dia memasuki ruangan ini. Tidak ada yang ikut memasuki ruangan ini bersamanya saat dia membuka pintu yang tertutup termasuk Sakura, mungkin karena mereka semua tahu dia butuh waktu bersama ayahnya.


Menutup mata, Shura mau tidak mau teringat dengan ucapan terakhir ayahnya.


Shura, lupakanlah...


Lupakanlah. Lupakan apa? Shura tahu, yang diinginkan ayahandanya adalah melupakan  ibu kandungnya. Hanya saja..


"Anda menyuruh Shura melupakan," membuka mulutnya Shura berujar pelan meski dia tahu tidak akan ada balasan. "Kenapa?"


Dongeng Kagome yang didengarnya semalam, dia tahu, itu adalah kisah ayahanda dan ibundanya. Dari kisah tersebut, berapa banyak yang benar dan berapa banyak yang tidak—setidaknya tidak ada akhir selamanya bersama dalam kenyataan yang ada.


Apakah ayahandanya mencintai ibundanya?—Shura tidak tahu. Dalam dongeng Kagome, ayahandanya sangat mencintai ibundanya, begitu juga dengan dirinya. Demi mereka berdua, ayahadanya menghadapi dunia youkai dan manusia—sesuatu yang tidak dapat dipercayainya. Karena itu....


"Apakah anda mencintai Shura, Ayahanda?" bertanya pelan, Shura menatap terus wajah Sesshoumaru. "Apakah anda masih mencintai Shura dan Ibunda, ayahanda? Mencintai kami seperti dalam dongeng yang ada?"


Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan.


Mungkin ayahandanya dulu pernah mencintai mereka. Tapi setelahnya ayahandanya sadar, cinta adalah kelemahan. Karena itulah ayahandanya kemudian—membuang mereka. Itulah alasan kenapa ayahandanya tidak pernah memberitahunya kenyataan, itulah alasan kenapa ayahandanya mengirimnya ke tanah selatan, alasan kenapa ayahandanya menyuruhnya melupakan—karena cinta adalah kelemahan.


Seorang penguasa youkai tidak boleh lemah, seorang penguasa youkai harus selalu kuat tanpa celah. Cinta dan perasaan adalah sesuatu yang tidak seharusnya dirasakan—baik ayahadanya maupun dirinya ditakdirkan untuk tidak mengenal cinta.


Aku mencintaimu Shura...


Suara lembut dalam mimpi, bisikan kata cinta yang pelan penuh makna. Kehangatan dan kenyamanan yang diberikan—cinta tiada batas yang ada.


Apakah dia mengharapkan cinta? Apakah dia ingin dicintai seperti halnya Sakura, Shiro dan yang lainya dicintai orang tua mereka?—Shura tidak berani menjawab.


Rin membencimu.


Ekspresi wajah penuh kebencian dengan mata yang menatapnya tajam—wajah Shui yang meniru wajah ibunya. Apakah ibundanya membencinya? karena dialah penyebab beliau meninggal.


Dia bahagia selama sisa hidupnya.


Ucapan Kagome, Shura tidak tahu harus mempercayainya atau tidak. Bahagiakah beliau? Bahagiakah ibundanya meski pada


hidupnya begitu singkat?


Lupakanlah...


Ucapan terakhir ayahandanya kembali terlintas dan Shura menutup matanya pelan. "Jika Shura melupakan, apakah anda akan membuka mata, Ayahanda?"


Tetap keheningan tanpa jawaban yang didapatkannya, membuka mata, Shura kembali menatap wajah ayahandanya.


Shura tidak dapat menyelesaikan ucapannya dan dia juga tidak mau memikirkannya lagi. Tidak ada gunanya dia berpikir seperti itu, yang paling penting sekarang adalah menemukan tensaiga dan menghidupkan ayahandanya. Dia tidak boleh lemah, dia tidak boleh goyah, karena itu—dia akan melupakan.


....xOxOx....


"Lari!!!!"


"Tidak!! Tolong!!"


"Tolong!!"


Api membakar rumah para penduduk kota, suara teriakan keras memecahkan keheningan malam. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, tapi mereka tahu, mereka berada dalam bahaya jika mereka hanya berdiam diri.


