![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Boleh Rin bertanya sesuatu, Ibunda?" tanya Rin pelan sambil menatap Inukimi. Kedua tangannya masih menggendong Shiro yang tertidur dengan tenang. "Mengapa dan sejak kapan Ibunda berada di desa ini?"
Pertanyaan Inukimi dengan cepat membuat semua yang ada menoleh wajah menatap inuyoukai mantan Penguasa Tanah Barat tersebut. Pertanyaan Rin memang benar, mereka semua tidak tahu mengapa dan sejak kapan inuyoukai itu telah berada di desa mereka ini.
Inukimi tertawa mendengar pertanyaan Rin. "Ibunda sudah berada di desa ini sejak tiga bulan lalu, Rin kecil."
"Apa?" teriak semua yang ada terkejut.
"Tidak mungkin!" sanggah Inuyasha setengah berteriak. "Aku sama sekali tidak mencium bau ataupun merasakan auramu. Kau tidak mungkin sudah berada di desa ini semenjak tiga bulan lalu!"
Menatap Inuyasha dengan pandangan meremehkan, Inukimi kemudian menutup mata. "Tidak pernah mempercayai sesuatu yang dikatakan orang, dan selalu mengangap dirinya yang paling benar. Ternyata kau menwarisi sifat-sifat Si Berengsek Taisho sebelum bertemu Si Manis Izayoi, Putra Taisho."
"Eh?" seru Inuyasha terkejut, karena lagi-lagi dia mendengar nama almarhum ibu kandungnya meluncur keluar dari Istri pertama Ayahnya.
Membuka mata, Inukimi kembali menatap Inuyasha. "Kepanikanmu akan kondisi miko aneh dan cucu Taisho telah membuat dirimu buta. Karena itulah kau tidak pernah menyadari keberadaanku yang menyembunyikan bau dan aura."
Inuyasha terdiam seribu bahasa mendengar jawaban Inukimi. Dia sadar, apa yang dikatakan inuyoukai itu benar, setelah kondisi Kagome memburuk, dirinya tidak pernah bisa tenang. Khawatir, takut, bingung dan panik menjadi perasaan-perasaan yang memenuhi hatinya dari pagi membuka mata hingga malam menutup mata.
"Tidakkah kau merasa aneh? Meski miko aneh semakin melemah dari hari ke hari, dia tetap saja bisa bertahan hingga akhir," tanya Inukimi dengan tenang sambil tersenyum kecil. "Itu karena aku selalu memasukkan ramuan-ramuan penguat tubuh ke dalam makanannya."
Kata-kata Inukimi lagi-lagi mengejutkan semua yang ada. Mereka semua tidak bisa mempercaya apa yang mereka dengar, namun, melihat Inukimi, mereka juga tahu, inuyoukai itu tidak mungkin berbohong. Meski terlihat aneh dan suka seenaknya, dia bukan tipe orang yang suka berbohong.
"Benarkah?" tanya Rin tiba-tiba, sebuah senyum cemerlang merekah di wajah cantiknya. "Terima kasih, Ibunda! Ibunda memang hebat! Rin mengucapkan terima kasih banyak karena telah bersedia membantu Kagome-sama, Inuyasha-sama dan Shiro sejak awal!"
Inukimi tersenyum bahagia melihat reaksi Rin. Putri angkatnya ini memang tidak berubah, begitu polos dan penuh kepercayaan pada dirinya. Tidak peduli apa yang dikatakannya, mungkin gadis manusia itu akan langsung percaya.
"K-kenapa kau melakukan itu?" tanya Inuyasha lagi dengan pelan. Menatap wajah Inukimi lagi, dia menelan ludah dan memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa kau membantu Kagome dan aku? Tidak kah kau membenciku? Anak yang dilahirkan wanita lain yang merebut suamimu.."
Pertanyaan Inuyasha dengan cepat membuat Inukimi kembali menatapnya. Kedua mata emasnya terbelalak tidak percaya mendengar ucapan hanyou tersebut. "Maaf, Putra Taisho, bisakah kau mengulangi apa yang kau katakan tadi?"
Menarik napas, Inuyasha kembali mengulang apa yang dikatakannya tadi. "Kenapa kau mau membantuku? Anak yang dilahirkan wanita yang merebut suamimu."
