Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 46


__ADS_3

"Sakenya kurang! Ambil lagi!" teriak seorang youkai yang sudah mulai mabuk.


"Iya!" teriak beberapa orang menyetujuhinya.


Rin hanya bisa berdiri diam mematung menatap pemandangan di depannya. Seluruh taman kini telah penuh sesak dengan para pemabuk, dan harus diakuinya, sepertinya jumlah mereka yang sedang bermabuk ria itu bertambah sangat banyak dibanding dengan sesaat sebelum dia meninggalkan taman untuk berterima kasih pada Sesshoumaru.


"Rin-chan, kau kemana saja?" tanya Kagome tiba-tiba sambil menepuk pundak Rin.


"K-Kagome-sama, ini.." Rin tidak tahu harus mengucapkan apa untuk menanyakan keadaan sekelilingnya sekarang.


Kagome tertawa. "Aku juga tidak tahu. Yang aku tahu hanya, sepertinya semua yang ada dalam istana ini memang telah kembali berpesta."


Rin kembali menatap para pembuk di depannya, dan dia tahu; itu benar. Mata coklatnya bisa menatap para tamu youkai dengan derajat serta jabatan tinggi yang menghadiri pesta ulang tahun Sesshoumaru kini telah ikut bergabung dalam pesta. Berbeda dengan pesta Sesshoumaru yang begitu mewah, megah dan elegan, pesta sekarang terlihat sangat kacau, tanpa ada perbedaan status para hadirin yang telah mambaur.


Di sudut pesta, Rin melihat Miroku dan Sango yang telah mabuk sedang berpelukan mesra bagaikan berada di dunia mereka sendiri. Di sudut pesta bagian lain, Rin melihat Kiri dan Kira duduk berhadapan sedang menikmati sake dengan tenang, dan walau wajah mereka tanpa ekspresi, gadis manusia itu tahu, kedua inuyoukai itu sudah mabuk, mereka berdua pasti sedang dalam kontes minum, buktinya adalah botol-botol sake di sekeliling mereka. Di tengah-tengah pesta, Inuyasha dengan wajah yang mulai merah bersama Kenji sedang beradu panco dengan para penonton yang berteriak menyemangati.


"Kurasa pesta ini akan berakhir tiga hari tiga malam. Karena itu, Ayo!" Tawa Kagome lagi sambil menarik Rin menuju keramaian pesta.


Rin menatap Kagome dan membiarkannya menarik tangannya. Dia tahu, Kagome juga sudah mabuk. Menggeleng kepala, Rin mendesah pelan tidak tahu harus berbuat apa saat melewati Aya, Maya serta Mamoru yang berlari kesana-kemari sambil bermain, lalu Jaken, Rei dan Rika yang tidak tahu bagaimana juga sedang tertawa keras sambil meminum sake, tidak ketinggalan juga Shiro yang masih saja tertidur pulas dibalik punggung Rei dengan pulas. Bagaimana hanyou tersebut dapat tidur dengan kondisi seperti ini, Rin benar-benar penasaran.


Menarik Rin menaiki pondium di mana Sesshoumaru duduk kemarin, Kagome menarik napas dalam dan berteriak, "Para hadirin sekalian! Mohon perhatiannya!"


Teriakan Kagome seketika membuat semua yang ada menghentikan aktivitas mereka, mata mereka dengan serentak menoleh menatap sumber suara.


"Ada yang ingin Rin-chan, selaku sang tokoh utama pesta ini katakan. Jadi, dengarkan baik-baik," jelas Kagome sambil tertawa dan menatap Rin. "Nah, silakan Rin-chan."


Rin tercenggang mendengar ucapan Kagome. Kapan dia mengatakan ingin mengucapkan sesuatu? Sepertinya keputusanya untuk mengikuti Kagome yang telah mabuk adalah sebuah kesalahan, dan sekarang, menatap keheningan serta tatapan semua yang ada di depannya, Rin tahu, dia tidak bisa melarikan diri.


"A-anu, anu," terbata-bata, Rin berusaha mencari sesuatu yang dapat disampaikannya pada semua orang yang kini menatapnya penuh harap. Kebingungan, akhirnya Rin memutuskan untuk berterima kasih saja. Menarik napas, dia kemudian menutupnya, lalu, saat matanya terbuka lagi, seulas senyum lebar merekah di wajah cantiknya. "Terima kasih. Rin senang sekali anda semua bersedia merayakan ulang tahun Rin."