"Lari dan beteriaklah!!"


"Bakar dan hancurkan!!"


Suara tawa keras menimpah suara teriakan ketakutan para penduduk kota. Di atas langit maupun di atas tanah, para youkai tertawa gembira melihat kekacauan yang ada. Menggerakkan tangan maupun senjata, mereka yang jumlahnya begitu banyak menghancur dan membakar kota dimana para manusia hidup.


"Jangan bunuh para manusia itu dulu, tangkap mereka!!"


"Jangan biarkan mainan kita kabur!!"


"Kita boleh melukai mereka, tapi jangan sampai mati—belum saatnya!"


Ketakutan para penduduk kota semakin meningkat, darah merah telah membasahi sekeliling dan mereka yang terluka parah di atas tanah merintih kesakitan. Pemandangan yang mereka lihat adalah neraka dimana tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka. Tidak ada seorangpun penduduk kota yang mengerti apa yang terjadi. Mereka tidak mengerti kenapa ratusan youkai ini bisa tiba-tiba muncul dan menghancurkan kota mereka.


"Lari!!"


"Tolong!!"


....xOxOx....


"Sakura, kemarilah," panggil Inuyasha melihat Sakura yang duduk dan tersenyum manis di samping Shura. "Duduk di samping ayah."


"Iya, Sakura," tambah Shiro yang berada di samping Inuyasha cepat. Sepasang mata emasnya menatap tajam Shura yang balas menatapnya tanpa ekspresi. "Ayah kesepian karena kau tidak memeluknya hari ini."


Sakura menoleh menatap Inuyasha dan Shiro, sejenak kemudian dia segera berdiri dan berjalan menuju ayah dan kakaknya. Namun, baru satu langka diambilnya, Shura menangkap tangannya dan menghentikannya.


"Kak Shura?" menatap Shura, kedua bola mata besarnya penuh kebingungan.


"Apa yang kau lakukan kecil??"


"Hei!! Lepaskan adikku!!"

__ADS_1


Suara teriakan penuh kemarahan Inuyasha dan Shiro memenuhi ruangan. Berdiri, mereka berdua yang penuh kemarahan ingin melangkah maju, namun suara Kagome terdengar lantang menghentikan. "Inuyasha, osuwari! Shiro, berhenti!!!"


Inuyasha langsung jatuh ke bawah karena dorongan gravitasi kasat mata, sedangkan Shiro, dia langsung mematung tidak bergerak di tempat. Dari dulu sampai sekarang, hanya Kagome seorang saja yang dapat menghentikan kedua ayah-anak tersebut.


"Kagome!!!!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Namun, tidak untuk Shiro, dia masih berdiam diri ditempatnya tanpa gerak.


Kagome tidak mempedulikan Inuyasha dan Shiro, begitu juga dengan mata semua orang tertuju pada keluarga mereka, dia tertawa riang. "Tidak apa-apa, tidak perlu mempedulikan mereka berdua," menatap Sakura dia tersenyum. "Sakura-chan duduk disamping Shura-kun saja."


Sakura tidak mengerti apa yang terjadi, tapi dia mengangguk kepala dan kembali duduk di samping Shura. Sejak dulu sampai sekarang, dalam keluarga mereka, ibu adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Ayah dan kakaknya tidak pernah berkutik dihadapan beliau, karena itu sebagai seorang putri dia juga akan mendengar ucapan sang ibu.


Shura melepaskan tangan Sakura saat inuhanyou itu kembali duduk disampingnya. Menatap Kagome sejenak, dia melihat miko masa depan itu tersenyum padanya.


Miroku yang ada di samping Inuyasha tidak memberikan reaksi sedikitpun. Apa yang terjadi barusan sudah seperti sarapan pagi baginya, jadi dia tidak peduli. Menoleh kembali pada peta dia depannya, dia kembali meneruskan ucapannya. "Baiklah, kita harus menentukan jalur terbak untuk menuju gunung hare."