Mata Inukimi tidak berkedip mendengar pertanyaan yang diulang Inuyasha. Kecuali Rin dan Myoga yang terlihat bingung, semua yang ada menahan napas dalam diam, menunggu jawaban Inukimi penuh kewaspadaan dan juga antisipasi.
"S-suamiku.. Si Berengsek Taisho..." terbata-bata Inukimi menyebutkan nama Inu No Taisho dengan mata terbelalak. Terdiam sejenak, dia kemudian menutup mata dan menundukkan wajah ke bawah.
Perasaan bersalah langsung memenuhi hati Inuyasha. Dia menjadi merasa bersalah dan tidak enak terhadap Inuyoukai di depannya. Meski dia adalah Ibu Sesshoumaru, dia sudah membantunya, Kagome dan Shiro. Mereka berhutang budi padanya. Dirinya sudah bersikap tidak sopan dan kurang ajar. Pertanyaannya barusan pasti sangat sensitif bagi Inukimi. Wanita mana yang senang jika ditanya seperti itu oleh anak suaminya dari wanita lain.
"I-Inuyasha, minta ma—" ujar Kagome cepat, mengerti suaminya telah melakukan suatu kesalahan. Namun, belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Inukimi tiba-tiba mengangkat kepala ke atas dan tertawa terbahak-bahak mengejutkan semua yang ada.
"Istri Si Berengsek Taisho? Aku? Aku Inukimi dari barat adalah istri Inu No Taisho?" ujar Inukimi di sela tawa kerasnya. Menatap Myoga yang duduk di samping pundak Miroku, mata emasnya langsung berbinar-binar karena lucu, "Kutu Kecil!" panggilnya.
"I-Iya. H-hamba di sini." Balas Myoga cepat sambil melompat turun dari bahu Miroku dan memberi hormat penuh ketakutan. Berbeda dengan Inu No Taisho, dia tidak pernah dapat memperkirakan sikap Inukimi yang dia tahu selalu di luar dugaan.
"Katakan padaku!" perintah Inukimi sambil tertawa. "Kapan aku menjadi istri Si Berengsek Taisho? Atau dalam dunia kita, kapan aku menjadi pasangan sahnya?"
"Eh?" Seru semua yang ada kecuali Rin. Pertanyaan Inukimi seketika juga membuat mereka kembali terkejut.
"T-Tidak pernah," jawab Myoga cepat dan terbata-bata. "Anda dan Inu No Taisho tidak pernah menikah atau dalam dunia Youkai, anda tidak pernah menjadi pasangan sah Inu No Taisho. Beliau tidak pernah memberikan anda tandanya, dan anda juga tidak pernah menerima tandanya."
Mata Inuyasha terbelalak karena terkejut dengan jawaban Myoga. Menoleh wajah menatap Inukimi, dia sangat terkejut karena menemukan inuyoukai itu kini telah berada di hadapannya. Tangan cakar mantan Penguasa Tanah Barat tersebut dengan pelan segera menyentuh kedua pipinya, membuat hanyou itu berserta semua yang ada mematung tanpa bisa bergerak.
"Aku bukan istri atau pasangan sah ayah kandungmu," jelas Inukimi. "Aku yang begini sempurna terlalu bagus untuk Si Berengsek itu."
"T-Tapi," balas Inuyasha terbata-bata. Kebingungan dalam hatinya telah mengalahkan rasa takut dan juga kewaspadaan yang seharusnya dia rasakan akan kedekatannya dengan Inukimi. "K-kau adalah Ibu kandung Sesshoumaru, bukan? Kau seharusnya merupakan Istri Ayah, kan?"
Melepaskan tangannya, Inukimi kemudian tersenyum kecil. "Apakah aku harus menjadi istri atau pasangan sah ayahmu untuk melahirkan Sesshoumaru?"
"Eh?"
"Aku dan Si Berengsek Taisho masih merupakan kerabat dan sahabat. Berasal dari klan Inuyoukai Penguasa Tanah Barat," jelas Inukimi dengan senyum yang masih ada di wajahnya. "Di barat, sejak dulu, kami berdua merupakan yang terkuat. Dan demi barat juga, kami tahu, kami memerlukan generasi muda; penerus yang kuat. Karena itulah Sesshoumaru lahir, putraku dan Taisho, inuyoukai hasil persatuan dua inuyoukai terkuat."
"M-maksudmu?"