Senyum manis Rin membuat semua yang ada tertegun. Betapa cantik gadis yang sedang tersenyum manis di depan mereka, membuat kebanyakan dari hadirin yang memang telah menaruh perhatian pada gadis manusia itu ingin melangkah kaki ke depan, memeluknya dan menjadikannya milik mereka. Namun, baru beberapa langkah mereka ambil sosok seseorang tiba-tiba muncul dari belakang Rin dan memeluknya erat.


"Manis sekali! Kau manis sekali putriku!" puji Inukimi cepat sambil tersenyum dan menghujankan ciuman di pipi serta kening Rin.


"I-ibunda." Panggil Rin terkejut.


Berhenti mencium Rin, Inukimi segera mendekapkan wajah gadis manusia itu ke dadanya, sedangkan tangannya bergerak mengelus pelan penuh kasih sayang kepala gadis manusia itu. Wajahnya kemudian menoleh menatap para hadirin di depan. Senyum di wajahnya menghilang digantikan seringai mengerikan, begitu juga dengan mata emasnya yang berubah menjadi merah darah. "Jangan berani kalian menyentuh putriku, berengsek!"


Tidak ada yang berani bergerak maupun mengucapkan sesuatu melihat ekspresi Inukimi. Walau memang terkenal aneh, tidak konsisten dan selalu seenaknya sendiri, Inukimi tetaplah dikenal sebagai salah satu youkai paling berbahaya dan ditakuti oleh semua orang.


"I-ibunda," panggil Rin sambil berusaha menjauhkan wajahnya dari dada Inukimi dan menatapnya. "Ad—"


"Selamat ulang tahun Rin." Ujar Inukimi pelan, wajahnya yang penuh kemarahan telah kembali seperti biasa dengan senyum lembut menenangkan.

__ADS_1


Ucapan selamat yang dikatakan Inukimi seketika juga membuat Rin tersenyum gembira. Mengangkat tangan memeluk dan kembali memendamkan wajahnya pada dada Inukimi, dia tertawa gembira. "Terima kasih, terima kasih, Ibunda."


Mengelus-elus rambut Rin yang ada dalam pelukannya, mata Inukimi menatap semua yang ada. Kegembiraan dan kepuasan dalam hatinya membuatnya sangat senang. Tidak salah lagi, memang ini tempat yang paling tepat baginya untuk membuktikan pada Rin dan juga semua yang ada, bahwa hadiahnya adalah hadiah terluar biasa yang pernah di dapatkan gadis manusia itu.


"Rin kecil," panggil Inukimi pelan sambil melepaskan pelukan Rin, namun, tangannya menuntun gadis itu hingga berhadap langsung dengan semua yang ada, sedangkan dia berada dibelakang. "Ibunda ingin memberikan hadiah ulang tahun padamu."


"Eh?" seru Rin terkejut sambil menoleh wajahnya ke belakang menatap Inukimi.


Tersenyum lembut, dengan pelan, Inukimi mengangkat kalung Meido Seki yang selalu bersamanya. Menatap terus Rin, dia mengalungkan kalung pemberian Inu No Taisho padanya dulu sekali di leher gadis manusia itu. "Hadiah termewah dan terluar biasa yang pernah ada, untukmu Putriku, Meido Seki..."


Tidak ada seorang pun yang ada di sana yang tidak terkejut saat mendengar dan melihat langsung apa hadiah yang diberikan Inukimi kepada Rin sebagai hadiah ulang tahun. Salah satu pusaka Tanah Barat seperti halnya Tensaiga milik Inuyassha dan Tesseiga serta Bakusaiga milik Sesshoumaru, yakni; Meidou Seki. Inukimi memberikannya pada gadis manusia itu?


"Inukimi-sama!" teriak seseorang dari belakang kerumunan para hadirin tiba-tiba. "Mohon anda memikirkan kembali lagi keputusan anda!"


Semua pasang mata langsung tertuju pada pemilik suara tersebut, yakni Akiko yang berjalan melewati kerumunan menuju pondium di mana Rin dan Inukimi berada.


Inukimi menatap malas Akiko yang berjalan mendekatinya dan Rin. Akiko yang memprotes keputusannya, tidak tahu kenapa tidak mengejutkannya sedikit pun. Inuyoukai Mantan Penguasa Tanah Barat itu tahu, Akiko mengincar posisi Pasangan sah Sesshoumaru atau kiseki dari Barat yang kosong. Lalu, meneliti keserahkahannya yang sudah bukan rahasia lagi, Inukimi juga tahu, dia menginginan Meido Seki untuk dirinya sendiri.