Dalam ruangan ini sekarang mereka semua berkumpul mengelilingi sebuah peta membahas rencana mereka menuju gunung hare—keluarga Inuyasha, keluarga Miroku, Shippo, Yuki, Koharu, Jaken dan Shura. Kecuali Shura, keberadaan Shiro, Sakura, Mamoru, Aya dan Maya sebenarnya tidak begitu diperlukan, sebab mereka tidak akan ikut ke gunung hare. Tapi mereka sama sekali tidak peduli, dan bersikap keras untuk mengikuti rapat.


"Dari informasi yang kami dapatkan," ujar Koharu, sang youkai tupai pelan sambil menunjuk peta. "Di daerah ini dan ini, para youkai berkumpul, dan jumlah mereka sangat banyak. Kurasa akan lebih baik kalian menghindari jalur ini."


"Hmm, kurasa kita harus mengambil jalur belakang gunung," Kohaku memberikan pemasukan begitu mengamati peta di depan. "Kita tidak bisa mengambil jalur utama yang ada."


"Aku setuju dengan Kohaku." Timpah Sango menyetujui ucapan adiknya. "Aku merasa itu jalur teraman."


"Tapi, ada kemungkinan juga jalur itu tidak aman, sebab kami masih belum mendapat informasi di jalur tersebut," sela Yuki pelan. "Terlebih lagi kalian akan memakan banyak waktu."


"Yuki-chan benar, kita tidak bisa menggunakan jalur tersebut," Kagome menyetujui. Tangannya menunjuk jalur lain dalam peta. "Bagaimana dengan jalur samping ini?"


"Informasi di jalur itu juga masih belum ada, Kagome." Balas Shippo sambil melipat tangan di dada.


"Hei," sela Inuyasha. Menatap mereka yang sibuk menatap peta, dia berujar keras. "Kenapa kalian sibuk seperti ini?? Buat apa melihat peta dan menentukan jalur, kita cukup menggunakan jalur utama saja. Jika ada yang menyerang ya kita lawan."


Semua mata dalam ruangan menoleh menatap Inuyasha. Pandangan mereka semua kecuali Shiro yang setuju dan Sakura yang tersenyum sangat datar tidak berekspresi, mereka seakan mendengar ucapan teraneh yang ada. Mereka tidak mengerti pikiran Inuyasha, apa dia ingin menyuruh mereka menyerang langsung pasukan youkai tanah utara dan timur yang berjumlah ribuan?—itu sama saja dengan bunuh diri.


"Sekali lagi," ujar Kagome pelan memecah keheningan dan kembali menatap peta. "Abaikan dia."


Tidak mengucapkan apapun, pandangan semua kembali terarah pada peta tidak mempedulikan Inuyasha yang berteriak kencang memprotes. "Hei!! Apa maksud pandangan mata kalian??"


Tok-tok-tok.


Suara ketukan pintu terdengar, dan sejenak kemudian, Sora membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. "Aku pulang semuanya."


"Sora, kau akhinya pulang," ujar Yuki gembira. Berdiri, dia langsung berjalan menuju adik kandungnya sambil tersenyum. "Kau tidak apa-apa, kan?"


"Aku tidak apa-apa, kakak," senyum Sora melihat kakak satu-satunya. Mendekati Yuki, dia mengenggam tangan kakaknya."Jangan khawatir."


"Apa ada yang ingin kau sampaikan, Sora?" tanya Shippo menatap Sora. "Ada infomasi yang kau dapatkan?"


Sora adalah salah satu youkai di tanah netral yang berkerja sebagai pencari infomasi, bahkan dia adalah pencari informasi terbaik di tanah netral. Tidak ada seorangpun yang pernah menyangka bahwa youkai kecil yang selalu bersembunyi di belakang kakaknya akan tumbuh besar menjadi sosok yang luar biasa seperti itu dalam sepuluh tahun.


"Aku tidak mendapatkan informasi berguna," jawab Sora sambil membimbing kembali Yuki, mereka duduk bergabung dengan Shura, Inuyasha dan yang lainnya. "Aku pergi ke istana tanah barat."


Jawaban Sora membuat semua yang ada menatapnya. Namun, tidak ada seorangpun yang bertanya lebih lanjut, mereka menunggu youkai tikus putih itu meneruskan jawabannya.