__ADS_1
"Hanya sebatas itu hubunganku dengan ayah kandungmu itu. Untuk barat. Aku bukanlah istri Ayahmu. Istri atau pasangan sah Taisho sejak awal hingga akhir hayatnya hanya satu orang, yaitu, Ibu Kandungmu, Si Manis Izayoi."
Inuyasha tidak tahu harus berkata apa, karena terlalu terkejut dan juga bingung dengan sebuah kenyataan yang tidak pernah diketahuinya. "K-Kau mengenal ibuku?" tanyanya lagi.
"Iya. Si manis Izayoi, putri manusia yang manis," senyum Inukimi sambil mengangguk kepala. "Aku tidak tahu apa yang dilakukan Si berengsek Taisho hingga gadis semanis dia mau menjadi milik si berengsek itu."
"Kau tidak membencinya?"
"Tidak Inuyasha-sama!" teriak Myoga sambil meloncat-loncat naik ke bahu Inuyasha. "Hubungan Inukimi-sama dan Izayoi-sama tidak seperti yang anda bayangkan. Mereka memiliki hubungan yang cukup baik. Dan ketahuilah, Inukimi-sama lah yang selalu menjaga Izayoi-sama saat beliau mengandung anda."
Inuyasha benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi, begitu juga dengan semua yang ada dalam ruangan. Terlalu mengejutkan, tidak pernah mereka berpikir bahwa kenyataan sesungguhnya hubungan Inu No Taisho, Inukimi dan Izayoi adalah seperti ini.
"Ketahuilah, sejujurnya, ibu kandungmu itu terlalu bagus untuk ayahmu, Putra Taisho" lanjut Inukimi lagi. Menoleh wajah menatap keluar melalui jendela di kamar, kedua mata emasnya menerawang, dan Inuyasha bisa menangkap kesedihan di dalamya. "Aku tidak bisa menolong Si berengsek Taisho pada malam kelahiranmu, dan juga aku tidak bisa menjaga Si manis Izayoi dan dirimu setelah kematian ayahmu. Karena saat itu, kondisi barat sudah tidak stabil. Keputusan Taisho untuk menjadikan Si Manis Izayoi sebagai istri, pasangan sahnya, sebenarnya telah membuat barat menjadi rentah dan dianggap lemah oleh selatan, timur dan utara.."
Menoleh kepala menatap Inuyasha lagi, sebuah senyum kecil merekah di wajah Inukimi. "Ayahmu dicap sebagai youkai lemah dan bodoh karena mencintai manusia. Tapi, kau harus tahu, di mata ibumu, ayahmu selalu dipuja sebagai youkai hebat yang berani mencintai dan mati untuk melindungi istri-anaknya yang merupakan manusia dan hanyou," Berjala mendekati Inuyasha, tangan Inukimi membelai lembut rambut perak hanyou tersebut. "Dia tidak pernah membesarkanmu, tapi sebagai sahabatnya, aku tahu; dia mencintaimu. Taisho selalu mencintaimu, Inuyasha..."
Air mata mengalir menuruni mata Inuyasha mendengar ucapan Inukimi. Dia tidak dapat menahannya, hatinya terasa sangat sesak.
Mencintai.
Saat dia melihat Kagome dan Shiro, dia tahu, dia bisa mati untuk mereka, karena dia sangat mencintai mereka. Lalu, untuk ayah yang tidak pernah ada disampingnya sejak dia lahir, untuk ayah yang mati karena melindungi ibu dan dirinya, sebesar ini juga kah rasa cintanya? Sebesar inikah rasa cinta ayahnya pada dirinya dan ibunya? Betapa sesaknya hatinya, namun juga tidak dapat dipungkiri betapa bahagianya dia. Ayahnya mencintainya, sungguh-sungguhnya mencintainya, ini adalah pertama kalinya dia menyadari dan merasakannya.
Kagome yang melihat Inuyasha menangis hanya bisa terseyum. Dia tahu apa yang dirasakan suaminya itu sekarang. Mengangkat tangannya dengan pelan, dia menghapus air mata itu. "Dia mencintaimu Inuyasha, mencintaimu dan ibumu, sama halnya dengan dirimu mencintaiku dan Shiro.."
Mengangguk kepala Inuyasha menangkap tangan Kagome dan tertawa kecil. "I-iya. Aku tahu, dia mencintaiku, sangat mencintaiku; Ayahku sangat mencintaiku.." menatap Inukimi, Inuyasha kemudian menundukkan kepala memberi hormat. "Terima kasih. Terima kasih, terima kasih karena telah memberitahuku semua ini..."