"Meido seki adalah pusaka dari Tanah Barat, Inukimi-sama. Salah satu pusaka kita, para bangsa youkai," jelas Akiko pelan sambil menatap tajam Rin. "Karena itu, memberikan pusaka tersebut pada seorang manusia hina, an—"


Ucapan Akiko terhenti, karena sedetik kemudian, Inukimi telah mencengkeram leher dan mengangkatnya dari atas tanah tempatnya berpijak. Mata emas Mantan Penguasa Tanah Barat itu berubah menjadi merah darah, bibirnya terangkat ke atas memperlihatkan taring dan seringai penuh kemarahan. "Manusia hina yang kau katakan adalah putriku, Rubah."


Kemarahan Inukimi membuat semua yang ada tertegun, kecuali Rin yang dengan panik berlari ke arah Inukimi dan Akiko. Tangan kecilnya dengan cepat berusaha melepaskan cengkeraman tangan inuyoukai itu di leher Akiko. "I-Ibunda, hentikan, hentikan!"


"Rin m-mohon Ibunda," pinta Rin terus dengan wajah berurai air mata. "H-hentikan..."


Mendesah pelan, Inukimi kemudian melepaskan leher Akiko dan mendorongnya hingga jatuh terduduk di atas tanah. Tidak mempedulikan Akiko yang terbatuk-batuk dan mengatur napasnya yang terengah-engah, Inukimi menghapus air mata Rin dengan lembut. "Iya, Ibunda mengerti, karen itu jangan menangis lagi, Rin kecil.."


Kecuali para dayang Akiko yang segera berlari membantu youkai rubah tersebut. Para hadirin yang ada di sana menyaksikan apa yang terjadi tidak mengatakan atau berbuat apapun. Memberikan Meido Seki pada seorang manusia, banyak youkai di sana yang sesungguhnya juga tidak setuju seperti halnya Akiko, tapi, mereka tidak berani memprotes. Inukimi berani memperlakukan Akiko yang merupakan Putri dari Penguasa Tanah Timur dengan kasar tanpa mempedulikan hubungan antar wilayah, kepada mereka yang merupakan youkai yang lebih rendah, dia pasti akan membunuhnya tanpa ragu.


"I-ibunda," panggil Rin terbata-bata sambil menghapus air matanya. Tangan kecilnya dengan cepat melepaskan kalung Meido Seki yang ada di lehernya. "R-Rin tidak berani menerimanya. A-Akiko-sama benar, Meido Seki, pusaka Tanah Barat, pusaka youkai, Rin tidak pantas memiliknya.."


"Ngawur!" sela Inukimi kesal. Kemarahan dalam hatinya semakin membesar. Saat pertama kali terlintas dalam pikirannya untuk memberikan meido seki pada Rin, dia membayangkan betapa gembira dan bahagia gadis manusia itu. Namun kenyatannya, Rin malah menangis, dan itu adalah gara-gara kata ngawur yang diucapkan Akiko. "Itu tidak benar!"


"T-tapi Ibunda—"


Tidak dapat menahan kemarahan dalam hati lagi, Inukimi membalik wajah menatap semua yang ada. Mata emasnya berubah menjadi merah darah, suaranya memberat dan bibirnya terangkat memperlihatkan seringai kemarahan. "Meido Seki adalah milikku! Kepada siapa aku akan memberikannya, itu adalah urusanku. Jika ada yang keberatan, maju ke depanku sekarang juga!"


Hanya yang sudah ingin mati saja yang berani maju menentang Inukimi. Suasana sekeliling yang tadinya riuh penuh kegembiraan segera berubah menjadi hening penuh ketakutan, hingga suara tawa Kenji yang sangat keras terdengar. Youkai monyet itu dengan lincah meloncat meninggalkan Inuyasha yang kebingungan mendekati Inukimi serta Rin.


"Monyet keparat, jadi kau menentangku?!" hardik Inukimi penuh kemarahan. Mokomokonya langsung bergerak ke atas siap menyerang.


"Tenang Inukimi," tawa Kenji melihat reaksi Inukimi. "Aku bukan menentang keputusanmu, malahan aku kemari untuk membantumu."

__ADS_1


"Makudmu?" tanya Inukimi, mokomoko tetap tidak menurun ke bawah, begitu juga dengan ekspresi kemarahan di wajahnya.


