Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 168


__ADS_3

"Kau benar-benar youkai yang tidak ku mengerti, Inukimi." Ujar Kenji menatap Inukimi yang ada di depannya. Menggunakan moko-mokonya sebagai alas tempat tidur, mantan penguasa tanah barat tersebut berbaring dengan santai. Kedua matanya tertutup, dan ekspresi wajahnya terlihat sangat damai.


Menoleh menatap Kiri dan Kira yang ada disamping Inukimi, Kenji juga berpikir kedua inuyoukai tersebut juga sama tidak dapat dimengertinya. Mereka berdua duduk bermeditasi dengan tenang, seakan mereka sekarang sendirian dan berada dalam kamar mereka.


Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Kenji ikut duduk. Dirinya tidak tahu harus takjud atau apa. Ya—mereka memang tidak bisa melakukan apa-apa sekarang karena tersegel. Tapi, sikap dan sifat ketiga inuyoukai di depannya sekarang tidak dapat sepenuhnya diterimanya youkai monyet tersebut. Sesshoumaru mati, tanah barat hancur dan Shura tidak diketahui keberadaannya—bagaimana mereka masih bisa berekspresi santai dan damai seperti ini?


"Tidak ada yang dapat kita lakukan monyet keparat," ujar Inukimi tiba-tiba. Kedua matanya masih tertutup, begitu juga dengan posisi berbaring yang tidak berubah. "Lebih baik aku menyantaikan diri daripada sembarangan khawatir."


"Tidakkah Kau khawatir akan cucumu tersebut?" Tanya Kenji menatap Inukimi.


Inukimi membuka mata, seulas senyum mengembang di wajah cantiknya yang tidak pernah dimakan usia. "Tidak."


Kenji menghela napas mendengar jawaban yang didapatkannya. "Nenek seperti apa kau ini?"


Inukimi tertawa keras. Masih menatap Kenji, senyum kembali mengembang di wajahnya. "Karena aku percaya padanya."


"Ooo," seru Kenji pelan mendengar penyataan Inukimi. "Kau percaya cucumu itu pasti dapat membalikkan keadaan ini?"


"Kau Kira darah siapa yang mengalir dalam nadi cucuku itu, monyet keparat?" balas Inukimi. Senyum masih mengembang di wajahnya. Darah  inuyoukai dari barat—mereka adalah pemilik darah paling kuat di dunia.


Kenji diam tidak menjawab pertanyaan Inukimi. Menggaruk kepala lagi, dia kemudian kembali bertanya. "Bagaimana jika ternyata kau salah?"


Inukimi mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kenji yang sangat menyebalkan. Dia tidak menyukai sikap pesimis youkai monyet tesebut yang tidak biasanya. Hanya beberapa tahun berlalu, kemana perginya monyet yang selalu optimis penuh kepercayadirian itu?


Kenji tertawa melihat reaksi Inukimi. "Aku hanya mencoba menggantikanmu khawatir. Bukankah kasihan sekali Sesshoumaru dan Shura yang sudah dalam keadaan seperti ini, tapi kau selaku ibu dan nenek tidak peduli sama sekali?"


Kenji sesungguhnya tidak begitu khawatir, karena dia juga percaya dengan Shura. Putra Sesshoumaru dan Rin itu sudah terbukti tidak biasa sejak dia dilahirkan. Terlebih lagi masih ada Inuyasha dan yang lainnya—tanah barat masih memiliki harapan.


Inukimi membuang mukanya. "Percaya dan tidak peduli itu beda jauh, monyet keparat."


Kenji kembali tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Inukimi. Suara tawanya bergema dalam botol dimana mereka tersegel. Lalu, saat tawanya telah berhenti, dia tersenyum usil. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Inukimi. Bagaimana kalau kepercayaanmu terbukti salah?"

__ADS_1


Inukimi kembali menatap Kenji sejenak, mengangkat kepala ke atas, dia hanya berujar pelan. "Maka itu adalah takdir."


....xOxOx....


Kesunyian memenuhi ruangan seperti biasanya, dan Shura menatap ayah kandungnya Sesshoumaru yang tidak bernapas. Wajah inuyoukai kecil itu tidak berekspresi seperti biasa, tapi kedua mata emasnya sekarang bersinar penuh ketenangan dan kedamaian.


"Ayahanda." Panggil Shura pelan. Dia jarang berbicara dengan ayah kandungnya tersebut sebelumnya, tapi tidak tahu sejak kapan, dia kini menjadi sering berbicara dengan beliau walau tidak pernah ada jawabannya.


"Apakah anda telah melupakan ibunda?" bertanya walau tidak akan ada balasan, Shura terus menatap Sesshoumaru, dia menutup matanya. "Melupakan ibunda yang anda cintai?"


Ayahandanya mencintai ibundanya, Shura tahu itu. Dari dongeng Kagome yang didengarnya, dia bisa merasakan betapa penting sang ibu bagi sang ayah. Memberikannya gelar sang kisaki dari tanah barat, membiarkannya mengandung anak mereka dan menghadapi dunia manusia sera youkai untuknya—cinta ayahandanya kepada ibundanya, Shura tidak bisa membayangkan.


Melupakan—apakah ayahandanya dapat melupakan ibundanya? Jika telah mencintai seseorang seperti itu, apakah melupakannya mungkin?—sekali lagi; Shura tidak tahu. Tapi, dia hanya tahu dan yakin akan satu hal.


"Maaf," membuka mata, Shura kembali menatap Sesshoumaru. "Maaf karena Shura tidak bisa melupakan."


Untuk wanita manusia dengan senyum tawa seindah musim semi, untuk segala cinta yang dicurahkan padanya, teruntuk sang ibunda tercinta—Shura tidak bisa dan tidak akan pernah mau melupakannya.


"Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan," lanjut Shura pelan sambil tertawa kecil. "Tapi, Shura tetap akan mencintai ibunda."


"Tidak apa jika cinta itu akan menjadi kelemahan Shura. Karena Shura akan menjadi kuat sehingga kelemahan itu tidak akan dapat dimanfaatkan siapapun juga," senyum menggantikan tawa kecil Shura. Kedua mata emasnya penuh dengan keyakinan dan kepercaya dirian. "Karena itu, tunggulah Shura, ayahanda. Shura pasti akan menyelamatkan anda."


Apa yang ingin disampaikannya telah disampaikan, meski Shura tahu Ayahandanya tidak akan mendengarnya, tapi inilah ketetapan hatinya—dia akan menjadi kuat dengan caranya sendiri.


Bangkit berdiri, tanpa menoleh wajahnya kepada Sesshoumaru, Shura membalikkan badannya dan berjalan menjauh. Membuka pintu shoji ruangan, mata emasnya dapat melihat mereka yang ada di luar ruangan.


Inuyasha dan keluarganya, Miroku dan kuarganya, Jaken, Kohaku, Shippo, Yuki, Sora dan Koharu—mereka semua menoleh pandangan mata mereka pada Shura. Baik mereka yang akan menemani inuyoukai kecil itu maupun tidak, mereka bisa melihat kekuatan—kepercayadirian. Tidak ada ketakutan dalam sepasang mata emas tersebut walau dia akan menghadapi bahaya di depan—inuyoukai kecil itu memang sang penguasa di masa depan.


"Kita menuju gunung hare."


....xOxOx....

__ADS_1


Shui berdiri tegak menatap langit musim gugur di atasnya. Perlahan matanya tertuju pada pohon sakura yang tidak memiliki sekuncup bungapun, lalu kemudian pandangan matanya jatuh pada sebatang pedang yang tertancap di depannya—tensaiga.


Berjalan mendekati pedang tersebut, Shui mengangkat tangannya untuk menyentuh gangang pedang. Namun, reaksi penolakan dengan cepat terjadi dan mementalkan tangannya.


Shui tidak bereaksi sedikitpun melihat apa yang terjadi, karena dia sudah mempredksi ini semua. Dirinya bukanlah pemilik pedang kehidupan ini—masih bukan. Dari Inu No Taisho kepada Sesshoumaru, dan setelah Sesshoumaru tiada, maka pedang ini pasti akan diwarisi putranya. Tapi, bagaimana jika putra tersebut juga mati?—Apakah dialah yang akan menjadi pemilik dari pedang tak bertuan tersebut?


Tersenyum, Shui kemudian membalikkan badan, dan senyumnya hanya semakin melebar dengan apa yang dilihatnya. Puluhan kurungan besi besar yang penuh dengan manusia sepanjang mata memandang.


"Tolong!!!"


"Lepaskan kami!!"


" Jangan bunuh kami!! Kami mohon!!!"


Teriakan demi teriakan memenuhi puncak gunung hare yang selalu tenang, jumlah manusia yang terkurung mencapai ribuan, belum lagi tumpukan darah dan mayat manusia yang telah menggunung di sekeliling, serta manusia diluar kurungan yang berusaha menyelamatkan diri dari para youkai yang menyerang mereka.


Bagi para manusia, mereka bagaikan di neraka sekarang, sedangkan bagi para youkai mereka berada dalam taman bermain dimana mereka bisa membunuh manusia dengan bebas.


"Shui-sama," Akiko memanggil Shui pelan. Berdiri tidak jauh dari youkai naga tersebut wajahnya datar tanpa emosi. Tapi tidak untuk hatinya. Dia tidak mengerti kenapa youkai naga ini masih bisa bersantai menikmati kesenangan penderitaan manusia. Keberadaan Shura tidak diketahui—tanah barat tidak akan benar-benar hancur selagi inuyoukai kecil itu masih hidup. "Apakah anda tidak berniat mencari anak itu?"


Dengan senyum yang tidak kunjung menghilang, Shui menoleh menatap Akiko. "Aku tidak perlu mencarinya, karena dia akan kemari."


Akiko tertegun dengan jawaban Shui. Menatapnya bingung, pandangan youkai rubah itu kemudian jatuh pada sebilah pedang yang tertancap di bawah sebatang pohon sakura. Seketika, dia tertawa keras. "Hamba mengerti—anda benar. Kita hanya perlu menunggu."


Tensaiga.


Bagaimana bisa Akiko melupakan keberadaan pedang tersebut dan juga jenazah Sesshoumaru yang menghilang—siapapun yang mencuri jenazah inudaiyoukai serta menyelamatkan Shura dan yang lainnya pasti bermaksud menghidupkan kembali sang penguasa tanah barat. Tapi, untuk itu, Tensaiga dibutuhkan, dan untuk pedang yang tertancap tanpa dapat dicabut siapapun—Shuralah satu-satunya kemungkinan yang ada.


"Shui-sama," panggil Akiko lagi. Wajahnya penuh senyum, sedangkan matanya penuh kebahagiaan. "Jika inuyoukai kecil itu sudah tiba, serahkan dia kepadaku—bagaimanapun juga dia pernah memanggilku 'Ibunda'."


Shura—putra Sesshoumaru dan juga wanita manusia itu. Wanita manusia yang merampas segala yang seharusnya menjadi miliknya, segala penghinaan yang diterimanya—Akiko sungguh tidak sabar untuk mengirim inuyoukai kecil itu menyusul kedua orang tuanya ke alam baka.

__ADS_1


Shui tertawa keras dan mengangkat kepalanya. Kebahagiaan dan kegilaan memenuhi wajahnya. "Baiklah, aku serahkan dia padamu."


....xOxOx....


__ADS_2