Menurunkan tangannya yang membelai kepala Inuyasha, Inukimi merasa sangat lucu. Sikap hanyou di depannya benar-benar seakan membuat dirinya bisa melihat lagi Inu No Taisho serta Izayoi; orang-orang yang diangapnya sebagai sahabat. Tersenyum kecil, inuyokai itu menganguk kepala, menerima rasa terima kasih itu. Meski sudah tiada, ternyata mereka masih ada di dunia, melalui putra mereka, mereka hidup dalam setiap tarik napas putra mereka.
Tidak ada yang mengatkan apa-apa lagi, semuanya hanya bisa tersenyum melihat Inuyasha. Hari ini, pasti merupakan hari yang paling bahagia bagi hanyou tersebut. Istrinya sudah tidak apa-apa, putranya telah selamat, dan dia telah mengetahui kenyataan sesungguhnya cinta ayah kandung yang tidak pernah membesarkannya. Ya! Hari ini pasti akan menjadi hari yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup.
"Ahhhh!" teriak Rin tiba-tiba mengejutkan semua yang ada di sana. Bangkit dari duduknya, gadis manusia itu dengan cepat menyerahkan Shiro yang ada dalam gendonganya pada Inuyasha penuh kepanikan. "Inuyasha-sama! Rin lupa! Sesshoumaru-sama! Rin sudah berjanji akan segera kembali ke sisinya setelah semua ini selesai! Rin harus segera menghadap Sesshoumaru-sama sekarang!"
Inuyasha yang segera menerima Shiro tidak mendapatkan kesempatan sedikit pun untuk menghentikan Rin, begitu juga dengan yang lainnya. Dengan cepat dan buru-buru, gadis manusia itu segera berlari keluar dari ruangan untuk mencari Inuyoukai Penguasa Tanah Barat yang berada di depan rumah.
....xOxOx....
"Sesshoumaru-sama!"
Suara teriakan Rin yang memecah keheningan dengan cepat ditangkap telinga Sesshoumru. Membuka mata, dia melihat gadis manusia itu berlari penuh kepanikan keluar dari pintu rumah Inuyasha ke arahnya.
"M-maafkan Rin! Maafkan Rin karena terlambat menghadap Sesshoumaru-sama!" pintanya terbata-bata saat tiba di depan Sesshoumaru. Berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan, dia menepuk-nepuk dadanya yang tiba-tiba terasa sakit karena berlari cepat.
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Rin. Dia hanya diam membisu menatap gadis itu. Mengamati pakaiannya, dia bisa melihat dan mencium beberapa noda darah yang memenuhi kimono merahnya. Dia tidak menyukainya, dia akan memastikan gadis manusia yang ada di depannya ini untuk mengganti dan membakar kimono kotor yang dipakainya sampai menjadi abu nanti.
Duduk di samping Sesshoumaru, Rin yang sudah mulai tenang, segera tersenyum lebar menatap inuyoukai tersebut. "Sudah lahir Sesshoumaru-sama! Laki-laki! Keponakan anda sudah lahir! Rin yang memberikannya nama. Namanya Shiro! Anda harus melihatnya, Sesshoumaru-sama!"
Kedua tangan Rin kemudian mengenggam tangan Sesshoumaru. Bangkit dari duduknya, dia berusaha meanarik inuyoukai Penguasa tanah barat itu. Senyum lebar di wajahnya semakin melebar. "Bersediakah anda melihatnya, Sesshoumaru-sama? Bersama Rin, Rin ingin sekali Shiro bisa melihat Sesshoumaru-sama!"
Permintaan Rin, Sesshoumaru tetap hanya diam menatap gadis itu. Dia tidak punya keinginan sedikitpun untuk melihat atau ikut dalam acara kelahiran seorang hanyou anak saudara seayahnya. Namun, melihat senyum Rin, dia tidak mau mengecewakannya; tidak mau senyum indah diwajah itu menghilang akibat penolakannya.
Bangkit dari duduknya, Sesshoumaru membiarkan Rin yang kini telah tertawa penuh suka cita menuntunnya masuk ke dalam rumah Inuyasha. Tangan cakarnya mengeggam erat sekaligus lembut tangan kecil itu, tidak sedetikpun dia melepaskannya.