Kenji tidak mejawab Inukimi, dia berjalan mendekati Rin yang berdiri penuh kebingungan dan berurai air mata. Mengangkat tangannya, dia menghapus air mata gadis manusia itu. "Hadiah dari Inukimi itu, terimalah Rin-rin."


"T-tapi.." Rin menggeleng kepala sambil menutup mata. Air matanya kembali mengalir. Meido Seki yang begitu berharga, dia tidak berani menerimanya. Dia tidak mau dirinya menjadi penyebab keributan sebab memang sesuai kata Akiko; dirinya memang tidak pantas


"Apakah kau tidak menganggap Inukimi yang menyayangimu bagaikan seorang anak, Ibundamu?" tanya Kenji pelan.


Pertanyaan tiba-tiba Kenji membuat mata Rin terbelalak karena terkejut dan menatap youkai monyet itu.


"Kau tidak pernah mengangapnya Ibundamu, kan? Kau hanya menganggap dia sebagai Ibunda Sesshoumaru, tuanmu, kan? Ibundamu yang sebenarnya bagimu hanyalah manusia yang melahirkanmu dan telah tiada, kan?" tanya Kenji lagi.


"Tidak!" teriak Rin cepat. Dia menatap wajah Inukimi yang terlihat sangat terkejut dengan pertanyaan Kenji, tidak mepedulikan apa-apa, dia memeluk erat Inukimi. Air matanya kembali mengalir. Menatap Inukimi yang juga balik menatapnya. "T-tidak, b-bukan seperti itu. Ibunda memang merupakan Ibunda Sesshoumaru-sama, dan Rin juga memang masih ingat Ibunda yang melahirkan Rin. Namun, Rin juga tahu, rasa sayang Ibunda pada Rin, tidak ada bedanya dengan rasa sayang Ibunda manusia Rin." semakin mempererat pelukannya, Rin memendamkan wajahnya pada dada Inukimi. "Rin menyanyangi Ibunda, perasaan ini tidak beda dengan perasaan sayang Rin pada Ibunda manusia Rin! Rasa sayang Rin pada Ibunda adalah Cinta seorang anak pada Ibunya!"


Penjelasan dan ketakutan Rin yang tidak ingin Inukimi salah paham, inuyoukai itu bisa merasakannya, karena itu, dengan cepat dia membalas pelukan gadis manusia itu. Hatinya gembira karena ternyata Rin memang menganggap dirinya sebagai seorang Ibu, namun, ada juga kemarahan dirasakannya, kemarahan pada Kenji yang berani membuat putrinya ketakutan dan menangis seperti ini.


"Apa maksud pertanyaanmu itu, Kenji!?" teriak Inukimi penuh kemarahan. Wajahnya dan matanya kini telah berubah, dirinya seakan telah ingin kembali ke wujud aslinya dan menerkam youkai monyet di depannya.


Kenji tertegun melihat kemarahan Inukimi sekarang. Inuyoukai itu memanggil dirinya dengan nama? Memanggil seseorang dengan nama tanpa julukan aneh, kecuali Sesshoumaru, itu adalah hal yang hanya dilakukannya Inukimi jika seseorang benar-benar telah membuatnya murkah, dan biasanya tidak ada yang akan selamat. Tapi, untuk saat ini, Kenji cukup yakin dia akan selamat. Tersenyum, dia menatap Rin yang ada dalam pelukan Inukimi. "Kalau jawabanmu adalah seperti itu. Kenapa kau tidak mau menerima hadiah Ibundamu, Rin-rin? Seorang Ibu memberikan atau boleh kukatakan mewariskan pusakanya pada putri kesayangannya bukanlah suatu hal yang aneh, kan?"


Pertanyaan Kenji yang tidak takut sedikitpun pada Inukimi membuat Rin berhenti menangis dan menoleh kepala menatap youkai monyet itu, sedang untuk Inukimi, kemarahannya segera mereda. Tetap tersenyum, Kenji kemudian berjalan mendekati Rin, dia menepuk pelan kepala gadis manusia itu. "Terima hadiah Ibundamu, Rin-rin. Jika kau memang menyayangi Inukimi, maka kau harus tahu, meido seki itu bagi kalian bukanlah pusaka Tanah Barat atau youkai. Meido Seki adalah bukti hubungan kalian yang terjalin."