"Istana tanah barat telah hancur, dan kososng tidak ada seorangpun di sana," lanjut Sora pelan menjelaskan apa yang dilihatnya. "Ada pertarungan yang terjadi. Ada darah dimana-mana, tapi tidak ada jasad. Aku tidak tahu apa yang terjadi."


Semua yang ada terdiam mendengar penjelasan Sora. Istana yang kosong dan hancur, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Apakah kau tahu di mana Shui berada sekarang?" tanya Miroku kemudian. Sekarang sosok yang paling mereka khawatirkan adalah Shui, sebisa mungkin mereka tidak boleh berhadapan dengannya.


"Maaf," menutup mata, Sora menghela napas penuh penyesalan. "Aku tidak menemukan jejak keberadaan Shui. Dia menghilang."


Keheningan kembali memenuhi ruangan begitu mendengar jawaban Sora. Sekali lagi, mereka kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing membayangkan apa yang harus mereka lakukan sekarang.


"Shura-sama." Panggil Sora kemudian. Menatap Shura yang kebetulan berada tepat di depannya, dia mengeluarkan sebuah bingkisan yang tidak begitu besar dari balik kimononya.


Menyerahkan bingkisan tersebut pada Shura, dia tersenyum sendu penuh perasaan bersalah. "Maaf, hanya ini yang bisa hamba selamatkan."


Dengan wajah tanpa ekspresi, Shura yang meski tidak mengerti maksud ucapan Sora menerima bingkisan tersebut. Dibalut kain putih, inuyoukai kecil yang tidak tahu apa isi bingkisan tersebut membukanya.


"..."


"...."


"...."


Semua yang ada dalam ruangan tidak berani bersuara saat mereka melihat isi dari bingkisan tersebut. Ekspresi wajah mereka semua berubah tidak terjelaskan.


Shura tetap tidak mengatakan apa-apa, kedua mata emasnya menatap isi bingkisan itu dengan ekspresi wajahnya yang datar. Perlahan, tangan kanannya bergerak menyentuh isi dari bingkisan tersebut yang merupakan kain kanvas yang telah terkoyak-koyak dan hancur—lukisan dari ibu kandungnya.


"Shura-sama..." Panggil Jaken pelan. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Shura sekarang. Penuh kekhawatiran, dia menatap tuan mudanya tersebut.


Shura tidak membalas panggilan Jaken. Dia menatap lukisan ibu kandungnya yang telah hancur, dan dia juga tahu, lukisan itu tidak terselamatkan lagi. Koyak, kotor dan memiliki bekas terbakar, meski dia berusaha, lukisan tersebut tidak akan kembali lagi seperti semula.


Aku mencintaimu Shura.


Shura, lupakanlah...


Suara bisikan penuh cinta dari sang ibu dan ucapan terakhir sang ayah tergiang dalam kepala. Menutup mata, Shura berusaha mengendalikan perasaannya. Apakah dia sedih?—tidak. Dia sudah mempredeksi lukisan ini akan hancur tidak terselamatkan. Marah?—tidak juga. Karena dia sudah belajar menerima kenyataan yang ada.


Membuka mata, Shura kemudian menyerahkan apa yang ada ditangannya pada Jaken. "Jaken, bakar dan hancurkan ini."


Ucapan Shura seketika membuat semua yang ada terkejut, mata mereka terbelalak tidak percaya. Betapa penting lukisan itu bagi inuyoukai kecil itu, mereka semua tahu. Sosok yang mati-matian berusaha menyelamatkan lukisan tersebut saat terbakar di istana tanah barat masih membekas diingatan mereka.


"S-shura-sama.." Terbata-bata Jaken tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


"Aku tidak memerlukan ini lagi." Shura hanya dapat kembali berpikir, jika saja saat itu dia tidak berusaha menyelamatkan lukisan ini, ayahnya tidak akan mati. Jika saja dia tidak goyah dengan sosok Shui yang meniru ibu kandungnya—Ah, ternyata memang benar. Perasaan tidak diperlukan youkai; cinta adalah kelemahan.


....xOxOx....


__ADS_2