Saat pintu shoji kamar Inuyasha dan yang lainnya berada terbuka, tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat menyembunyikan perasaan terkejut dalam hati saat melihat Sesshoumaru berdiri di depan pintu bersama Rin yang tersenyum lebar, kecuali Inukimi dan Jaken. Bagi mereka berdua, Sesshoumaru yang mengabulkan permintaan Rin sudah bukanlah sebuah cerita yang mengejutkan.
"Inuyasha-sama," panggil Rin cepat. Melepaskan tangannya yang digenggam Sesshoumaru, dia segera berlari mendekati Inuyasha yang masih mengendong Shiro. Tidak disadari olehnya betapa terganggunya Inuyoukai Penguasa Tanah Barat karena kehilangan kehangatan tangannya. "Biarkan Rin menggendong Shiro sebentar, ya? Rin ingin menunjukkan Shiro pada Sesshoumaru-sama!"
Inuyasha tertegun mendengar permitaan Rin. Menatap Sesshoumaru sejenak, dia berpikir-pikir dalam hati, bolehkan dia menyerahkan Shiro pada Rin sekarang? Bagi Sesshoumaru yang membenci hanyou dan manusia, mungkin saja, dia akan mencelakai putranya.
"Tidak apa-apa, Inuyasha," sela Kagome tiba-tiba sambil tersenyum kecil. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran Inuyasha sekarang. "Kakak tidak mungkin mencelakai Shiro."
Sesshoumaru tetap tidak berekspresi mendengar ucapan dan juga apa yang dipikirkan Inuyasha. Mencelakai? Dirinya merasa terhina! Sungguh bodoh jika Inuyasha berpikir dia akan mencelakai seorang bayi hanyou tak berdaya yang baru lahir. Harga diri dan kehormataannya tidak mungkin mengijinkan dia berbuat serendah itu.
Menghela napas, Inuyasha akhirnya menyerahkan Shiro dalam gendongannya pada Rin. "Hati-hati, ya.."
__ADS_1
Rin segera mengangguk kepala sambil meerima Shiro dengan senyum di wajah. "Iya! Iya! Rin mengerti!"
Semua mata dalam ruangan mengikuti Rin saat dia berjalan mendekati Sesshoumaru. Semua orang menahan napas dan menunggu reaksi Sesshoumaru saat melihat Shiro untuk pertama kalinya. Inukimi yang juga berada di sana hanya tersenyum, matanya berbinar-binar menahan tawa, sebab dia tahu, putra kandungnya itu sesungguhnya tidak mau berada ditempatnya berdiri sekarang. Namun, lagi-lagi karena Rin, inuyoukai berkebanggaan diri tinggi itu menahan diri. Tidak ada seorangpun yang tahu, bahkan termasuk Sesshoumaru sendiri, kenyataan sesungguhnya bahwa Rin telah berhasil merangkul inuyoukai Penguasa Tanah Barat dalam tangannya yang kecil.
"Sesshoumaru-sama!" panggil Rin ceria, sambil memerlihatkan Shiro pada Sesshoumaru. "Shiro! Lihat, inilah Shiro!"
Seshoumaru menurunkan matanya untuk menatap Shiro yang ada dalam gendongan Rin. Melihatnya, dia hanya dapat berpikir betapa miripnya bayi hanyou itu dengan Inuyasha. Hidung, mulut, rambut, telinga anjing, dan juga dia tahu, meski matanya tertutup, mata itu pasti berwarna emas sepertinya. Tidak diragukan, hanyou kecil dalam gendongan Rin benar-benar putra Inuyasha. Mendengus pelan, Sesshoumaru hanya bisa berharap, semoga bayi hanyou itu tidak mewarisi kebodohan ayahnya, walau Sesshoumaru merasa apa yang dia harapkan itu sia-sia.
Tertawa gembira, Rin kemudian menatap Shiro sejenak. "Shiro tampan sekali, ya? Sejauh ini, Shiro adalah bayi tertampan dan juga terlucu yang pernah dilihat Rin. Rin rasa, Shiro pasti merupakan bayi tertampan yang ada."
Ucapan Rin membuat Inuyasha yang mendengarnya mendengus penuh kebangaan, sedangkan Kagome, Inukimi serta yang lainnya tersenyum kecil. Gadis manusia itu sungguh sangat manis, melihat sikapnya sekarang, mereka merasa dia benar-benar memiliki hati yang sangat polos seperti anak kecil.