Mata Rin terbelalak mendengar penjelasan Kenji, menatap Inukimi, dia juga bisa melihat inuyoukai itu juga sama terkejutnya seperti dirinya. Namun, saat mata mereka bertemu, wajah Inukimi langsung melembut, seulas senyum terlintas di wajah cantiknya. Mengambil meido seki yang ada di tangan Rin, dia kembali mengalungkannya di leher gadis manusia itu. Menutup mata, dengan pelan dia mencium pelan dahi Rin. "Monyet keparat itu benar, Rin kecil. Meido Seki bagi kita berdua adalah bukti hubungan Ibu-anak, putriku.."


Tangis Rin kembali pecah. Menangis dan terus menangis, dia sudah tidak dapat menghitung lagi telah berapa kali dan berapa banyak dia menangis hari ini. Hatinya terasa sangat sesak hingga rasanya tidak dapat bernapas- karena kebahagiaan. Menganggam erat Meido Seki di dada, Rin mengangguk kepala dan kembali memendamkan wajah di dada Inukimi. Setelah kata-kata itu, bagaimana dia bisa menolak lagi? Cinta seorang Ibu dari Mantan Penguasa Tanah barat yang begitu dicintainya. "I-iya, Rin mengerti. Rin akan menjaganya. Selamanya, hingga akhir hayat Rin, Rin tidak akan pernah melepaskan Meido Seki, bukti Rin adalah putri Ibunda, Inukimi dari Barat."


Inukimi tertawa keras dan memeluk Rin lagi dengan erat. Mencium-cium puncak kepala gadis manusia itu, dia tidak dapat menyembunyikan lagi kebahagiaannya. Memang sedikit berbeda dari apa yang diinginkannya, yakni membuktikan pada semua orang hadiah ulang tahun darinya lah yang paling berharga dan luar biasa. Namun, untuk hasil yang seperti ini meski penuh keributan dan air mata, semuanya mungkin sepandan.


Kenji tersenyum puas melihat Rin dan Inukimi. Untuk Inukimi yang sebenarnya cukup emosional dan suka menguasai, gadis manusia itu pasti akan berada dalam dekapannya untuk beberapa jam ke depan. Menatap semua hadirin yang masih tertegun tidak percaya, youkai monyet itu tertawa keras dan menepuk tangannya. "Sudah! Sudah! Ayo, kita lanjutkan lagi pesta yang terhenti! Sake! Sake!"


Ucapan Kenji dengan cepat membuat semua yang ada tersadar. Tersenyum, dengan cepat, suasana pesta yang penuh keramaian pun kembali memenuhi taman. Namun, dalam senyum dan tawa yang ada, bepuluh-puluh pasang mata mencuri-curi pandang gadis manusia dalam pelukan Inukimi. Mereka semua sadar dengan sangat jelas sekarang, betapa berharganya gadis manusia itu sebenarnya. Sesshoumaru sang Penguasa Tanah Barat mau berbagi hari ulang tahun dengannya, dan Inukimi tanpa ragu memberikan Meido Seki, pusaka Tanah Barat padanya. Keberadaan gadis manusia itu di barat bukanlah sebuah mainan, hiasan atau peliharaan, dan jika mereka bisa mendapatkan gadis itu, maka sudah tidak diragukan lagi, kekuasaan, jabatan dan kekuatan di Tanah Barat yang begitu makmur dan kuat akan berada dalam genggaman mereka.


"Hanya untuk memberikan sebuah hadiah ulang tahun, apakah dibutuhkan keributan seperti ini?!" tanya Inuyasha kesal pada Kagome yang berjalan mendekatinya.


Kagome hanya tertawa mendengar pertanyaan Inuyasha. Kepalanya terasa lebih jernih sekarang, sepertinya gara-gara keributan barusan, semua yang ada menjadi tersadar dari mabuk mereka. Namun, melihat gentong-gentong besar sake yang dikeluarkan lagi, dia merasa mereka semua akan kembali larut dalam mabuk. "Sudah, sudah, Inuyasha," senyum Kagome. "Ayo kita berpesta lagi! Tidak mabuk, tidak boleh tidur."


Di kejauhan dari taman tempat di mana pesta diadakan Tsubasa tersenyum melihat apa yang terjadi, mata merahnya berbinar-binar seakan menemukan sebuah permata.


"Semua persiapan telah disiapkan Tsubasa-sama." ujar Himiko, seorang youkai berambut merah salah satu dayang Tsubasa sambil menundukkan kepalanya.


"Bagus, kita akan menjalankan rencana itu malam ini," tawa Tsubasa pelan sambil menutup wajah dengan kipas di tangannya. "Akihiko-sama pasti akan sangat gembira."


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2