Sessoumaru tetap diam membisu mendengar apa yang dikatakan Rin. Menatap Shiro dalam gendongan Rin, dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan gadis itu sekarang. Hanyou yang merupakan anak Inuyasha tidak mungkin merupakan bayi tertampan yang ada. Dia tahu dan yakin, memang bukan sekarang, tapi, kelak. Beberapa tahun ke depan, gadis manusia yang begitu berharga baginya sekaranglah yang akan menggendong bayi tertampan di dunia. Bayi dengan rambut perak dan mata emas seperti dirinya, bayi yang akan dilahirkan gadis itu sendiri, putra dari Rin dan juga dir—
Sesshoumaru tertegun dengan apa yang diikirkannya sendiri. Kedua matanya terbelalak sejenak. Bertanya-tanya dalam hati, dia berusaha mencari jawaban kenapa dia sampai bisa memikirkan suatu hal yang seperti itu.
"Sesshomaru-sama? Ada apa?" tanya Rin pelan. Dia tahu ada sesuatu yang mengejutkan dan dipikirkan inuyoukai penguasa tanah barat tersebut.
Menatap gadis itu lagi, Sesshoumaru segera menutup mata emasnya. "Tidak apa-apa." Dia tidak mau memperlihatkan mata emasnya pada gadis itu, sebab dirinya sadar, dia tidak pernah dapat membohongi gadis itu. Gadis itu selalu dapat membaca apa yang dirasakannya hanya dnegan menatap mata emasnya.
"Kagome!" teriak seseorang tiba-tiba dan membuat semua orang, kecuali Sesshoumaru dan Inukimi menatap sumber suara yang berasal dari belakang Inuyoukai Penguasa Tanah Barat tersebut.
"Kago—" suara teriakan itu langsung terhenti saat dia menyadari keberadaan Sesshoumaru. Badan kecilnya langsung bergemetaran hebat. "S-Sesshoumaru.."
Menoleh kepala dari balik badan Sesshoumaru, Rin sangat terkejut saat melihat siapa yang berada di belakang tuannya itu. Seorang youkai rubah kecil yang merupakan teman bermainnya semasa kecil dulu; Shippo.
"Shippo!' panggil Rin cepat penuh kegembiraan.
"R-Rin..." balas Shippo terbata-bata saat melihat Rin. Beberapa tahun tidak bertemu, dirinya hampir tidak dapat mempercayai sosok Rin yang kini berada di depannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa gadis manusia itu kini benar-benar telah tumbuh besar dengan sangat cantik. Ternyata cerita-cerita yang didengarnya bahwa gadis manusia yang merupakan anak angkat Inukimi serta gadis dalam perwalian Sesshoumaru merupakan gadis tercantik di jepang sama sekali tidak salah.
Mengeleng kepala, Shippo kemudian memukul-mukul kedua pipinya. Ini bukan saatnya memikirkan hal-hal itu. Keberadaannya di desa ini sekrang adalah untuk Kagome. Dia sudah mendapatkan kabar kondisi miko masa depan itu. Dengan menghindari Seshoumaru, secara pelan-pelan dan hati-hati, youkai rubah itu kemudian berjalan melingkar dengan jarak satu meter untuk memasuki kamar di mana Kagome dan yang lainnya berada.
"Kago—" panggilnya, walau, lagi-lagi katanya terhenti saat dia melihat Inukimi. Penuh ketakutan, dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi hingga dua inuyoukai terkuat di barat sampai bisa berada di desa ini, berada di kamar ini.
"Jika kau ingin bertanya mengenai kondisi Kagome dan putra kami, maka kau tidak perlu khawatir dan panik, sebab mereka baik-baik saja." ujar Inuyasha
"Eh!" menoleh kembali menatap Kagome, Shippo menyadari perut besar miko masa depan itu, kini telah kembali rata. Kebingungan, youkai rubah itu menoleh kepala menatap sekelilingnya. Mata hijaunya langsung terbelalak saat dia menemukan Rin yang sedang tersenyum menggendong Shiro.
Mendekati Shippo, Rin langsung membungkukkan badan dan memperlihatkan Shiro pada youkai rubah tersebut. "Iya, Shippo." tawa Rin. "Shiro sudah lahir. Putra Inuyasha-sama dan Kagome-sama sudah lahir."
Tidak tahu harus berkata apa, Shippo hanya bisa terpesona menatap bayi hanyou dalam gendongan Rin tersebut. Mengangkat tangan dengan pelan, dia berusaha menyentuh pipi Shiro. Namun, belum berhasil menyentuhnya, mata Shiro yang tertutup tiba-tiba terbuka menatap tajam dan lekat dirinya. Menatap Inuyasha, kedua dahi Shippo langsung bertaut. "Putramu mirip sekali denganmu Inuyasha. Jika dia tetap seperti ini, dia sama sekali tidak ada lucu-lucunya."
Inuyasha seharusnya marah dengan komentar Shippo, namun, kebanggan dan kegembiraan karena lagi-lagi mendengar orang lain mengatakan putranya memang mirip dengan dirinya, dia membiarkannya. Melipat tangan dia tersenyum menyeringai. "Tentu saja dia mirip denganku. Dan dia tetap ada lucunya, sebab bagaimanapun, dia adalah putra Kagome juga."
"Lucu karena sikapnya yang selalu aneh dan di luar dugaan.." ujar Miroku pelan sambil mengangguk kepala.
"Jaga mulutmu, Miroku." perintah Sango sambil memukul pundak Miroku dengan pelan. Walau dalam hati, dia cukup setuju dengan apa yang dikatakan suaminya, begitu juga dengan Kohaku, Jinenji dan Kaede yang dari tadi diam membisu.
"Hah..." duduk lemas di atas lantai tatami, Shippo menghela napas. "Kukira kondisi dan situasi sangat gawat, ternyata, sudah berjalan baik-baik saja. Rugi aku sudah khawatir seperti ini."
Mengangkat tangannya, Inuyasha langsung menjitak kepala Shippo penuh kekesalan dan membuat youkai rubah itu berteriak kesakitan. "Jaga mulutmu, kau yang baru tiba sekarang sama sekali tidak tahu apa yang kami semua alami sebelum kelahiran Shiro." menoleh wajah menatap Kagome, Inuyasha kemudian tersenyum. "Dan kau pikir siapa istriku itu? Tidak akan ada yang mungkin membunuhnya, dia selalu kuat dan tidak akan pernah terkalahkan."
Kata-kata Inuyasha seharusnya membuat Kagome marah, tapi melihat senyum itu, melihat matanya yang lembut, dia tidak bisa marah. Dia tahu betapa takut dan khawatirnya hanyou itu sesaat sebelum Shiro lahir, tapi, yang paling penting, dia tahu betapa bahagianya suaminya kini. Menutup mata, dia hanya dapat tertawa, mencari kata-kata yang mungkin mampu menjelaskan perasaannya kini, dan dia menemukannya, tiga kata yang sangat sederhana, yakni, "Aku mencintaimu, Inuyasha."
Mata Inuyasha dan semua yang ada terbelalak, kecuali Rin yang tidak tahu apa-apa Sesshoumaru tetap tanpa ekspresi sedangkan Inukimi tertawa kecil. Wajah Inuyasha memerah, pengakuan cinta Kagome yang tiba-tiba membuat dirinya tidak tahu harus berbuat apa. Istrinya tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, mengakui perasaannya di depan orang banyak tanpa berpikir panjang. Namun, melihat wajah bahagia itu, dia tahu, perasaan malu serta pandangan semua orang, itu semua sama sekali tidak penting. Mendekati Kagome, mengabaikan pendangan orang, dia langsung memeluk erat miko tersebut. Tertawa kecil, dia mencium lembut kening istrinya. "Aku tahu. Aku juga mencintaimu.."
Sango, Miroku, putra-putri mereka tertawa mendengar ucapan Inuyasha. Kohaku, Myoga, Inukimi, Jinenji serta Kaede tersenyum. Shippo dan Jaken, menggerutu melihat sikap Inuyasha, walau sebenarnya mereka juga ikut tersenyum. Sesshoumaru hanya menutup mata dengan wajahnya yang tanpa ekspresi, sebab dirinya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dilhatnya. Hanya Rin seorang yang tertegun dengan kejadian di depan matanya.
Cinta.
Untuk pertama kalinya, Rin merasakan kebingungan dalam hati. Melihat betapa bahagianya Inuyasha dan Kagome sekarang, melihat betapa hanya sebuah kata 'aku mencintamu' membuat mereka bahagia, dia bertanya-tanya dalam hatinya; apa itu cinta?
....xOxOx....
__ADS_1